Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 72


__ADS_3

Kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasanya. Dan tepat pada pukul setengah lima sore budhe Inem memberikan ponselnya kepada Hani karena ternyata Beni menghubungi budhe Inem karena dia akan pulang terlambat. Beni bilang jika ada rapat dadakan yang harus segera di selesaikan karena menyangkut masalah keuangan perusahaan. Beni juga berpesan agar budhe Inem tetap di sana bahkan jika perlu menginap di sana jika Beni dan Ratih pulang malam.


Beni sempat menghubungi Hani, tetapi tidak di angkat oleh Hani karena dia terlalu fokus belajar, lagi pula ponsel Hani dalam mode diam. Adit tersenyum senang karena tahap pertama berhasil. Tina sudah membuat Beni dan Ratih pulang terlambat. Sekarang tahap kedua.


Tahap ke dua Adit harus memastikan untuk mengambil ponsel Hani dan menyembunyikannya. Karena tahap ke tiga ketika Tony mematikan sikring lampu kompleks itu. Adit harus menuangkan obat ke dalam minuman itu agar budhe Inem di pecat. Selain itu, Adit harus memastikan semua bersih. Selain itu, Adit harus memasang pelacak dan penyadap suara di ponsel Hani agar Tony bisa memantau Hani.


“Tinggal tunggu malam tiba dan aku harus bergerak cepat.” Pikir Adit.


Adit tersenyum tipis karena merasa rencana akan berjalan mulus. Sambil menunggu Hani menelepon orang tuanya. Adit memperhatikan ponsel Hani dan memikirkan bagaimana cara mengambil ponsel itu. Tidak lama kemudian, Hani sudah selesai menelepon.


“Budhe! Nanti budhe masih di sini kan sampai mama papa pulang?” Tanya Hani.


“Iya mbak.” Jawab budhe Inem.


***


Flashback.


Sebelum berangkat mengajar.


Adit bertemu Tony di rumahnya. Dia begitu meremehkan rencana Tony. Dia begitu sombong, bahwa dia bisa menjalankan rencana itu sendiri tanpa bantuan Tina.


“Cuma kasih obat ke minuman Hani mah gampang om. Dan, aku sudah tau sudut CCTVnya. Aku bisa membelakangi CCTV tanpa membuat gerakan mencurigakan. Lebay banget sih pakai matiin lampu kompleks segala.” Ucap Adit.


Tony memalingkan wajahnya karena dia muak dengan kesombongan Adit. Kemudian, dia melemparkan sebuah dokumen kepada Adit. Lalu, Adit membaca dokumen itu. Ternyata Tony sudah mempersiapkan berkas palsu. Tony membuat identitas palsu atas nama Tina yang di samarkan menjadi Denok.


“Hah, gak segampang itu om ngusir pembatu yang udah bekerja selama beberapa tahun di rumah itu.” Jelas Adit.


Tony hanya menatap keponakannya tajam. Ingin sekali rasanya meninju muka Adit. Dia juga ingin sekali membeberkan semua rencana yang di buat. Tapi, dia tetap menahannya. Dan itu ‘HARUS’ semua akan berjalan lancar jika Tina dan Adit tidak mengetahui rencana yang di buat Tony.


“Gini, aku tau Beni gak akan mengusir pembantu itu semudah bayangkan kita. Makanya, aku membutuhkan Tina untuk mengatur jadwal pertemuan dengan Beni. Dan selama pertemuan, Tina akan membuat Beni murka.”


“Lalu?”


“Jika Beni pulang dalam keadaan marah dan lelah. Maka kesalahan sekecil apapun akan jadi besar. Apa lagi, melihat anak satu satunya muntah berak? Alasanku mematikan lampu kompleks itu karena aku ingin memberi misi tambahan kepadamu. Kamu harus memasang penyadap suaran di ponsel Hani dalam kegelapan itu. Jadi kita lebih mudah memantaunya. Sampai sini paham?” Jelas Tony malas.

__ADS_1


Adit pun tercengang dengan penjelasan itu. Dia tidak menyangka bahwa Tony memikirkan sebuah rencana sedetail itu. Dia semakin kagum dengan sosok Tony. Dan seketika kesombongannya menghilang. Dia merasa jauh dari Tony.


Flashback End


***


Adit masih fokus memikirkan waktu yang tepat untuk mengambil ponsel Hani. Sambil berpikir, Adit menatap bukunya agar seolah-olah sedang sibuk membaca. Tidak lupa matanya juga bergerak ke kanan dan kiri seperti sedang membaca. Adit sudah pandai berakting layaknya artis papan atas.


“Kak!” Panggil Hani.


Adit pura-pura tidak dengan agar terlihat sedang sangat fokus membaca padahal dia masih sibuk mencari cara untuk menyembunyikan ponsel Hani.


“Kak Adit!” Panggil  Hani lebih keras.


“Iya?”


“Ini gimana kak? Aku gak paham, lagi gagal fokus nih.”


Tiba-tiba terlintas ide di pikiran Adit. Kemudian, Adit tersenyum sambil menjelaskan bagian mana yang tidak di pahami oleh Hani. Kini, tempat duduk Adit bergeser. Dia lebih mendekat ke Hani. Kemudian, dia sengaja menutupi ponsel Hani dengan buku yang di gunakan untuk menjelaskan. Saat menjelaskan, Adit pura-pura lupa dan kembali ke tempat duduknya semula. Untuk mencari buku lain sambil mengambil ponselnya.


Adit mulai menjelaskan senatural mungkin. Kemudian, dia kembali ke tempat duduknya dan meletakkan ponsel Hani di dalam tasnya sendiri.


Hari pun semakin gelap. Adit kembali fokus ke materi belajarnya. Begitu pula Hani, dia fokus mengerjakan. Lampu di ruang tamu sudah di nyalakan dari tadi sejak budhe Inem selesai mengantar telepon untuk Hani.


Blam!


Lampu pun padam.


Tahap kedua di mulai. Hani mulai panik mencari ponselnya. Begitu dia menemukan ponsel ternyata itu bukan ponselnya melainkan ponsel Adit.


“Duh ponselku kemana? Mau cek ke depan.” Ucap Hani sambil mengobrak abrik buku di meja.


Adit masih diam, dia juga pura-pura mencari ponsel Hani. Dia juga mengobrak-abrik buku di sana.


“Pakai ponselku dulu aja Han. Gak apa-apa kok.” Ucap Adit sambil menyodorkan ponselnya.

__ADS_1


“Oh.... pinjem ya kak.” Ucap Hani.


Hani mulai berjalan keluar sambil menggunakan ponsel Adit sebagai senter. Begitu sudah di pastikan keluar, Adit buru-buru mengambil obat bubuk yang di taruh di tas nya. Adit pun memulai aksinya, namun tiba-tiba di terkejut karena mendengar langkah kaki dari dalam rumah. Ternyata ada budhe Inem membawa lilin dari dapur.


“Sial!” Gumam Adit.


Adit buru-buru menyembunyikan obatnya ke bawah. Adit sudah merasakan keringat dingin bercucuran di pelipisnya.


“Ini mas lilinya.” Ucap budhe Inem.


“Iya budhe.”


“Mbak Hani kemana?”


“Ke depan.”


Budhe Inem mengangguk-angguk paham. Kemudian meninggalkan Adit sendirian ke depan. Kemudian, Adit buru-buru memasukkan obat itu ke dalam minuman Hani dan teko kaca sepenuhnya. Karena tidak ada sendok dia mengaduknya dengan tangannya.


Tap tap tap.


Terdengar kembali suara langkah kaki. Indra pendengaran Adit sangat peka sekarang. Dia langsung kembali ke tempat duduk semula. Sekarang tinggal bagaimana Adit memasang penyadap di ponsel Hani.


Langkah suara semakin dekat, Adit panik memikirkan bagaimana memasang penyadap suara di ponsel Hani. Karena dalam keadaan terjepit, otak Adit semakin berpikir dengan lancar. Dia langsung merogoh tasnya dan menyisipkan ponsel Hani di kaus Adit.


Sedetik kemudian, Hani datang dengan budhe Inem. Hani hendak mengembalikan ponsel Adit yang masih menyala itu. Tapi, dengan sigap. Adit langsung berdiri sambil memegangi perutnya. Dia ijin ke toilet dengan alasan perutnya mules. Budhe Inem pun mengantar Adit ke kamar mandi.


Begitu sampai kamar Mandi. Adit membuka ponsel Hani yang kebetulan tidak di kunci. Adit merasa sangat beruntung. Padahal dia sudah memikirkan rencana bagaimana meretas ponsel Hani. Karena tau akan lama, maka Adit minta ijin untuk buang air besar. Tapi, rencananya tidak di gunakan sekarang.


“Hah gak di kunci ternyata.” Lirihnya.


Adit buru-buru memasang penyadap suara di ponsel Hani. Tidak lupa, Adit harus menekan tombol siram air agar terdengar seperti benar-benar sedang buang air besar. Sambil menunggu proses pemasangan, Adit kembali memikirkan dia akan menaruh ponsel Hani di mana? Karena pasti ponsel Hani bau parfum Adit karena dia menaruhnya di dalam kaus.


“Ntar taruh dimana ya?” Pikirnya.


~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, fav dan komentarnya~

__ADS_1


__ADS_2