Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 29


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang.


Hani murung sepanjang jalan. Memang dia menatap jalan dengan tatapan kosong. Pikirannya sudah tidak karuan, terlebih melihat ekspresi Mia tadi membuatnya putus asa dan takut. Dia hanya bisa berharap semoga orang tuanya tidak mengerti tindakannya ini. Tidak terasa sudah sampai rumah. Hani masih menatap dengan tatapan kosong.


“Mbak, jangan melamun. Nanti kesambet loh.” Ucap pak Rian yang sudah membuka pintu mobil.


“Hehehe.” Hani hanya tersenyum kaku.


Hani berjalan lesu masuk ke rumah. Dia ingin segera mandi keramas untuk menyegarkan badannya.


“Mandi keramas deh biar fresh.” Ucapnya lesu.


Saat membuka pintu, Hani sangat terkejut karena Ratih dan Beni sudah duduk manis di sofa ruang tamu. Hani benar-benar terkejut, dia langsung melirik jam tangannya. Ternyata sudah pukul tujuh malam. Pantas jika kedua orang tuanya sudah pulang.


“Kamu dari mana?” Tanya Ratih.


“Jalan-jalan ma.”


“Dari sore sampai malam? Ngapain aja?” Tanya Ratih lagi dan mulai meninggi nadanya.


Hani hanya diam menunduk. Dia tau jika dia melakukan kesalahan. Tapi, jika pak Rian masih menemaninya selama perjalanan hingga tidak terasa sudah jam tujuh. Maka orang tuanya pulang naik taksi online. Kenapa orang tuanya tidak menghubungi pak Rian untuk minta di jemput? Hani semakin takut. Pasti orang tuanya sudah tau. Apalagi dia baru ingat jika orang tuanya memasang sejumlah CCTV.


“Di tanya kok diem?” Ratih mulai geram.


Ratih marah bukan karena Hani pergi ke rumah sakit. Sebenarnya dia tidak masalah jika Hani pergi ke sana dan menemui Jaelani. Dia marah karena Hani pergi tanpa pamit.


“Aku... aku jenguk papanya Jaelani.” Ucap Hani gemetar.


“Lalu? Kenapa pulangnya lama?” Tanya Beni akhirnya bersuara.


Hani mengingat wajah Mia tadi. Karena takut dan gelisah Hani minta pak Rian mengajaknya ke taman untuk menghirup udara segar. Tapi ternyata, dia masih takut dan gelisah. Kemudian, dia meminta pak Rian mengantarnya ke kedai kopi juga sambil menikmati senja. Namun, nyatanya itu tidak berefek untuknya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Dan selama itu dia tidak melihat jam sama sekali.


“Aku tadi ke taman, terus ke kedai. Aku gak lihat jam. Gak tau kalau udah malam.” Ucap Hani yang masih tertunduk tidak berani menatap kedua orang tuanya.


Ratih menaruh tangganya di pundak Hani. Kemudian, dia mengambil dagu Hani dan menariknya ke atas hingga mereka bertatapan muka.


“Kenapa kamu gak ijin papa dan mama?”

__ADS_1


Hani menatap mata mamanya yang terlihat khawatir membuatnya takut dan juga merasa gelisah karena dia pasti tidak akan boleh pergi ke mana-mana lagi sekarang, pikirnya.


“Mama gak masalah kamu jenguk papanya Jaelani. Memang sih mama gak suka sama mamanya Jaelani. Tapi, mama masih suka dengan Jaelani. Dia temanmu satu-satunya di kota ini.”


Mendengar itu Hani merasa lega ternyata ketakutannya hanyalah pemikirannya yang berlebihan saja.


“Jadi mama bolehin aku jenguk papa Jaelani?” Tanyanya memastikan.


“Boleh. Tapi hati-hati.” Ucap Ratih.


“Kok bisa?” Tanya Hani keceplosan.


Ratih  hanya tersenyum. Kemudian, dia memeluk anaknya. Hani semakin penasaran kenapa mamanya seperti itu? Bahkan Beni pun juga tersenyum. Aneh? Ini benar-benar aneh. Tiba-tiba Ratih menyuruhnya mandi. Tetapi, Hani menolak karena masih penasaran dengan jawaban dari mamanya.


“Mandi sekarang.” Ucap Ratih tegas.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Ini sudah terlalu terlambat untuk makan malam. Tapi Ratih, Beni dan Hani tidak peduli mereka tetap makan bersama. Mereka makan makanan cepat saji, burger, kentang goreng dan soda yang mereka pesan.


Sambil makan Hani menatap penasaran Ratih. Dia benar-benar ingin mengetahui kenapa mamanya santai seperti tadi.


“Mama jawab dong.” Ucap Hani memohon.


Ratih pun mengehentikan makannya. Dia menceritakan semuanya. Waktu Hani di labrak oleh Mia (episode 7). Ratih juga jadi tersulut kemarahanya. Dia sempat marah kepada suaminya.


Namun, tidak di sangka keesokan harinya. Jaelani meminta maaf kepada Ratih. Dia mengunjungi kantor Beni. Tetapi, di tolak oleh Ratih. Akhirnya Jaelani menuliskan surat permintaan maaf. Dia minta maaf atas nama keluarganya. Bukan karena apa-apa, Jaelani merasa bahwa hanya ini yang bisa di lakukan karena dia merasa utang budi dengan Beni yang telah membawa Deden ke rumah sakit.


Jika saja, Beni masih marah atau tidak peduli mungkin saja Deden bisa lebih parah dari ini. Bahkan dia berjanji untuk tidak menemui Hani lagi. Semua dia lakukan untuk membalas utang budinya. Meski dia harus rela melupakan Hani.


Surat itu pun sampai ke kantor Beni dan langsung di baca oleh Beni. Awalnya Ratih tidak mau membacanya. Tapi, setelah Beni bilang ‘Remaja yang bertanggung jawab’ Ratih jadi tertarik membaca pesannya.


Ratih benar-benar tersentuh dengan isi surat itu. Dia benar-benar bersyukur bahwa anaknya memliki teman seperti Jaelani. Tanpa berpikir panjang, dia mengirim pesan ke Jaelani secara langsung. Darimana dia mendapat nomor Jaelani? Jelas dari ponsel Hani. Ratih diam-diam menyimpan nomor Jaelani karena waktu Hani baru saja hilang ingatan itu, Jaelani terlalu sering main ke rumah Hani. Hingga membuat Ratih curiga. Dia masih belum rela anaknya berpacaran.


“Hahaha.”


Hani tertawa mendengar penjelasan Ratih. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa mamanya bisa seprotektif ini. Tapi dia bersyukur bahwa mamanya masih menerima Jaelani. Namun, setelah melihat ekspresi Mia tadi. Dia memutuskan untuk menjauh. Baginya lebih baik menjauhi keributan. Meski dia tau nanti dia akan merasa kosong.


“Oh iya Han. Papa udah dapat guru privat buat kamu.” Ucap Beni.

__ADS_1


“Hmmm?”


“Kamu harus tetap belajar Han. Biar otak kamu gak tumpul.” Jelas Ratih.


Hani hanya mengangguk senang. Akhirnya, dia mendapat kesibukan sehingga bisa melupakan Jaelani.


“Mulai kapan pa?” Tanya nya antusias.


“Terserah kamu.”


“Senin ya pa.” Ucapnya riang.


Ratih dan Beni senang sekali melihat anaknya sudah kembali. Dia tidak sabar melihat anaknya belajar dengan giat lagi.


***


Keesokan harinya di rumah sakit.


Suster membawa alat pemeriksa tekanan darah. Dia memeriksan Deden dengan seksama.


“Tensinya rendah ya pak.” Ucap suster itu.


“Ibu, kalau bapaknya berkeringat atau gemetar bisa di buatkan air teh hangat. Di kantin juga ada bu. Jika tidak mau air hangat saja.” Jelas suster kepada Mia.


Mia tidak menjawab sama sekali. Dia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Suster yang mengajak Mia mengobrol kebingungan. Dia mencoba memanggil Mia. Tapi tidak ada jawaban. Azzahra dan Jaelani merasa ada sesuatu yang aneh terhadap mamanya. Azzahra pun mendekati Mia.


“Ma....” Ucap Azzahra sambil menggoyang-goyangkan badan Mia.


Akhirnya Mia tersadar. Dia linglung sekarang.


“Gimana suster?” Tanya Azzahra.


Suster pun menjelaskan kembali apa yang dia jelaskan tadi. Azzahra mengangguk paham. Setelah suster itu pergi Azzahra dan Jaelani mendekati Mia yang terlihat tidak sehat itu.


Sebenarnya Mia mulai memaafkan Hani setelah kemarin dia berbicara panjang dengan Azzahra dan Jaelani. Dia mulai berpikir, bahwa anak-anaknya kini sudah dewasa dan mengerti mana yang benar dan salah. Tetapi, malah dia yang sekarang seperti anak kecil yang berpikir terlalu sempit dan menyalahkan serta melimpahkan semua amarahnya ke Hani.


-Masih ada kah yang baca?-

__ADS_1


__ADS_2