Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 71


__ADS_3

Di dapur.


Budhe Inem kebingungan menatap Jaelani yang terlihat aneh dan lucu karena menahan kencing. Hani menunjukkan dimana kamar mandinya dengan telunjuknya. Begitu paham mana kamar mandinya, Jaelani langsung melesat ke sana.


“Kenapa tuh mbak? Mau buang air besar?” Tanya Budhe Inem.


“Gak tau tuh budhe. Oh iya, budhe nanti kayak kemarin tungguin papa sama mama pulang dulu baru pulang?”


“Iya mbak.”


Hani menganguk-anguk paham. Kemudian, matanya menatap ke arah tangan budhe Inem. Ternyata budhe Inem sedang menyiapkan makanan ringan pisang krispi di lumuri coklat di atasnya. Hani yang tergoda ingin langsung mengambil camilan itu. Tapi tangannya di tahan oleh budhe Inem.


“Cuci tangan dulu mbak.” Ucapnya.


Hani hanya tersenyum kecut. Tapi, dia tetap menurut dan mencuci tangannya dan kemudian mencicipi pisang krispi buatan budhe Inem.


“Emmm... enak!” Seru Hani.


Budhe Inem tersenyum senang karena Hani suka camilan buatannya. Selang beberapa detik mereka mendengar suara Adit berteriak. Serentak budhe Inem dan Hani melihat ke arah jam dinding. Waktu masih menunjukkan pukul tiga kurang sepuluh menit. Mereka saling tatap menatap satu sama lain.


“Tumben udah datang.” Ucap Hani dan budhe Inem bebarengan.


Kemudian, mereka tertawa bersama. Lalu, Hani berjalan menuju depan menyambut guru lesnya sambil memakan camilan pisang kripsi coklat itu.


Sampai di ruang tamu.


“Tumben kak udah datang.” Ucap Hani.


“Hehe.. salah lihat jam tadi.”


Hani mempersilakan Adit duduk. Dan terlihat Adit terkejut melihat meja ruang tamu yang sudah tersedia gelas yang terisi. Bahkan gelas itu terlihat sudah gelas bekas minum. Tapi, Adit tidak melihat ada kendaraan terparkir di halaman rumah Hani. Dia pikir, mungkin tadi ada tamu.


“Oh gitu ya kak. Oh iya, gelasnya. Bentar-bentar.” Ucap Hani dan pergi ke dapur.


Tidak lama kemudian, Hani datang bersama Jaelani yang sudah selesai buang air kecil. Adit terkejut melihatnya. Meski begitu, dia tetap mencoba untuk tenang. Rencananya tidak boleh gagal hari ini, pikirnya. Kemudian Jaelani duduk di samping Adit.


“Ya udah Han, aku pulang ya.” Ucap Jaelani.

__ADS_1


“Tapi....” Ucapan Hani terpotong, sekilas dia melirik ke arah Adit.


Dengan terpaksa Hani melepas kepergian Jaelani. Namun, ketika Jaelani sudah berada hampir di ambang pintu. Tiba-tiba pintu itu tertutup sendiri, Jaelani tidak sempat berhenti dan dia pun menabrak pintu itu.


Brak!


“Aduh.” Rintih Jaelani.


Adit melongo melihat Jaelani kesakitan. Bukan masalah Jaelani kesakitan. Tetapi kenapa pintu itu tertutup sendiri tidak ada angin kencang juga. Pintu yang cukup berat itu tertutup dengan sendirinya. Ini sudah kesekian kalinya Adit merasa di hantui dengan kejadian aneh di rumah ini.


“Gila!” Pikir Adit.


Hani langsung menghampiri Jaelani sambil menahan tawa. Baginya itu sangat lucu karena Jaelani menabrak pintu begitu keras hingga berbunyi cukup nyaring di telinga.


“Gak ppfft apa-apa?” Tanya Hani.


Jaelani menggeleng tapi merintih pelan sambil memijit dahinya pelan-pelan agar tidak memar. Tidak sampai di situ, Jaelani juga memejamkan matanya berharap rasa sakitnya berkurang. Tapi, malah semakin terasa.


“Kok bisa sih hahaha.” Ucap Hani sambil tertawa terbahak-bahak.


“Malah ketawa, bukan di tolongin.” Ucap Jaelani memelas.


“Eh? Mau ngapain?” Tanya Hani.


“Minum kan?” Ucap Jaelani.


“Pffftt... PD banget, aku mau kompres biar gak memar haha.”


Jaelani hanya bisa menahan malu. Tapi dia bergaya so cool dan sekilas melirik ke arah Adit. Jealani ingin pamer jika dialah pemenangnya saat ini. Meski tidak ada ucapan apapun di antara mereka. Jaelani merasa ada perasaingan antara dia dan Adit.


Saat Hani mengompres kening Jaelani. Tiba-tiba kaki kirinya di tarik Kiki ke belakang, sehingga Hani jatuh kedepan. Dan gelas jus buah itu tumpah di rambut Jaelani. Karena Hani sengaja mengisinya seperempat gelas agar gelasnya dingin.


“Aduh!”


Byur~


Air jus itu mengalir dari rambut ke kepala belakang Jaelani. Beruntung Jaelani masih bisa menahan Hani. Jadi dia tidak jatuh ke lantai.

__ADS_1


“Dingin.” Ucap Jaelani.


“Duhh... maaf Jae, aku gak sengaja. Tadi kaki ku tiba-tiba....”


Hani panik dia langsung mengambil tisu di meja dan mengelap kepala belakang Jaelani yang tertumpah air jus. Hani pelan-pelan menekan kepala belakang Jaelani agar airnya terserap ke tisunya. Adit hanya melongo melihat kejadian aneh itu.


“Budhe~” Teriak Hani sambil mendorong Jaelani ke belakang.


Adit merasa aneh, kenapa ada Jaelani di sini? Lalu sepertinya ada kejadian yang tidak bisa di jelaskan dengan logika. Dia melihat Hani yang awalnya berdiri tegak bisa terjatuh ke depan tanpa alasan yang jelas.


“Ah mungkin tadi terjerat kakinya sendiri. Tapi melihat posisi berdirinya tidak mungkin. Hah sudah lah, sebentar lagi dia akan segera pulang. Si pembantu juga akan segera pulang kan.” Ucap Adit menenangkan diri.


Tidak lama kemudian Hani kembali. Dia juga membawa nampan berisi pisang krispi coklat buatan budhe Inem. Dia menaruhnya di meja dan menawarkannya kepada Adit. Dan belajar mengajar pun di mulai.


Kegiatan berjalan lancar seperti biasanya. Hingga Jaelani datang dengan rambut yang basah karena dia habis membilas kepalanya saja di kamar mandi. Jaelani langsung menuju pintu keluar sambil berpamitan kepada Hani dan Adit. Sebenarnya Jaelani sudah terlalu lama di sini. Dia harus menyusul kakaknya di rumah sakit.


Kejadian aneh terulang lagi. Ketika Jaelani sudah berada di depan rumah Hani. Tiba-tiba sinyal di ponselnya menghilang sehingga dia tidak bisa memesan ojek online. Dia tidak menyerah begitu saja, dia bahkan meminta hotspot kepada pak Rian.


Tetapi, sialnya Jaelani ternyata pak Rian juga tidak mempunyai sinyal, bahkan ponsel pak Herdi juga tidak ada sinyalnya. Jaelani hanya bisa menghembuskan napas besar. Aneh Jaelani merasa seperti sedang tertahan di sini.


“Masuk ke dalam aja mas, kan ada WIFI tuh. Minta password mbak Hani. Penting bisa dapet driver dulu.” usul pak Rian.


“Oh iya. Oke pak.”


Jaelani langsung masuk kembali untuk meminta bantuan Hani. Dia ingin numpang WIFI sebentar hingga dia mendapatkan driver. Jaelani berlari karena sedang buru-buru. Tapi, entah kenapa rasanya waktu seperti melambat. Tubuhnya terasa berat dan perjalanan terasa jauh.


“Hani!” Panggi Jaelani begitu sampai di ambang pintu.


“Kenapa?”


“Numpang WIFI dong. Sinyal ku tiba-tiba hilang. Aku harus segera pesan ojek online buat nyusul kakak di Rumah sakit.”


Dengan senang hati Hani memberitahukan password WIFI rumahnya. Jaelani tidak berhenti bersyukur akhirnya dia bisa memanggil ojek online. Begitu dapat Jaelani langsung pergi meninggalkan rumah Hani. Dan saat Jaelani berada jauh dari rumah Hani sinyal Jaelani sudah kembali.


“Pokoknya aku harus membuat Jaelani kembali ke sini. Dia harus menceritakan semuanya.” Ucap Kiki kesal karena gagal menahan Jaelani.


Sedangkan Adit sudah merasa bahwa rencana hari ini akan gagal. Intuisinya sangat kuat yang mengatakan bahwa rencana hari ini akan gagal. Tapi, Adit selalu mencoba menepisnya. Dia optimis jika semua akan berjalan lancar.

__ADS_1


~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, dan komentarnya~


__ADS_2