
Selama tidur panjang ingatan Hani kembali. Tidak hanya terpotong-potong. Hani mulai mengingat masa lalunya mulai kisah awal saat bertemu arwah Nana hingga dia di tikam oleh Tina. Dia ingat jelas semua itu. Tidur panjangnya selama dua hari akibat benturan keras di dapur rumahnya telah membuatnya tersadar sepenuhnya.
Hani ingat sampai dia melihat bayangan masa lalu Nana, sebab dari Nana meninggal. Setelah itu dia di dorong oleh Tina dari belakang hingga kepalanya terasa sangat pusing karena tersungkur ke lantai. Dan kemudian Hani tidak sadar dan tidak ingat apapun.
Hani juga tidak ingat jika arwah Nana telah mengambil alih tubuhnya dan membuat Tina menyiram air keras ke wajahnya sendiri. Sepenuhnya tubuhnya di kendalikan oleh arwah Nana hingga dia bertemu Jaelani di jalanan.
Setelah Hani tersadar melihat kedua orang tuanya. Dia merasa sangat rindu kepada mereka karena ingatan terakhirnya dia masih menunggu Beni yang masih koma dan meninggalkan Ratih. Itu sebabnya Hani tidak merespon apapun saat Ratih dan Beni panik. Otaknya masih beradaptasi dengan keadaan sekarang.
Hani mendapat pelukan hangat dari Beni dan Ratih yang membuatnya yakin ini adalah kenyataan. Dia sudah kembali ke dunia nyata. Saat masih meluapkan emosi masing-masing. Tiba-tiba terlintas ingatan beberapa bulan yang lalu.
Hani ingat telah menghadiri sidang perdananya menjadi saksi. Dia ingat betul sidang itu di laksanakan di mana. Dia juga ingat bahwa Galih masuk ke penjara remaja. Tetapi untuk pelaku penghilangan bukti pembunuhan Nana itu belum di temukan, masih menjadi buron. Polisi masih melacak keberadaan Tina dan Tony yang menjadi otak atas penghilangan bukti itu.
“Ma...” Ucap Hani bergetar.
“Ada aku takut. Ada pembunuh yang masih berkeliaran.” Ucap Hani tiba-tiba.
Hani menatap ke sekitar, terlihat semua menatapnya dengan ekspresi tegang membuat Hani semakin takut. Dia takut akan di bunuh oleh Tony karena dia ingat Tony adalah pembunuh berdarah dingin. Dia memukul kepalanya keras keras berharap bisa amnesia lagi dan melupakan semuanya. Hani berteriak histeris karena tidak sanggup menerima kenyataan ini.
Ratih, Beni, budhe Inem dan pak Rian berusaha menahan Hani agar tidak melukai dirinya sendiri. Tidak lupa Beni menekan bel untuk memanggil suster kembali. Tidak lama kemudian dokter dan suster datang. Dokter langsung menyuntikkan obat penenang untuk Hani. Dan Hani pun tertidur kembali beberapa menit kemudian.
Beni menceritakan semua yang terjadi kepada dokter itu. Lalu dokter itu meminta Beni pergi ke ruangannya bersama Ratih. Dia harus menjelaskan keadaan Hani. Sedangkan pak Rian dan budhe Inem hanya bisa diam mematung dan menatap kasihan Hani. Mereka tidak menyangka Hani bisa ingat secepat ini.
“Mbak In... Mbak Hani udah inget semuanya nih kayaknya.” Ucap pak Rian.
“Iya, kayaknya. Ini sudah takdir. Tapi yah kasihan juga sih. Semoga aja gak stress.” Ucap budhe Inem.
Dan di pojok ruangan Kiki berdiri menatap Hani. Dia berpikir untuk menemukan cara agar Hani tetap menjadi alatnya untuk menemukan Stevan. Tapi, setelah Hani ingat semua. Apakah Hani masih bisa di ganggu? Mengingat saat bersama Nana. Hani sudah terbiasa dengan keberadaan makhluk halus meski dia masih sering terkejut dan berteriak histeris karena Nana dulu selalu menggangu Hani dengan tulisan berdarah darah.
***
Di SMA 18.
Entah kenapa Jaelani merasa rindu kepada Hani padahal dia hanya tidak bisa menghubungi Hani selama dua hari saja. Tapi, dia masih sadar jika mereka bukanlah siapa-siapa hanya sebatas teman. Jaelani tersenyum kecut mengingat kenyataan itu.
“Eeeeaaaaa!” Teriak Ilham.
Jaelani tidak begitu terkejut. Dia hanya menoleh ke sampingnya dan menatap sinis Ilham. Dan Ilham hanya cuek cuek saja. Dia tidak takut sama sekali dengan tatapan itu. Malahan dia ingin semakin membuat Jaelani marah.
“Melamun aja teross.” Ucapnya lantang.
Ilham sengaja melakukan itu untuk menarik perhatian Anggi. Dia tau jika Anggi itu menyukai Jaelani. Dia ingin membuat Jaelani kelabakan. Tapi Jaelani juga cuek. Dia memilih pergi keluar dan tidak menanggapi ocehan Ilham.
Dan benar Anggi berhasil di buat penasaran oleh Ilham. Kemudian, dia mendatangi Ilham berharap mendapat informasi lebih tentang Jaelani. Sebenarnya Anggi sudah tau jika beberapa hari lalu Ilham dia ajak main Jaelani ke rumah gebetannya. Tapi, Anggi penasaran seperti apa sih tipe cewek yang di sukai Jaelani.
“Eh Ham.” Panggil Anggi.
“Ahayy... mancing cewek mantap. Hehe.” Batin Ilham.
__ADS_1
“Hmm?” Jawab Ilham sok cuek.
Bug!
Pukulan kecil mendarat di lengan Ilham. Anggi memukul manja Ilham agar cowok di depannya itu mau memberikan informasi kepadanya. Tanpa basa basi, Anggi mengambil bangku kosong di sebelahnya dan duduk di dekat Ilham.
“Emang Jaelani ngelamunin apa sih ham?” Tanya Anggi langsung pada intinya.
“Gercep ya kak kalau nyinggung Jaelani.” Ucap Ilham.
Anggi mengibaskan kedua tangannya di depan wajah Ilham. Dia berpura-pura untuk tidak penasaran meski hati kecilnya gregetan dengan tingkah Ilham.
“Lah siapa yang gercep. Cuman penasaran doang sama mulut toa kayak kamu.” Ucapnya.
Anggi langsung berdiri dan mengembalikan kursinya kembali ke tempatnya. Dia berharap Ilham akan memanggilnya dan memberikan dia informasi. Namun, nyatanya tidak seindah itu. Ilham tetap diam dan memperhatikan Anggi berjalan perlahan entah kemana arah yang dia tuju.
“Jae jae lagaknya sok jual mahal. Cewek secantik Anggi di hindari. Cobak Anggi kejar kejar aku. Gak bakal aku jual mahal.” Gumam Ilham.
Selang tidak lama Ilham teringat jika ada hal yang ingin dia katakan ke Jaelani. Dia harus bertanya kepada Jaelani soal Galih. Karena dia mendapat peringatan dari papanya agar tidak dekat-dekat dengan Galih. Berdasarkan informan papanya Galih itu pernah menjadi nara pidana yang di penjara di sel remaja. Namun, dia bisa bebas cepat karena pengaruh orang tuanya.
Ilham beranjak pergi mencari keberadaan Galih. Dia mencari di kantin, di lapangan basket, di manapun tidak ketemu. Kemana Jaelani pergi? Ilham pun menyerah dan kembali ke kelas. Begitu sampainya di kelas. Dia sangat terkejut karena Galih sudah duduk manis di sana sambil menikmati aci goreng.
“Lah?!” Kesal Ilham.
Tap tap tap.
Ilham berjalan menuju bangkunya sambil menghentakkan kakinya keras keras untuk melampiaskan kekesalannya. Namun, Jaelani malah menatap Ilham aneh. Dia pikir tingkah Ilham seperti anak kecil. Jaelani menggelengkan kepalanya dan kemudian menatap Ilham datar.
“Ham hem ham hem. Udah kayak penyanyi yang lagi trend itu.” Ucap Ilham kesal.
Jaelani masih menatap teman sebangkunya itu dengan wajah tidak bersalah. Dia masih bisa menikmati enaknya aci goreng yang sudah tinggal setengah itu. Dia menatap Ilham hingga duduk di bangkunya.
“Eh temenmu yang namanya Galih itu bahaya ya? Kata informan papaku dia itu mantan napi?” Bisik Ilham.
“Uhuk uhuk uhuk.” Jaelani tersedak.
Ilham buru-buru menepuk punggung Jaelani sedikit kasar hingga berbunyi ‘bug’. Beruntung Jaelani tidak tersedak parah sehingga dia bisa normal dengan cepat. Matanya melotot ke arah Ilham. Dia tidak terima sahabatnya di ejek seperti itu.
“Galih memang pernah melakukan kejahatan, tapi itu tidak di sengaja. Dan dia tidak di penjara.” Ucap Jaelani.
Ilham pun terdiam karena melihat mata Jaelani yang membara itu. Dia tidak ingin ada perkelahian untuk hal yang tidak penting ini. Tapi, menurutnya Jaelani harus tau dan memastikan ucapannya itu. Jika salah ya syukurlah jika benar, maka mereka harus hati-hati kepada Galih.
“Coba deh tanya temenmu baik-baik. Mungkin ini gosip tapi kalau sampai informan papaku tau tandanya gosipnya udah bocor ke mana-mana.” Ucap Ilham.
Setelah itu mereka berdua sangat canggung hingga pulang sekolah. Ilham tidak berani memulai percakapan dengan Jaelani dan Jaelani merasa kesal karena dia menganggap mengejek Galih sahabatnya.
Kring... Kring... Kring...
__ADS_1
Bel pulang sekolah berbunyi. Jaelani bergegas ingin segera pulang agar bisa mampir ke rumah Hani untuk menuntaskan rasa rindunya karena sudah dua hari tidak mendapatkan kabar dari Hani.
***
Jaelani sudah sampai di depan rumah Hani. Dia berdandan sedikit mengaca di depan spion motornya, kemudian memencet bel rumah Hani. Tidak perlu menunggu lama pak Herdi sudah membuka pintunya. Jaelani terkejut pak Herdi membuka pintu secepat itu. Apakah Jaelani dandan terlalu lama? Mungkin saja.
“Ada apa mas?” Tanya pak Herdi.
“Hani ada pak?”
“Mbak Hani di rumah sakit mas, kemarin jatuh di dapur gak sadarin diri.”
“Rumah sakit mana?”
“Rumah sakit BT ruang VIP 2 Kamboja mas.” Jelas pak Herdi lengkap, karena dia tau Jaelani pasti akan menjenguk Hani.
Tanpa berpikir panjang Jaelani mengucapkan terima kasih dan menaiki motornya menuju ke rumah sakit BT. Saking paniknya, dia lupa jika belum meminta ijin kepada orang rumah. Yang ada di pikirannya saat ini hanya Hani dan Hani.
Dua puluh menit berlalu.
Perjalanan panjang itu berasa semakin panjang karena macet. Waktunya tepat saat orang pulang kerja dan pulang sekolah. Jaelani masih panik hingga dia sampai di tempat parkir rumah sakit. Beruntung tidak terjadi kecelakaan karena Jaelani tidak begitu fokus ke jalan.
Jaelani berlari kecil menuju resepsionis. Dia langsung bertanya dimana keberadaan ruangan Hani. Setelah tau, dia berlari kecil menuju ruangan itu dengan perasaan gelisah tidak karuan. Sesampainya di depan ruang VIP 2 Kamboja. Jaelani malah terdiam, seperti ada sesuatu yang mengganjal.
“Perasaan aneh apa ini?” Gumamnya.
Dengan berani Jaelani mengetuk pintu ruangan itu. Lalu, dia membuka perlahan pintu itu. Terlihat ada Beni, Ratih dan juga pak Rian di sana yang sedang menunggu Hani yang duduk di ranjang rumah sakit. Jaelani merasa familier dengan situasi ini.
“Oh Jaelani.” Sambut Beni.
“Silahkan masuk.” Ucap pak Rian.
Jaelani masuk lebih dalam, saat di tatap Ratih dia langsung teringat jika dia tidak membawa apa-apa. Terbesit rasa malu dan canggung karena menjenguk seseorang tanpa membawa buah tangan. Dengan sedikit ragu Jaelani melangkah mendekat ke arah Beni dan Ratih.
“Apa kabar Jaelani?” Tanya Ratih basa-basi.
“Baik tante. Em tante maaf saya gak bawa apa-apa. Lain kali saya kesini lagi.” Ucap Jaelani canggung.
Ratih tersenyum manis. Lagi-lagi dia terkesan dengan kejujuran Jaelani. Ini sudah ke beberapa kalinya Jaelani bersikap sopan kepadanya meski dia masih curiga kepada Mia ibu Jaelani. Beni menarik tangan Jaelani untuk duduk di kursi dekat ranjang Hani. Kemudian, dia mengambilkan air mineral gelas an dan di suguhkan ke Jaelani.
“Ini minum dulu pasti haus kan. Pulang sekolah langsung ke sini.” Ucap Beni.
Jaelani tersadar kembali jika dia masih menggunakan seragam dan belum berpamitan kepada orang rumah. Dia memejamkan mata sesaat menyesali perbuatannya. Jaelani mengambil air mineral gelasan itu dan langsung meminumnya. Jaelani merasa sangat canggung karena keberadaanya yang serba mendadak ini.
Saat selesai minum, Jaelani merasa sedang di perhatikan oleh seseorang. Benar saja itu Hani. Hani memperhatikan Jaelani dengan sendu. Mata mereka saling menatap beberapa saat hingga Hani bertanya.
“Jaelani sehat?”
__ADS_1
“Hah?”
~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, dan komentarnya.~