Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 33


__ADS_3

“Hmm... baik juga ya keluarga itu.”


“Jadi kamu dapat apa aja dari sana?” Tanya pria itu.


“Bener kata om. Hani itu istimewa. Tadi aku lihat pensil, buku, penghapus,penggaris semua gerak sendiri. Sampai aku ketakutan om.” Jelas Adit.


“Terus?”


“Terus, apa lagi ya? Ah iya.. Hani itu kuat ternyata. Pantes dia bisa buat tante Tina tercekik.”


“Apa?” Sahut Tina dari dalam dengan wajah yang berbeda karena dia melakukan operasi.


“Kalian berdua sini duduk dulu.” Ucap pria itu tidak lain adalah Tony.


Adit dan Tina pun duduk di samping kiri dan kanan Tony. Tony mengelus kepala keponakannya itu dengan lembut.


Adit adalah keponakan Tina dan Tony. Orang tua Adit terlalu sibuk bekerja hingga melupakan Adit. Karena kesepian Adit sering main bersama Tina dan Tony. Adit pun sangat mengagumi sosok Tony yang sudah membantai beberapa nyawa dengan tangan yang bersih. Baru kemarin saja, Tony gagal dalam misinya.


Sedangkan orang tua Adit yang terlalu sibuk di luar negeri tidak mengerti sama sekali berita yang tentang Tony dan Tina. Karena Tony dan Tina langsung mengurus semua artikel yang berada di internet dengan kekuatan hackernya. Hal seperti ini sudah mereka lakukan, seperti yang sudah sudah untuk menutupi semua jejaknya selama ini.


“Kita lakukan perlahan saja. Kali ini, aku pastikan anak itu akan musnah.” Ucap Tony.


Tony merencanakan sesuatu untuk balas dendam. Karena Hani, satu ladang uangnya hilang begitu saja tidak tersisa. Kini, dia sedang menyelidiki Hani melalui Adit. Dia ingin memastikan bahwa rencananya tidak akan sia-sia atau pun gagal.


“Iya iya... tapi jangan pelan banget. Udah gatel nih tangan.” Ucap Tina.


“Sabar... kita serahkan semua ke Adit.” Ucap Tony melirik ke Adit dan di balas senyuman oleh Adit.


“Hah? Iyah semua akan berhasil sesuai rencana. Jika Adit tidak melenceng.” Ucap Tina sinis.


“Hah?”


“Ya kalau Adit suka sama Hani. Rencana kita bisa gagal.” Ucap Tina.


“Ah iya...”


Sekarang Tina dan Tony menatap Adit tajam dan sedikit mengerikan. Namun, Adit sama sekali tidak takut bahkan dia malah tersenyum sinis.


“Gak akan dong! Cewek tipe ku itu minimal kayak Tante Tina gitu.” Ucap Adit santai.


“Pfftt hahahah. Jago gombal sekarang.” Ucap Tina.


***

__ADS_1


Malam hari di rumah Hani.


Hani sibuk menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Dia menata piring, gelas, sayur, lauk dan buah-buahan. Biasanya Hani tidak melakukan ini. Hanya saja, ini adalah wujud syukurnya bisa belajar dengan lancar hari ini.


Brak!


Suara pintu di tutup.


Hani langsung berlari ke ruang tamu. Di sana terlihat Beni dan Ratih yang sudah sangat lelah. Hani langsung memeluk mamanya. Ratih sangat heran dengan tingkah anaknya itu.


“Kenapa ni?”


“Ada de... mama papa tutup mata dulu.” Ucap Hani.


Ratih dan Beni pun menuruti Hani. Hani menuntun keduanya ke ruang makan. Sesekali Hani menengok ke belakang memastikan bahwa orang tuanya menutup mata. Namun, ternyata di tengah jalan ketahuan saat Beni sedikit mengintip.


“Papa....” Ucap Hani kesal.


“Hahaha... maafin papa.”


Ratih reflek membuka mata tanpa di suruh. Matanya langsung tertuju ke ruang makan. Di sana terlihat meja sudah tertata rapi. Ratih tersenyum melihat itu. Kemudian, matanya beralih ke Beni yang sedang sibuk meminta maaf sambil mencubit pipi Hani dengan gemasnya. Sungguh pemandangan yang indah setelah sekian lama. Tidak terasa Hani sudah tumbuh menjadi anak remaja.


“Waw... kamu siapin ini sendiri?” Tanya Ratih menyela pertengkaran Beni dan Hani.


“Iya ma. Bagus gak?” Tanya Hani langsung ceria.


Beni dan Ratih hendak berjalan menuju meja makan. Tetapi di tahan oleh Hani. Dia ingin kedua orang tuanya mandi dulu sebelum makan. Ratih dan Beni pun menuruti permintaan anaknya.


Beberapa menit kemudian Beni dan Ratih sudah selesai. Mereka menuruni anak tangga sambil memandangi Hani yang menopang dagu dan menggoyang-goyangkan kakinya sambil menunggu orang tuanya.


“Anak kita udah enam belas tahun. Tapi kok kelihatan kayak anak SD sih ma.” Ucap Beni.


“Iya ya. Anak kita tetap jadi putri kecil kita.” Ucap Ratih.


Beni dan Ratih melanjutkan langkah mereka dengan pelan-pelan bermaksud mengejutkan Hani. Tetapi, Hani tidak tertipu begitu saja. Sekarang indra perasaannya semakin peka. Dia bisa merasakan kehadiran orang tuanya di belakangnya.


“Yeay!” Ucap Hani sambil berbalik badan.


Niat awal mengejutkan Hani. Tetapi, malah Ratih dan Beni yang terkejut oleh ulah anaknya  itu. Mereka semua tertawa gembira.


Ratih, Beni dan Hani makan bersama. Ratih menanyakan bagaimana les privat tadi. Dan Hani menjawabnya dengan perasaan yang sangat  senang. Dia juga menjelaskan inilah alasan kenapa Hani menyiapkan ini semua. Beni, hanya mendengar percakapan anak dan istrinya saja. Dia tidak ikut berbicara karena asik makan. Dia sangat lapar karena tadi sebelum pulang dia sedikit berdebat dengan koleganya di kantor.


Tidak terasa semua sudah selesai makan dengan Beni selesai terlebih dahulu. Beni menyandarkan tubuhnya ke belakang sambil mengelus-elus perutnya yang menggembung.

__ADS_1


“Papa... kenyang banget ya.” Tanya Hani.


“Baaaa upss” Beni bersendawa.


“Banget.” Lanjutnya.


Ratih dan Hani tertawa melihat tingkah Beni. Kemudian, Hani mengambil piring Beni dan Ratih untuk di taru di wastafel. Ratih tidak tinggal diam. Dia membantu Hani membersihkan sisa makanan di meja untuk di masukkan ke dalam kulkas.


“Terima kasih mama.” Ucap Hani.


“Sama-sama.”


“Ma.. kapan Hani bisa sekolah normal lagi?” Tanya Hani.


“Kamu ini. Belajar dulu di rumah. Nanti kalau sudah siap. Baru sekolah umum lagi.” Jelas Ratih sambil menyentil hidung Hani karena gemas.


Hani benar-benar bersemangat untuk kembali ke sekolah. Dia suka suasana baru, teman baru terlebih dia juga rindu berlatih karate lagi. Dia sudah membayangkan betapa sibuknya dia kelak saat mulai sekolah lagi.


“Hoam” Ratih menguap.


“Mama ke kamar dulu ya Han. Habis kenyang bawaannya ngantuk.”


Hani mengangguk. Dia masih belum mengantuk. Akhirnya dia memutuskan juga ke kamar tetapi untuk bermain ponsel.


Sampai di kamar.


Hani bermain permainan online melalui ponselnya. Saat asik bermain tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk dari Jaelani. Seketika mata Hani berbinar. Dia rela menghentikan permainananya untuk membalas pesan Jaelani secepat mungkin.


“Ada apa ya dia kok panggil aku?” Gumamnya sambil mengetik.


Tiga detik kemudian dia tersadar lagi dari tingkah konyolnya.


“Duh! Kenapa langsung di balas sih? Kelihatan banget kan kalau aku menganggur.” Ucapnya kesal.


Hani menendang kakinya ke udara. Dia benar-benar menyesal telah melakukan itu. Dia merasa konyol dan bod*h saat itu juga. Ingin rasanya dia memutar balik waktu tadi.


Drrttt Drrtt Drrtt


Ponsel Hani berdering ada telepon masuk dari Jaelani.


“Hah?”


 

__ADS_1


 


~Terima kasih yang sudah mau baca, klik tombol favorite, like dan komen~


__ADS_2