Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 20


__ADS_3

Keesokan harinya pukul 15.30


Hani sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit. Hari ini dia membawa salad buah buatannya sendiri dan buah mangga untuk di berikan kepada Jaelani. Seperti kemarin, Hani tidak ijin kepada ke dua orang tuanya. Karena Hani pikir jika dia ijin untuk menjenguk keluarga Jaelani pasti tidak boleh.


Hani sudah mempersiapkan semuanya. Dia sudah memberi kabar kepada suster Sari dan juga Jaelani. Dia ingin sekali menjenguk papa Jaelani. Tapi Jaelani melarangnya. Dia meminta Hani untuk menemuinya di kantin rumah sakit saja bersama suster Sari.


Sampai di rumah sakit.


Hani langsung menuju kantin bersama pak Rian. Tidak butuh waktu lama, Hani sudah bisa menemukan dimana suster Sari dan Jaelani duduk. Hani dan pak Rian pun menghampirinya.


“Halo suster cantik, Jaelani.” Sapa Hani


“Hai.” Jawab suster Sari dan Jaelani bersaman.


Tanpa basa basi, Hani langsung memberikan salad buah buatannya untuk suster Sari dan Jaelani. Mereka pun melahapnya dengan senang hati. Sesekali suster Sari menawarkan kepada pak Rian. Tapi pak Rian menolak karena dia sudah makan banyak salad buah hari ini. Hani menyuap pak Rian dengan manis pagi ini. Membuat pak Rian kopi, membuatkan salad dan beberapa hal kecil lainnya hingga membuat pak Herdi cemburu juga ingin di perhatikan oleh anak bosnya itu.


“Enak?” Tanya Hani.


Jaelani hanya mengangguk senang sambil menyantap salad buahnya. Sedangkan suster Sari menjawab sambil tersenyum. Melihat respon keduanya Hani merasa bangga bisa membuat makanan yang enak.


“Jae... kenapa sih harus ketemu di sini? Kenapa gak di bangsal sana aja.”


“Kamu kan tau. Mama ku bakalan marah. Jangan keras kepala deh Han.” Tegas Jaelani.


“Oh iya tapi terima kasih udah mau jenguk.” Lanjut Jaelani.


Hani hanya bengong mendengarnya. Dia benar-benar tercengang karena Jaelani berbicara dengan santai kepadanya. Seolah-olah mereka itu sudah dekat begitu lama. Jaelani tidak sungkan mengatakan bahwa Hani keras kepala.


“Oh... tapi ini buat orang tuamu.” Ucap Hani sambil memberikan bingkisan berisi buah mangga.


Jaelani terharu dengan sikap Hani. Dia juga senang Hani masih mau memperhatikan keluarganya, meski keluarganya menolaknya dengan keras. Jaelani kehabisan kata-kata untuk di ungkapkan. Dia hanya memandang Hani dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan, yang mana ekspresi itu sukses membuat Hani tersipu malu.


“Kenapa sih Jae...” Keluh Hani.

__ADS_1


Keluhan Hani membuat Jaelani tersadar dari lamunannya. Di mata Jaelani Hani terlihat cantik sekali hari ini. Apalagi perhatian yang di berikan kepada keluarganya membuat jantung Jaelani tidak karuan sekarang.


“Gak apa-apa.” Jawab Jaelani cuek karena ingin menutupi perasaanya yang tidak karuan itu.


Mereka pun asik mengobrol santai di sana. Hingga tiba-tiba Hani merasa angin dingin berhembus di belakang lehernya yang membuatnya merinding. Dia mengelus leher belakangnya dan meregangkan lehernya yang tiba-tiba terasa pegal ke kanan dan kiri.


“Cu... sakit cu...” Suara wanita tua.


Sret!!


Setelah mendengar suara nenek itu tiba-tiba Hani merasa ada yang menyentuh rambutnya. Reflek Hani menoleh mencari apa yang membuat rambutnya terasa seperti di sentuh.


“Tolong cu..  sakit cu... tolong nenek.” Suara wanita itu terdengar lagi.


“Oek...oek..oek...” di susul suara bayi menangis


Keringat dingin mulai bercucuran. Hani tidak menyangka bahwa kejadian ini terjadi lagi di tempat ini. Tiba-tiba Hani merasakan sedih serta sakit secara bersamaan hingga membuat Hani meneteskan air mata.


Akhirnya Hani menangis karena tidak kuat menahan rasa sakit dan sedih itu. Air matanya terus mengalir begitu deras merasakan perasaaan aneh ini. Bahkan Hani semakin tersedu saat suster Sari memeluk Hani.


“Mbak Hani kenapa?” Tanya pak Rian panik.


“Hani?” Jaelani hanya bengong karena tidak bisa berbuat apa-apa.


Suster Sari mencoba menenangkan Hani dengan mengelus punggungnya dan memeluknya lebih erat. Hani pun membalas pelukan suster Sari. Dia benar-benar membutuhkan kenyamanan untuk melepaskan semua emosinya sekarang.


“Sakit sus... Sakit banget.” Ucap Hani lirih dalam pelukan.


“Apanya?” Tanya suster Sari lembut.


“Tanganku sus.”


Suster Sari langsung melepas pelukannya memeriksa kedua tangan Hani. Tetapi suster Sari tidak menemukan bengkak ataupun luka di kedua tangannya. Suster Sari semakin khawatir. Dia ingin membawa Hani untuk di ronsen. Tetapi Hani menahannya.

__ADS_1


“Tanganku sakit seperti tertimpa benda yang berat banget. Aku juga merasa sedih banget suster. Aku merasa aku gak bisa menyelamatkan seorang bayi yang menangis di lenganku.”


Deg!


Jantung suster Sari berdebar begitu kencang. Seketika dia ingat kejadian dua tahun yang lalu. Dimana kantin ini pernah terbakar dan menewaskan seorang nenek dan bayi yang terbakar hidup-hidup.


Flashback.


Dulunya kantin ini adalah bangsal anak. Waktu itu bangsal ini mengalami kebakaran. Semua berlari panik menyelamatkan diri. Saat itu suster Sari juga membantu evakuasi bangsal anak. Dia mengendong dan menggandeng anak kecil untuk keluar dari bangsal itu. Suster Sari ingat betul bahwa di sana masih ada seorang nenek dengan cucunya. Saat suster Sari ingin kembali membantu nenek itu tiba-tiba petugas kebakaran menahannya karena kobaran api semakin menjadi.


Suster Sari menjelaskan bahwa masih ada orang di dalam sana yaitu nenek nenek dengan anak bayi. Kemudian petugas itu menunjuk ke suatu arah dimana di sana ada seorang nenek dan bayi yang terselamatkan dan sedang mendapat pertolongan medis. Saat itu suster Sari lega karena dia pikir nenek yang dia lihat sudah selamat.


Tetapi ternyata saat pemadam kebakaran selesai memadamkan api. Mereka menemukan mayat yang terbakar hangus. Serta di duga seorang bayi yang masih berumur dua bulan. Kedua mayat itu berada di bawah tumpukan kayu. Di sebelah mayat di duga bayi itu terdapat kayu besar yang menimpa tangan mayat yang hangus itu.


Kejadian itu sungguh tragis. Suster Sari sempat drop beberapa hari karena merasa tidak bisa menyelamatkan nenek dan bayi yang ada di sana. Dia ingat jelas bahwa nenek itu tertatih menggendong cucunya. Saat suster Sari ingin menggandengnya, tapi nenek itu menolak karena melihat suster Sari juga sedang mengandeng dan menggendong anak kecil. Berniat untuk kembali menolong tetapi ternyata dia salah sangka terhadap seseorang yang di kira selamat.


Flashback selesai.


Seketika suster Sari memeluk erat Hani. Dia benar-benar sedih mengingat kejadian itu. Dia tidak kuasa menahan tangisnya. Jaelani dan pak Rian semakin di buat panik dengan kedua perempuan yang menangis tersedu itu.


Tiba-tiba punggung suster Sari terasa dingin membeku. Seperti ada sesuatu dingin yang memeluknya. Hani pun juga merasakan bahwa tangannya yang sedang melingkar di pinggul suster Sari jadi dingin. Hani sangat terkejut, ingin sekali dia melepas pelukannya. Tetapi tangannya tidak bisa bergerak seakan-akan ada yang menahannya.


Tidak lama kemudian, suster Sari melepas pelukannya di barengi kembali suhu ruangan saat itu. Suster Sari tersenyum kepada Hani. Terlihat ada perasaan seperti lega di senyum suster Sari.


“Terima kasih mbak Hani.” Ucap suster Sari.


Hani terkejut, dia tidak merasa berbuat apa-apa tetapi suster Sari berterima kasih kepadanya. Padahal seharusnya Hani yang berterimakasih kepada suster Sari karena sudah memeluknya tadi.


“Kalau gak ada mbak Hani. Mungkin saya akan merasa bersalah selamanya.” Jelas suster Sari yang membuat Hani semakin bingung.


~ Terima kasih, sudah mampir baca~


~ Saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang tetap stay  hingga episode dua puluh ini. Karena bagi penulis, pembaca itu seperti reward yang bernilai tinggi sekali. Karena tanpa pembaca sebuah karya tulis itu bukan apa-apa. Semoga kalian tetap stay hingga akhir cerita ya. Terima kasih juga untuk like, favorit dan giftnya.~

__ADS_1


__ADS_2