Malam Kelam Istimewa

Malam Kelam Istimewa
Dua Garis Biru


__ADS_3

Beberapa minggu setelahnya kini ujian akhir pun tiba. Saat hari pertama dan kedua berjalan lancar hingga hari terakhir ujian. Hari ini Pamela merasa senang karena ini hari ujian yang terakhir dengan penuh semangat belajar.


"Pagi mah, pah...." sapa Mela saat sampai di meja makan.


"Pagi sayang, buruan sarapan nanti telat." kata mama Ratih.


Melihat nasi goreng seafood kesukaannya, membuat nya Pamela bersemangat lalu mengambil piring dan nasi goreng nya namun saat satu sendok suapan di mulut nya tiba-tiba perut Pamela berasa diaduk.


"Hoek... hoek..." Pamela menutup mulut nya seakan yang dimakan barusan ingin keluar.


Dengan cepat Pamela lari ke wastafel dikamar mandi dekat dapur.


"Aduuuh mela kamu kenapa sayang?" tanya mama Ratih membantu memijat tengkuk putrinya.


"Nggak tahu mah, Tiba-tiba perut Pamela seperti di aduk aduk gitu." jawab mela dengan muka pucat dan mata berair.


"Akhirr akhir ini kamu sering tidur larut malam karena belajar kan?" tanya tuan firman.


"Iya pah... "


"Ya udah kamu minum obat ini, hari ini terakhir ujian kan semoga kuat tapi kalau tidak kuat jangan dipaksakan untuk ikut ujian." mama Ratih memberikan obat pereda mual untungnya ada stok di rumah. Pamela langsung meminum obat yang diberikan mama ratih berharap perutnya segera membaik dan ingin mengikuti ujian yang terakhir. Karena kejadian tadi Pamela diantar papahnya ke sekolah sekalian pergi bekerja.


Semua siswa siswi yang kelas XII semua mengikuti ujian dengan khidmat tanpa kecuali, hari ini ada 2 mata ujian dan ujian mata pelajaran pertama sudah berlangsung hingga bunyi bel istirahat. Selesai menyerahkan kertas ujian Pamela merasakan perutnya kembali bergejolak.


"Hoek...." Pamela menutup mulutnya kemudian tanpa bicara langsung pergi ke toilet karena sudah tidak tahan. Desi menyadari Pamela buru buru keluar kelas hanya melongo saja.


"Kenapa Mela, buru buru keluar?" tanya Desi kepada bona.


"Lah memang nya kenapa dengan tuh anak?" jawab Bona.


"Nggak tahu maka nya gue tanya sama elo, oneng?" kata desi kesal


"Ya udah kita susul dia kemana pergi tadi." ajak bona.


"Yuk, takut kenapa napa sama dia." Mereka berdua akhir nya menyusul Pamela ke toilet.


Pamela yang tergesa-gesa jalannya hingga menabrak seseorang.


BRUG


Tubuh Pamela terjatuh karena yang ditabrak nya memiliki tubuh tinggi dan tegap.


"Kamu nggak papa?" tanya cowok itu yang tak lain adalah Vino sambil mengulurkan tangan nya ingin membantu Pamela.


DEG

__ADS_1


Jantung Pamela berdetak saat melihat cowok yang ada di hadapan nya sekarang. Saat kembali kesadaran nya Pamela hanya menggelengkan kepala hingga perutnya kembali terasa mual mau muntah. Dengan menutup tangan nya Pamela berlari ke toilet.


Vino memperhatikan tingkah cewek tadi yang kelihatan aneh hanya memandang nya hingga punggung cewek tadi tidak terlihat lagi.


PUK


"Elo kenapa Vin? akhir akhir ini elo selalu aneh kadang senyum senyum sendiri kadang jutek kayak cewek aja lho." ujar Dika menepuk bahu sebelah Vino.


"Gue normal ya." jawab Vino datar lalu berlalu pergi begitu saja membuat dika dan Andreas heran.


"Lah kenapa tuh anak, sensitif banget." tanya Dika namun Andreas hanya menaikan kedua bahunya. Mereka bertiga setelah ujian jam pertama memilih nongkrong di kantin berbeda dengan jatmiko belajar di perpustakaan.


"Hoek.... hoek... hoek..." lagi lagi Pamela mengeluarkan isi dari perutnya hingga merasa baikan.


Ditatap nya cermin dekat wastafel toilet dan pikiran nya tertuju pada cowok tadi. Dan Pamela langsung mengingat tanggal bulanan nya.


"Seharusnya minggu lalu gue datang bulan tapi sampai sekarang gue belum halangan." gumam Pamela lirih dan tiba-tiba kepala nya pusing karena panik dengan pemikiran nya. Pamela menitikkan air mata karena membayangkan jika dia hamil harus bilang apa dengan kedua orang tuanya. Untung nya di toilet tidak ada orang.


"Mel, lo baik baik saja? kami khawatir sama elo?" tanya Desi yang baru datang disusul Bona dari belakang. Pamela langsung memeluk Desi membuat Bona yang baru datang merasa heran.


"Woi main peluk pelukan aja di dalam toilet. Ayo ke kelas bentar lagi ujian akan dimulai jangan sampai telat." teriak Bona. Mendengar mengenai ujian Pamela mengurai pelukan nya.


"Mel elo sakit kelihatan muka elo pucat banget." tanya desi khawatir.


"Nggak papa gue sudah merasa baikkan tadi perut gue terasa mual." jelas Pamela membuang pemikiran dia hamil tapi pulang sekolah berencana membeli barang itu yaitu testpack.


"Iya... " Pamela tidak ingin melewatkan ujian terakhir nya.


Mereka pun kembali ke kelas dan saat ujian di mulai mereka mengerjakan ujian terakhir dengan penuh semangat karena mereka berpikir tidak lagi begadang malam demi belajar. Pamela berusaha untuk tetap bisa mengerjakan soal ujian karena ini ujian terakhir meskipun perut terasa nggak enak.


Pulang sekolah Pamela mampir ke apotek untuk membeli sesuatu dengan ragu dan takut Pamela memesan benda itu kepada karyawan apotek.


"Maaf, bisa saya bantu, mba mau beli apa?" tanya karyawan Apotek dengan ramahnya.


"Hmm saya mau beli ini mba." kata Pamela menunjukkan gambar testpack dari ponselnya dengan sedikit keraguan pasalnya dirinya masih berseragam sekolah membeli benda itu.


"Oh itu, baiklah." kata karyawan apotik itu tersenyum.


Setelah mendapat benda yang diinginkan, dan selesai membayarnya Pamela segera pergi dari apotek itu.


"Terima kasih mba." kata karyawan apotek sebelum Pamela meninggal kan apotek dengan terburu buru menghentikan taksi setelah keluar dari apotek.


Dari seberang jalan terlihat meisya memperhatikan Pamela setelah keluar dari mini market depan apotek tadi.


"Kenapa tuh cewek buru buru kali keluar dari apotek? bodoh ah bukan urusan gue." meisya pun tak lagi menghiraukan Pamela yang sudah pergi dengan naik taksi.

__ADS_1


Taksi yang ditumpangi Pamela sudah berhenti didepan rumah nya. setelah membayarnya kemudian Pamela masuk kedalam rumah dan langsung masuk ke kamarnya karena kedua orang tuanya belum pulang bekerja.


Pamela duduk termenung di tepi ranjangnya, ada keraguan dalam dirinya saat melihat benda yang menurut nya sangat asing untuk anak sekolah. setelah melihat dan membaca petunjuk pemakaian akhirnya Pamela masuk ke kamar mandi dan menggunakan testpack tadi.


Tubuh Pamela lemas seketika saat melihat hasil nya, dua garis biru sangat jelas. Air mata pun ikut luruh seketika dan Pamela bingung harus berbuat apa jika mengingat kedua orang tuanya. Pamela kembali teringat kejadian itu jika saat itu ia melakukan tanpa pengaman dengan pria itu yang ternyata satu sekolah dengan nya.


Pamela menangis sambil memukul mukul perutnya bagaimana ia harus mengatakan jika orang tuanya tahu sudah membuat aib keluarga.


Saat orang tua Pamela pulang namun rumah dalam keadaan gelap ternyata Pamela ketiduran hingga menjelang malam.


"Tumben gelap nih rumah atau Pamela belum pulang?" tanya mama Ratih saat mendapati ruangan gelap.


"Mungkin ketiduran mah soalnya pintu nya nggak di kunci." jawab tuan firman masuk kedalam rumah.


Dan benar saja Pamela tertidur setelah menangis.


"Lah masih tidur jam segini." gumam mama Ratih melihat Pamela tidur saat masuk ke kamar nya.


"Mela bangun sayang, ayok kita makan! mama pulang telat soal nya tadi mama mampir ke market belanja bulanan dulu.


"Mama sudah pulang?" tanya Pamela saat terbangun mama nya sudah di kamar nya.


"Iya makan yuk, tadi mama beli makanan. Papah dah nunggu tuh"


"Iya mah tapi Pamela lagi nggak ***** makan."


"Masih sakit ya perutmu, atau kita pergi ke rumah sakit." mendengar kata rumah sakit Pamela langsung menggelengkan kepala.


"Ya udah ayo turun, kita makan bersama." mama Ratih memaksa Pamela untuk ikut makan.


Pamela tidak ingin membuat mama bertambah kecewa akhirnya ikut makan bersama namun meskipun ada makanan kesukaan di meja tapi Pamela seperti tidak ***** memakannya.


"Kenapa tidak makan sayang kan mama beli makan kesukaan mu semua loh." tanya mama ratih melihat Pamela hanya makan sedikit bahkan makanan yang di piring nya buat mainan.


"Masih sakit ya perutnya?" giliran tuan firman bertanya.


Pamela hanya menggelengkan kepala padahal perutnya terasa mual. Pamela tidak ingin membuat orang tuanya curiga akhirnya pergi ke dapur mengambil minum di kulkas.


Saat membuka kulkas Pamela mengambil jus mangga yang di beli mama nya tadi. Setelah minum jus tadi perlahan rasa mual nya hilang.


"Pah, mah, mela ke kamar ya." pamit Mela.


"Ya udah kamu istirahat lagi, mama sama papah juga mau istirahat." sahut mama Ratih. Pamela pun pergi ke kamarnya dan saat ini hanya kesedihan yang dirasakan karena belum jujur dengan orang tuanya.


__

__ADS_1


__


Maaf baru bisa up selain di sini othor juga deadline di dunia nyata, semoga suka dengan cerita nya Terima kasih...Happy Reading!!


__ADS_2