
Sesampainya di rumah sakit Pamela dan Ranti langsung menuju ke emergency.
"Mela....." panggil Indra saat melihat Pamela datang.
"Ndra, bagaimana keadaan mereka?"
"Mel kamu lihat sendiri saja." kata indra.
Pamela mengikuti indra dan menunjukkan dimana mama nya terbaring lemah di ruang observasi dan sementara Alvin di ruang isolasi karena pendarahan terus akibat luka ditangan nya yang mengeluarkan banyak darah.
Pamela hanya menangis saat melihat mama Ratih belum sadar. Dan ketika melihat keadaan Alvin, Pamela terlihat lemah dan syok bahkan dirinya seorang dokter namun tidak bisa dipungkiri jika melihat orang yang disayanginya sedang terbaring lemah.
"Mel kuatkan dirimu, saya yakin Alvin anak yang kuat." Ranti merasa ikut sedih.
Pamela menggenggam tangan Alvin seakan ingin menyalurkan tenaga.
"Dok, kami meminta persetujuan mu untuk melakukan tindakan operasi tangan Alvin tapi kita butuh donor darah karena setelah kami cek persediaan kantong darah yang sesuai sudah habis. Untuk kondisi ibu Ratih, kita tunggu hasil ct scan nya juga karena menurutku Ibu Ratih harus di ICU dan di bantu ventilator." jelas dokter Indra.
"Lakukan yang terbaik buat anak aku dan mama, Ndra." Pamela sudah tidak tahan melihat Alvin yang pasti kesakitan karena luka nya.
"Ya Mel, aku sudah menghubungi dokter samuel untuk tindakan operasi Cito dan beliau dalam perjalanan, dan mengenai stok darah nanti dari laboratorium akan konfirmasi ke PMI." jelas Indra.
"Terima kasih dokter indra." ucap Pamela karena Indra yang bertugas jaga UGD pagi.
"Mel mama kamu akan di pindahkan ke ICU karena dari hasil CT Scan luka di kepala nya cukup serius." ujar Indra saat melihat mama nya Pamela.
"Mel, sorry ya...jam praktek aku bentar lagi mulai, aku tinggal dulu ya." pamit Ranti karena sudah jam praktek poli sore sebentar lagi mulai.
Pamela hanya menganggukkan kepala saat Ranti izin tidak bisa menemani karena harus bertemu pasien nya. Sebelum dibawa ke ICU Pamela menghampiri mama nya dengan penuh air mata.
"Mah...." Pamela menggenggam tangan mama Ratih yang masih belum sadar.
"Mama harus kuat. Sore nanti Alvin akan dilakukan operasi mah, semoga operasi nya lancar. Maafkan Pamela mah." Pamela sudah tidak bisa menahan air mata nya lagi.
Kejadian naas yang menimpa mama Ratih dan Alvin terjadi saat itu sepulang dari Mall acara teman Alvin mama ratih memesan mobil online untuk mengantarnya pulang namun naas saat di lampu merah dari arah belakang ada sebuah mobil melintas dengan tak seimbang jika dipastikan seperti rem blong karena mobil tersebut menyerempet beberapa kendaraan yang akan berhenti di lampu merah yang berada disisi tengah sebelah kanan.
Pamela ingin melihat Alvin lagi tapi sebelum nya menghubungi Desi untuk datang ke rumah sakit karena Pamela ingin ikut masuk ruang operasi saat Alvin akan di operasi nanti.
Meskipun bukan bagiannya tapi Pamela ingin masuk ke ruang operasi. Dan untungnya dokter samuel yang selaku dokter ortopedi yang akan mengoperasi Alvin mengijinkan Pamela ikut di ruangan operasi bukan karena keluarga pasien saja tapi juga sama sama dokter namun beda ahli.
"Dokter stok darah di PMI kosong dok." kata perawat yang melapor ke dokter samuel.
"Okay kita tunda operasi nya dulu siapa tahu ada pendonor darah langsung." ujar dokter samuel dan terdengar oleh Pamela membuat nya syok apalagi golongan darah nya tidak sesuai dengan Alvin.
Perusahaan Damares group
Vino selesai dari meeting nya dan menyelesaikan berkas yang harus ditandatangani.
__ADS_1
Tok tok tok
"Masuk...." suara Vino saat mendengar pintu ruangan ada yang mengetuk ternyata farhan.
"Farhan, bagaimana pekerjaan mu?" tanya Vino karena farhan di minta mengerjakan laporan di rumah sakit meskipun ada sekretaris di sana.
"Sudah selesai bos tapi ada sesuatu yang terjadi." jelas farhan.
"Apa itu?" tanya Vino masih dengan berkasnya.
"Anak dokter Pamela kecelakaan dan membutuhkan darah namun stok di rumah sakit kosong dan saya dengar dari stok di PMI kosong karena akan segera dioperasi. Ibunya dokter Pamela kritis." Vino pun menghentikan kerjanya.
Tanpa berpikir panjang Vino pun meminta farhan pergi ke rumah sakit bersama nya.
"Farhan kita ke rumah sakit sekarang dan hubungi pihak labor untuk ke ruang khusus karena aku ingin donor darah untuk anak dokter Pamela." ajak Vino dan bergegas menuju ke rumah sakit. Sementara farhan masih bingung dengan bos nya itu tapi mengikuti saja.
Ternyata waktu di restoran Pamela terlihat panik dan terburu buru karena Alvin kecelakaan. batin Vino ikut khawatir.
"Lebih cepat lagi farhan." perintah Vino saat dalam perjalanan ke rumah sakit.
Terlihat muka Vino cemas dan khawatir pastinya karena Alvin anaknya dan golongan darah nya pun sama.
Sesampai di rumah sakit Vino masuk ke dalam ruangan VVIP untuk melakukan donor darah karena tidak ingin Pamela tahu jika dirinya yang sudah mendonorkan darah untuk Alvin. Butuh hampir 2 jam Vino diambil darah nya
setelah di cek keadaan Vino yang sehat.
"Dokter sudah dapat darahnya dok, jadi dokter bisa mulai operasi nya." kata perawat yang menjadi asisten nya itu setelah dapat informasi dari pihak labor.
"Baiklah, panggil dokter Pamela untuk ikut mendampingi jalan nya operasi." suruh dokter samuel kepada perawat itu.
Di ruang tunggu Pamela berharap cemas karena belum ada kabar mengenai donor darah. Begitu khawatir nya Pamela takut Alvin kehilangan banyak darah hingga kritis karena keterlambatan darah untuk nya bahkan operasi nya sampai tertunda, karena dokter samuel tidak ingin ambil resiko. Untung nya Desi sudah datang dan menunggu di ruang tunggu ICU tempat mama Ratih di rawat.
"Maaf dok, dokter samuel memanggil anda karena operasi segera dimulai." kata perawat asisten dokter samuel.
"Benarkah Sus, jadi sudah dapat kantong darah nya?" Pamela senang dengan kabar dari perawat yang bernama Vero.
"Iya dok, mari....dokter samuel sudah menunggu di ruang operasi.
Pamela tak ingin terlambat dan segera mengganti baju nya dengan baju scot yang sudah steril dan segera masuk kedalam ruangan operasi. Operasi pun dimulai setelah dokter samuel memberi kode dengan anggukkan kepala kepada Pamela dan jawab dengan hal serupa. Biasanya Pamela mengoperasi pasiennya namun sekarang Pamela menyaksikan anak nya di meja operasi.
Cidera tangan Alvin cukup parah jadi harus di operasi dan di gips, selain itu luka ringan di kaki nya. Butuh waktu 5 jam untuk tindakan operasi Alvin. satu jam di ruangan pemulihan Pamela terus menggenggam tangan Alvin hingga Alvin membuka mata nya perlahan.
"Sayang, I'm sorry." kata Pamela senang Alvin sudah siuman.
"Mommy, what happened to my hand?" tanya Alvin pelan karena sadar tangan kiri nya terasa berbeda.
"I't okay, tangan Alvin baik baik saja dan segera sembuh." Pamela tidak tega melihat Alvin.
__ADS_1
"Mommy....." Alvin pun menangis.
Alvin pun di pindah ke ruang rawat inap setelah dari ruang pemulihan dan Pamela meminta Alvin di ruang VIP karena Alvin butuh kenyamanan untuk kesembuhan nya akibat trauma kecelakaan itu.
"Mel, kamu yang sabar ya." ujar Desi.
"Iya Des, Terima kasih." Desi memeluk Pamela memberi semangat saat mama dan Alvin tidur.
Vino masih di rumah sakit saat mengetahui keadaan Alvin sudah selesai di operasi akhirnya memutuskan untuk pulang.
______________
Pukul 7 malam Vino baru sampai di rumah namun saat memasuki halaman rumah nya ada satu mobil asing baginya dan Vino berpikir pasti tamu papa nya.
Dan benar saja di ruang tamu terdengar ramai ternyata keluarga Rudi sedang berkunjung ke rumah nya beserta anak nya. Farhan memilih pulang tidak mampir ke dalam karena besok pagi farhan juga yang menjemput Vino.
"Vino kenapa baru pulang?" tanya Tuan Antoni.
"Vino banyak kerjaan yang harus di selesaikan pah." jawab Vino.
"Ya sudah kamu bersih bersih dulu dan segera turun karena kita sudah menunggu mu untuk makan malam bersama." ujar mama Dewi.
Saat Vino turun dari kamarnya terlihat kedua keluarga itu sudah duduk di ruang makan. Bona seakan takjub melihat ketampanan Vino meskipun memakai baju biasa hanya kaos panjang dan celana selutut.
"Maaf sudah membuat menunggu." suara Vino membuat semua orang di ruang tamu menoleh.
"Duduk lah Vin, kita mulai makan nya." suruh mama Dewi.
Seperti biasa suasana makan malam nya diselingi obrolan dan candaan hanya Vino yang tidak begitu tertarik karena pikiran nya masih dengan keadaan Alvin.
"Vin, papa ingin menjodohkan kamu dengan anaknya Rudi dan papa harap kalian segera menikah." kata tuan Antoni terang terangan.
"Iya vin, Om menyetujui perjodohan itu siapa tahu nanti kamu menikah dengan Bona ada yang membantu mengelola perusahaan om." Ucap tuan Rudi dengan muka bahagia lain dengan Bona yang terlihat malu.
"Ck....." gumam Vino lirih.
Selesai makan malam Vino duduk di belakang rumah bersama Bona karena para orang tua yang menyuruh mereka untuk lebih dekat sedangkan Tuan Rudi dan tuan Antoni berbincang di ruang tamu.
"Apa kamu menyetujui perjodohan ini?" tanya Bona.
"Menurut mu?"
"Sudah ku duga kamu tak akan menerima perjodohan ini, tapi aku tidak bisa menghindar." ujar Bona kemudian pergi meninggalkan Vino di teras belakang rumah.
"Jika kita sama sama tidak menerima perjodohan ini dipastikan tidak akan terjadi." ungkap Vino saat Bona beranjak pergi.
Bona sudah memastikan jika Vino tidak akan menerima perjodohan ini bahkan dulu ia pernah mengagumi sosok Malvino saat disekolah dulu selain jatmiko.
__ADS_1
Setelah berpamitan keluarga Rudi pun meninggal kan kediaman tuan Antoni. Vino tak ambil pusing dengan rencana tuan Antoni itu, ia memilih pergi ke kamar untuk tidur karena donor darah tadi siang membuat nya butuh istirahat.