
Semenjak pulang dari Jerman Bona belum menyempatkan untuk menemui kedua sahabat nya dan ingin tahu apa hubungannya pamela dengan Vino saat ini, apa karena waktu itu tapi setahu Bona jika Pamela memilih pergi keluar negeri.
"Permisi mba, ada bu Desi?" tanya Bona saat memasuki sebuah rumah butik milik sahabat nya Desi.
"Mba ini siapa ya? bu Desi ada di ruangan nya." tanya karyawan Desi.
"Saya teman sekolah nya." jawab Bona.
Mendengar kata 'teman' dari bos nya itu kemudian karyawan Desi menyuruh Bona menuju ke ruangan nya.
"Silahkan mba, langsung keruangan bu Desi di lantai 3."
"Terima kasih."
Bona naik ke lantai 3 dan sempat terkagum dengan usaha sahabat nya ini yang semakin berkembang dan sukses, dilihat dari lantai atas ada beberapa karyawan yang bekerja di butik milik Desi.
Tok tok tok
"Masuk....." kata Desi mengira karyawan nya yang mengetuk.
"Apa kabar Desi." sapa Bona membuat Desi terkejut.
"Bona!!......." gumam Desi kemudian menghampiri Bona yang sudah masuk ke ruangan nya kemudian mereka saling berpelukan sesaat.
"Kapan balik dari Jerman?" tanya Desi.
"Dua hari yang lalu, sorry baru nemuin kamu."
"Oke kita duduk dulu deh biar enak kita ngobrol nya." ajak Desi kemudian memanggil asisten nya untuk mengambil minuman buat sahabat nya ini.
"Kamu hebat Desi, sudah memiliki usaha sendiri dan berhasil."
"Ya begitulah Bon, aku mau usaha sendiri dan bisnis papah yang nerusin adik ku."
"Kalau aku nggak tahu Des, dan papah menyuruh ku untuk meneruskan perusahaan nya."
"Ya iyalah, kamu kan anak tunggal bego." Bona hanya tersenyum saat.
Desi langsung berpikir Bona yang sekarang sangat berbeda, lebih anggun, tidak ceplas-ceplos lagi dan tambah cantik mungkin bertambah nya usia jadi lebih dewasa pemikiran nya.
"Oh ya, bagaimana kabar Pamela?" tanya Bona.
"Ah pamela ya? kabarnya baik dia sekarang sudah menjadi dokter spesialis terkenal." jawab Desi.
"Bagaimana nanti siang kita ngumpul bareng sekalian makan siang. Kamu sibuk nggak siang nanti?" ajak Desi berharap bisa sekali kali berkumpul lagi seperti waktu dulu.
"Boleh deh, kan aku masih pengangguran nih." jawab Bona merendah padahal bentar lagi bakal jadi CEO perusahaan milik orang tuanya.
"Okay nanti saya telepon Pamela semoga dia nggak sibuk."
Beberapa saat kemudian Desi menelpon pamela untuk mengajaknya makan siang di cafe langganan mereka dulu setelah selesai praktek karena teman mereka yang satu ini sebagai seorang dokter jadi mengikuti waktu Pamela. Dan benar saja pamela akan datang setelah jam pelayanan pasien selesai.
"Kita tunggu di sini, bentar lagi pamela juga datang katanya jam pelayanan pasien nya sudah siap." kata Desi setelah sampai di cafe langganan mereka dulu.
"Sudah lama nggak nongkrong disini?" ujar Bona.
"Eh Bon, bukan nya jatmiko juga kuliah di Jerman? apa enggak satu kampus lo sama dia?" tanya Desi membuat Bona terdiam sesaat kemudian terdengar suara Pamela yang sudah menghampiri mereka berdua.
"Hai gaes....... sorry aku terlambat." Desi dan Bona langsung menoleh ke arah suara ternyata Pamela.
"Hai Mela, apa kabar?" tanya Bona sambil cipika cipiki dengan Pamela.
__ADS_1
"Ya... kabar ku baik, dah lama balik ke Indonesia?" tanya Pamela.
"Baru beberapa hari yang lalu, sorry tidak memberi kabar sama kalian karena saya yakin dua sahabat ku ini pasti pada sibuk semua." ujar Bona.
"Biasa aja lah.......nggak sibuk sibuk kali koq diriku, tapi kalau bu dokter pasti lah......" canda Desi dan Pamela hanya tersenyum saja.
"Oh ya Mel, kamu tambah cantik saja." tanya Bona.
"Eh koq belum pada pesan?" Pamela mengalihkan suasana.
Desi lalu memanggil waiters untuk memesan makan padanya dan mereka bernostalgia dengan makanan mereka sewaktu masih sekolah saat nongkrong di cafe ini.
"Oh ya Bon, kamu nggak kembali ke Jerman lagi kan?" tanya Desi.
"Sudah ku putuskan buat nerusin perusahaan papah, karena di sana nggak ada yang diharap." jelas Bona.
"Maksudnya?"
"Ya aku bakalan di sini setelah lulus kuliah nggak balik lagi ke Jerman." kata Bona.
"Bener kamu Bona, kamu anak satu satunya om rudi jadi kamu yang akan meneruskan perusahaan nya." kata Pamela.
"Benar apa yang dikatakan Pamela Des, bahkan papah sudah merencanakan perjodohan ku dengan anak nya teman papah." ucap Bona.
"What!? Apa!?..." ucap Desi, Pamela bersamaan namun rasa penasaran mereka terhenti saat seorang waiterss datang mengantar pesanan mereka.
"Dan kamu sudah tahu siapa calon suami kamu?" tanya Desi penasaran.
"Hmm......." Bona tersenyum. "Nggak nyangka aja ternyata dia anak teman nya papah, dan kalian mengenal nya." lanjut nya.
Kata Bona barusan membuat Desi teringat kata Dika waktu itu soal perjodohan Vino, ya wajar sih kedua nya sama sama konglomerat. Dan penasaran Desi semakin bertambah saat Bona menyinggung anak kepada pamela.
"Oh ya Mel.......gimana soal anak yang kamu kandung waktu itu, bagaimana sekarang?" tanya Bona membuat Pamela menghentikan makan nya.
"Jadi pengen ketemu." rengek Bona.
Desi semakin curiga kemungkinan pria yang dijodohkan Bona, benar Vino.
"Lain kali kalau ada waktu ngumpul lagi ku ajak Alvin."
"Apa Vino sudah mengetahui mengenai Alvin." tanya Bona.
"Ya, dia sudah tahu tapi.............." kata Pamela terhenti.
"Tapi Alvin belum menyadari nya." ucap Bona yang di angguki kepala Pamela.
Dari sini Bona sudah menyadari jika Vino mencoba mendekati Pamela lagi, itulah kenapa sikapnya dingin saat ketemu waktu makan malam bareng keluarga kemaren.
"Okay gaes, seperti nya aku nggak bisa lama lama deh, next kita ngumpul bareng lagi. Oh ya ini nomor ku yang baru, sorry nomor yang dulu sudah hilang." kata Bona.
"Iya, jangan lupa kabar kabar nanti ku misscall ke nomor kamu." kata Pamela.
"Okay bye......." mereka saling cipika cipiki sebelum Bona pergi, namun Bona membayar dulu pesanan makan mereka bertiga di kasir sebelum meninggalkan restoran.
Sepeninggalnya bona, Desi dan Pamela
saling mengobrol.
"Oh ya Mel, kamu balik ke rumah sakit lagi atau langsung pulang?" tanya Desi.
"Aku sih masih ke rumah sakit lagi karena ada praktek poli sore." jawab Pamela.
__ADS_1
"Ohh....."
"Eh Des, mang siapa sih menurut mu calon nya Bona? koq bilang nya kita sudah mengenal nya." kata Pamela.
"Ga jelas juga tuh anak...." ujar Desi mencoba menutupi apa yang dirasakan nya jika yang dijodohkan Bona pasti Vino yang dimaksud.
"Ya udah deh, kita balik sekarang." ajak Pamela kemudian diikuti Desi.
"Yuk...."
Saat mereka sampai di kasir ternyata semua yang mereka pesan sudah dibayar sama Bona. Tak heran dari dulu Bona selalu mentraktir mereka saat masih sekolah. Pamela dan Bona berpisah di parkiran kemudian mereka meninggalkan cafe itu dengan mobilnya masing-masing dengan tujuan yang berbeda.
Selesai praktek di poliklinik saat hendak mau pulang Pamela dikejutkan dengan abang kurir pengantar bunga.
"Ada kiriman bunga buat dokter." kata perawat Rina dengan membawa buket bunga mawar putih.
"Dari mana Rin?" tanya Pamela setelah menerima buket bungan tadi.
"Kurang tahu dok, tadi mas kurir nya nyamperin ke poli sini." jawab perawat rasa Rina.
"Ohh..... ya udah bentar lagi kita akan pulang, semua laporan sudah siap Rin,"
"Sudah dok, kalau mau pulang silahkan dokter."
"Sampai ketemu besok ya Rin, saya pulang duluan."
"Iya dokter, hati hati dijalan." Kata Rina yang sudah akrab dengan Pamela bukan hanya sebagai asisten nya saja tapi juga sebagai teman karena Pamela selalu menghargai semua perawat yang menjadi asisten nya saat bekerja.
Sesampainya di dalam mobil Pamela melihat kembali bunga itu kemudian membaca stiky note yang nyelip di bunga itu.
Terima kasih sudah mau membuka hati untuk ku. Vino
Entah bagaimana perasaan Pamela saat ini yang pasti merasa senang. Hingga dalam perjalanan pulang Pamela selalu tersenyum namun senyum nya langsung hilang saat ponsel nya berdering. Ternyata Bona ingin bertemu dengan nya di cafe dekat sekolah mereka dulu yang tak jauh dari rumah Pamela.
"Sorry Mel menyita waktumu sebentar." kata Bona saat mereka sudah di cafe dan Bona yang sudah duluan datang memesan minuman untuk mereka berdua.
"Ada apa Bona, bukannya tadi kita baru ketemu?" tanya Pamela heran.
"Iya, ku cuma ingin memastikan jika keputusan ku ini benar." jawab Bona.
"Apasih..... kelihatan nya serius banget?" lagi lagi Pamela masih bingung.
"Begini Mel, ku mau jujur sebenarnya orang yang akan dijodohkan sama aku itu vino, Mel." Pamela kaget mendengar nya.
"Apa Vino kembali mengejar kamu Mel? jika iya, aku nggak papa sih kalian bersama toh kalian juga sudah memiliki putra dan itu lebih baik untuk putra kalian tapi aku nggak bisa menghindari perjodohan itu Mela." jelas Bona
Pamela kaget ternyata calon nya Bona itu Vino tapi kenapa Vino masih mengharap dirinya bahkan mereka sudah memulai hubungan. Mulut Pamela hanya diam karena bingung harus menjawab apa.
"Okay.... jika kamu diam, ku anggap benar jika Vino mengejar mu kembali."
"Aku nggak akan menghalangi kalian jika memang kalian dijodohkan." kata Pamela senyum yang dipaksa kan.
"Tak semudah itu Mela, tapi Vino pasti lebih memilih kamu, tapi aku nggak bisa menghentikan perjodohan itu Mel." ucap Bona.
Bona jadi mengerti kenapa jatmiko menyukai Pamela begitu juga Vino apalagi diantara mereka sudah ada anak meski karena kesalahan.
"Maaf bon, aku harus pulang sudah malam. Anak aku pasti sudah menunggu kepulangan ku." pamit Pamela karena tidak ingin berlama-lama di cafe.
"Oh ya Mel, sorry membuatmu kepikiran."
"It's okay....." kata Pamela kemudian meminum jus mangga nya sebelum pergi.
__ADS_1
Dengan langkah gontai Pamela keluar dari cafe itu. Tiba-tiba hatinya berdesir mengingat kata Bona.