Malam Kelam Istimewa

Malam Kelam Istimewa
Oh My Baby Boy


__ADS_3

Hingga tengah malam Pamela merasa kan kegelisahan saat mama nya belum bisa dihubungi. Rey dan Keynan pulang ke rumah karena Keynan kurang nyaman harus tidur di rumah sakit terpaksa Rani yang menemani Pamela untuk sementara waktu selama mama Ratih datang.


Pagi hari saat Pamela sedang menyusui bayinya yang dibantu Rani tiba-tiba ada yang membuka pintu ternyata Rey dan Keynan dan ibelakang nya mama Ratih.


Mama Ratih memeluk Pamela setelah bayinya di serahkan ke Rani.


"Maafkan mama ya sayang tidak bisa mendampingi mu sewaktu lahiran tapi mama percaya kamu pasti kuat." kata mama Ratih di sela memeluk Pamela tak terasa menitikkan air mata.


"Iya mah, karena mama yang selalu menguatkan Pamela. Kenapa mama tidak bisa di hubungi ponsel nya? " tanya Pamela.


"Mama minta maaf menonaktifkan ponsel mama. Saat Rani mengabari mama kalau kamu mau lahiran, mama langsung berkemas dan pergi ke bandara untungnya masih ada tiket untuk penerbangan ke sini kalau nggak ada mungkin mama datang nya masih lama mungkin besok. Kan mama pengen cepat lihat cucu mama." jawab Pamela.


Setiba di bandara dini hari, mama Ratih menunggu pagi hari dan akhirnya menghubungi Rey untuk menjemput nya dan kebetulan Rey mau mengantar Keynan ke rumah sakit untuk diserahkan ke Rani karena dirinya mau berangkat kerja.


"Mah katanya pengen lihat cucu mamah, tuh!" tunjuk Pamela ke bayinya yang sedang di gendong Rani.


"Apa kabar mba?" sapa Rani dan menyerahkan bayi itu ke mama Ratih.


"Baik Rani, sini biar oma nya yang gendong." mama Ratih menerima bayi yang tadi di gendong Rani.


"Mi..... papi berangkat ya." pamit Rey sambil mencium kening Rani. "Mba saya berangkat dulu ya." Rey mencium tangan mama Ratih.


"Terimakasih ya rey, hati hati." jawab mama Ratih saat rey pamit untuk berangkat pergi. "Keynan, ada kawan main nih nanti." goda mama Ratih saat melihat keynan.


"Mel, kamu sudah ada nama untuk bayi mu?" tanya Rani.


"Sudah tan, Mela sudah memikirkan namanya yaitu Alvin Ivander." jawab Pamela.


Mama Ratih terharu saat melihat bayi mungil di gendongannya. Kehadiran bayi Alvin Ivander, membuat mama Ratih dan Pamela hilang sudah rasa sedih setelah kepergian papa firman.


"Namanya bagus Mela, tante suka namanya." Rani ikut senang dengan kehadiran bayi Alvin dan pastinya keynan punya teman bermain nantinya.


Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, akhirnya dokter mengijinkan Pamela dan bayinya pulang. Ada rasa kebahagiaan setelah kelahiran bayi Alvin dan kesibukan Pamela akan bertambah selain kuliah juga mengurus bayi Alvin. Mama Ratih tidak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaan nya bahkan Pamela sudah meminta mama nya untuk pensiun tapi mama Ratih masih ingin bekerja karena sekarang sebagai tulang punggung keluarga, untung nya Pamela kuliah dengan beasiswa untuk keperluan sehari-hari Pamela dari uang peninggalan tuan firman.


"Mela, besok mama pulang ke indo karena mama sudah sering ambil cuti tidak bisa berlama-lama disini." kata mam Ratih sambil menggendong bayi Alvin.


"Iya mah...." jawab Mela.


"Jaga Alvin baik baik, nanti kapan kapan mama datang kesini lagi." pesan mama Ratih, mereka pun saling berpelukan bahkan Alvin yang masih di gendongan mama Ratih.


Keesokan baginya mama Ratih berangkat ke bandara yang dia antar oleh Rey. Semenjak ditinggal mama Ratih pulang ke indonesia, kini Pamela belajar mandiri untuk mengurus Alvin dan melanjutkan kuliahnya. Rani pun membantu mengurus Alvin disaat Pamela disibukkan dengan kuliah nya meskipun masih online.

__ADS_1


Meskipun masih muda Pamela sangat telaten mengurus bayinya.


"Kau penyemangat ku oh my baby boy." ucap Pamela dengan mencium pipi anaknya.


__________


Ditempat lain, Vino masih sibuk bekerja setelah sepulang kuliah karena hari ini tuan antoni kembali tidak bisa datang ke kantor. Terkadang pikiran Vino terlintas dengan Pamela, hingga kini Vino masih mencari informasi keberadaan Pamela bahkan kedua temannya pun tidak memberitahu keberadaan Pamela. Karena itu pikiran Vino hanya kuliah dan bekerja. Saat sedang sibuk berkutat dengan berkas tiba tiba ponsel Vino berdering.


"Iya halo...." jawab Vino setelah menggeser tombol hijau ponselnya.


"Masih sibuk bro, nongkrong yuk di cafe Andreas dah lama nggak nongkrong nih?" Ajak Dika.


"Oke bentar lagi gue nyusul ke sana." jawab Vino karena memang banyak yang harus dikerjakan


"Oke, gue tunggu di sana." Sahut Dika hingga akhir nya menutup panggilan teleponnya.


Di cafe milik Andreas yang bernama Friends and Coffee meskipun masih sore tapi sudah rame kebanyakan dari kalangan anak muda padahal baru 3 bulan merintis membuka cafe itu. Vino pun merasakan lelah setelah disibukkan dengan tumpukan berkas di perusahaan meskipun farhan juga membantu nya.


"Farhan, seperti nya kamu harus ikut aku biar muka mu tidak tambah kusut." ajak Vino karena farhan selalu membantu nya untuk mengurus perusahaan dan meng-handle pekerjaan tuan Antoni saat tidak bisa ke kantor atau saat Vino masih jam kuliah nya.


"Hhmm memang nya mas Vino mau ngajak kemana?" tanya farhan.


"Apa kabar bro sudah lama tidak ngobrol bareng." sapa Andreas.


"Iya nih makin sibuk aja sekarang." Dika tahu Vino kuliah dan sambil mengurus perusahaan papah nya.


"Sorry bro kalau gue jarang ikut nongkrong sama kalian. Oh iya kenalkan ini farhan asisten bokap gue dan yang bantu gue juga." kata Vino dengan mengenalkan farhan kepada teman nya.


Setelah saling perkenalan mereka pun melanjutkan obrolan nya karena ada farhan, obrolan mereka mengenai kuliah dan pekerjaan. Farhan tidak jauh berbeda umur nya dengan mereka tapi melihat farhan yang terlihat kaku untuk diajak becanda karena farhan tidak pernah nongkrong atau hangout seperti ini, hidup nya hanya untuk bekerja setelah ayahnya pensiun.


Desi tidak tahu kalau cafe friends and Coffee milik Andreas yang merupakan teman satu sekolahan nya.


"Ayolah des, elo harus ikut gue." ajak sepupu desi yang bernama yola.


"Issh mau kemana sih? tugas gue belum selesai nih." kata Desi kesal yola memaksanya karena sedang pusing mengerjakan tugas kuliah.


"Temani nongkrong gue lah, lagian besok kan libur juga." ajak yola.


"kemana.......?"


"Ke cafe yang lagi hits, pokoknya tempat nya oke punya biar stress elo hilang juga tuh karena tugas kampus." Desi pun berpikir dengan ajakan sepupunya ini.

__ADS_1


"Oke deh gue ikut, ya udah kita pergi sekarang." Desi pun beranjak dari tempat ia mengerjakan tugas dan berganti baju setelah terlihat sempurna, mereka pun pergi ke cafe itu.


Sesampainya di cafe terlihat ramai pengunjung mereka pun masuk kedalam dan memilih tempat duduk dilantai 2. Desi terkejut saat melihat Vino, Dika, Andreas dan satu cowok yang tidak dikenali Desi sedang ngobrol santai di sana. Desi mengajak yola duduk di pojokan untung nya tempat cafe itu luas . Desi malas harus ketemu mereka lagi tapi sepupu Desi sangat senang dengan suasana cafe. Mereka pun memesan salah satu menu yang ada di cafe itu dan saat akan menikmati nya tiba-tiba ponsel Desi berdering. Betapa senang nya Desi saat Pamela yang menelepon nya.


"Yola, gue angkat telepon dulu. Elo lanjutkan makannya." Desi berdiri dari duduk nya dan memilih tempat untuk menerima panggilan teleponnya.


"Hai Mela kuuuh, apa kabar?" sapa Desi setelah mengangkat telepon nya.


"Baik, apa kabarmu Desi?" suara Pamela jauh diseberang sana.


"Sibuk banget ya sampai nggak ngabarin gue?" ucap Desi kesal.


"Sorry, gue lagi sibuk ngurus anak aku."


"Kau dah lahiran, kapan? Gitu ya nggak kasih kabar sama gue."


"Heleh kalau pun dikasih kabar aunty nya nggak bisa datang juga kan?"


"Iya, setidaknya aunty nya tahu kalau ponakan gue sudah lahir. Mana ponakan gue?"


"Lagi tidur lah oneng, disini dah malam kali, kau dimana?" karena perbedaan waktu jakarta dan Sydney lebih cepat.


"Gue lagi nongkrong di cafe sama sepupu gue. Eh tau nggak mereka ada di sini Vino, Dika dan Andreas lagi nongkrong juga."


"Des cuma elo teman gue, jangan katakan apapun dimana gue berada. Dah ya anak aku bangun nih."


"Oke Mela, bye...." saat Pamela menutup panggilan nya, Desi sedikit bingung kenapa Mela seperti itu bahkan Desi membenci Vino yang tidak mau bertanggung jawab. Ternyata Pamela tidak menceritakan nya soal Vino waktu itu.


Desi kembali ke meja tempat duduk nya, ternyata dari jauh Dika memperhatikan Desi tanpa sepengetahuan nya.


"Des lihat deh, tuh cowok ganteng banget." ucap yola saat ditinggal Desi menerima telepon memperhatikan kan ke empat cowok itu.


"Siapa? yang mana?" jawab Desi saat ingin duduk.


"Tuh yang pakai kemeja dongker itu?" bisik yola dan sekilas Desi melirik mereka dan ternyata Vino yang dimaksud yola karena diantara ke empat cowok itu Vino yang memakai kemeja itu.


"Hati nya tak seganteng wajahnya, Dia cowok brengsek. Mau lo tiap hari sakit hati karena dia." ujar Desi asal bicara.


"Ya enggak lah....." jawab yola.


"Bagus....ayo kita pulang." ajak Desi karena tak ingin berlama-lama di cafe ini. Mereka pun meninggal kan cafe itu dan pulang.

__ADS_1


__ADS_2