
Vino terbangun dengan kepala pusing karena terlalu banyak minum alkohol tadi malam lalu turun dari lantai 2 menuju dapur untuk mengambil minum di kulkas melewati ruang makan kelurga dan sudah ada tuan Antoni dan istrinya.
"Dari mana aja tadi malam Vino!" suara tuan Antoni dengan datar.
"Nggak kemana mana cuma main sama temen." jawab Vino setelah minum jus mangga kesukaan nya meskipun pagi tapi sudah jadi favoritnya jus itu.
"Seharusnya kau sudah bisa bantu papa di perusahaan kalau belum tahu kan bisa tanya sama Farhan." kata tuan Antoni sambil meminum kopi nya.
"Vino belum siap pah, masih sekolah dan bentar lagi kuliah." jawab Vino santai.
"Kau bisa belajar dengan farhan Vino! jangan alasan soal kuliah nanti kau bisa kuliah dan belajar mengenai perusahaan." tuan Antoni mulai kesal.
"Sudah lah pah mending kita sarapan dulu, kita bicarakan itu lagi nanti." mama dewi mencoba mencairkan suasana.
"Vino kamu nggak masuk sekolah hari ini?" tanya mama Dewi.
"Bentar lagi mah paling di sekolah nggak ada aktivitas belajar nunggu pengumuman kelulusan." jawab Vino lalu ikut duduk untuk sarapan bersama. Setelah itu berangkat ke sekolah.
_______
Pamela yang masih mengalami morning sickness harus merasakan mual lagi tapi pagi ini tidak muntah lagi.
"Mela, kapan pengumuman kelulusan?" tanya mama Ratih.
"Mungkin besok mah, karena hari ini masih seperti biasa nggak ada aktivitas." jawab Pamela.
"Mela, kemarin tante Rani telepon dan mama berencana kamu ke Sydney bersama tante sekalian belajar juga di sana." mama Ratih berencana membawa Pamela ke Sydney sebelum perut Pamela membesar sekalian Pamela belajar kuliah di sana.
Pamela menghentikan makannya mendengar mama Ratih meminta nya untuk ke Sydney setelah lulus sekolah.
"Mama tahu kamu tidak ingin pergi jauh meninggal kan mama dan papa kamu tapi kondisi kamu sekarang sayang." jelas mama Ratih dengan lembut.
"Kalau itu keputusan mama saya ikut aja mah, terus bagaimana dengan mama sendiri?" Pamela sebenarnya tidak ingin meninggal kan mama sendirian.
"Kamu jangan khawatir mengenai mama tapi pikirkan masa depan mu meskipun mama sedikit kecewa dengan mu tapi mama sudah memaafkan mu kita besarkan anak dalam rahim mu itu karena ini titipan Tuhan meskipun papah sudah meninggal kan kita untuk selamanya."
Mama Ratih meneteskan air mata begitupun Pamela karena mama nya mau menerima kondisi Pamela saat ini. Pamela bingung harus mengatakan apa soal ayah bayi yang dikandungnya karena Pamela saat kejadian itu tidak mengenal cowok itu sama sekali seandainya kalau meminta pertanggungjawaban pada cowok itu tidak mungkin karena itu kesalahan Pamela juga.
"Maafkan Mela ya mah sudah bikin malu keluarga." ucap Pamela disela tangis nya.
"Iya, mama sudah memaafkan mu sayang. Ya udah siap sarapan mama antar ke sekolah." Pamela pun menganggukkan kepala lalu makan sedikit sarapan nya tak lupa jus mangga penghilang mual.
__ADS_1
Semenjak Pamela hamil, mama Ratih selalu antar jemput Pamela ke sekolah terkadang desi dan Bona mengantar pulang Pamela juga. Sebagai dosen mama Ratih juga sibuk di kampus tapi demi anak nya sebisa mungkin menyempatkan untuk antar jemput Pamela tapi seandainya tidak bisa jemput, mama Ratih berpesan dengan Bona dan Desi.
"Mela....." panggil Bona dengan melambaikan tangan saat Pamela turun dari mobil mama nya.
"Hati hati ya mah..." ucap Pamela setelah keluar dari mobil dan mama nya kembali melajukan mobilnya.
"Mela sayang...." Bona kegirangan saat Pamela menghampiri nya.
"Iissh kenapa elo cengar-cengir gitu, mana Desi?" tanya Mela.
"Nggak tahu tuh anak masuk apa kagak, gue seneng ntar lagi punya ponakan." suara cempreng Bona terdengar oleh jesy yang juga baru datang ke sekolah bersama gang nya.
"Ups! ada mak Lampir pasti dengar pembicaraan kita." Bona takut jesy mendengar omongan tadi dengan Pamela.
"Sudahlah kita ke kelas aja." ajak Pamela.
Sebelum pergi, wati meneriaki mereka.
"Woi main kabur aja, kalian ngomoin kita kan, dasar kutu loh."
"Jangan baper deh loh, Siapa juga yang ngomongin kalian buang waktu ngerti nggak." jawab Bona kesal lalu menarik Pamela untuk pergi dari hadapan jesy dan gang nya.
"Soal itu gampang kita bakal cari info buat lo." jawab wati yang di anggukkan kepala oleh nia mereka pun masuk ke kelas juga.
Siangnya Vino memilih nongkrong di rooftop karena percuma juga berada di kelas tidak melakukan apa apa paling tiduran didalam. Di rooftop seperti biasa mereka merokok dan main HP.
"Gue mau ke toilet bentar." Vino turun dari rooftop menuju toilet yang berada dilantai 2 kemudian ke kantin untuk membeli minuman.
Untuk mengurangi rasa mual nya Pamela pergi ke kantin untuk membeli minuman jus mangga dingin yang di jual di kantin. Namun saat ingin mengambil botol jus itu tangan mereka bersentuhan.
"Nih, seperti nya elo lebih butuh." kata Vino datar saat melihat tangan Pamela ikut memegang botol minuman itu ternyata cuma satu satunya stok jus mangga yang ada di kulkas kantin.
"Terima kasih....." Pamela mengambil botol minuman tadi terus membayarnya dan pergi.
Vino mengambil minuman yang bukan kesukaan nya melainkan botol air mineral biasa lalu pergi. Sedang kan Pamela lebih memilih ke taman tempat favorit nya duduk menyendiri sambil membaca buku. Pamela segera meminum jus yang di belinya tadi. Pamela menyadari kalau cowok yang di kantin tadi ayah biologis dari bayi yang dikandungnya namun hatinya berdesir jika harus mengatakan tentang kehamilan nya pada cowok itu, bodoh memang Pamela akui tapi tak ada keberanian untuk nya.
"Mana mungkin dia mau bertanggung jawab, yang ada gue di bilang cewek penggoda." gumamnya lirih merasa miris dengan keadaan nya sekarang harus menanggung malu sendiri.
"Sudah kuduga pasti elo di sini." suara Desi saat menyusul Pamela di taman.
"Malas gue dikelas, mending di sini." jawab Mela. Di kelas pun tak ada aktivitas, ada jesy dan gang nya tentunya yang selalu cari masalah. Pamela lebih memilih menghindari nya.
__ADS_1
"Minum apa sih Mel, seger bener." tanya Bona kepo.
"Tadi perut gue terasa mual tapi kalau minum jus mangga, mual nya hilang. Ini pun tadi mau rebutan dengan cowok itu tapi akhirnya dia yang ngalah." Pamela meminum lagi jus nya.
"Cowok yang mana? ganteng nggak orang nya?" Bona masih kepo sementara Pamela terdiam.
"Cowok yang selalu bareng sama Dika dan Andreas." jelas Pamela membuat Bona terbengong.
"What!? apa cowok itu yang elo maksud Vino." pekik Bona, Pamela hanya menganggukkan kepala.
"Oh namanya Vino." Pamela jadi teringat kejadian kemaren dimana cowok dan cewek yang sedang ribut didekat taman ini.
"Mel, apa sebaiknya elo jujur aja sama Vino kalau elo hamil." bujuk Desi.
"Nggak mungkin Des, gue bilang sama cowok itu toh kita ngelakuin nya bukan karena cinta tapi kesalahan." Pamela masih berkukuh tidak ingin meminta pertanggungjawaban dari cowok itu.
"Ntar kita jalan yuk sepulang nanti." ajak Bona
"Gue sih mau aja, gimana Mela? elo ikut?"
"Iya, gue pengen banget makan seblak yang di mall itu."
"Oke deh tenang aja Mel, tante nya ini mau traktir apapun yang ingin elo makan, biar dedek bayi nya sehat." kata Bona dengan senang.
"Terimakasih kalian selalu ada untukku." ucap Pamela.
"Semoga kita selalu bersama dan satu kampus lagi." Bona berharap setelah lulus SMA bisa satu kampus dengan sahabat nya ini..
"Amin...." Ucap Desi dan Pamela bersamaan.
Vino saat kembali dari kantin tiba tiba jadi pendiam. Vino masih memikirkan cewek tadi karena seolah olah sudah lupa apa yang sudah terjadi bahkan sudah tidur bersama.
"Kenapa lo vin, tumben diam saja?" tanya Dika. Vino masih terdiam sambil menyesap batang rokok di jarinya.
"Kenapa? meisya ngejar-ngejar elo lagi?" tanya Dika lagi. "Atau elo sudah jatuh cinta sama salah satu cewek di SMA Tunas Sakti." goda nya lagi.
"Kita pulang aja yuk, besok kita masih masuk karena besok pengumuman kelulusan." jelas Andreas.
"Yuk cabut.... " ajak Vino, mereka pun turun dari rooftop dan langsung pulang.
Desi, bona dan Pamela pun sepulang dari sekolah langsung pergi ke mall sesuai janji mereka mau menuruti Pamela makan seblak.
__ADS_1