Malam Kelam Istimewa

Malam Kelam Istimewa
Rahasia Jatmiko


__ADS_3

Di lain tempat seorang pria paruh baya terlihat kesal dengan anak nya siapa lagi kalau bukan Adhyaksa, pengusaha terkenal sekaligus ayah dari jatmiko.


"Apakah kamu sudah puas dengan pilihan mu? papa tidak habis pikir dengan jalan hidup mu itu." kata tuan Adhyaksa.


Adhyaksa kesal karena menaruh harapan besar pada jatmiko untuk meneruskan perusahaan nya namun memilih menjadi dokter. Jatmiko hanya terdiam saat ayahnya melemparkan kata kekesalan pada nya.


"Aku bukan anak kecil lagi pah. Dan aku sendiri yang akan menentukan jalan hidupku." Jawab jatmiko membuat tuan Adhyaksa murka.


Jatmiko seakan muak setiap pulang ke rumah selalu di buat kesal dengan ayahnya setelah memutuskan sebagai dokter.


"Kamu jangan durhaka dengan orang tua mu!" seru tuan Adhyaksa lantang.


"Kamu tidak ada apa-apa nya jika bukan karena papa." lanjut nya.


"Aku tahu tapi aku tetap dengan pilihan ku." ucap jatmiko.


Entah kenapa jatmiko memilih menjadi dokter dari pada meneruskan bisnis keluarga.


"Apa dokter bisa menjamin hidup mu." kata tuan Adhyaksa sinis duduk di sofa sambil menaikan kaki sebelahnya.


"Papa jangan mengukur uang adalah segala nya karena bagiku sebagai dokter lebih terhormat daripada aku kerja di bawah bayang bayang papa."


"Apa hebatnya menjadi dokter! Bahkan papa bisa membuat mu kehilangan yang kamu bangga kan itu!" seru tuan Adhyaksa.


Jatmiko mengepal kan kedua tangan nya saat mendengar lontaran kata yang membuat nya kesal dari tuan Adhyaksa.


"Apa karena perempuan ini!" seru tuan Adhyaksa dengan melemparkan kertas di atas meja hingga ada yang jatuh ke bawah tapi masih ada satu lembar lagi di tangan nya.


Tangan jatmiko langsung mengambil lembaran kertas itu bertapa terkejut nya saat melihat nama pamela. Tanpa jatmiko sadari ternyata tuan Adhyaksa menyelidiki wanita yang di cintai nya.


"Kenapa? kamu terkejut bukan, jika papa mengetahui nya." ucap tuan Adhyaksa.


"Dokter spesialis jantung terbaik lulusan universitas Melbourne. Wah!....papa akan menerima dengan tangan terbuka jika menjadi keluarga Adhyaksa, sayangnya wanita itu sudah menikah dengan sahabat mu." seloroh tuan Adhyaksa dengan smirk nya.


Jatmiko mengambil satu lembar kertas yang sebelumnya jatuh di bawah kaki nya saat Adhyaksa melemparkan di atas meja.


"Papa bisa membuat wanita itu ke pelukan mu atau papa hancurkan karirnya bahkan papa tidak peduli harus berurusan dengan Damares sekalipun." imbuh nya


"Permintaan papa sederhana saja, papa ingin kamu yang mengendalikan perusahaan bukan Jihan karena dia perempuan! lagian jihan lebih suka tinggal di Korea daripada di sini, itu yang membuat papa kecewa pada kalian."


Jatmiko pun mengerti selama ini jihan lebih betah tinggal di negara itu dari pada di sini bahkan semenjak lulus SMP sudah memutuskan sekolah di Korea karena berbakat di bidang seni dan musik.


"Jangan coba menyentuh wanita itu pah, karena aku tidak ada hubungan." ucap jatmiko dingin.


"Hahaha.... itu bibir kamu yang berbicara tapi hati kamu tidak. Kamu tidak bisa membohongi papa." Adhyaksa tahu jika anaknya ini ada rasa dengan dokter wanita itu karena nya memutuskan untuk menjadi dokter.


"Apa yang papa ingin kan?" tanya jatmiko.


"Kenapa? kamu khawatir dengan wanita itu atau benar benar mengharapkan papa yang bertindak."


"Papa jangan memaksa ku."


"Ah iya papa lupa, bagaimana dengan wanita ini? bukan kah dia mengejar mu?" lembar kertas yang di tangan tuan Adhyaksa tadi di lempar di atas meja.


Nama Bona tertera di kertas yang barusan di lempar tuan Adhyaksa di atas meja.


Jatmiko mendekat ke meja itu kemudian mengambilnya dan langsung meremas kertas tadi dengan hati penuh kebencian dengan Adhyaksa yang ternyata sudah mengawasi nya cukup lama.


"Papa tahu kamu akan membenci ku tapi papa akan membuat kamu menyesal dengan keputusan mu." seloroh nya.


"Cukup pah! jangan ikut campur urusan hidup ku!" seru jatmiko kemudian pergi meninggalkan tuan Adhyaksa yang masih duduk di ruang tamu.


Jatmiko tidak peduli dengan ancaman Adhyaksa dan memilih pergi ke ke kamar nya. Sampai di kamar nya, jatmiko melemparkan tubuh nya dengan kasar di atas kasur.


Seakan kepala jatmiko terasa berdenyut jika mengingat ancaman dari papa nya di tambah bayangan masa lalu pamela saat masih di sekolah dulu. Rasa kesal jatmiko terkadang di lampiaskan dengan merokok.


"Akh.........bisa gila aku." teriak jatmiko dengan mengacak-acak rambu nya.


Tangan jatmiko menghentikan ke koyolannya saat terdengar bunyi notifikasi pesan di ponsel nya.


_______________

__ADS_1


Vino dan alvin harus merelakan jika pamela hari ini di minta menemani mama Dewi ke salon mumpung libur.


"Yang, mending nggak usah pergi deh." kata Vino dengan memeluk pamela dari belakang saat pamela mau ambil baju ganti di lemari.


"Kamu kenapa sih vin? kan aku pergi sama mama kamu." ucap pamela.


"Kamu tega ninggalin aku sama Alvin."


"Kan nggak sering juga vino, pergi sama mama."


"Aku nggak mau kamu pergi tanpa diriku, atau kita pergi ke mall nya bertiga dengan alvin." ujar Vino masih tanpa melepas pelukan nya.


Entah sejak kapan Vino selalu manja bahkan sikap posesif Vino sungguh membuat pamela kadang kesal.


"Bilang aja sama mama kalau kamu ingin aku tidak pergi dengan nya." kata pamela membuat Vino melepaskan pelukan nya.


Vino duduk di kursi yang di kamar nya memperhatikan pamela yang sedang berdandan di depan meja rias.


"Sudah siap sayang kita berangkat?" tanya mama dewi.


"Iya mah Mela dah siap.' jawab pamela sudah siap.


Tapi mata mama dewi melihat Vino yang tidak bersemangat saat menuruni tangga.


"Vino kamu jangan pergi kemana mana!" kata mama Dewi.


"Iya, kalian jangan lama lama perginya." ucap Vino kemudian duduk di sofa dengan kasar.


"Mommy sama oma mau kemana?" panggil Alvin tiba-tiba datang bersama tuan Antoni.


"Sayang, mommy pergi sama oma dulu oke." pamit pamela.


"Alvin ikut mom."


"Alvin, di rumah sama daddy dan opa ya. Oma pinjam mommy Mela sebentar." bujuk mama Dewi.


"Oke oma."


"Daddy.... Alvin lapar." seru alvin karena habis berenang tadi.


"Nanti minta bi asih masak, Alvin mau makan apa?" tanya Vino.


"Oh iya vin, mama lupa kalau mereka mama suruh istirahat masak hari ini jadi kamu yang pikirkan." celetuk mama Dewi sebelum pergi.


"Yang benar aja sih mah." gerutu Vino kesal.


"Yuk Mel, kita pergi mumpung cerah hari ini." ajak mama Dewi senang bisa mengerjain Vino karena mama dewi tahu Vino terlihat manja dan posesif dengan pamela akhir akhir ini.


Setelah sampai di sebuah salon mewah, seperti biasa mama Dewi di sambut pemilik salon.


"Aduh aduh siapa yang datang ini terlihat berkilau deh." ucap sang pemilik salon yang bernama sherli yang berperawakan wanita sebenarnya seorang pria.


"Halo sherli apa kabar." sapa mama Dewi.


"Apa kabar nyonya, eh siapa sih yang bersama nyonya? cantik banget." kata sherli terlihat genit.


"Menantuku sherli, kenalkan namanya Pamela." ucap mama Dewi.


"Ya ampun pamela ya namanya? cantik seperti orang nya." seru sherli membuat heboh para pelanggan nya.


"Istri nya anak nyonya itu ya? ya ampun patah hati deh eyke." lanjut sherli.


"Huh kamu ya! memang anak ku suka yang beginian." ujar mama Dewi.


"Duh nyonya nggak lihat apa, wajah eyke yang cantik alami mirip bidadari ini. Jangan lihat luar nya dong nyonya tapi dalam nya yang selembut sutra." ocehan sherli karena terbiasa bercanda.


"Tapi kamu wanita imitasi kan?" mama Dewi tak mau kalah.


"Aduh bukan patah hati lagi nyonya tapi jantung ku juga." canda sherli.


"Pas banget jika jantung mu bermasalah, menantu ku ahlinya." tutur mama Dewi dengan smirk nya.

__ADS_1


"Ups........." sherli menutup mulut nya.


Pamela hanya geleng-geleng kepala mendengar nya karena mertuanya ini selain usil sama Vino juga suka bercanda dengan orang lain.


"Udah ah keasyikan ngobrol jadinya." ucap mama Dewi.


"Ah iya.....tenang saja nyonya, kita selalu memberikan yang terbaik buat nyonya." kata sherli kemudian mengajak mama Dewi dan pamela ke ruang perawatan VIP khusus pelanggan salon yang berduit.


"Silahkan duduk nyonya bentar lagi kita mulai perawatan pertama."


"Biar menantu ku dulu." kata mama Dewi.


"Baik nyonya...." kemudian sherli memanggil 2 karyawan nya untuk membantu melayani kedua pelanggan sultan menurut sherli.


Pamela yang jarang perawatan di salon hanya menurut karena ajakan mertuanya. Hari hari pamela yang selalu sibuk hampir tidak pernah ke salon.


Semua perawatan yang dilakukan dari meni pedicure, facial hingga creambath membuat Pamela terlihat fresh.


"Kamu terlihat fresh sayang." kata mama Dewi.


"Terima kasih mah." kata pamela.


"Terima kasih nyonya saya tunggu kedatangan nya kembali." Ucap sherli saat mama dewi dan pamela ingin pulang.


"Ah iya ini saya tambahkan bonus buat kamu." bisik mama Dewi sambil menyerah kan selembar cek untuk biaya perawatan.


"OMG... Thank you nyonya, ditunggu kedatangannya lagi." mata sherli langsung berbinar saat menerima selembar cek dengan nominal puluhan juta dari mama Dewi.


Tak terasa mereka menghabiskan di salon hingga sore.


"Mela kita makan dulu yuk sebelum pulang." ajak mama Dewi.


"Iya mah mau makan di mana?"


Mama Dewi mengajak pamela ke restoran yang tak jauh dari salon itu.


Pukul 5 sore dua orang yang terlihat sedang pembicaraan serius di sebuah restoran. Ya, Bona mengajak jatmiko bertemu di tempat itu.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya jatmiko.


"Kamu bukan jatmiko yang ku kenal."


Jatmiko terdiam entah kenapa wanita di hadapan nya ini pernah di sakiti atau di kecewakan bahkan Adhyaksa juga menyelidiki Bona.


"Maaf......." kata jatmiko lirih.


"Mungkin kamu menganggap aku wanita bodoh yang mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin. Seperti batu karang jika terkikis akan pecah juga seperti hati ku tapi aku sudah memulai menata hati untuk tidak selalu berharap jadi jangan menghindar dari ku." jelas Bona.


"Kamu mau kemana?" tanya jatmiko karena berpikir Bona akan pergi.


"Aku tidak akan pergi toh jika aku pergi bukan karena kamu."


"Na, kita bisa menjalin hubungan seperti dulu tapi jangan paksa aku untuk mencintai mu karena hanya akan menoreh luka di hatimu."


"Apa karena kamu masih menyimpan rasa sama pamela."


"Aku nggak tahu."


"Aku sudah tahu jawaban nya." kata Bona kecewa.


"Aku memang pria bodoh."


"Jangan egois miko, pamela sudah bahagia bersama sahabat mu."


Lagi lagi jatmiko terdiam dengan kata kata Bona.


"Maaf sudah menyita waktu mu. Mungkin berteman yang terbaik buatku." kata Bona kemudian pergi meninggalkan jatmiko.


Jatmiko diam terpaku karena hati nya memang masih tertutup untuk wanita lain meskipun sudah berusaha melupakan Pamela tapi jika mengingat ancaman Adhyaksa seperti nya tidak bercanda.


Dari jauh pamela melihat Bona dan jatmiko saat akan masuk ke restoran. Pamela penasaran jatmiko dan Bona terlihat akrab entah mengapa dirinya tidak ingin mengganggu mereka.

__ADS_1


__ADS_2