
Tangan sarah memukul kasur yang sedang diduduki nya. Gara-gara sepupu nya itu harus berurusan dengan Vino. Sarah berusaha menghubungi Indra hingga beberapa kali akhirnya tersambung juga.
"Hah, brengsek kau. I hate you." maki sarah sesaat setelah tersambung.
"Hahaha... thanks, aku berhutang pada mu. Kamu akan menerima hadiah dari ku."
"Dam it!! aku tidak mau membantu mu lagi, So..... urus urusan mu sendiri karena hari ini aku akan kembali."
"Okey..... kamu bisa pergi sekarang. Kamu perlu bodyguard?"
"Huh tidak perlu, bisa bisa nya kamu menyuruh ku pergi sekarang!"
"Hahaha atau memang kamu benar-benar menyukai seorang Malvino?"
"Ahh... I don't know. Tapi dengan berita itu pasti akan membenci ku."
"Itu diluar skenario, but i feel satisfied. Aku mau lihat reaksi mereka menghadapi pers media mengenai berita itu."
"Ndra.... stop, aku akan berhenti dan kembali."
Sarah menghela nafas setelah menutup telepon nya, yang ada dipikiran sarah hari ini berencana meninggalkan Indonesia.
Dengan langkah terburu sarah keluar dari hotel untuk mengejar penerbangan yang sudah di pesan nya.
"Selamat siang nona sarah." sapa pria tidak dikenal menahan sarah saat akan masuk kedalam mobil.
"Siapa kalian aku tidak ada urusan dengan kalian." tanya sarah gugup.
"Maaf, tuan Vino ingin melanjutkan kerjasama nya dengan anda." ujar salah satu pria itu.
"I'm sorry, aku harus mengejar jadwal penerbangan ku."
"Tidak bisa nona, sebaiknya anda mengikuti perintah dan kembali ke penginapan anda sebelum nya."
"What!!! itu tidak mungkin." Sarah sudah merasa ketakutan.
"Nona sarah silahkan kembali ke dalam, kami sudah mengurus administrasi nya."
"Sorry, aku tidak ada waktu lagi." kata sarah dengan kesal terlihat sopir mobil yang akan mengantar sarah kebingungan.
Akhirnya sopir mobil itu pergi saat salah satu dari orang suruhan farhan menyuruh nya pergi dan memberi beberapa lembar uang.
"Oh **** I hate all of this." maki sarah dengan terpaksa mengikuti orang suruhan farhan.
Salah satu orang suruhan farhan melaporkan jika sarah sudah di tahan nya ketika akan pergi ke bandar meninggalkan Indonesia.
___________________
Sore setelah keluar dari ruang operasi, pamela di kejutkan dengan kedatangan Desi.
"Lho koq kamu di sini, sama siapa?" tanya pamela saat melihat Desi yang sudah menunggu di ruangan nya.
"Tadi nya sama Dika sih tapi dah langsung pergi ada urusan katanya." jawab Desi.
Pamela hanya mengerutkan alisnya karena heran tiba-tiba Desi menghampiri nya di tempat kerja.
"Ada angin apa nih sampai ke sini? biasanya telpon dulu kalau mau ke sini?" tanya pamela penasaran.
"Kangen sahabat ku ini lah dah lama nggak ketemu." jawab Desi sebenarnya khawatir dengan pamela tentang berita itu.
"Masa sih?"
"Ih nggak percayaan gitu sih."
__ADS_1
"Ya sudah kita ngobrol di tempat lain, kebetulan aku nggak ada jadwal poli sore." ajak pamela ke cafe yang masih di area rumah sakit.
"Mel, kamu baik baik saja kan?" tanya Desi setelah sampai di cafe.
"Hah......
"Atau kamu belum lihat ya?"
Pamela hanya terdiam dan langsung teringat kembali dengan berita itu.
"Aku nggak tahu harus menanggapi nya seperti apa." ucap Pamela sambil meminum jus yang dipesan sebelumnya.
"Kamu jangan percaya dengan berita seperti itu sebelum tahu kebenarannya."
"Tapi aku kesal dengan mengungkap masa lalu mengenai Alvin."
"Kamu pasti bisa melewati nya dan vino tidak akan tinggal diam." Desi mencoba menghibur.
"Entah lah dari tadi pagi belum menelepon ku."
"Ya sudah kamu jangan sedih deh, jangan terlalu percaya sama berita sampah itu." ujar Desi karena tahu saat di restoran.
"Thanks, aku jadi terhibur berkat mu." kata Pamela.
"Oh iya aku hampir lupa.....nih buat kamu." kata Desi sambil menyerahkan undangan kepada Pamela.
"Hah serius nih....... selamat ya sayang, akhirnya." Pamela langsung memeluk Desi karena ikut bahagia sahabat nya akhirnya dilamar sama dika.
"Yah tadi kesini mau memberitahu kan ini, eh malah dengar ada berita tentang vino." ucap Desi.
"Semoga lancar sampai pernikahan."
"Amiin...... oh iya kita pulang bareng yuk, Dika dah nunggu."
"Iya deh aku pulang bareng kamu kebetulan nggak bawa mobil."
Sebelum nya Vino menemui tuan Antoni di ruan kerja nya.
"Bagaimana, Vino? sudah menemukan pelaku nya?" tanya tuan Vino
"Papah tidak perlu mencemaskan kami."
"Hah..... papa hanya tidak ingin membuat Pamela kecewa karena papa sudah anggap seperti anak sendiri."
"Vino anggap berita ini hanya ingin memancing emosi Vino pah."
"Maksudnya......?"
"Yaa....... mungkin orang ini kesal dengan Vino jadi mencari dan membuat berita tentang masa lalu ku."
"Lalu siapa perempuan itu?"
"Papah masih ingat salah satu investor kita yang bernama Mr Abraham?"
"Apa urusan nya?"
"Wanita itu putri Mr Abraham, papa tahu kan jika Mr Abraham berinvestasi di perusahaan kita tapi entah kenapa tiba-tiba putri nya itu membatalkan kerja sama dengan kita dan akan kembali berinvestasi jika Vino mau memenuhi permintaan nya..................." Vino menceritakan semuanya mengenai pertemuan dengan sarah.
Tuan Antoni sampai manarik alis nya ke atas saat mendengar penjelasan Vino.
"Papa mengenal Abraham biar papa yang berbicara dengan nya."
"Tapi pah? Tuan Abraham tidak lagi memegang kekuasaan di Delta group karena sudah di alihkan ke putri nya."
__ADS_1
"Hmm..... soal itu biar papah."
"Iya pah......."
"Bagaimana dengan Pamela?"
Vino tampak ragu saat tuan Antoni menanyakan keadaan Pamela.
"Vino akan berbicara dengan nya pah dan Vino berencana ingin membuat klarifikasi, tentunya status kita berdua akan tersorot media."
Kini tuan Antoni yang terdiam karena pernikahan mereka belum di publikasikan tapi sah di mata agama.
"Bagaimana dengan perusahaan?"
"Masih stabil pah tidak terpengaruh dengan berita ini karena Vino sudah menemukan nya, papah jangan khawatir."
"Papah tidak khawatir dan percaya sama kamu, mungkin mama kamu pastinya akan terkejut mengetahui hal ini."
Terdengar suara deru mobil dan ternyata Pamela diantar Dika dan Desi.
"Pah aku akan bicara dengan Pamela." ucap Vino sebelum meninggal kan ruang kerja.
Vino langsung menyusul Pamela ke kamar karena khawatir.
Pamela tidak ingin mengingat berita itu sesampainya di rumah Pamela langsung mandi saat keluar dari kamar mandi terdengar pintu kamar ada yang buka.
Ceklek
"Kamu sudah pulang sayang." tanya vino menghampiri Pamela yang masih memakai bathdrobe dengan rambut basah.
"Sini......aku bantuin mengeringkan rambutmu." dengan sigap vino mengambil handuk kering dan menarik Pamela untuk duduk di kursi meja rias.
Pamela masih terdiam dan hanya menurut saja, sementara vino mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Vino menghentikan mengeringkan rambut Pamela dan memutar tubuh Pamela menghadap dirinya, vino berjongkok di depan Pamela yang masih duduk di kursi.
"Maaf aku tidak menelepon mu hari ini." vino meraih tangan Pamela.
Sebenarnya Pamela tidak begitu yakin dengan kebenaran berita jika vino mempunyai hubungan dengan wanita yang ada di berita itu tapi yang dikhawatirkan Pamela karena ada yang menyinggung tentang masa lalu vino.
Pamela menitikkan air mata tanpa disadarinya.
"Aku minta maaf sudah membuat mu kepikiran dan aku berjanji itu tidak akan terjadi lagi." vino berusaha menjelaskan dan tangan vino menyeka buliran air mata di wajah Pamela.
"Aku hanya mencintaimu bahkan saat kamu pergi aku tetap berharap bisa menemukan mu ternyata takdir mempertemukan Aku dengan mu. Bahkan aku merasa bahagia ternyata kamu melahirkan anak aku dan merawat nya hingga sekarang akan ku pastikan tidak akan ada orang yang menganggap Alvin anak haram, suatu saat kita akan mengumumkan kepada semua orang jika Alvin anak kita berdua."
Pamela menatap dalam mata vino yang tidak ada kebohongan di sana. Vino mencium kedua tangan Pamela.
"Sayang jangan diam aja dong." rengek vino.
"Aku nggak papa Vino." ucap Pamela lolos dari bibir nya yang sedari tadi enggan berbicara.
"Tapi kau menangis sayang, aku takut kamu salah paham padaku, aku sayang sama kamu." vino menarik Pamela ke dalam pelukan nya.
Perasaan lega tersirat di hati Pamela saat vino benar-benar tidak mengkhianati nya. Pamela percaya vino bisa mengatasi hal itu.
"Aku janji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya." ucap Vino setelah melepas pelukan nya.
"Kemungkinan wartawan akan selalu menggali informasi tentang Alvin jadi kuharap kamu siap kan diri jika suatu saat hubungan kita akan muncul di media."
"Bagaimana dengan Alvin, vino?" tanya Pamela karena khawatir dengan Alvin.
"Itu urusan gampang sayang, kita akan klarifikasi dan kamu siap dipanggil nyonya Malvino Damares jika wartawan masih ingin mengeksplor berita tentang ku." jawab nya.
Pamela hanya mengangguk kan kepala karena tidak selamanya status pernikahan nya akan selalu ditutupi.
__ADS_1
"Kita tidur sekarang, sudah malam. Kita akan menyelesaikan masalah ini secepatnya."
Mereka memutuskan tidur dan mempersiapkan tenaga untuk esok hari.