
Pukul 11 siang Vino selesai dari rapat, saat akan masuk kedalam ruangan nya terlihat Rio sudah duduk bersandar di sofa.
"Ada perlu apa kesini?" ucap Vino ikut duduk di kursi sofa sambil melonggarkan dasinya.
Farhan meletakkan hasil laporan rapat tadi di meja Vino kemudian memilih keluar dari ruangan Vino.
"Santai man, aku hanya mampir saja. Sudah lama kita tidak bertemu setidaknya kamu mentraktir aku makan di suatu tempat." ujar Rio.
"Ishhhh memang nya aku yang mengundang mu kesini." ucap Vino datar.
"Ayo lah aku sudah lapar." ajak Rio mencoba membuat Vino jadi kesal.
"Bukan nya kau memiliki perusahaan tidak mungkin kan ke Indonesia jadi miskin."
"Oke deh, aku ingin mengajak mu makan siang, lain kali aku akan ke rumah mu dan berkenalan langsung dengan istri mu kenapa kamu bisa menjadi sahabat yang menyebalkan." gerutu Rio sambil tersenyum.
"Brengsek kau...."
"Hohoho kau lupa kita pernah menjadi pria brengsek bersama." Rio merasa senang membuat Vino kesal.
Vino dibuat kesal dengan Rio karena selama di Indonesia pasti akan selalu mengganggu waktu nya. Vino beranjak dari duduknya kemudian menekan interkom di meja kerjanya untuk memanggil farhan
"Farhan! kalau nggak ada waktu mendesak kita pergi makan siang sekarang." ucap Vino lewat interkom
Setelah farhan datang, Vino dan Rio keluar ruangan menuju basement tempat parkir mobil Vino berada. Farhan yang menjadi sopir melajukan mobilnya menuju ke restoran ter muka di Jakarta.
Sesampainya di restoran mereka langsung reservasi tempat. Terlintas dipikiran Rio ingin mengajak Pamela makan siang sekalian ingin mengenal kan nya pada sahabat nya yaitu Vino. Terlihat Rio sedang sibuk menghubungi seseorang.
"Kamu sudah ketemu dengan pacar mu itu?" tanya Vino
"Bukan pacar sih, tapi yang benar aku baru ingin melamarnya, great woman I have never met." kata Rio setelah selesai menelepon.
"Jadi penasaran siapa yang mau sama pria brengsek ini."
"Hahaha tapi sekarang hidup ku tidak seburuk yang dulu. Ada saat nya manusia itu berubah man."
"Oke......"
Mereka pun melanjutkan obrolan nya, farhan hanya diam saja sedari tadi.
"Maaf saya terlambat tadi masih banyak pasi.............en." ucap seorang wanita datang tiba-tiba.
Vino yang duduk membelakangi nya masih belum tahu tapi Pamela terkejut saat melihat Vino bersama Rio satu bangku.
"Ohh kamu sudah datang." kata Rio berdiri menggeser kursi untuk Pamela duduk.
Betapa terkejut nya Vino melihat Pamela yang duduk di kursi sebelah nya, begitu pun Pamela. Tiba-tiba suasana menjadi canggung.
FLASHBACK ON
Saat sedang pemeriksaan pasien ponsel Pamela berdering hingga beberapa kali. Setelah selesai dengan pasien nya Pamela mengangkat panggilan telepon dari Rio tadi.
"Iya Rio ada apa?"
"Masih sibuk ya?"
"Iya lah masih ada beberapa pasien lagi, kenapa?"
"Kalau sudah selesai aku tunggu di restoran xx."
"Aku belum tahu Rio, jam berapa pasien ku selesai."
"Aku tunggu kamu sampai datang oke.''
Tuts tuts tuts
__ADS_1
Pamela hanya menghela napas saat terdengar bunyi ponsel ditutup dari sebelah pihak.
" Kenapa dokter?" tanya asisten Pamela.
"Tidak apa apa, berapa lagi pasien kita?"
"Ada 3 orang lagi dok."
"Oke.....
Setengah jam kemudian Pamela sudah selesai dengan pasien nya dan bergegas menuju tempat yang dimaksud Rio tapi tak henti nya melihat ponsel karena Vino tak mengabari nya.
Beberapa saat kemudian Pamela sampai di restoran itu masih dengan pakaian kerja lengkap Pamela mencari keberadaan Rio. Bahkan Pamela pun heran saat melihat farhan dan berpikir jika suami nya berada di restoran untuk bertemu klien dan tidak memberi pesan pada nya.
Ternyata meja Rio berada di ujung dekat jendela dengan view pemandangan yang indah. Pamela terkejut saat melihat dari belakang orang yang dikenal nya duduk satu meja dengan Rio dan sebelah kanannya, farhan.
"Maaf saya terlambat tadi masih banyak pasi........en."
FLASHBACK OF
Suasana yang tiba-tiba canggung membuat Rio heran.
"Oh ya Mela kenalkan sahabat ku dulu waktu di Sydney namanya Vino dan asistennya farhan." ucap Rio yang belum tahu situasi nya saat ini.
Pamela seakan ingin menghilang dari tempat itu karena tatapan horor dari Vino yang tak lain suaminya sendiri.
"Farhan......." ucap farhan mengulurkan tangan nya dengan senyum tapi mata nya melirik ke arah Vino. Berbeda dengan Vino yang mata nya seakan ingin keluar dan menyeret Pamela pulang.
Pamela mengulurkan kan tangan nya saat farhan memperkenalkan diri dengan raut wajah yang tidak baik baik saja.
Vino mengulurkan tangan nya dengan sorot mata tajam seakan menyiratkan pesan tunggu hukuman mu dari ku.
Tak ada obrolan yang penting selama mereka makan hanya Rio yang sekali kali memecah keheningan.
"Oh ya aku ingin kalian berdua menjadi saksi untuk ku.
"Mela....ikut aku sebentar." ajak Rio menarik tangan Pamela dengan lembut kemudian diajak ke sebuah tempat yang tak jauh dari tempat mereka makan.
Pamela hanya gelagapan saat tindakan Rio menarik tangan nya.
"Sorry Mela, I don't want to hold back my feelings anymore." ucap Rio serius.
"Sorry Rio, ada apa dengan mu?" Pamela kaget dengan tingkah aneh Rio.
"Kamu harus tahu jika selama ini aku mencintaimu dan aku sudah tidak sabar untuk mengajak mu dalam hubungan serius, mau kah kamu menerima ku?" Pamela tersentak mendengar ucapan yang keluar dari Rio, mata Pamela melihat ke arah Vino yang sudah tidak terlihat baik mungkin ingin menghajar orang yang berada di depannya ini.
"I want your answer now Mela, please."
"Rio ini nggak lucu.." Pamela bingung dengan sikap Rio yang tiba-tiba menyatakan perasaan padanya.
"Aku serius Mela."
Ternyata Vino memilih pergi karena tidak tahan dengan amarah nya yang sudah memuncak seakan ingin membunuh.
"Sorry Rio, aku nggak bisa." ucap Pamela kemudian menghampiri tas nya dan pergi keluar untuk menyusul Vino. Rio melongo saat pamela menolak nya kemudian pergi keluar dengan terburu-buru.
"Vino tunggu........." teriak Pamela saat diluar restoran.
Pamela menyusul Vino hingga ke parkiran mobil, untung nya Vino belum pergi baru mau naik ke mobil.
"Farhan kamu bawa mobil Mela, saya tidak akan kembali ke kantor." suruh Vino lugas dan farhan hanya menurut.
"Mudah mudahan tidak terjadi apa apa." gumam farhan.
Hati Pamela masih di selimuti kekhawatiran dan berpikir Vino akan salah paham padanya.
__ADS_1
"Masuk....." suruh Vino dan Pamela masih tertegun.
"Mau pulang apa mau bersama dengan pria brengsek itu." gumam Vino.
Pamela akhirnya menurut dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah ada Vino didalam.
Dari jauh Rio melihat nya dan bingung, kenapa Vino terlihat marah saat dirinya menyatakan perasaan nya pada pamela dan memilih pergi.
Pamela tidak tahu Vino membawanya kemana, yang pasti tidak arah ke rumah sakit atau ke rumah besar tuan Antoni.
Setengah jam perjalanan mereka hanya ada kebisuan hingga sampai di sebuah bangunan mewah di pastikan bangunan apartemen. Mobil Vino memasuki basement parkiran dan berhenti.
Pamela masih takut untuk bertanya namun hanya mengikuti langkah vino memasuki bangunan itu hingga naik ke lantai atas dan masuk ke dalam apartemen.
Saat pintu apartemen terbuka dengan kesal Vino melempar jas kantor nya di sofa. Awalnya Pamela takjub dengan isi apartemen yang terlihat mewah namun pikiran nya langsung di tepis karena sang suami di pastikan lagi mode marah.
Vino menyadarkan tubuhnya dengan kasar di sofa dan memejamkan mata nya. Pamela bingung harus bagaimana tapi Pamela langsung mengirim pesan kepada Ranti jika dirinya tidak kembali ke rumah sakit karena mendadak ada urusan untung nya tidak ada jadwal poli sore.
Pamela mendarat kan bokong nya di sofa sebelah Vino.
"Vin aku minta maaf karena dari awal aku tidak tahu jika Rio akan menyatakan perasaan nya bahkan aku juga nggak tahu jika kamu berteman dengan Rio." Pamela mencoba menjelaskan jika dia tidak mengetahui tindakan Rio tadi.
Vino yang sejak tadi sedang menahan amarah nya menoleh kearah pamela.
"Kamu tahu yang aku pikir kan? karena aku tidak ingin membuat mu terluka karena kemarahan ku." kata Vino dengan sorot mata merah karena amarah nya memuncak sambil memegang kedua bahu Pamela.
"Aku tidak tahu jika Rio menyalah arti kan pertemanan ku." ucap Pamela dengan mata berkaca kaca.
"Jangan sebut nama pria lain di depan ku."
Kemudian Vino mengacak rambut nya karena merasa heran kenapa Pamela bisa bertemu dengan Rio bahkan dengan terang terangan Rio datang ke indonesia karena Pamela.
"Kamu nggak tahu bagaimana aku menjalani hidup waktu itu hingga aku memutuskan pergi ke Melbourne" ungkap Pamela lirih dengan mata yang yang sudah berair.
Vino tersentak kemudian meraih tangan pamela dan menatap mata wanita yang belum lama menjadi istrinya. Vino merasa karena kesalahannya juga membuat pamela menderita. Vino nggak tahu bagaimana pamela menjalani hidup di Melbourne itu yang pasti menemui kesulitan.
"Sayang aku minta maaf, aku marah karena ada pria yang mencoba ingin merebut mu dari ku." ujar Vino serius.
Sebenarnya Vino ingin menghukum pamela tapi Vino juga ingin tahu bagaimana pamela bisa mengenal Rio.
"Aku mengenal Rio tahun akhir sebelum kembali ke indonesia tapi sebenarnya aku lebih dulu mengenal dokter Hendra yang tak lain adalah ayah nya Rio yang banyak membantu ku saat pendidikan kedokteran hingga akhirnya aku memutuskan kembali ke indonesia dan bekerja di rumah sakit jakarta karena rekomendasi dari dokter Hendra bla....bla....." pamela mencoba menceritakan saat di Melbourne.
Tangan Vino terulur mengusap pipi pamela yang sudah basah kemudian diraih nya tubuh pamela ke dalam pelukan nya.
"Aku benar-benar minta maaf seharusnya aku tidak tersulut amarah." bisik Vino karena sejatinya Vino tidak ingin membuat pamela sedih dan takut jika Pamela meninggalkan dirinya.
Vino melepas pelukan nya kemudian mencium kening Pamela dengan lembut.
"Kita menginap di sini!" kata Vino membuat Alvin terkejut.
"Tidak! kita pulang. Alvin pasti menunggu kita."ucap Pamela.
"Mama pasti bisa meng-handle nya, kamu jangan khawatir." Vino mencoba menyakinkan Pamela.
"Terserah deh."
"Ngambek lagi?" goda Vino.
"Tau ah.......
Melihat Pamela ngambek membuat Vino semakin gemas melihat nya.
CUP
Vino Tiba-tiba mencium Pamela
__ADS_1
"Ini hukuman mu karena sudah di sukai pria lain." Vino kembali mencium bibir Pamela dan ******* nya hingga Pamela merasakan kehabisan pasokan oksigen.
Jika saling terbuka pasti masalah bisa teratasi. Vino yakin jika Pamela juga mencintai nya seperti diri nya yang sangat mencintai istrinya.