
Malam ini Vino serasa ingin mengucapakan terimakasih pada Dika yang sudah memberi celah untuk bisa dekat lagi dengan Pamela tanpa menghiraukan rencana perjodohan itu yang penting tak akan melepas Pamela yang sudah melahirkan anak nya.
Entah kenapa saat Dika menelpon dirinya mengenai Pamela yang ban nya harus bocor di pertengahan perjalanan pulang dengan membawa Alvin langsung saja mengambil kunci mobilnya dan bergegas menuju tempat dimana Pamela dan Alvin berada setelah meminta Desi menshare lokasi nya. Dan benar saja saat menemukan mobil dengan plat tidak asing ternyata Pamela sudah berdiri di halte dengan menggendong anaknya. Semenjak sepulang dari rumah Pamela bibir Vino selalu tersenyum entah apa yang membuat nya tersenyum itu.
Pagi hari dengan penuh semangat vino berangkat ke kantor meskipun selalu farhan yang menjadi supirnya sekaligus sebagai asisten nya. Saat berangkat ke kantor penampilan Vino terlihat sangat rapi meskipun setiap hari penampilan nya selalu rapi, dengan gaya rambut baru nya yang membuat Vino jadi tambah perfect ketampanan hingga membuat mama Dewi pun heran.
"Farhan, hari ini semua jadwal meeting atau apapun tolong di undur dan kita langsung ke perusahaan dulu, ada berkas yang harus ku selesaikan." kata vino.
"Tapi bos meeting hari ini sangat penting." farhan mencoba mengingat kan Vino.
"Ini lebih penting lagi farhan, jadi jangan membantah." ujar Vino.
"Baiklah bos." farhan pun mengikuti apa yang diperintahkan oleh Vino dan langsung mengemudikan mobil itu menuju ke perusahaan Damares group.
Pukul 12 siang Vino sudah berada di restoran itu namun orang yang ditunggu nya masih berjibaku dengan pasiennya namun Vino sudah menyuruh farhan untuk menjemput Pamela.
Sampai di poliklinik terlihat masih ada beberapa pasien di poli jantung dan dengan sabar farhan pun menunggu hingga benar-benar sudah selesai tak ada pasien lagi.
Tok tok tok
"Masih ada pasien lagi ya suster?" Tanya Pamela saat terdengar seseorang mengetuk pintu poli nya.
"Sudah selesai dok pasien Pak Danu tadi yang terakhir." jelas Rina yang menjadi asisten Pamela.
Rina pun membuka pintu dan terlihat farhan yang mengetuk.
"Selamat siang, Apa dokter Pamela sudah selesai poli nya?" kata farhan membuat alis Pamela mengkerut namun langsung teringat sesuatu.
Tanpa menunggu lama pamela pun membereskan mejanya kemudian mengambil tas yang biasa dipakai nya.
"Oh ya Rin, saya pergi dulu ya." pamit Pamela sebelum meninggal kan ruangan poli nya.
"Baik dokter." jawab rina yang masih harus membereskan beberapa tugasnya.
Pamela pun mengikuti langkah farhan yang membawa nya ke parkiran tapi bukan naik ke mobil yang di kendarai farhan, pamela justru naik ke mobilnya sendiri. Dalam hati farhan apakah hal penting ini yang dimaksud bos nya tadi hingga membatalkan meeting penting nya.
"Maaf Pak farhan saya bawa mobil sendiri saja." kata pamela.
"Tapi dokter....." ucap farhan.
"Pak farhan jalan di depan dan saya mengikuti dari belakang."
"Baiklah........ " farhan lalu mengendarai mobilnya ke restoran yang diikuti mobil pamela dibelakang nya.
"Langsung masuk saja dokter! pak Vino sudah menunggu dokter." kata Farhan saat tiba di restoran ternama.
"Terima kasih pak farhan, pak farhan tidak ikut masuk?" tanya Pamela namun farhan hanya mengangguk dan tersenyum. "kalau begitu saya masuk kedalam." ucap nya lagi sebelum farhan pergi.
__ADS_1
Dengan langkah penuh keraguan Pamela masuk kedalam restoran mewah itu dan mencari keberadaan Vino.
"Maaf saya terlambat karena saya harus pelayanan." kata Pamela setelah menghampiri Vino.
"Kamu dah datang? silahkan duduk." kata Vino.
"Pak Vino belum pesan makan?" tanya pamela karena jam sudah menunjukkan pukul 1.45 berarti hampir satu jam terlambat karena harus pelayanan dan hari ini pasien poli nya lumayan ramai.
"Itu tidak penting yang penting kamu datang ke sini." kata Vino dingin karena menunggu terlalu lama.
"Ya sudah kita pesan makan." kata Pamela kemudian memanggil waitress untuk memesan makan.
Pamela merasa canggung saat berdua dengan Vino bahkan nyaris tanpa ada obrolan hingga seorang waiterss datang mengantar pesanan mereka.
"Saya ingin setiap hari bisa makan siang bersama kamu, dokter Mela." kata vino menghentikan makan pamela yang baru akan memulai makan nya.
"Mela, aku ingin kamu tanpa ada
keraguan lagi tentang ku karena aku benar-benar mencintaimu dan menikah lah dengan ku." Vino memanggil Pamela tanpa embel-embel dokter dan menyatakan perasaan terlihat sangat serius setelah mendapat restu mamanya pamela.
FLASHBACK ON
"Boleh bicara sebentar!" kata mama Ratih saat melihat Vino sudah di ruang tamu
"Iya tante....perkenalkan, saya malvino" jawab Vino kemudian ikut duduk di sofa berhadapan dengan ibunya Pamela.
Vino tidak mengerti arah pembicaraan Ibu nya Pamela ini tapi ia tahu ibunya Pamela ingin meminta penjelasan darinya.
"Maaf tante atas kesalahan saya di waktu dulu." kata Alvin canggung baru bertemu dengan ibunya Pamela.
"Jujur saya senang bertemu Pamela lagi tante." lanjutnya.
"Apa yang membuat mu senang bertemu Pamela lagi dan kenapa dulu kamu tidak mencari nya?" tukas mama Ratih mencoba mencari kejujuran dari seorang Vino
"Maaf tante saat Pamela menolak saya nikahi dan memilih pergi sebenarnya saya sudah mulai mencintai Pamela tante." kata Vino jujur.
Waktu itu mama Ratih hanya mengikuti keputusan Pamela agar tidak terpuruk di saat bersamaan harus kehilangan papa nya.
"Tante percaya dengan mu semoga kamu bisa membahagiakan Pamela dan Alvin." ucap mama ratih karena ingin Pamela membangun rumah tangga dan bahagia dengan orang yang mencintainya .
Kata mama Ratih membuat Vino membelalakkan mata nya karena mama Ratih telah memberi restu padanya.
"Iya tante, saya janji." ucap Vino.
"Terima kasih nak Vino." hati mama Ratih merasa lega ternyata Vino atau malvino itu ternyata pria baik. Setelah ngobrol dengan mama Ratih Vino pun pamit pulang hingga pamela mengantar keluar saat vino akan pulang.
FLASHBACK OF
__ADS_1
Dan hari ini Vino akhirnya kembali mengutarakan hatinya setelah mendapat restu malam itu.
"Jika mama kamu sudah memberi restu, apa kamu masih menolak ku lagi." ujar Vino.
Pamela jadi berpikir kata kata mama Ratih dan juga Alvin yang sangat menyukai Vino yang belum mengetahui jika Vino ayah kandung nya.
"Saya ingin hubungan dari awal tanpa mengkaitkan dengan masa lalu itu." kata pamela.
Semoga keputusan ku ini tepat. batin pamela.
"Ya aku mengerti, jadi menurut mu dari sekarang kita memulai dari awal tanpa melupakan keberadaan Alvin?" tanya Vino dengan senang apalagi pamela menganggukkan kepala.
suasana hati Vino benar-benar bahagia, akhirnya wanita dihadapannya ini sudah membuka hati untuk dirinya.
"Maaf saya harus kembali rumah sakit karena satu jam lagi saya harus kembali pelayanan." ujar pamela saat selesai makan siang nya.
"Kita akan ke rumah sakit bersama."
"Saya bawa mobil sendiri ke sini jadi saya duluan." pamit pamela karena tidak enak jika dilihat karyawan rumah sakit.
"Kamu hati hati..... dan terima kasih." kata Vino mengantar pamela hingga ke parkir mobilnya dan tak jauh farhan sudah menunggu nya di mobil.
Tak jauh dari mereka ternyata Bona melihat kedekatan Vino dengan pamela saat diparkiran restoran itu saat Bona ingin makan di restoran, Bona pun lupa jika dia memiliki teman tapi belum sempat menemui nya saat kembali dari Jerman.
mobil pamela sudah pergi meninggalkan restoran itu disusul mobil Vino. Dari restoran hingga perjalanan ke rumah sakit Vino selalu tersenyum.
Entah harus merasa senang atau sedih dengan keputusan nya menerima Vino namun pamela berpikir jika dirinya harus membuang egonya dan saat nya untuk membuka hati.
"Dokter Mela koq senyum sendiri dari tadi seperti nya lagi bahagia." tanya Indra saat bertemu Pamela di lobi ternyata sudah sampai di rumah sakit meskipun dinas sore.
"Ah biasa aja...." jawab pamela dengan senyum. "Cepat datang ndra apa ada masalah di UGD."
"Soal pasien kemaren yang masuk ICU ternyata korban perkelahian dan pihak keluarga minta visum." jelas Indra.
"Ohh jadi sekarang?"
'"Ya pengen ngobrol bentar lah sama kamu." kata Indra yang mengikuti Pamela hingga ke ruangan nya.
"Yaa... bentar lagi waktunya visit, lain kali deh kita ngobrol nya sekalian ajak Ranti.''
"Nih ada coklat buatmu" Indra memberi coklat yang di ambil dari saku jas dokternya.
"Hah tumben kasih coklat? kita bukan anak ABG lagi." kata pamela menerima pemberian coklat dari Indra.
"Oleh oleh adik aku dari Ausy.......okay aku mau ke ICU lihat pasien itu." kata Indra yang akhirnya pergi Pamela hanya menggelengkan kepala nya.
Dilihat coklat berbentuk persegi panjang itu. "Indra....indra kayak abg aja loh." gumam Pamela kemudian bersiap melanjutkan kerja dan waktu nya untuk visit ke ruangan pasiennya.
__ADS_1