
Sebulan sudah akhirnya rumah sakit Graha Medika menjadi milik Damares Group. Hari ini Vino ingin mengadakan rapat dengan direksi rumah sakit terkait ke pemilikan rumah sakit.
"Farhan kamu urus semua nya, saya tidak ingin ada yang terlewat dalam pengurusan peralihan tanggungjawab dalam rumah sakit ini." perintah Vino.
"Siap bos..." jawab farhan.
Setelah mendapat kepercayaan farhan pun meminta direksi untuk mengadakan rapat.
"Terima kasih sudah hadir pada rapat siang ini." ucap farhan membuka rapat setelah semua peserta rapat sudah hadir termasuk dokter, kepala bagian dan dewan direksi.
"Seperti yang sudah dijelaskan dalam undangan bahwa akan ada peralihan tanggung jawab rumah sakit ini. Untuk itu saya perkenalkan pemilik saham terbesar rumah sakit ini, Malvino Damares dari Damares Group." kata sambutan farhan diiringi dengan tepuk tangan.
Malvino pun menuju ke depan saat nama nya di umumkan.
"Terima kasih atas sambutan dan dukungan nya semoga kita bisa bekerja sama untuk mempertahankan kelangsungan rumah sakit ini menjadi lebih baik.......bla.....bla....bla....." pidato Vino panjang lebar tapi mata Vino sekilas mencari sosok seseorang yang dicarinya ternyata tidak ikut dalam rapat.
Rapat pun berjalan dengan lancar dan Vino sudah resmi menjadi penanggungjawab sepenuh nya rumah sakit, atau sebagai direktur utama.
Berbeda dengan Pamela, hari ini tidak masuk kerja karena Alvin sakit.
"Mel apa sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja." kata mama Dewi.
"Sudah mulai turun koq mah demam nya setelah minum obat." jawab Pamela sambil mengelus kepala Alvin yang sudah selesai di kompres.
"Syukur lah kalau begitu." ucap mama Ratih lega.
Melihat kondisi Alvin yang demam tinggi membuat Pamela tidak tega untuk meninggalkannya bekerja akhirnya Pamela memilih cuti.
"Mommy Alvin haus." kata Alvin dengan suara parau nya.
"Okay sayang, ini minum nya."
Setelah minum Alvin kembali tidur karena demam nya belum hilang sepenuhnya.
"Alvin cepat sembuh sayang, kamu harapan mommy." gumam Pamela lirih karena tidak tega melihat anaknya demam tinggi dan baru kali ini.
"Mommy, daddy.... mommy, daddy......" dalam tidur nya Alvin mengigau.
"Alvin sayang, are you okay?" kata Pamela lembut dengan mengelus kepala Alvin.
Setelah Alvin tidur tenang, pamela pun menghampiri mama Ratih yang masih sibuk di dapur.
"Mah, masak apa?"
"Mama buat sup." jawab mama Ratih.
"Oh ya Mela, mama mau tanya?"
"Soal apa mah."
"Apa kamu sudah ketemu dengan ayah nya Alvin?" kata mama Ratih membuat Pamela terdiam.
"Maaf mah sebenarnya Mela sudah ketemu tanpa sengaja dengan nya." jelas Pamela menunduk.
"Mela, bagaimana pun juga pasti Alvin akan bertanya soal daddy nya."
Mama Ratih jadi teringat saat menjemput kemaren ada salah satu teman Alvin yang membully nya soal keberadaan ayah Alvin.
"Meskipun Alvin tidak pernah menanyakan keberadaan daddy nya tapi lambat laun pasti terjadi." ucap mama Ratih.
"Mela tau mah, tapi untuk sekarang belum bisa."
"Kenapa Mela, memang nya dia sudah menikah?"
"Nggak tahu mah tapi kenapa mama bilang seperti itu."
"Dari awal seharusnya nggak begini sayang dan sekarang apa yang akan kamu lakukan."
__ADS_1
"Jadi mama masih menyesalinya sampai sekarang. Mama nggak tahu dia orang seperti apa mah? berbeda dengan kita." Pamela terlihat kesal lalu pergi meninggalkan dapur dimana mama Ratih berada karena tidak ingin menambah panjang masalah.
"Maaf jika kata mama terlalu mengintimidasi mu." kata mama Ratih menyesal.
"Mama ingin kamu memiliki keluarga utuh bukan seperti ini, siapa pun itu suami kamu." gumam mama Ratih ternyata masih didengar oleh Pamela membuat nya menitikkan air mata.
Maaf mah. batin Pamela kemudian menyusul Alvin di kamarnya.
Sudah 2 jam tidur kondisi Alvin sudah membaik tidak terlalu demam lagi.
"Mommy...." panggil Alvin.
"Iya sayang sudah bangun ya?" tanya Pamela.
"Alvin ingin jus mangga mommy." pinta Alvin.
"Mommy make it now, okay." Alvin pun mengangguk kan kepala.
Pamela beranjak dari tempat tidur kemudian ke dapur untuk membuatkan Alvin jus mangga.
"Bikin apa Mela?" tanya mama Ratih menghampiri Pamela.
"Alvin minta di buatkan jus mangga mah."
"Oh...." ucap mama ratih dan pergi meninggalkan Pamela.
"Mah....." panggil Pamela membuat mama Ratih menoleh kearah nya.
"Mela minta maaf."
"Mama juga salah tidak mengertiin kamu." ujar mama Ratih kemudian masuk ke kamar untuk melihat keadaan Alvin.
Sebenarnya kehadiran Alvin sudah membuat nya bahagia dan tidak merasakan kesepian tapi mama Ratih selalu berpikir jika suatu saat Pamela akan memiliki kehidupan bersama keluarga kecilnya. Memang sekarang mama Ratih masih bisa bersama Alvin dan Pamela tapi suatu saat pasti akan terjadi.
"Alvin sudah bangun sayang." kata mama Ratih saat melihat Alvin sudah duduk dan tidak tidur lagi.
"No oma, Alvin mau jus mangga."
"Tapi Alvin kan belum makan, biar cepat sembuh dan kuat seperti superman." bujuk mama Ratih dengan membawa nama Idola nya.
"Setelah Alvin minum jus mangga oma."
"Okay, oma buatkan sup tofu kesukaan Alvin loh."
"Iya oma Alvin mau....."
Tiba-tiba Pamela sudah berdiri di depan pintu masuk.
"Jus mangga datang........" teriak Pamela.
"Mommy, alvin mau makan." kata Alvin.
"Okay, mommy ambilkan makan ya!"
Alvin pun meminum jus mangga nya itu. Melihat Alvin yang selalu penurut membuat mama Ratih tak kuasa menahan air mata.
"Kenapa oma koq nangis. Alvin kan dah sembuh." tanya Alvin dengan senyum menggemaskan.
"Oma tidak nangis sayang, bahkan oma senang Alvin sudah sembuh." mama Ratih memeluk Alvin.
Tak ada yang namanya kesalahan tapi takdir namun semuanya adalah anugerah.
_______________
Keesokan harinya Pamela sudah bersiap untuk bekerja dan Alvin sudah kembali sekolah. Sesampainya di rumah sakit Pamela langsung ke ruangannya untuk bersiap karena jam visit sebentar lagi sebelum mulai praktek di poli ada beberapa pasiennya yang dirawat.
Tok Tok Tok
__ADS_1
"Dokter Mela...." panggil perawat Rani.
"Iya Suster, ada apa?" jawab Pamela.
"Maaf dok, anda disuruh ke ruang direksi sekarang."
"Ada apa ya sus?"
"Maaf dok, saya hanya menyampaikan saja dari bagian personalia."
"Oh soal kemaren saya tidak masuk dinas ya, tapi saya mengajukan cuti." Pamela bingung kenapa tidak masuk sehari harus di panggil direktur.
"Soal itu saya tidak tahu dokter, permisi." kata perawat Rani.
"Baik suster Rani, terimakasih."
Pamela melihat sekilas jam ditangan nya merasa masih ada waktu kemudian pergi untuk ke ruang direktur yang berada di lantai 6 karena berpikir lebih cepat menemui nya akan lebih baik.
Tok Tok Tok
Tidak ada suara yang menyahut saat Pamela mengetuk pintu pamela akhirnya memilih masuk kedalam. Saat membuka pintu terlihat seseorang memakai jas hitam yang berdiri menghadap kearah jendela besar dengan kedua tangan nya masuk kedalam saku.
"Permisi, selamat pagi." sapa Pamela ketika sudah berdiri di depan meja yang bertuliskan Direktur Utama.
Mendengar suara Pamela, Vino pun menoleh dan menuju ke meja kerjanya dimana Pamela sudah berdiri di depan mejanya.
"Apa kabar Mela." sapa Vino dengan dingin nya.
Pamela pun melihat kearah suara dan betapa kaget nya ternyata orang yang berada di depan nya ini adalah ayah dari anak nya dan juga orang yang ingin di hindari nya. Bibir Pamela rasanya kaku saat ingin berbicara dengan Vino yang ternyata Direktur Utama rumah sakit ini.
"Ba baik...." jawab Pamela gugup.
"Kau tahu apa kesalahan mu harus dipanggil ke sini?"
"Karena saya kemaren tidak masuk Pak." jawab Pamela.
"Silahkan duduk." kata Pamela karena melihat ketakutan pada Pamela.
"I....iya Pak, terima kasih." Pamela pun du duduk di kursi yang berada di depannya saat berdiri tadi.
Pamela hanya menundukkan kepala saat sudah berhadapan dengan Vino
"Apa yang di bawah itu lebih penting dari kesalahan mu itu?"
Pamela pun mengangkat kepala nya dan menatap kearah Vino.
"Sebenarnya saya sudah meminta ijin cuti pak, bukan tidak masuk tanpa keterangan." jelas Pamela.
"Ya tapi kamu sudah melewatkan rapat penting kemaren."
"Maaf tidak ada pemberitahuan rapat pak."
Rapat penting apa sih. batin Pamela.
"Sebagai gantinya kamu harus makan siang disini." ujar Vino tahu akan membuat Pamela kaget tapi itu tujuannya.
"Ma maksud bapak apa ya? karena jam makan siang saya tidak bisa di pastikan." alasan Pamela.
"Setelah selesai praktek di poli."
"Maaf saya nggak bisa pak, permisi." Pamela sudah merasa kesal dengan permintaan konyol Vino.
"Aku ingin bertemu anakku." Pamela kaget dan langsung menoleh saat Vino menyebut tentang anak.
"Jangan sentuh anakku, dia bukan anakmu." ucap Pamela.
"Maka temani aku makan siang disini nanti." Vino akan menunggu reaksi Pamela dengan ancaman nya itu tapi Vino puas sudah mengerjain Pamela dan bisa melihat Pamela dengan kegugupan nya itu bahkan Vino ingin tertawa rasanya.
__ADS_1