
Di rumah sakit
Baru 2 jam saat yang lalu Pamela bisa tertidur dan pukul 6 pagi Pamela terbangun saat Alvin meminta minum karena haus. "Mommy.... Alvin haus."
"Iya sayang...." Pamela segera mengambil air putih yang ada di atas meja sebelah tempat tidur Alvin.
"Mom, oma dimana? Alvin ingin pulang." tanya Alvin.
"Oma juga dirawat sayang, nanti kalau oma sudah siuman kita melihat ke ruangan nya." jelas Pamela lembut.
"Alvin mau cepat sembuh kan? jadi Alvin harus menginap dulu di sini sementara." Pamela mencoba membuat nyaman Alvin
Setelah Alvin kembali tertidur, Pamela mencuci muka dan kembali melihat keadaan mamanya di ICU. Masih belum ada kemajuan kondisi mama Ratih, Pamela kembali ke tempat Alvin dirawat.
"Selamat pagi dokter Mela..... Hai Alvin apa kabar?" sapa dokter samuel saat visit.
"Selamat pagi dokter Samuel." jawab Pamela.
"Alvin dokter mau lihat tangan nya yang luka sebentar ya." ujar dokter samuel dan Alvin pun menurut.
"Hmm..... kamu anak yang kuat, Alvin." dokter samuel mencoba membuat nyaman Alvin ketika memeriksa keadaan tangan nya pasca operasi yang dibantu perawat.
"Saya dengar katanya pak direktur sendiri yang mendonor darah nya kemaren." kata dokter Samuel membuat Pamela kaget.
"Ya sudah saya tinggal dulu dokter Mela, ini ada resep obat untuk Alvin." kata dokter Samuel kemudian mengelus tangan kanan Alvin yang tidak terluka. "Semoga lekas sembuh Alvin."
"Terima dokter." ucap Pamela.
Setelah beberapa saat Alvin kembali tidur karena efek obat yang diminum membuat nya ngantuk. Pamela harus mengambil cuti beberapa hari ke depan karena Alvin dan mama Ratih yang dirawat.
Malam hari pamela terjaga untungnya ada Desi yang menemani nya malam ini.
"Mel kamu tidur saja biar aku yang jaga mama Ratih di sini, kasihan Alvin tidur sendirian di ruangan." bujuk Desi.
"Alvin masih terlelap jika kamu ngantuk kamu bisa tidur di sofa tempat Alvin sana."
"Okay aku lihat Alvin dulu, takut nya terbangun." Desi pun pergi melihat Alvin di ruangan nya.
Pukul 2 malam saat Pamela sempat tertidur seperti ada yang membangunkan ternyata dokter jaga malam. "Dok.....kondisi ibu Ratih menurun." ujar dokter ilham.
Pamela terbangun saat mendengar dokter ilham memanggilnya tanpa menjawab Pamela segera masuk ke dalam setelah memakai baju khusus di ICU. Sebagai dokter spesialis jantung, Pamela juga ingin memastikan kondisi ibunya.
"Mah....." panggil Pamela.
Pamela mencoba berinteraksi dengan mama Ratih namun tak ada respon sama sekali.
"Dokter Mela, tekanan darah bu Ratih menurun dan pompa jantung nya juga turun." ujar dokter ilham saat melihat monitor di ventilator bu Ratih.
__ADS_1
Pamela mulai panik dengan kondisi mama nya yang semakin turun.
"Suster tolong ambilkan defibrilator sekarang." ujar dokter ilham untuk membuat jantung mama Ratih kembali normal.
"Dokter Mela, mungkin kamu ingin melakukan nya." kata dokter Ilham memberikan alat itu karena paham dengan situasi yang dirasakan rekan dokter nya ini.
"Terima kasih biar saya yang melakukan nya untuk mama saya." Pamela pun menerima alat itu kemudian melakukan nya ke dada mama Ratih hingga ketiga kalinya tak ada perubahan di monitor hingga Pamela melakukan nya sekali lagi dengan air penuh air mata namun Tuhan lebih sayang mama Ratih.
Tubuh Pamela merosot seketika saat tindakan nya tidak membuat mama Ratih bertahan.
"Dokter......" teriak salah satu suster saat melihat tubuh Pamela luruh ke lantai.
"Cepat bawa dokter Pamela ke ruangan perawatan." kata dokter ilham dan salah satu di antara perawat itu membawa mama Ratih ke kamar jenazah.
Desi memeluk Pamela dengan erat sambil menangis.
"Mama dah pergi Des..." kata Pamela dengan isak tangis pilu.
"Kamu yang sabar ya Mel, mama sudah tenang." Desi ikut menitikkan air mata nya.
Pamela mengambil ponselnya kemudian menghubungi Rani, adik dari mama Ratih. Awalnya Rani terlihat syok mendengar kabar dari Pamela akhirnya mereka pun segera mengambil penerbangan langsung Sydney-Jakarta.
Pagi hari pukul 9 pagi jenazah mama Ratih akan dikebumikan. Terlihat para pelayat datang ke pemakaman juga ucapan belasungkawa dari rekan dokter maupun teman dan kerabat lain nya. Pamela kembali menangis sedih untuk yang kedua kalinya Pamela terduduk lesu depan makam tanah yang bertabur bunga, kepergian mama Ratih membuatnya terpukul karena tidak ada siapa siapa lagi untuk bersandar.
"Pah, mah, kalian meninggalkan Pamela."
"Ingat masih ada anak kamu yang butuh dirimu." Ranti kembali mengelus bahu Pamela.
Vino melihat keadaan Pamela terlihat masih terisak di makam mama nya di samping makam papa firman. Vino ingin rasanya menghampiri Pamela untuk memberi semangat atau menenangkan hatinya namun niatnya diurungkan mengingat baru menjalin hubungan dengan Pamela.
Apa aku akan selalu menjadi pengecut tidak bisa menyakinkan mu. gumam Vino dalam hati kemudian pergi meninggalkan makam.
Pamela kembali ke rumah nya karena ada beberapa kerabat yang datang saat mendengar sakit karena Alvin masih dirawat dan Desi yang menemaninya. Alvin yang sebelumnya belum tahu jika oma nya meninggal menangis histeris namun Desi selalu menenangkan hati anak kecil itu hingga tenang saat Pamela masih berada di pemakaman. Alvin menangis kembali di pelukan Pamela sudah kembali dari rumah sakit.
"Mom, oma......" kata Alvin di sela isakan tangisnya.
"Oma sudah pergi sayang, oma sudah tenang di surga." jelas Pamela.
"Alvin sayang sama oma, mommy."
"Ya, mommy juga sayang sama oma."
Desi tak bisa menahan air matanya saat melihat Pamela memeluk Alvin, tiba tiba dokter samuel datang karena sudah jam visit nya.
"Halo Alvin....." Sapa dokter Samuel.
Pamela segera mencuci mukanya saat dokter Samuel datang ke ruang Alvin dirawat.
__ADS_1
"Dokter Mela, saya turut berdukacita atas meninggalnya bu Ratih." kata yang keluar saat Pamela selesai mencuci mukanya.
"Terima kasih dokter." ucap Pamela.
"Alvin sudah sembuh ya, bentar lagi alvin boleh pulang." dokter samuel memeriksa tangan Alvin yang di operasi yang dibantu perawat.
"Thank you dokter, Alvin ingin pulang." kata Alvin.
"Oh ya dok, Alvin boleh pulang sore ini tapi tidak boleh main terlalu keras."
"Terima kasih dok." ucap Pamela tersenyum.
"Sama sama dokter Mela."
Kemudian dokter samuel pergi namun sebelum keluar terlihat perawat dan dokter Samuel menyapa seseorang didepan pintu.
Vino masuk ke ruangan Alvin dirawat yang ditemani farhan dengan membawa sebuah parcel buah ditangan nya. Farhan yang belum tahu alasan Vino membesuk serta mendonorkan darah untuk anak dokter Pamela.
Saat Alvin melihat Vino datang membuat Alvin senang. "Om Vino....... " teriak Alvin
Desi pun kaget melihat Vino menjenguk Alvin.
"Dokter Mela, semoga anaknya lekas sembuh." kata farhan yang mendahului berbicara dengan Pamela mendapat tatapan tajam dari Vino.
"Terima kasih pak farhan."
"Mel, aku beli sesuatu dulu ya di kantin sana." pamit Desi karena tahu Vino seperti ingin berbicara dengan Pamela.
Setelah Desi keluar farhan pun tidak enak didalam dan memilih untuk keluar. Saat tinggallah merdeka bertiga, Vino ingin menyampaikan sesuatu kepada Pamela.
"Apa kabar Alvin?" tanya Vino mendekat ke sisi tempat Alvin tidur.
"Om Vino, Alvin ingin main bola lagi sama Om Vino." kata Alvin.
"Iya, lain kali kalau tangan Alvin sudah sembuh." Alvin hanya menganggukkan kan kepala.
Sementara Pamela yang masih berdiri di di samping mereka terlihat canggung.
"Pak Vino terima kasih." ucap Pamela hingga Vino menoleh ke arahnya.
"Ya, soal apa?" tanya Vino.
"Soal donor darah itu." jawab Pamela gugup.
"Aku tahu apa yang harus kulakukan saat keadaan Alvin seperti itu bahkan aku pun ingin melindungi kalian karena Alvin memang terbukti dia anak aku. Maaf jika aku minta lebih aku hanya ingin bersama kalian dan menikah dengan mu karena aku mencintaimu." ucapan Vino membuat Pamela terdiam.
"Karena janjiku pada mama kamu untuk menjaga kalian." ucap Vino lagi.
__ADS_1
Pamela jadi teringat waktu mama Ratih meminta dirinya untuk memikirkan kehidupan berumahtangga. Tapi jika menikah dengan Vino, bagaimana perjodohan sahabat nya Bona dengan Vino. Pamela merasa pusing jika harus memikirkan itu.