
Pukul 7 malam tuan antoni dan istrinya sudah bersiap untuk pergi acara makan malam dengan sahabat nya itu, bahkan Vino yang ditunggu belum kunjung turun dari kamar nya yang di lantai dua.
"Vino mana mah? koq belum turun juga nanti kita terlambat." ujar tuan Antoni.
"Tunggu bentar lah pah, Vino mungkin sedang bersiap juga." kata mama Dewi menenangkan suaminya.
"Ya udah 10 menit kita tunggu."
"Biar mama yang panggil ke kamar nya."
Tuan Antoni memilih duduk di ruang tamu menunggu Vino turun sementara mama dewi memilih menghampiri anaknya.
"Vino...." panggil mama Dewi dengan hati hati mengetuk pintu namun tidak ada jawaban kemudian membuka pintu kamar Vino dengan pelan dan melihat Vino duduk ditepi ranjang nya dengan melamun.
"Astaga Vino, papa nunggu dari tadi lho."
Wajah Vino seperti kaget melihat mama nya sudah berada di dalam kamar nya.
"Kamu kenapa sayang? kita sudah terlambat loh." kata mama Dewi namun masih belum ada jawaban dari Vino.
"Mah......" panggil Vino lirih, mama Dewi hanya memicingkan mata nya karena heran kemudian ikut duduk di sebelah Vino.
"Kamu kenapa Vino?"
"Mah, Vino sudah menemukan wanita itu dan akhir akhir ini Vino sering bertemu dengan nya namun masih belum bisa menerima Vino." Vino mulai bercerita.
"Terus...." tanya mama Ratih penasaran.
"Bahkan Vino juga melihat anak aku sudah tumbuh besar."
Mama Dewi membuka mulut nya tak percaya jika Vino benar benar sudah menghamili anak orang waktu itu bahkan 7 tahun yang lalu masih menganggap Vino membuat kesalahan besar hingga berubah menjadi penurut sampai sekarang.
"Lalu bagaimana pertemuan nya dengan wanita itu? apakah dia sudah berkeluarga?" tanya mama Dewi tapi Vino hanya menggeleng kan kepala.
"Apa kamu masih ada perasaan sama wanita itu?" Vino masih diam.
Jadi, ini yang membuat mu berubah Vino. Ternyata selama ini kamu menyibukkan dengan kerja tanpa memikirkan perempuan. batin mama Dewi.
"Kalau kamu diam, mama tahu jawaban nya." tukas mama Dewi. "Kenalkan sama mama. Mama juga ingin tahu cucu mama itu."
"Vino belum bisa mah sekarang kerena....." Vino menggantungkan kalimat nya.
"Karena masih belum bisa mengambil hati mama anak itu." ucap mama Ratih mengena.
"Itu yang harus kamu pikirkan Vino jika ingin bersama keduanya." jelas mama Dewi.
Tiba-tiba suara tuan Antoni di luar kamar Vino. "Kenapa kalian lama sekali?"
"Vino......jangan bicarakan sama papa soal ini sekarang, cari waktu yang tepat." gumam mama Dewi pelan, Vino pun menganggukkan kepala.
"Loh malah ngobrol disini! buruan dong nanti terlambat." kata tuan Antoni.
"Iya pah, maaf. Vino cepat bersiap, kami menunggu dibawah." perintah mama Dewi sebelum akhirnya turun ke lantai bawah bersama tuan Antoni.
Tak butuh waktu lama sebenarnya Vino sudah bersiap namun dalam hatinya tak ada niat ikut acara makan malam itu karena tuan Antoni yang mengharuskan ikut semenjak Vino pulang dari taman pagi tadi. Mobil yang membawa mereka melaju membelah jalanan ibu kota hingga sampai di restoran mewah bintang lima.
"Selamat malam bisa dibantu." tanya resepsionis restoran itu.
"Selamat malam, reservasi atas nama Rudi sanjaya." jawab tuan Antoni.
"Baik tuan, silahkan lewat sebelah ini beliau di ruang VIP 02" karyawan dari restoran tadi mengantar tuan Antoni sekeluarga menuju ruang yang di pesan tuan Rudi pengusaha sukses itu, di restoran menyediakan ruangan private untuk acara makan atau pertemuan.
"Apa kabar Rud, maaf kami terlambat ada sedikit problem tadi." sapa tuan Antoni.
"Antoni....... It's okay no problem yang penting kalian sudah datang." jawab tuan Rudi sementara Vino masih terdiam berbeda dengan mama Dewi sudah cipika-cipiki dengan Rani istri tuan Rudi.
__ADS_1
"Apa kabar jeng...." sapa mama Rani.
"Baik...... Ini anakmu ya jeng? ya ampun dah dewasa dan ganteng lagi." ucap Rani tak lupa memuji ketampanan Vino.
"Malam om dan tante." sapa Vino.
"Cocok deh buat jadi calon mantu, bener nggak pah?" gumam Rani sambil mencolek pinggang suaminya.
"Ya udah kita duduk dulu dan mulai pesan makan nya." tampak raut gembira di wajah tuan Rudi.
"Oh ya Rud, mana anakmu, katanya baru balik dari luar negeri?" tanya tuan Antoni.
"Oh tadi sedang ke toilet dari tadi mungkin bentar lagi datang." jelas tuan Rudi.
"Selamat malam om dan tante maaf tadi saya pergi ke toilet sebentar." sapa wanita cantik yang seumuran dengan Vino sambil mencium tangan tuan Antoni dan mama Dewi.
"Ini anak kamu jeng? cantik banget." puji mama Dewi.
"Hahaha mesti dong mama nya kan juga cantik." suara tawa pun pecah dalam ruangan itu kecuali Vino yang masih terdiam.
"Bona sayang, ini anaknya om Antoni teman papah namanya Vino." ujar tuan Rudi.
DEG
Jantung Bona seakan terpompa dengan kuat ternyata lelaki yang di hadapan nya adalah teman sekolah nya dulu bahkan Bona melihat Vino sekarang terlihat dewasa dan tambah tampan berkali lipat. Bahkan Vino terlihat cuek saat dia keluarga saling mengenal kan dan bercerita tentang masa persahabatan mereka. Bona terlihat berbeda tidak seperti waktu sekolah dulu terlihat dewasa dan elegan.
Apa yang dimaksud papa soal perkenalan anak teman nya ternyata Vino. batin Bona dalam hati nya ada rasa bahagia.
Hingga dua pelayan datang membawa menu makan pesanan mereka. Akhirnya acara makan malam pun berjalan lancar. Di sela makan nya Bona memperhatikan Vino dengan diam meskipun Vino terlihat dingin.
"Bagaimana Rudi, selanjutnya mengenai pertemuan ini?" tanya tuan Antoni.
"Kita beri kesempatan mereka untuk lebih dekat dulu baru kita bicarakan kembali." ucap tuan Rudi.
Tak dipungkiri pertemuan dua keluarga itu untuk menjodohkan Vino dan Bona, selain persahabatan di kedua keluarga itu tetapi juga karena kedua nya sama sama konglomerat. Mereka pun melanjutkan obrolan mereka bahkan diselingi tertawa bahagia kecuali Bona dan Vino hanya menjadi pendengar saja.
Di lain tempat
Pamela merasa gagal sebagai dokter tidak bisa menolong pasien yang masih anak anak itu setelah menangani hal menegangkan tadi ternyata anak itu menghembuskan napas terakhir nya. Terlihat ibu dari anak itu syok dan terus menangisi anaknya, namun yang membuat Pamela tersentuh ternyata saat anak itu butuh pendampingan saat melewati penyakit itu kedua orang tua anak itu akan bercerai. Meskipun sebagai dokter Pamela pun selalu pesimis jika umur seseorang di tangan Tuhan. Hanya kata maaf yang bisa Pamela ucapkan saat bertemu ibu dari anak itu, anak itu menderita gagal jantung semenjak lahir.
"Dokter Mela, belum pulang?" tanya suster yang ikut membantu Pamela dalam menangani pasien tadi.
"Iya suster duluan saja, saya sebentar lagi." jawab Pamela yang masih duduk diruang kerjanya.
Pikiran Pamela masih teringat dengan anak itu bahkan Pamela masih mendengar kata yang diucapkan ibu dari anak itu jika diri nya menyesal memutuskan bercerai dengan ayah anak itu sementara anak itu sangat butuh semangat dari kedua orang tuanya.
"Alvin maafkan mommy sayang." gumam Pamela kemudian bersiap untuk pulang.
Pamela meraih benda pipih nya dari dalam tas kemudian menelepon seseorang.
"Halo....." suara seseorang dari seberang sana.
"Des ada waktu nggak sore ini kita ketemu yuk lama nggak ngobrol sama kamu."
"Beneran nih bu dokter ada waktu?"
"Iya karena aku juga kangen ngobrol sama kamu."
"Okay, kita ketemu di cafe tempat kita nongkrong dulu."
"Okay, otw sekarang."
Setelah mengakhiri telepon nya, Pamela melajukan mobilnya meninggal kan rumah sakit.
"Mela, sini!" panggil Desi sambil melambaikan tangan nya saat Pamela tiba di cafe itu.
__ADS_1
"Sudah lama nunggu?" sapa Pamela dengan memeluk Desi tak lupa cipika-cipiki.
Tak lama kemudian mereka memesan makan dan minum di cafe itu.
"Dah lama ya kita nggak makan bareng di cafe ini?" ujar Desi.
"Iya Des, bahkan aku pun lupa kapan terakhir kita makan bareng." kata Pamela.
"Koq Alvin nggak diajak sih Mel, aku kan kangen sama ponakan ku itu."
"Tadi dari rumah sakit langsung ke sini."
"Ya, padahal gue kangen banget tuh sama Alvin."
"Maka nya cepat nikah." bibir Desi langsung mengerucut saat Pamela bilang seperti itu.
"Lagi tunggu jodoh, belum kunjung datang tuh hahaha...."
"Jangan ditunggu doang tapi dicari."
Sebenarnya tanpa Pamela ketahui jika Desi sudah dekat dengan Dika hingga sekarang.
"Mel, pernah nggak Vino menemui kamu?" pertanyaan Desi membuat Pamela kaget untungnya pelayan cafe datang mengantar pesanan mereka.
"Vino pernah menemui ku Des, bahkan dia juga mendekati Alvin. Mungkin kah di sudah tahu yang sebenarnya mengenai Alvin." ucap Pamela.
"Apa dia mencoba melukaimu?" Desi masih penasaran.
"Dia tidak melukaiku hanya....." Pamela tidak melanjutkan kalimat nya karena teringat Vino mengungkapkan perasaan nya saat di lapangan pagi tadi.
"Okay aku tahu Vino berusaha mendekatimu, ya udah itu semua kembali kepadamu Mel." ucap Desi.
Mungkin Dika tahu mengenai Vino. gumam Desi dalam hati
"Aku takut Vino mengambil anak aku ketika dia mengetahui yang sebenarnya." kata Pamela.
"Itu nggak mungkin Mel, karena kalian ga ada ikatan jadi nggak ada bukti buat Vino mengambil Alvin. Atau mungkin saat nya kamu membuka hati buat dia Mela, toh kamu juga belum nikah sampai sekarang. Nggak ada alasan lagi kan? sekarang kita bukan anak pelajar lagi Mel, bahkan kamu sekarang menjadi dokter hebat jadi menurut ku buang ego mu Mela, jika Vino berniat baik sama kamu. Kurasa Alvin pun merindukan sosok seorang ayah." jelas Desi membuat Pamela terdiam.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan, kita lanjutkan makan nya." ujar Desi lagi.
"Thank you sudah mau menjadi pendengar baikku." ucap Pamela.
Mereka kembali menikmati makannya sebelum meninggal kan cafe itu.Namun tiba-tiba ponsel Desi berdering tanda ada panggilan masuk. Desi meraih benda pipih itu hanya sebentar kemudian memasukan kembali ke dalam tas nya saat tau siapa yang menelepon nya. Desi kembali makan yang sempat tertunda tadi tapi lagi lagi bunyi ponsel nya berdering kembali.
"Seperti nya penting banget Des, kenapa nggak kamu angkat telpon nya?" tanya Pamela saat melihat Desi tak menghiraukan panggilan telepon di ponsel nya.
"Biarin aja, orang iseng paling mah." bohong Desi padahal yang menelepon adalah Dika pacar nya yang belum lama jadian.
Maaf kan aku sayang, sudah mengabaikan mu. gumam Desi yang masih menyembunyikan hubungan nya dengan Pamela karena tidak ingin kena ejek karena pacaran sama Dika orang yang nggak disukai waktu sekolah apalagi teman dengan Vino yang dulu sangat terkenal badboy nya.
Desi pun mengetik pesan singkat ke Dika supaya tidak kecewa padanya lantaran mengabaikan telepon dari nya.
Aku masih ada perlu jika dah selesai aku kabari, by sayang. Send.
____
"Des makasih ya, kapan kapan kalo nggak sibuk kita hangout bareng lagi." ucap Pamela sebelum pergi meninggalkan cafe itu.
"Iya Mela, kamu hati-hati." ujar Desi saat diparkiran.
"Ya udah aku pulang duluan ya." Pamela pun melajukan mobilnya pergi meninggalkan Desi di cafe karena Desi membawa mobil sendiri.
Beb, aku tunggu di cafe Jalan xx. Send
Desi mengirim pesan ke Dika setelah Pamela sudah pergi, karena tidak mau Pamela tahu hubungan nya dengan Dika.
__ADS_1