Malam Kelam Istimewa

Malam Kelam Istimewa
Tidak Bisa Menolak Takdir


__ADS_3

Raymond terlihat kurang tidur karena ulah Vino sehingga diri nya harus tidur di sofa. Tinggal sendirian di apartemen membuat nya nyaman dari pada tinggal bersama keluarga menurut nya.


"Ah sial tengkuk ku sakit." gerutu Raymond setelah sampai di rumah sakit.


Siang ini Raymond ada janji dengan keluarga pasien yang sebelumnya pasien merupakan korban penganiayaan hingga seluruh tubuh dan wajahnya menjadi rusak karena di siram air keras.


Sebelum ketemu keluarga pasien, Raymond ingin membeli segelas kopi untuk menghilangkan rasa kantuk nya.


Raymond yang tak sengaja bertemu Pamela langsung berniat ingin menggangu nya.


"Oh, ibu hamil seperti nya tidak boleh terlalu banyak minum kopi dan lebih baik minum susu karena bagus untuk janin." kata Raymond mengambil gelas kopi Pamela kemudian mengganti nya dengan susu kotak yang di bawa nya.


Pamela hanya pasrah saat kopi nya di ambil Raymond dan di tukar susu kotak.


Raymond yang berencana membeli kopi namun saat melihat pamela memesan kopi akhirnya Raymond membeli susu kotak dan bermaksud ingin menukar nya dengan kopi Pamela.


"Kelihatan nya dokter Mela kurang tidur?"


Terlihat raut wajah Pamela yang sayu, Raymond jadi berpikir jika mereka sedang ada masalah karena Vino menggila di club malam hingga mabuk berat.


"Apa menurut dokter Raymond membeli kopi untuk menghilangkan ngantuk aja."


"Maybe, karena dokter Mela kelihatan sekali jika kurang tidur." ucap Raymond dengan senyum liciknya.


"Apa mungkin dokter Mela begadang tiap malam." imbuh nya.


"Memang nya saya harus cerita sama kamu."


"Hahaha.........suami dokter Mela pasti tukang maksa ya." bisik Raymond mendekat ke telinga Pamela.


Raymond sengaja menggoda Pamela dan membuat nya kesal. Raymond ingin mencari tahu tentang Pamela karena bisa meluluhkan hati sang Malvino yang keras kepala.


"Oh ya terimakasih sudah menolong ku waktu pingsan kemaren." ujar pamela mengalihkan pembicaraan.


"Oke, tapi tidak gratis tuh! Kamu harus menemaniku minum kopi ini."


"Oh ngga ikhlas nih nolong nya, menyesal jadinya ngucapin terimakasih." cicit Pamela.


"Terserah saya!" kata Raymond.


Seorang perawat datang memanggil Raymond.


"Maaf dok, sudah di tunggu keluarga pasien." kata perawat yang menjadi asisten Raymond.


"Ya......siapkan berkas dan status medis pasien, suster." suruh Raymond.


"Baik dok... "


Raymond kesal waktunya tidak tepat karena harus kembali kerja, padahal kesempatan minum kopi di cafe bersama Pamela sudah di depan mata karena sebelumnya selalu gagal mengajak nya.


"Sayang sekali saya harus kembali kerja, tapi soal yang tadi saya anggap hutang dan lain kali saya benar-benar akan menagih nya." seloroh Raymond.


"Eh............

__ADS_1


"Bye dokter Mela, semoga hari mu menyenangkan." ucap Raymond pergi sambil mengangkat gelas kopi itu.


Setelah Raymond pergi Pamela jadi berpikir jika Raymond dokter yang menyebalkan.


Lagi lagi Pamela melihat ponselnya dan masih belum ada balasan pesan dari vino. Pamela memilih ke taman dari pada kembali keruangan nya karena sudah selesai pelayanan. Pamela takjub karena baru mengetahui taman di rumah sakit ini sangat luas karena selama ini Pamela tidak pernah berkeliling di taman karena kesibukan.


Taman dengan konsep go green di lengkapi dengan berbagai tanaman hias serta pohon yang rindang sehingga membuat orang betah untuk sekedar menenangkan hati. Pamela duduk di bangku taman hanya untuk mencari udara segar dan mencoba menenangkan hati.


Pamela melihat kembali susu kotak pemberian dari Raymond.


"Susu memang bagus untuk ibu hamil." gumam nya.


Tak jauh dari taman, Pamela melihat jatmiko sedang menemani anak kecil seperti nya seorang pasien.


Tak sengaja mata Pamela dan jatmiko beradu pandang. Rasa keraguan jatmiko ingin menemui Pamela karena takut Pamela membencinya.


Anak kecil tadi datang menghampiri Pamela karena bola yang sedang di mainkan nya jatuh di dekat Pamela.


"Bola ku....." serunya.


"Hai....nama kamu siapa?" tanya Pamela lembut.


"Arfian, apakah ibu dokter di sini juga?" jawab nya.


"Ya, adik fian berapa umur mu?"


"Kalau saya tidak sakit terus terusan kelas 1 SD bu dokter." jawab Arfian.


Deg


"Arfian ingin kembali sekolah nggak?"


"Iya mau."


"Arfian harus semangat terus ya, semoga cepat sembuh."


"Ya, yeeee......Arfian bisa sembuh." teriak Arfian senang.


"Bu dokter, Arfian mau sembuh biar bisa sekolah dan bisa bermain." imbuh nya kemudian Arfian lari menemui sepasang suami-istri sepertinya orang tua Arfian.


"Saya berharap anak itu selalu semangat karena di usia nya harus melawan sakit kangker di otak nya." ucap jatmiko tiba-tiba menghampiri Pamela saat Arfian meninggalkan nya untuk menemui kedua orang tuanya.


"Kamu kelihatan akrab dengan Arfian?" tanya Pamela.


"Karena aku ikut merasakan bagaimana anak sekecil Arfian berjuang demi kesembuhan nya." jawab jatmiko ikut duduk disebelah Pamela.


"Arfian seusia anak ku, Alvin."


"Sudah sebesar itu?"


"Ya, bahkan dia sangat bijak dari bayangan ku."


"Apa kamu bahagia sekarang Pamela?" tanya jatmiko, Pamela langsung terdiam.

__ADS_1


"Maaf jika aku terlalu banyak bertanya, dan aku minta maaf waktu itu aku..........." ucap nya terputus.


"Miko, aku nggak ada maksud mempermainkan mu. Ah....aku pun nggak bisa melawan takdir jika akhirnya aku bersama dengan vino." kata Pamela.


"Apa kamu mencintai nya Mela?"


Jatmiko hanya ingin tahu dengan perasaan Pamela saat memutuskan menikah dengan vino.


"Takdir yang mempertemukan kita bahkan saat aku belum benar-benar menyukai Vino, Alvin dipertemukan vino lebih dulu tanpa ku beritahu siapa ayah nya." jelas Pamela.


"Ah...aku sudah kalah dengan Vino." ujar jatmiko dengan senyum.


"Apa yang memutuskan mu menjadi seorang dokter, miko? " tanya Pamela membuat jatmiko terlihat gugup karena setahu Pamela jatmiko anak orang kaya sebagai pembisnis hingga perusahaan yang di miliki orang tuanya seperti Vino dan kedua teman nya


"Aku terinspirasi oleh seseorang, saat hidup nya ingin berguna bagi orang lain pernah memandang usia dan jenis kelamin karena di saat kita bisa memberikan kebahagiaan dan kesembuhan bagi mereka adalah kebahagiaan di dunia setelah berjuang dengan penyakit yang di deritanya sebelum takdir dari Yang Maha Kuasa." jelas jatmiko namun sebenarnya seseorang yang dimaksud adalah Pamela, saat sekolah dulu yang bercita-cita ingin menjadi dokter.


"Dari tadi kamu memegang susu kotak itu? apa kamu tidak ingin meminumnya?" tanya jatmiko.


"Ini pemberian dari orang."


"Apa itu dari seorang pengagum mu?"


"Apaan sih..........Karena aku hamil jadi dia memberikan ini." ucap Pamela.


Jatmiko kaget Pamela ternyata hamil.


"Aku ucap kan selamat atas kehamilan mu yang kedua. Soal yang kemaren, aku minta maaf."


"Aku sudah melupakan itu, kuharap kamu akan menemukan wanita yang benar benar mencintaimu." ujar Pamela.


"Kata itu sama persis yang ku dengar beberapa tahun yang lalu." kata jatmiko seketika langsung teringat Bona.


"Hahaha..... kamu masih mengingat nya?" tanya Pamela di sela tertawa nya.


Saat bersamaan seseorang diam diam mengambil gambar kedua orang itu tanpa sepengetahuan mereka.


"Ya aku mengingat nya." balas jatmiko.


"Ah, aku terlalu lama disini seperti nya." ucap Pamela harus kembali keruangan poliklinik nya.


"Terima kasih sudah memaafkan ku." ucap jatmiko saat Pamela beranjak dari tempat duduk nya.


"Temukan kebahagiaan mu miko jangan di bayangi masa lalu." kata Pamela dengan senyum manis sebelum melangkah pergi.


Jatmiko terdiam saat Pamela melangkah kan kaki meninggalkan nya sendirian di taman. Saat tangan jatmiko sebelah kanan menengadah ke atas tak sengaja selembar daun kering jatuh tepat di telapak tangan nya.


"Alam pun mengaminkan apa yang kamu doakan untukku." gumam jatmiko lirih.


Cinta pertama belum tentu memiliki nya, itu memang benar adanya.


Orang yang mengambil gambar secara sembunyi tadi langsung di dikirimkan pada seseorang foto tersebut.


^^^Apa kamu mengenal pria itu? dia terlihat akrab dengan istrimu. (Pictures)/send.^^^

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2