Malam Kelam Istimewa

Malam Kelam Istimewa
Patah Hati Rio


__ADS_3

"Ini kamar nya alvin, suka nggak." ucap oma Dewi saat melihat kamar yang sudah selesai di dekorasi.


"Ng..... mommy....." ucap Alvin.


"Mommy dan daddy tidur di kamar sebelah Alvin." jelas oma.


"Jadi! Alvin tidur dikamar ini oma?" tanya Alvin sambil menautkan jarinya.


"Iya dong Alvin kan sudah besar.......jadi Alvin tidur dikamar ini terus daddy sama mommy tidur dikamar sebelah. Alvin mau adik kan......" tanya oma Dewi.


"Mau mau......biar Alvin ada teman main." ucap Alvin senang, mama Dewi tersenyum sambil mengelus lembut rambut Alvin. "Oma.... kalau Alvin tidur dikamar ini akan ada adik ya oma?"


Mama Dewi hanya tersenyum dengan kepolosan Alvin, tidak mungkin harus dijelaskan mama Dewi cukup menganggukkan kepala.


Mama Dewi berharap jika Pamela hamil lagi adik Alvin biar suasana rumah bertambah ramai apalagi kalau Alvin sekolah terasa sepi.


"Alvin suka nggak sama kamar nya?"


"Suka banget oma, keren. Terima kasih oma." ujar Alvin senang.


Vino meminta mama Dewi untuk mendekorasi kamar sebelah di atas nya untuk Alvin. Mama Dewi pun setuju dan memanggil ahli designer interior khusus untuk cucunya dan meminta ada hiasan karakter kesukaan Alvin.


"Oma lihat itu..... Alvin suka." Alvin memperlihatkan dinding di kamarnya ada gambar pahlawan Avenger kesukaan nya.


"Ya sudah, oma temani Alvin bermain lagi." seru oma.


"Okay oma.....


Kamar yang di dominasi dengan gambar karakter itu terlihat keren menurut Alvin bahkan mama Dewi yang meminta di buat yang terbaik untuk cucunya kepada designer interiornya itu. Selain tempat tidur, lemari dan meja belajar ada juga beberapa permainan yang tertata apik di kamar itu karena melihat ukuran kamarnya yang luas untuk seukuran anak anak.


_________


Pamela terbangun merasakan suasana gelap di dalam ruangan ternyata mereka tertidur setelah kejadian siang tadi yang berakhir ditempat tidur karena kelelahan. Keduanya ternyata tertidur tanpa menggunakan sehelai benang hanya selimut yang menutupi nya.


Yaa, mereka akhirnya melakukan pergulatan panas setelah hati mereka sudah saling mengerti satu sama lain terutama Vino yang merasa bersalah ketika Pamela menceritakan kehidupan nya di Melbourne waktu itu. Mungkin jika Pamela menerima Vino waktu itu pasti akan berbeda tapi belum tentu akan merasakan kebahagiaan seperti saat ini.


Pamela menyala kan lampu yang berada di nakas dekat tempat tidur kemudian beranjak mencari ponsel nya yang tergeletak di sofa untuk melihat jam yang menunjukkan pukul 7 malam dan ada beberapa pesan masuk dari dokter Ranti.


Pamela memilih ke kamar mandi daripada membangunkan suaminya yang masih terlelap karena sudah merasa lengket di badan nya.


"Ah iya kan nggak bawa baju ganti kesini tadi." gerutu Pamela setelah keluar dari kamar mandi, terlihat baju yang dikenakan tadi siang teronggok di bawah tempat tidur.


Pamela membuka pintu balkon dan berdiri di sana menikmati suasana malam hari di apartemen itu. Pamela berpikir akan berterus-terang dengan Rio jika dirinya sudah menikah biar tidak ada salah pahaman lagi karena Vino terlihat kesal. Pamela jadi tahu Vino mengajak nya ke sini karena tidak ingin orang tuanya melihat pertengkaran rumah tangga nya yang baru beberapa minggu menikah, untung nya sudah kembali membaik.


Vino kaget tidak melihat Pamela di tempat tidur dengan terburu buru memakai boxer nya dan mencari keberadaan istrinya.


CEKLEK


"Sayang kenapa tidak membangunkan ku." tanya Vino dengan suara khas bangun tidur menyusul Pamela di balkon.


"Kamu sudah bangun." Pamela kaget Vino memeluknya dari belakang hanya mengenakan celana boxer. "Kenapa?"


"Aku kira kamu pergi." Vino mempererat pelukan nya dan menyandarkan kepala nya di bahu Pamela.


"Vino apa kita tidak pulang aja ke rumah mama nanti Alvin mencari kita."


"Kita nginap saja ya di sini."


"Kita nggak pamit sama Alvin dan mama Vino, mereka pasti menunggu kita."


"Kita telpon mama jika kita tidak pulang malam ini."


"Jangan sekarang Vino Alvin pasti mencari kita."


"Sayang kamu tidak ingin berduaan di sini."

__ADS_1


Vino memutar tubuh pamela menghadap dirinya dengan tangan memeluk pinggang Pamela.


"Vino, jangan sekarang kita bisa menginap lain kali. Aku tidak mau Alvin marah padaku."


"Kenapa?"


"Dari bayi aku tidak pernah meninggalkan Alvin dalam waktu lama Vino, karena yang dimiliki Alvin cuma aku waktu itu."


"Kamu tidak menganggap aku, oh.... aku jadi teringat kata Alvin waktu itu kenapa kamu bilang ke Alvin jika daddy nya sedang bekerja ditempat jauh dan tidak kembali, apa kamu ada hubungan dengan pria lain saat di Melbourne atau Rio kah yang dimaksud Alvin?"


"Hhmm...... jadi kamu mau aku bilang sama Alvin jika daddy nya sudah di surga waktu itu." jawab Pamela kesal.


"Ah tidak, lebih baik daddy nya bekerja ditempat jauh dan sekarang sudah kembali nyatanya aku berusaha mencari dan menunggu mu."


"Aku jadi ingin tahu kenapa kamu tidak menikah dengan wanita lain toh aku sudah menolak mu untuk bertanggung jawab." tangan Pamela memegang kedua pipi Vino.


"Kamu ingin tahu banget atau ingin tahu aja hm?"


"Ah nggak lucu...." ucap pamela melepas pelukan tangan Vino yang di pinggang nya dan hendak pergi.


"Karena aku suka sama kamu dari pandangan pertama dan aku akan merasa bersalah seumur hidup jika tidak menikah dengan mu karena perbuatan ku hingga kamu hamil karena aku." ucap Vino tulus.


"Terima kasih...." Pamela memeluk Vino dengan erat.


"Jangan pernah untuk meninggalkan aku."


"If circumstances force." ucap pamela dengan senyum.


"Don't make me crazy."


"Hahaha......I will drive you crazy." Pamela senang menggoda Vino.


"Ya, aku akan menggila jika kamu meninggalkan aku."


"Ahk....." teriak Pamela kaget tiba-tiba Vino mengangkat tubuh nya dan membawa masuk kedalam.


"Sekali lagi bolehkan, sebelum kita pulang?"


"Nanti kita kemalaman pulang nya Vino dan ehmp........" mulut Pamela sudah dibungkam dengan bibir vino saat sampai ditempat tidur.


Mereka kembali merasakan surga dunia lagi melanjutkan yang tadi siang sebelum mereka pulang ke rumah besar tuan Antoni.


2 jam kemudian mereka baru bersiap dan meninggalkan apartemen. Pamela terlihat kesal dengan ulah Vino dan harus pulang dengan memakai atasan kemeja Vino yang tersimpan di lemari dan rok yang dipakai saat kerja tadi.


"Maaf, besok aku siapkan baju ganti di apartemen jika kita mampir lagi." ujar Vino sebelum melajukan mobilnya meninggalkan bangunan apartemen.


______________


Terdengar hentakan suara musik yang dimainkan seorang DJ menyihir pengunjung club itu untuk berjoget atau sekedar mendengar nya dan menikmati minuman laknat itu dengan happy. Berbeda dengan seorang pria yang tidak menikmati alunan musik itu memilih mengobati luka hati nya dengan menegak minuman laknat itu hingga tak terkontrol.


Andreas yang melihat nya saat baru masuk ke club langsung menghampiri pria tadi yang tak lain adalah Rio.


"Satu gelas lagi untuk ku." pinta Rio pada bartender di club itu.


"Okay tapi kamu sudah terlalu mabuk kawan." ucap bartender itu karena melihat pria yang duduk di depan mejanya dari masuk terus meminta di beri segelas minuman beralkohol padahal sudah terlihat mabuk.


"Hai kawan, ada apa dengan mu." Andreas menepuk bahu Rio yang sedang asyik menikmati minuman beralkohol.


"Tolong hentikan ndre sepertinya dia sedang bermasalah karena dari jam 9 tadi memesan minuman tak berhenti." ucap bartender yang sudah mengenal Andreas dan sebelumnya terlihat akrab dengan Rio.


"Ah elo baru datang." ucap Rio dengan setengah sadar karena sudah mabuk terlihat mata nya sudah memerah.


"Kau ke sini, apa pacar kamu tidak mencari mu?" tanya Andreas.


BRUAK

__ADS_1


Rio menghentakkan gelas setelah di tegaknya di atas meja dengan kuat.


"Tidak ada yang mencari ku hahaha....."


"Thanks...." seorang bartender memberi satu gelas minuman yang di pesan Andreas.


"Seperti nya kau sudah mabuk kawan." Andreas mencoba memperingatkan Rio.


"Gue belum bisa melupakan nya, jadi jangan coba menghentikan aku." Rio kembali menegak segelas alkohol lagi.


"Ah kamu jangan khawatir aku akan bayar." tunjuk Rio ke bartender tadi meskipun tidak masalah baginya kerena minuman nya laku terjual tapi ada sisi kekhawatiran juga bagi bartender tadi karena orang orang yang minum seperti Rio tadi pasti sedang ada masalah.


"Jangan khawatir, kamu bisa mendapatkan yang lebih baik darinya. So i think you are handsome and rich." ucap Andreas namun tiba-tiba Rio menarik kerah baju Andreas dengan kuat.


"Dia bukan wanita sembarangan karena dia wanita hebat yang ku kenal." kata Rio dengan lugas kemudian melepas cengkeraman nya.


"Hoho... calm bro. Oke dia wanita hebat tapi kenapa menolak mu apa ada kekurangan dari mu?"


Raut wajah Rio terlihat sedih karena benar, Pamela menolak nya.


"Gue benar-benar menyedihkan, gue berharap bersama nya tapi temanku sudah lebih dulu memiliki nya." kata Rio dengan lesu.


"Pasti teman mu sangat beruntung mendapat wanita hebat yang kau ucapkan tadi." ujar Andreas setengah mabuk.


"Ya bro, mungkin saja tapi aku jadi benci kamu, Malvino damares! bahkan aku ingin menghajar mu kau sudah mengambil milikku tapi aku juga tidak bisa mengalahkan mu karena Mela lebih memilih mu." rancau Rio membuat Andreas kembali dalam kewarasan nya.


"Wait...Malvino? jadi wanita yang di ceritakan Rio dari kemaren berarti Pamela." gumam Andreas.


Rio masih memesan minuman alkohol bahkan seakan susah mengangkat kepala nya dengan tegak. Andreas mengeluarkan ponselnya kemudian mengirim pesan kepada Vino karena tidak ingin Rio mati penasaran di club ini karena over dosis minuman laknat.


Setu jam kemudian Vino datang menghampiri mereka terlihat Rio sudah menyandarkan kepalanya di meja dan Andreas masih memesan minuman alkohol di samping Rio.


"Kenapa sih ndre nelpon gue." gerutu Vino setelah sampai di tempat itu.


"Noh lihat teman elo yang patah hati karena elo." sahut Andreas.


"Ishhhh.... siapa suruh menyukai istri gue." tukas nya.


"Teman nggak ada akhlak lo, antar pulang dia karena gue nggak tahu dimana dia tinggal." jelas Andreas.


"Koq elo bisa tahu dia teman gue?"


''Dia lah tadi merancau katanya ingin menghajar elo tuh." kata Andreas sudah mulai mabuk.


Sebenarnya Vino masih kesal dengan Rio bahkan ingin menghajar nya juga karena kejadian siang tadi namun Vino teringat pertemanan nya dengan Rio saat di Sydney dulu.


"Ya sudah elo ikut gua antar dia." ajak Vino ingat dimana Rio tinggal katanya di hotel bokap nya saat awal datang menemuinya.


"Oh okey....."


Setelah membayar bill nya Vino membawa Rio ke hotel damares dibantu Andreas. Tidak sulit bagi Vino untuk membawa Rio masuk ke dalam tempat nya menginap dengan bantuan resepsionis Vino tahu nomor berapa Rio tinggal.


FLASHBACK ON


Jam 10 malam lewat mereka baru sampai kediaman rumah Antoni. Ternyata Alvin sudah tidur di kamar nya. Pamela masuk kedalam untuk melihat Alvin. Vino memilih merebahkan tubuhnya di sofa namun ponsel nya berdering ternyata dari Andreas.


"Halo ndre, ada apa?"


"Vin, elo harus datang di club XX sebelum anak orang mati."


"Siapa, Elo mabuk ndre?"


"Pokoknya elo harus ke sini sekarang." Andreas memutus panggilan nya.


Vino bergegas mengambil kunci mobilnya dan pergi menuju tempat yang dikatakan Andreas.

__ADS_1


FLASHBACK OF


Sepulang mengantar Rio, Vino merebahkan tubuhnya di samping Pamela yang sudah tertidur lelap.


__ADS_2