
Pagi hari seseorang masih tertidur pulas di atas ranjang dengan telanjang dada dan selimut di batas perutnya.
"Vino.....bangun dong sayang!" teriak mama Dewi menghampiri Vino yang masih tidur.
"Vino sudah siang, bangun........." sambil teriak mama dewi membuka kain gorden kamar Vino membuat cahaya matahari menyeruak ke kamar.
"Ishhh apa sih mah, Vino masih ngantuk." kata Vino karena terusik dengan sinar matahari pagi.
"Ayo lah vin, kapan bisa ketemu cucu mamah." mama Dewi duduk di tepi ranjang Vino.
"Mah ngapain sih buru buru kali." Vino bangun dari tempat tidur nya kemudian pergi ke kamar mandi.
"Vino! mama serius nih." teriak mama Dewi.
"Mama lamarin dulu Pamela untuk Vino." suara Vino dengan kepala muncul dari balik pintu kamar mandi.
"Ish tunggu aja ya nanti, mama nggak akan bantu kamu buat meluluhkan hati papah." mama Dewi kesal kemudian keluar dari kamar Vino.
Braak
Terdengar pintu tertutup Vino kembali dengan ritual mandi nya karena sebentar lagi harus pergi kekantor.
Beberapa saat Vino turun dari lantai dua dengan pakaian rapi sambil bersiul begitu juga raut wajah Vino terlihat cerah kemudian menghampiri tuan antoni dan istrinya di ruang makan.
"Pagi mah, pah....." sapa Vino namun kedua orang tua itu masih enggan membalas sapaan Vino.
"Okay Vino berangkat kekantor kalo begitu." pamit Vino.
Tiba-tiba tuan antoni menghentikan sarapan nya.
"Vino, pulang kerja papah meminta penjelasan dari kamu karena papah merasa sudah mengecewakan teman papah."
"Pah apa harus Vino katakan berulang kali jika Vino hanya ingin menikah dengan Pamela."
"Seharusnya sejak awal kamu memberi tahu papah."
"Maaf pah Vino baru bisa mendapatkan hati Pamela bahkan baru bisa menyakinkan Pamela setelah kembali ke indonesia." jelas Vino.
"Pah, jangan memaksa Vino. Mungkin wanita yang dicintai itu hanya Pamela toh dia cantik dan menurut mama dia sangat cantik apalagi dia seorang dokter lagi." ucap mama Ratih senang.
Tuan antoni masih terdiam dengan kata mama Dewi.
"Pah aku tidak ingin jauh dengan anak aku." kata Vino kemudian pergi meninggalkan ruang makan tadi.
"Pah, mama akan mendukung apa yang menjadi pilihan Vino karena selama ini Vino sudah menjadi anak mama yang baik semenjak kejadian itu." mama Dewi mencoba meluluhkan hati suaminya.
"Terserah mama, papa mau olahraga sebentar." kata tuan Antoni membuat mama Dewi bingung kemudian mengerti saat tuan Antoni pergi ke ruangan yang biasa Vino latihan atau olah raga.
"Kirain....Oh ya nanti sore mending mama ke salon sekalian shopping." gumam mama Dewi dengan senyum kebahagiaan.
____________
Siang nya tuan Antoni bertemu dengan tuan Rudi di sebuah restoran.
"Aku tahu yang ingin kamu sampaikan." kata tuan Rudi.
"Aku minta maaf Rud, mungkin memang kita membatalkan perjodohan ini." jelas tuan antoni.
"Ya mungkin ini yang akan kudengar dari mu."
"Kita masih bisa bersahabat Rud meskipun anak kita tidak menikah."
"Aku kecewa sama kamu Nton, kenapa dari awal tidak memberitahu ku jika Vino punya hubungan dengan Pamela."
__ADS_1
"Ceritanya panjang Rud, mereka sudah memiliki seorang anak karena kesalahan dulu diantara mereka."
"Apa!?......" tuan Rudi terkejut mendengar kata sahabat nya itu.
"Karena itu aku minta maaf rudi, kita masih bisa bersahabat seperti dulu."
"Bagaimana dengan media jika melihat berita Vino memiliki anak diluar nikah."
"Itu akan menjadi urusanku."
"Baiklah aku terima alasanmu tapi jangan berpikir aku tidak kecewa dengan ini."
"Terima kasih rudi, sampai kan juga kepada istri mu maaf dari kami."
"Ya.....kalau begitu aku pulang duluan karena masih ada kerjaan di kantor." pamit tuan Rudi.
Ada sedikit rasa kesal di hati tuan Rudi saat bertemu dengan sahabatnya itu tapi akhirnya hatinya bisa memaafkan karena alasan yang diberikan sahabat nya.
____________
Diruang poli Pamela mendapat telepon dari sekertaris direksi untuk datang ke ruang direktur.
"Eh Mel, mau kemana?" tanya Indra saat bertemu Pamela di depan lift.
"Oh mau ke ruang direksi." jawab Pamela.
"Kenapa? ada rapat?" tanya indra lagi.
"Nggak tahu ndra, kenapa?"
"Mel, ada yang ingin aku ngomongin sama kamu tapi bukan disini. Kita makan siang bareng gimana?"
"Ya nanti aku kabari setelah dari direksi.
"Okay kutunggu kabarnya."
Setelah bunyi ting, pintu lift terbuka dan Pamela sudah dilantai paling atas dimana ruang direktur berada.
"Silahkan masuk dokter mela, tuan Antoni sedang rapat diruang direksi mohon ditunggu sebentar." kata sekertaris direksi.
"Terima kasih mba, saya akan menunggu di dalam."
Pamela bingung kenapa dirinya di panggil tapi malah disuruh menunggu, untung nya jam praktek poli pagi nya sudah selesai pelayanan.
Pamela duduk di kursi sofa hingga beberapa saat terdengar pintu terbuka ternyata Vino sudah selesai rapat nya.
"Sudah lama menunggu disini?" tanya Vino meletakan berkas map nya dimeja kerja kemudian ikut duduk di sebelah Pamela. "Kamu belum makan kan? kita pesan makan saja."
"Vin, ada apa memanggilku kesini?"
"Hmm nggak ada? aku hanya ingin mengajak makan siang disini." Vino menyandarkan tubuh nya di sofa.
"Nggak enak kalau dilihat karyawan atau dokter lain vin." ujar Pamela.
"Mamah ingin ketemu Alvin." ucap Vino.
"Kenapa?"
"Ya mau ketemu sama cucunya dong."
"Apa nggak terlalu cepat vin."
"Kenapa sayang......., kamu berubah pikiran." Vino menggenggam tangan Pamela.
__ADS_1
Tok tok tok
Terdengar suara pintu diketuk kemudian farhan datang membawa paper bag yang berisi makanan dan membawa 2 jus.
"Ya sudah kita makan dulu." ajak Vino.
"Terima kasih farhan." ucap Vino kemudian membuka paper bag itu dan mengeluarkan makanan dan minuman yang dibeli Farhan.
Saat mau makan, ponsel Pamela berdering dan tertera nama dokter Indra namun Pamela tidak mengangkat panggilan itu. Vino tahu jika dokter Indra menghubungi Pamela.
Pamela makan dengan tenang namun saat melihat vino tidak mulai makan membuat Pamela menghentikan makan nya.
"Kamu tidak makan?" tanya Pamela.
Vino masih diam saat Pamela menawarkan makan kemudian Pamela mengarahkan sendok nya berisi makan kedalam mulut Vino.
Satu suapan berhasil masuk ke mulut Vino hingga ke tiga kali nya saat Pamela ingin menyuapi vino lagi namun tangan Pamela dihentikan Vino.
"Gantian aku ingin menyuapi kamu." Vino mengambil alih sendok Pamela dan melakukan hal sama seperti Pamela lakukan tapi kini Vino yang menyuapi Pamela. Dan beberapa suapan masuk ke mulut Pamela.
"Sudah vin, aku dah kenyang." Vino menghentikan menyuapi Pamela saat tangan nya di hentikan Pamela.
"Rasanya aku ingin segera menikah dengan mu." ujar Vino.
"Vin, aku balik ke poli ya masih ada yang aku kerjakan." kata Pamela sambil minum.
"Aku antar pulang nanti."
"Nggak perlu hari ini aku nggak ada jadwal praktek sore jadi pulang cepat mau antar tante Rani dan om Rey belanja karena lusa mereka kembali ke Sydney." jelas Pamela jujur.
"Ya udah nanti kamu hubungi aku jika perlu sesuatu."
"Okay......." Pamela keluar dari ruangan Vino dan terlihat farhan sedang ngobrol dengan sekertaris direksi .
Setelah turun dari lift terlihat Indra datang menghampiri Pamela.
"Lama banget sih Mel?" tanya Indra.
"Ah iya, sorry tadi ada yang perlu di bahas dengan direktur." jawab Pamela.
"Ya udah kita makan sekarang yuk mumpung tidak ada pasien." indra meraih tangan Pamela dan ingin mengajak ke kantin.
"Sorry ndra, aku belum lapar." bohong Pamela padahal sudah makan dengan Vino.
"Eh... kapan kamu makan bukan nya dari ruang direktur barusan."
"Hmm itu......aku mau visit sekarang karena sudah jam visit." Pamela melihat jam ditangan nya sudah menunjukkan pukul 2 siang.
"Serius Mel, kamu tidak mu makan." tanya Indra.
"Lain kali okay......." jawab Pamela.
"Jadi benar ya Mel tentang gosip yang beredar jika kamu dekat dengan direktur rumah sakit ini?" rasa penasaran Indra terucap.
"Jangan percaya gosip deh ndra, Kamu tahu sendiri kan kalau aku single parent." Pamela belum bisa jujur karena melihat raut wajah Indra terlihat kecewa.
"Sorry ndra aku belum bisa jujur sama kamu mengenai hubungan ku dengan Vino." batin Pamela.
Ternyata saat Vino dan farhan keluar lift melihat Pamela sedang mengobrol dengan dokter Indra di lobi.
"Huh katanya ada kerja yang belum selesai." cicit Vino kemudian muka nya berubah kesal kemudian melangkah pergi bersama Farhan.
"Mel, sebenarnya aku menyukaimu bukan sebagai teman saja tapi aku menyukaimu karena aku tulus di dalam hati." jelas Indra.
__ADS_1
"Maaf ndra aku tidak bisa, karena aku lebih nyaman menjadi teman." ucap Pamela lembut.
"Aku mengerti Mel. Lupakan apa yang aku katakan tadi." Indra pergi begitu saja membuat Pamela terpaku kemudian melangkah ke arah poliklinik sementara Indra ke emergency karena jadwal jaga.