Malam Kelam Istimewa

Malam Kelam Istimewa
Kita Masih bisa Berteman


__ADS_3

Sudah 2 hari kejadian itu, Rio tidak terlihat lagi bahkan tidak menemui Pamela atau Vino atau mungkin sudah kembali ke Sydney. Pamela merasa tidak enak hati dengan Rio dan ingin menjelaskan statusnya saat ini tapi bagaimana pun juga Pamela harus menjaga perasaan Vino. Pamela merasa bahagia ternyata Vino sangat mencintai nya, meskipun kadang sikap posesif Vino membuat Pamela kurang nyaman.


"Mommy! Alvin is ready." teriak Alvin.


"Mau kemana sayang? ganteng banget hari ini." goda Vino dengan mengacak rambutnya saat melihat Alvin yang sudah bersiap dengan baju kasual nya dan rambut yang sudah rapi.


"Ishhh daddy stop, kan jadi nggak keren Alvin." ujar Alvin kesal rambutnya tidak rapi lagi.


Vino hanya tertawa berhasil menggoda alvin. Ya, siang ini Pamela akan pergi jalan bersama desi dan bona karena mereka akan reunian katanya, sudah lama mereka tidak kumpul bersama karena kesibukan masing-masing apalagi bona baru kembali dari luar negeri.


"Vin yakin tidak ikut nih?" tanya Pamela yang sudah terlihat rapi.


"Aku masih ada kerjaan sayang, nanti kamu diantar sama pak ujang." kata Vino sambil membuka laptop nya karena ada beberapa tugas dari kantor yang belum selesai.


"Kan pak ujang belum pulang ngantar bi asih. Kelamaan Vino, kalau nunggu pak ujang."


"Tunggu pak ujang atau tidak usah pergi." ucap Vino dengan enteng nya terlihat sibuk dengan laptop nya.


Setelah 1 jam lebih menunggu pak ujang yang belum juga kembali membuat Pamela gusar berbeda dengan Alvin yang terlihat asyik main game di ponsel Pamela.


"Vin, sudah satu jam nih pak ujang belum kembali?" tanya Pamela tiba-tiba terdengar suara mobil datang.


"Nah! tuh pak ujang datang." kata Vino.


Saat Pamela membuka pintu ternyata desi dan bona yang datang.


"Ih lama banget sih Mel, nunggu kamu lama jadi kami samperin kesini." omel desi saat Pamela membukakan pintu.


"Hah! kalian malah ke sini." seru Pamela kaget ternyata bukan pak ujang yang datang melainkan desi dan bona.


"Iya Mel, lama banget sih apa nggak diperbolehkan sama Vino ya?" tanya bona.


"Masuk yuk...." ajak Pamela kemudian mereka bertiga duduk di ruang tamu.


Vino menghentikan pekerjaan dan meletakan laptop nya di atas meja kemudian menghampiri ke ruang tamu.


"Siapa bilang nggak ku ijinkan, mending kalian ngumpul disini nanti ku suruh mereka ke sini." kata Vino kemudian meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Siapa mereka yang dimaksud Vino?" tanya desi penasaran.


"Tau....!?!" jawab bona.


"Ku tinggal dulu ya kalian mau minum apa?." tanya Pamela sebelum beranjak pergi.


"Apa aja deh yang penting jangan air putih." sahut desi sambil nyengir kuda.


"Haha.....okay." Pamela pergi ke dapur untuk membuat minum tapi sebelumnya melihat Alvin yang sedari tadi main game ternyata sudah menyusul oma dan opa nya di teras belakang rumah.


"Yang... mending kita buat acara barbeque disini? aku sudah telpon dika dan Andreas katanya mereka mau kesini." bisik Vino dengan tiba-tiba merangkul pinggang Pamela hingga mengagetkan Pamela saat sedang menyiapkan minum untuk kedua temannya.


"Hah, pasti kamu berharap kami nggak jadi jalan kan? tapi iya sih kapan lagi kita kumpul bareng." jawab Pamela.


"Tadi Pak ujang mampir ke bengkel karena mobil nya jadwal servis." ungkap Vino karena pak ujang terlambat pulang.


"Apa pekerjaan mu sudah selesai?" tanya Pamela.


"Kerjaan ku bisa di lanjutkan nanti kalau istri aku di rumah." ucap Vino sambil menyelipkan anak rambut milik Pamela ke samping telinga.


Tiba-tiba Vino mencium rambut dan pipi Pamela yang masih sibuk mencuci beberapa gelas di wastafel.


"Kamu memang cantik sayang." ungkap Vino setelah mencium Pamela.


Nyatanya Pamela memang cantik meskipun sudah punya anak tapi Vino berharap akan ada Alvin selanjutnya di perut Pamela.


"Pantas lama, orang nya sedang mesra-mesraan ternyata m." celetuk desi tiba-tiba datang ke dapur karena menunggu Pamela lama menyiapkan minuman.


Seketika wajah Pamela tambah merona karena desi menyusul ke dapur dan melihat nya, lain dengan Vino yang cuek sambil memasukan kedua tangan nya ke dalam saku celana seakan tidak terjadi apa apa.


"Mentang mentang dah sah pamer kemesraan terus, noh...si dika dan Andreas datang tuh."

__ADS_1


"Ah ganggu aja kamu." ucap Vino sebelum pergi meninggalkan dapur.


Pintu belakang terbuka ternyata bi asih datang dari pasar terlihat kecapekan dengan barang bawaan belanja yang lumayan banyak untuk mengisi stok di kulkas.


"Tambah bikin minuman lagi untuk dika dan Andreas, des." suruh Pamela karena ingin membantu bu asih yang kecapean karena bi asri sedang pulang kampung.


"Iya deh....." sahut nya.


"Terima kasih non mela, tadi kelamaan nunggu mang ujang jadi kesiangan.


"Nggak papa bi, kita mau bikin acara barbeque di teras belakang bibi istirahat saja." Pamela mengambil alih pekerjaan bi asih dan menyiapkan beberapa seafood yang sudah di beli bi asih juga ada ayam dan daging.


Dari ruang tamu terdengar ramai semenjak kedatangan dika dan Andreas.


"Koq ke sini nggak bilang sih beb kan aku bisa jemput kamu." kata dika.


"Tadi nya nggak ada rencana ke sini sih beb karena Pamela di kepit terus tuh sama Vino nunggu kelamaan jadi kami samperin ke sini." ucap desi yang sudah ikut bergabung diruang tamu.


"Yah nasib jomblo yang tak pernah dianggap." celetuk Andreas karena mulai mencium aroma ke bucinan dika.


Vino hanya diam memainkan ponselnya.


"Oh ya vin, tante dan om mana?" tanya bona.


"Ada tuh di teras belakang." jawab Vino dan benar saja kedua orang tua nya sedang duduk bercengkerama bersama Alvin juga.


Pamela menyusun tempat untuk acara barbeque dibantu bi asih yang tidak mau di suruh istirahat.


"Mau ada acara ya Mel?" tanya mama dewi.


"Iya mah, pah, teman Mela dan Vino datang."


"Ya sudah suruh mereka ke sini." Suruh mama Dewi.


Beberapa saat kemudian mereka berkumpul di teras belakang dan memulai acara barbeque nya. Dika dan Andreas bagian pemanggangan, desi dan bona menyiapkan minuman sedangkan Vino dan Pamela menyusun tempat. Mama Dewi dan tuan Antoni memilih menunggu di ruang keluarga.


"Om ndre.... Alvin mau." ujar Alvin.


Alvin menunjuk sosis bakar dan Andreas mengambilkannya untuk Alvin.


"Kenapa sih yang jadi papa nya Alvin bukan om Andreas." ucap Andreas sambil melirik vino saat memberikan sosis ke pada Alvin.


Seketika mata Vino langsung melotot ke Andreas. Mereka pun tertawa dengan ulah Andreas yang membuat Vino kesal.


''Jangan ngimpi loh.... tuh! langkahi dulu mayat nya Vino kalau bisa." dika ikut menimpali candaan Andreas.


"Yang diem deh, tuh macam nya siap mau terkam orang." sahut desi melihat muka Vino yang sudah kesal kena bully.


Mereka tertawa bersama kecuali Vino dan alvin.


"Kenapa harus istri ku sih ndre? noh ada yang masih single." ucap vino dengan menunjuk ke bona dengan dagu nya.


Bona memilih makan daripada mendengar ocehan vino berbeda dengan Andreas memasang raut wajah nyengir nya.


"Ya jelas lah......pasti sahabat ku ini nggak mau." sahut desi santai.


Di sela menikmati makan, mereka juga saling melempar ejekan dan tertawa datang mama Dewi menghampiri nya.


"Vin, ada teman kamu tuh ingin ketemu kamu." kata mama Dewi.


"Siapa mah?" tanya vino.


"Hai vino, hai semua.....sorry mengganggu." sapa Rio yang sudah di belakang mama Dewi sebelum mama Dewi meninggal kan tempat itu.


Raut muka vino langsung cuek saat Rio datang.


"Siapa dia?" tanya dika pelan karena penasaran begitu juga desi dan bona namun berbeda dengan Andreas yang bersikap biasa saja.


Vino memegang tangan Pamela saat ingin menyapa Rio. "Rio...."

__ADS_1


"Vin, ada yang ingin ku sampaikan ke kamu!" ucap Rio.


Kemudian mereka memilih berbicara di dekat kolam renang jauh dari mereka, Pamela khawatir jika vino akan melakukan sesuatu dengan Rio bahkan Pamela tidak di boleh kan berbicara dengan Rio meskipun hanya menyapa nya.


"Vino aku tahu jika kamu tidak suka aku datang ke sini karena aku hanya memastikan jika Pamela ada hubungan dengan kamu? ternyata benar."


"Apa kamu masih ingin mendekati istri ku?"


"No, aku akan kembali ke Sydney. Kamu beruntung mendapatkan hati Pamela."


"Apa maksudmu?"


"Hahaha.... dia wanita hebat yang ku kenal jadi jangan pernah kau sakiti dia atau aku......." ucap Rio dengan senyum smirk nya. "Akan merebutnya."


"Brengsek kau....bugh....." satu pukulan mendarat di perut Rio.


"Itu seharusnya kulakukan saat kamu ingin melamar istri ku dihadapan ku." ujarnya.


"Tapi kan aku nggak tahu jika ternyata Pamela adalah istri mu." elak Rio.


"Jadi, kalau sudah tahu jangan mencoba menyukai istriku lagi." ucap Vino kesal.


"Hohoho santai Vino...tapi aku masih menganggap nya teman dan bugh........." Rio mengarahkan pukulan tangan nya mengenai pipi Vino hingga terjatuh tersungkur. "Itu hadiah dari aku."


"Brengsek kau Rio........" teriak Vino dengan memegang perut nya.


"Hahaha..Tanpa kau ijinkan aku mau bicara dengan Pamela." Rio berlalu meninggal kan Vino.


Saat Vino kembali ke teras Rio sedang mengobrol dengan Pamela.


"Kenapa pipi mu Vino seperti habis kena tinju." tanya dika namun Vino hanya diam.


"Paling kena bogem sama Rio." jawab Andreas santai.


"Eh elo kenal sama pria tadi?" tanya dika kemudian Andreas menceritakan tentang Rio yang baru di kenal nya.


"Wah gila ternyata bukan jatmiko aja yang menghajar Vino ternyata Rio juga, bagaimana kabar Jatmiko sekarang ya? untung nya kamu cepat mendapatkan Pamela, vino. Meskipun dulunya......" kata dika terhenti.


Vino pergi begitu saja bahkan tidak menghiraukan ocehan dika.


"Mel, i'm sorry mungkin kepercayaan diriku terlalu besar. Aku nggak tahu kalau kamu sudah menikah." ucap Rio saat berada di dekat taman di belakang rumah.


"Iya Rio, aku sudah menikah dengan Vino. Maaf aku tidak memberitahu kamu." jelas Pamela.


"I'm okay semoga kamu bahagia, sore nanti aku akan mengambil penerbangan ke Sydney."


"Hah, kamu sudah mau kembali."


"Yeah my company need me so enough i have fun and come back."


Rio melihat Vino datang kearah mereka hingga Rio muncul ide untuk membuat Vino kesal.


"Kita masih bisa berteman kan? maaf selama kamu di sini, kita jarang bertemu dan ngobrol." ucap Pamela.


"ya aku tahu tapi kita masih berteman seperti dulu dan lupakan kata kata ku waktu itu. Sebelum berpisah aku mau memelukmu boleh?'' Rio sudah merentang kan kedua tangan nya untuk memeluk Pamela saat lihat Vino sudah mendekati mereka.


"Jangan memeluk sembarangan istri orang." Vino menarik tubuh Pamela hingga di samping nya.


"Ah sudah lah, ingat kata kata ku tadi jika Vino menyakiti mu aku akan datang dan membawa mu pergi." ujar Vino dengan mengedipkan sebelah mata nya ke Pamela namun Pamela hanya tersenyum saja dengan tingkah konyol Rio.


"Memang apa yang dijanjikan pria brengsek ini sayang?" tanya Vino.


"Vino, Rio ingin berpamitan. Eh pipi kamu kenapa, koq memar yang sebelah kiri?" Pamela melihat pipi Vino yang sedikit memar.


"Tidak apa apa sayang." ucap Vino mesra sambil menarik pinggang Pamela untuk menempel pada dirinya.


"Ehem....sorry aku harus pamit, 4 jam lagi aku harus melakukan penerbangan." ucap Rio sambil melihat jam di tangan nya.


"Biar aku antar kamu ke bandara nanti." kata Vino meskipun rada kesal tapi mengingat pertemanan nya dulu.

__ADS_1


"Hahaha.....kalau itu tidak merepotkan, okay thanks." balas Rio kemudian pergi meninggalkan mereka berdua dan pamit pulang ke hotel tempatnya menginap untuk mengemas barat bawaannya meskipun tidak banyak.


Semua sudah pamit pulang karena hari sudah menjelang sore. Beberapa jam kemudahan Vino mengantar Rio ke bandara sesuai janjinya.


__ADS_2