
"Alvin nggak usah takut lagi sayang, mereka sudah pergi." kata Pamela saat berada di ruangan direktur.
"Mommy, alvin takut karena disekolah ada orang yang ingin menculik Alvin untung ada paman ujang." cerita Alvin sebenarnya wartawan yang ingin mendekati Alvin untuk artikel berita nya.
"Sekarang tidak ada lagi yang mengganggu anak mommy, mereka sudah pergi."
Farhan dan Vino terlihat serius mengobrol.
"Maaf bos, dokter itu sudah mengajukan resign beberapa minggu yang lalu." ucap farhan saat ingin menyelidiki dokter indra.
"Ah sial.........." maki Vino kesal, Vino melihat Alvin masih enggan melepaskan pelukan nya dengan Pamela yang duduk di sofa.
"Sayang, ada yang ingin aku cerita kan sama kamu. Kita makan siang dulu." ujar nya membuat Pamela penasaran.
"Oh iya Farhan, tolong belikan makan siang." suruh Vino karena sudah waktunya makan siang.
"Baik bos........."
Vino mendekat ke Pamela karena Alvin masih belum melepas pelukannya.
"Hai anak daddy jangan penakut gitu dong, daddy pastikan tidak ada yang mengganggu Alvin lagi." bujuk nya.
"Weekend kita pergi ke kebun binatang. You like lions right?" Vino berusaha menghibur Alvin.
"Yes, we will go together baby." Pamela ikut membujuk nya.
"Right mommy, yes I want." seru Alvin kemudian turun dari pangkuan Pamela dan melompat lompat kegirangan.
"Yee.... pergi ke zoo." seru Alvin kemudian mengeluarkan mainan yang ada di tas nya.
Pamela dan Vino tersenyum akhirnya Alvin sudah melupakan apa yang terjadi. Vino menggenggam tangan Pamela erat.
"Terima kasih kamu sudah melakukan yang terbaik." kata Pamela.
"Aku kira istri ku sedang marah." ujar Vino.
"Hah...... memang aku terlihat sedang marah sama kamu." seru Pamela pura-pura buang muka.
"Tuh kan........ kalau nggak marah kenapa berangkat kerja tidak mau bareng aku." sontak Pamela terkejut saat tangan Vino meraih dagu Pamela.
"Kamu kenapa sih Vino?" Pamela semakin gugup saat Vino semakin mendekat bahkan jarak bibir mereka hanya beberapa senti saja.
"Ada yang kurang pagi tadi, apa kau tahu?" bisik nya, tangan Vino menyentuh bibir Pamela yang terlihat menggoda.
"Jangan begini vin, ada Alvin!" Pamela berusaha menghindar.
"Alvin sedang bermain tak kan melihat." ujar Vino dan benar saja Alvin sedang asyik bermain di meja kerja Vino dengan mainan nya.
"Vino!........" seru Pamela.
"Aku akan mengambil energi ku yang belum ku terima tadi pagi." ucap Vino dengan senyum smirk nya.
Saat Vino akan melakukan sentuhan bibir nya tiba-tiba farhan datang dengan beberapa paperbag ditangan nya.
"Ah sebaiknya dilanjutkan nanti malam aja bos ada anak dibawah umur....... dan jomblo!." kata farhan karena tidak sengaja merusak suasana romantis bos nya itu.
Vino merasa kesal bahkan Pamela terlihat memerah mukanya karena malu.
"Aku akan mengambilnya nanti nyonya malvino." bisik Vino membuat Pamela semakin merona pipinya.
Mata Vino langsung melotot ke farhan seakan berkata, Kenapa kamu harus datang secepat ini, brengsek!.
__ADS_1
Farhan hanya tertawa melihat sikap bos nya ini.
Pamela membuka paperbag itu dan menyajikannya di meja. Mereka makan bersama kecuali farhan karena tidak ingin mengganggu momen keluarga kecil bos nya itu dan memilih keluar dari ruangan direktur. Beberapa saat Alvin sudah tertidur di sofa.
"Katanya ada yang ingin kamu ceritakan, Vino?" tanya Pamela selesai makan.
"Ah masa sih.....lupa tuh! " jawab Vino menggoda.
"Ih apaan sih....."
Farhan masuk keruangan dengan beberapa berkas.
"Nih bos, berkas yang anda minta." farhan menyerah kan beberapa berkas penting yang perlu ditandatangani Vino.
"Farhan!....mana tab itu?" tanya Vino untuk diperlihatkan ke Pamela.
Farhan menyerahkan benda pipih besar berupa tab itu kepada Pamela.
Bahasa tubuh Pamela menyatakan, ini apa Vino?.
"Buka dan lihat video nya."
Pamela mengikuti apa yang disuruh Vino untuk menonton video pengakuan sarah. Betapa terkejutnya saat sarah ternyata masih ada hubungan saudara dengan orang yang dikenal nya. Pamela di buat bingung kenapa dokter indra yang dikenal baik berbuat seperti itu.
"Ya, semua itu karena ulah dia." ucap Vino.
''Aku tidak mengerti kenapa dia berbuat seperti itu?" tanya Pamela.
"Karena dia menyukaimu, sayang." jawab Vino.
"Eh........." Pamela seketika langsung teringat saat indra pernah menyatakan perasaan suka nya kepada Pamela dan berakhir penolakan.
"Vino, aku harus kembali ke poliklinik." pamit Pamela.
"Biar Alvin tidur disini, pasti wartawan masih berkeliaran di gedung ini. Nanti kita pulang bersama." ujar nya.
"Aku nggak tahu selesai jam berapa karena aku ada poli sore."
"Kami akan menunggu mu." kata vino dengan senyum terbaiknya.
Pamela keluar dari ruangan direktur dengan penuh ragu saat status nya saat ini sudah di publik kan secara tidak langsung semua karyawan atau rekan sejawatnya pasti sudah mengetahui jika dirinya ternyata istri direktur rumah sakit. Bahkan saat karyawan berpapasan dengan Pamela, mereka menyapa nya lebih hormat tidak seperti sebelumnya.
"Selamat siang bu dokter Pamela." sapa karyawan saat berpapasan dengan nya.
"Ah iya, selamat siang." jawab nya.
Pamela merasa heran dengan sikap para karyawan saat berpapasan dengan nya.
"Maaf bu dokter, ini daftar pasien nya." kata suster Rina terlihat formal dan canggung.
"Terima kasih." Pamela dengan senyum nya.
"Ke depan nya tidak usah terlalu formal Rin, seperti biasa saja." imbuh nya.
"Ba.. baik bu, eh dokter." jawab Rina gugup karena ketahuan dirinya merasa canggung.
"Ya sudah, kita bisa mulai sekarang."
Seperti biasa Pamela bersikap ramah dan selalu tersenyum jika memberikan pelayanan kepada pasien dan karyawan rumah sakit. Rina pun bersikap seperti biasa karena Pamela tidak ingin harus di hormati karena status nya istri dari pemilik rumah sakit.
Tanpa sengaja Pamela melihat dokter indra dan dokter Ranti saling ngobrol saat akan pulang. Pamela tidak tahu jika dokter Indra resign dan hari ini terakhir bekerja di rumah sakit.
__ADS_1
"Sorry Ndra aku harus kembali ke ruangan ku, ada yang ketinggalan." pamit Ranti saat Pamela .akan melewati mereka. Pamela merasa jika Ranti menghindari nya.
"Oh okay.........." jawab Indra.
Dengan ragu Pamela menyapa Indra.
"Ndra........" panggil nya begitu berpapasan dengan Indra.
"Dokter Mela........Mau pulang?" tanya Indra.
"Ya, maaf saya duluan." jawab Pamela memilih menghindar dari dokter Indra.
"Wah....tidak ku sangka ternyata dokter Mela istri dari pemilik rumah sakit ini." kata Indra dengan tatapan sinis. "Aku harus mengucapkan selamat atau gimana ya?" tambah nya pura-pura tidak tahu.
"Cukup Ndra, ternyata kamu tidak sebaik yang ku kira." Pamela langsung menghentikan langkah nya.
"Hahaha......memang kamu pernah mengerti perasaan ku?"
Pamela terdiam karena pernah menolak pernyataan cinta dari Indra. Semenjak saat itu Indra menyimpan kekecewaan yang mendalam kepada Pamela.
"Maaf jika aku pernah membuat mu kecewa." ucap Pamela bahkan mengabaikan ponsel nya yang sedari tadi berdering.
"Apa kerena dia ayah dari anak kamu." ujar Indra.
Deg, tangan Pamela langsung mengepal kuat rasanya ingin menampar Indra.
"Sejauh mana kamu menyelidiki masa lalu ku?" ucap Pamela, tiba-tiba Vino sudah ada di dekat mereka.
"Halo dokter indra, apa kabar?" Vino meraih pinggang Pamela dengan posesif untuk berdiri di sebelah nya dengan tatapan tajam ke Indra membuatnya kesal.
Akhirnya Vino menemukan Pamela karena sedari tadi menelepon nya tidak ada jawaban.
"Ah sepertinya anda senang dengan urusan orang lain." kata Vino sinis.
"Apa maksud anda?" kesal Indra.
"Apa perlu saya kasih tahu ke buruk kan anda yang suka mencampuri kehidupan orang lain."
Indra mengerti yang di maksud vino yang sedang menyindir nya.
"Vino......." kata pamela lirih.
"Iya sayang......." bisik nya.
"Maaf! jika anda tidak suka saya berada di sini." Indra mencoba menahan emosi karena tidak ingin terlihat bertambah buruk di hadapan Pamela.
"Syukur lah jika anda sadar diri, lain kali aku tidak akan berbasa-basi lagi." kata vino sinis.
"Dokter Mela, saya minta maaf jika aku pernah menyukaimu dan bertindak bodoh. Dan mulai hari ini saya bukan dokter intensive di rumah sakit ini." kata Indra dengan mengarahkan tangan nya untuk bersalaman dengan Pamela.
Pamela kaget ternyata dokter Indra mengundurkan diri dari rumah sakit. Meski sebenarnya Pamela kesal dengan perbuatan nya tapi saat mendengar Indra resign hati nya perlahan memaafkan.
"Ya, meskipun aku kesal padamu tapi aku sudah memaafkan mu karena aku selalu menganggap kita teman dan seprofesi." kata pamela tanpa membalas uluran tangan Indra karena mendapat tatapan tajam dari Vino.!
"Sayang, sudah malam ayo kita pulang,Alvin sudah menunggu kita." ajak Vino dan menggandeng tangan Pamela.
"Sebenarnya aku bukan tipe mudah memaafkan jadi jangan pernah menampakan lagi di hadapan istriku meskipun kalian satu profesi." kata Vino yang hanya di dengar Indra sebelum pergi.
Indra hanya mengepalkan tangan nya di bawah saat mendengar Vino seperti memperingatkan dirinya.
Dengan senyum bahagia Vino menggenggam tangan Pamela meninggalkan rumah sakit, untung nya saat kejadian itu tidak ada yang melihat. Akan ada Kebahagiaan dari Masa lalu yang kelam.
__ADS_1