
Sepulang dari rumah sakit Pamela mengantar Rani dan Rey berbelanja di salah satu mall terbesar di jakarta.
"Okay sudah sampai." kata Pamela saat Alvin tertidur di mobil.
Alvin terbangun dari tidurnya saat Pamela membangunkan nya.
"Alvin sayang sudah sampai nih....." panggil Pamela lembut.
"Alvin ingin main di Timezone mommy." rengek Alvin.
Melihat tangan Alvin yang belum pulih masih pakai arm sling atau gendongan tangan membuat Pamela khawatir.
"Sayang, tangan Alvin masih dalam pemulihan jadi belum bisa bermain keras di Timezone okayy......" jelas Pamela.
"Yes mommy." jawab Alvin.
"Mel, kamu tunggu saja di arena bermain biar tante dan om Rey yang berbelanja."
"Ya udah tante, kami tunggu di Timezone saja nanti kalau sudah selesai belanja nya hubungi Pamela." ujar Pamela.
"Okay..... tante tunggu Rey dulu kalau kalian mau masuk duluan nggak papa." Rani memutuskan menunggu Rey yang belum terlihat karena sedang memarkirkan mobil.
"Okay mami...." kata Alvin yang memanggil Rani dengan sebutan mami kerena terikut keynan waktu tinggal di Sydney.
Pamela membawa Alvin ke dalam mall dan langsung menuju arena bermain yang berlantai 4. Alvin memilih permainan shotgun dan permainan yang tidak terlalu keras karena mengingat sebelah tangan nya masih sakit. Sudah dua jam Alvin dan Pamela menghabiskan waktu di arena bermain.
"Alvin, mommy ke toilet sebentar. Kamu jangan kemana-mana okay, tunggu mommy disini." perintah Pamela karena sudah tidak tahan ingin buang air kecil di toilet yang tak jauh dari Timezone.
Sesampainya di toilet ternyata banyak orang terpaksa Pamela menunggu antri.
'"Ishhh mommy mana sih, lama banget?" Alvin yang sudah tak sabar menunggu karena sudah haus.
Alvin memilih duduk di bangku dekat penjual es cream yang tak jauh dari Timezone itu berharap mommy nya segera datang.
Seorang wanita paruh baya keluar dari salon dengan penampilan segar dan terlihat awet muda karena rajin perawatan.
"Terima kasih nyonya atas kunjungan nya, ini kartu anda. " kata pemilik salon sambil memberikan kartu ATM milik mama Dewi yang merupakan langganan VIP di salon itu.
"Okay........Terima kasih ya." kata mama Dewi kemudian keluar dari salon.
"Semoga nyonya selalu puas dengan pelayanan kami."
"Ah iya, saya selalu puas di salon ini."
"Sekali lagi terimakasih nyonya." dengan senyum ramah mama Dewi keluar dari salon yang menjadi langganan nya.
Saat akan menuju eskalator turun mama Dewi melihat anak kecil duduk sendirian dengan tangan sebelah kiri memakai gendongan dan memilih menghampiri bocah lelaki itu karena sendirian.
"Halo nama kamu siapa?" tanya mama Dewi gemas melihat anak kecil itu.
"Jangan takut saya bukan orang jahat koq, kenapa sendirian? orang tua kamu kemana?" tanya mama Dewi lagi karena tidak ada jawaban.
"Nunggu mommy katanya pergi ke toilet tapi belum kembali." akhirnya Alvin berbicara juga.
"Oh ya sudah oma temani kamu ya sampai mommy datang? mau es cream?" Alvin menggeleng.
"Boleh tahu tangan kamu kenapa, sayang?" mama Dewi mencoba mengajak bicara Alvin lagi.
"Kecelakaan oma." jawab Alvin.
"Oh......"
Saat melihat wajah anak kecil di dekatnya membuat mama Dewi teringat dengan seseorang.
Dari jauh rani, dan Rey datang dengan barang belanjaan nya mencari Pamela dan Alvin.
__ADS_1
"Alvin....." Panggil Rani saat melihat Alvin bersama seorang wanita paruh baya dengan penampilan elegan tapi memiliki wajah cantik terlihat awet muda.
"Itu mereka sudah datang, jadi oma bisa pulang sekarang." kata mama Dewi melihat sepasang suami-istri datang menghampiri mereka.
"Terima kasih oma....." balas Alvin.
"Sama-sama sayang, oma senang nemenin kamu." mama Dewi mengelus kepala Alvin dengan lembut seakan masih ingin menemani anak kecil ini sebelum pergi naik eskalator ke bawah.
"Sayang....mana mommy?" Rani datang tergesa-gesa bersama Rey.
"Itu mommy...." tunjuk Alvin ketika Pamela datang.
"Maaf sayang agak lama habisnya t
antrian nya banyak." Pamela duduk di sebelah Alvin. 'Sudah siap belanja nya tante?"
"Iya Mel, kamu dari mana koq lama ninggalin Alvin sendirian?" tanya Rani.
"Mela habis dari toilet tante, antriannya panjang jadi kelamaan nunggu nya." jelas Pamela.
"Kita langsung pulang saja sudah malam, buat Alvin tante sudah belanja banyak makanan kesukaan Alvin." ujar Rey, Pamela hanya mengikuti mereka.
"Iya om....."
"Alvin kita pulang ya, pasti alvin sudah capek." bujuk Rani.
"Okay mami...." Alvin pun mengikuti langkah ketiga orang dewasa tadi dan pulang.
Rey yang mengendarai mobil melaju dengan kecepatan sedang terlihat fokus mengemudi agar Alvin tidak trauma lagi. Alvin duduk di pangkuan Pamela karena alvin masih takut teringat apa yang terjadi padanya waktu kecelakaan bersama oma Ratih.
"Mel, mending istri pak sam aja yang mengurus rumah." kata Rani.
"Iya tante, Mela juga berpikiran seperti itu." ujar Rani.
"Ga papa tante."
"Bagaimana dengan keluarga Vino, mel? kapan kalian akan menikah?" tanya Rey tiba-tiba.
"Mereka baik tante dan Vino masih sibuk dengan perusahaan nya." ucap Pamela tidak ingin jujur yang sebenarnya karena masalah perjodohan Vino.
"Semoga saja kalian memang benar-benar berjodoh Mela, tante dan om ikut senang."
Sampai di rumah pamela menggendong Alvin ke kamar nya.
___________
Tuan Antoni dan istrinya menunggu kepulangan Vino kerja di ruang tamu. Beberapa saat terdengar suara mobil datang dan berhenti di depan rumah.
"Nah dah pulang anak mama yang ganteng ini." entah kenapa mama Dewi senang menggoda Vino semenjak membawa Pamela ke rumah.
"Mah, saat nya serius." ujar tuan Antoni.
"Vino, tunggu sebentar! papah ingin bicara sama kamu." panggil tuan Antoni saat Vino datang.
"Vino kamu duduk dulu disini, ada yang ingin papa bicarakan." suruh mama Dewi.
"Ada apa pah? Vino capek."
"Loh mana farhan?" tanya mama Dewi.
"Farhan langsung pulang mah." jawab Vino sambil mendarat kan bokongnya di kursi sofa dan melepas jas kerja nya.
"Vin, papah sudah membatalkan perjodohan mu dengan Bona tapi papa berharap kamu serius dengan pernikahan." kata tuan farhan.
"Benarkah..... jadi papah merestui Vino menikah dengan Pamela." terpancar kebahagiaan di wajah Vino.
__ADS_1
"Ya, semua karena mama kamu yang sudah tidak sabar punya menantu." ujar tuan Antoni.
"Ish koq papa bilang gitu sih tapi emang bener deh, soalnya mama tuh sudah suka gitu dengan dokter Mela eh Pamela." celetuk mama Dewi
"Terima kasih mah, pah....." Vino langsung memeluk kedua orang tuanya kemudian melepaskan. "vino kira seperti di cerita novel bakal ditentang hubungan kita." imbuh nya.
"Kamu ini......apa kamu lupa ada yang harus kamu pertanggung jawabkan atas dosa mu di masa lalu." seru mama Dewi tak lupa menarik telinga Vino.
"Aduh sakit mah....." cicit Vino.
"Syukurin, menurut mama benar keputusan Pamela dulu jika menerima mu waktu itu pasti tidak jadi dokter hebat seperti sekarang." dengan bangga mama Dewi memuji Pamela.
"Kurasa bisa menikah dengan orang lain toh dia cantik tapi lebih memilih sekolah dan membesarkan anak seorang diri." ujar mama Dewi
"Bagaimana dengan om Rudi pah?" tanya Vino kemudian kembali ke tempat duduk nya.
"Rudi mau mengerti dengan keputusan papah karena sebelumnya Rudi pernah bilang jika putri nya menolak perjodohan juga." jelas tuan Antoni.
"Syukur deh kalau Rudi mengerti." ucap mama.
"Oh ya kapan kita bisa mengundang makan bersama dengan orang tua Pamela?" tanya tuan Antoni namun Vino langsung terdiam.
"Kapan Vino? mama sudah nggak sabar ketemu calon menantu." mama Dewi begitu antusias.
"Pamela yatim-piatu pah dan belum lama mama nya meninggal karena kecelakaan."
"Kalau boleh tahu siapa nama orang tua Pamela, Vino?" tanya tuan Antoni penasaran.
"Firman dan Ratih pah." jawab Vino.
"Tunggu! nama itu seperti tidak asing." Vino mengerutkan alisnya mendengar kata tuan Antoni.
"Iya pah, bukan nya papah juga punya teman dan istri nya namanya Ratih kalau nggak salah dia sebagai dosen."
"Iya mah."
"Ternyata firman teman papah sudah meninggal mah." rasa penasaran tuan Antoni menjadi kaget setelah mendengar ternyata yang dimaksud firman adalah teman kuliahnya dulu.
"Kapan ajak Pamela ke sini Vino?" tanya mama Dewi.
"Tunggu aja mah nanti Vino ajak Pamela kesini lagi, kalau begitu Vino ke kamar mau istirahat." Vino beranjak dari tempat duduknya dan menaiki tangga ke lantai 2.
"Jangan lupa cucu mama, kapan mama bisa ketemu!!!" teriak mama Dewi kesal karena Vino tidak memberi jawaban pasti dan memilih pergi ke kamar nya.
Tuan Antoni langsung teringat dengan sahabat itu.
"Ternyata yang menjadi jodoh anakku ternyata putri mu, firman bukan Rudi." gumam tuan Antoni dalam hati.
Vino merebahkan tubuhnya di kasur king size miliknya setelah mandi membuat nya terlihat lebih fresh apalagi kedua orang tuan nya sudah memberi restu mengenai hubungan nya dengan Pamela. Perasaan bahagia Vino membuat nya ingin bertemu Pamela.
"Ah sedang apa dia? apa aku menelepon nya saja." gumam vino mengambil ponsel akhirnya menelepon nomor Pamela.
"Iya halo......" jawab seseorang di seberang sana.
"Sudah tidur?"
"Belum, baru pulang kenapa? "
"Oh, besok pagi aku akan menjemput mu."
"Besok...................." Vino sudah menutup panggilan nya bahkan Pamela belum selesai melanjutkan bicara nya.
Tapi ada rasa kesal Vino saat melihat Pamela mengobrol dengan dokter Indra di lobi rumah sakit.
"Aku akan menghukum mu, lihat aja nanti." gumam Vino dengan senyum smirk nya hingga akhir nya matanya terpejam mengarungi mimpi indah.
__ADS_1