
"Iya Rud, nanti kita ketemu di sana. Anakku pasti ikut bersama makan malam."
".............."
"Okay sampai ketemu nanti malam." Tuan Antoni mengakhiri pembicaraan nya dalam telepon sebelum benar benar menutup nya.
Telepon tadi tak lain dari salah satu sahabat nya dulu saat menempuh bangku kuliah dan tak heran juga ketika Rudi mengundang untuk makan malam dua keluarga karena harus mengajak anak nya masing-masing tuan antoni pun merasa senang dengan hal itu. Tiba-tiba ekor matanya menangkap sosok Vino yang sudah berpakaian rapi meskipun hanya memakai atasan kaos hitam panjang dengan celana jeans abu dan terlihat seperti mau pergi.
"Vino tunggu!" panggil tuan Antoni.
"Iya pah, kenapa?" jawab Vino malas.
"Tak biasa nya weekend jam segini sudah rapi, mau kemana?" tanya tuan Vino sambil memperhatikan jam yang menempel didinding ruang keluarga. Dan benar saja jam menunjukkan pukul 7 pagi tidak biasa Vino bangun pagi jika weekend membuat tuan Antoni heran.
"Ada urusan pah, Vino pergi sebentar." Vino pun berlalu pergi dan langsung menuju tempat mobil nya terparkir karena tidak mau ketinggalan ajakan Alvin waktu itu.
"Kenapa sih pah? Vino kan sudah besar lagian anak papah kan bukan seorang gadis harus dipantau kemana perginya." sarkas mama Dewi datang menghampiri tuan Antoni.
"Iya sih mah, papa cuma heran aja Vino pagi pagi sudah pergi saat weekend."
"Pasti urusan anak muda lah pah."
"Oh iya nanti malam teman ku Rudi mengundang kita makan malam, soalnya mau mengenalkan anak nya dengan Vino sapa tahu berjodoh dengan Vino."
"Jangan bilang papa ingin menjodohkan Vino dengan anak temen papa? ngaku aja deh."
"Bisa jadi karena Vino sudah saatnya untuk menikah bahkan teman temanya sudah punya anak, kapan kita punya cucu?"
"Mama sih mau aja punya cucu yang pasti papa tanya kan dulu sama Vino soal rencana papa ini, karena kalau mama sih soal pendamping vino biar urusan nya sendiri asal dia itu wanita." kata mama Dewi dengan suara tawa menyusul setelah nya.
"Ya udah kita bicarakan dengan Vino nanti setelah dia kembali. Papa laper deh."
"Ya udah kita sarapan dulu."
Mama dewi langsung menyiapkan sarapan buat suami tercinta meskipun masaknya di bantu bi asri. Semenjak tuan Antoni tidak mengurus perusahaan lagi setiap hari mereka terlihat romantis. Mereka pun menikmati sarapan pagi dengan perasaan senang.
Berbeda dengan Pamela dan Alvin, sejak jam 6 pagi sudah sibuk untuk pergi liburan meskipun hanya ke taman kota yang setiap weekend selalu ramai dengan pengunjung meskipun sekedar jalan, kuliner pagi, olahraga bahkan cuman duduk duduk di kursi di taman pun juga ada. Tapi Alvin paling senang diajak ke taman pas weekend pagi karena bisa bermain bola atau main main di situ karena di sekolah Alvin jarang bermain bersama teman teman sekelas nya karena tak pandai berkawan atau lebih cenderung mandiri.
"Come on mommy! Alvin mau cepat berangkat nya." rengek Alvin saat mommy Pamela sedang menyiapkan bekal buat Alvin.
"Okay baby, mommy sudah siap ayo kita berangkat." ajak Pamela setelah beres dengan bekal yang mau dibawa nya yaitu sarapan untuk Alvin yang pasti masakan sehat tentunya buat Alvin dan Pamela yang memasak karena tak mau Pamela makan jajanan sembarangan.
"Mah, kami pergi dulu ya." pamit Pamela kepada mama Ratih.
"Iya hati hati." jawab nya
Pamela pun membawa pergi Alvin ketempat yang disukai nya yaitu ke taman. Hari weekend memang sangat berharga buat mereka yang selalu disibukkan dengan rutinitas kerja setiap hari jadi Pamela memanfaatkan quality time nya bersama anak tercintanya untuk bermain atau jalan jalan dan hari weekend nya pagi ini Alvin mengajak nya ke taman.
__ADS_1
"Mommy nanti teman Alvin mau ikut juga loh." kata Alvin.
"Bagus lah jadi Alvin ada teman buat main nanti di sana." kata Pamela yang masih fokus menyetir.
"Yee.... jadi mommy tidak marah jika Alvin ajak temen Alvin?"
"Ya enggak lah, kan Alvin jadi punya teman bermain." kata Pamela yang tidak tahu siapa yang dimaksud teman Alvin itu.
"Okay, thank you mom. Alvin mau main bola." Pamela memicing kan matanya mendengar kata Alvin.
"Sesenang itukah anak mommy."
Mereka pun akhirnya sampai di parkiran yang tak jauh dari taman dan langsung memilih mencari tempat yang ada bangku nya, kebetulan mereka datang masih pagi jadi masih bisa leluasa mencari tempat. Taman yang mereka kunjungi terbilang bersih jadi selalu ramai orang untuk meluangkan waktu minggu paginya di situ.
"Katanya Alvin mau main bola?" tanya Pamela karena Alvin masih duduk di bangku sebelah Pamela.
"Alvin menunggu teman Alvin, mommy." jawab nya.
"Loh mana teman Alvin belum kelihatan." Pamela pun melihat di sekitar sekiranya anak dan orang tua yang datang ke taman salah satu teman Alvin.
"Ya udah kita tunggu teman Alvin itu, kan waktu nya masih panjang." bujuk Pamela.
Dan benar saja dari jauh Vino baru sampai di tempat itu dan berusaha mencari Alvin karena sudah janji ketemu di taman. Saat melihat Alvin mata Vino juga melihat Pamela duduk di bangku tak jauh dari tempat nya berdiri Vino pun menghampiri tempat dimana Pamela duduk tak lupa kaca mata hitam nya yang bertengger menambah kesan cool pria ini.
"Maaf saya terlambat." ucap Vino setelah sampai ditempat Alvin dan Pamela duduk. Mata Alvin berbinar saat mendengar suara Vino dan lari menghampiri nya membuat Pamela membeku karena teman yang dimaksud Alvin adalah Vino.
"Om Vino enggak suka ingkar janji karena orang tua om Vino melarang nya." kata Vino tak lupa matanya dari balik kaca mata melirik ke Pamela.
"Mommy.... om Vino ini yang dimaksud teman nya Alvin." jelas Alvin.
Pamela bingung harus bagaimana terlihat wajah Alvin yang begitu suka saat Vino datang.
"Mommy, Alvin mau main bola di sana." tunjuk Alvin dengan bola ditangan nya yang di bawa dari rumah. "Om Vino come on, kita main bola." ajak Alvin.
"Okay jangan jauh dari pandangan mommy, okay."
"Yes mom." Alvin pun berlari memainkan bola nya sementara Pamela duduk di bangku taman untuk melihat Alvin bermain bola bersama Vino.
Dari jauh Pamela melihat interaksi antara Vino dan Alvin saat bermain bola begitu akrab dan Pamela tidak memungkiri jika keduanya adalah anak dan ayah. Entah sudah berapa lama mereka bermain bola membuat Pamela suntuk dan memilih mendengar kan musik namun tanpa disadari Vino sudah duduk di samping Pamela.
"Apa kamu akan selalu menyembunyikan identitas papa kandungnya Alvin." sarkas Vino, ternyata Vino berhenti bermain bola sementara Alvin masih di lapangan itu.
"Apa maksudmu?" jawab Pamela datar kemudian melepas earphone yang di telinga nya.
"Sebenci itu kamu sama aku semenjak peristiwa dulu itu?" tanya Vino membuat Pamela terdiam.
"Jadi ini alasan kamu mendekati Alvin?" tanya Pamela kesal karena Vino mengungkit masa lalu itu dan berniat akan pergi dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Bukan tanpa alasan karena aku tahu alvin itu anak aku."
"Jangan coba mengambil anak aku." kata Pamela penuh penekanan.
"Waktu itu aku memang masih anak SMA tapi niat ku waktu itu benar-benar tulus bukan karena kasihan karena aku sudah jatuh cinta sama kamu, Mela. Karena peristiwa itu aku bisa berubah dan meninggalkan kebiasaan buruk ku dimasa sekolah." ujar Vino saat Pamela akan beranjak pergi.
DEG
Hati Pamela seakan terpukul ternyata Vino bukan cuma mau bertanggung jawab tapi juga mencintai nya.
"Mela, aku bahkan tidak bisa melupakan mu dan aku senang bertemu kamu kembali." jelas Vino namun Pamela masih enggan berbicara.
"Alvin, let's go home." panggil Pamela.
Alvin pun berlari menuju menghampiri Pamela.
"Kenapa mommy? Alvin masih ingin bermain." rengek Alvin.
"Matahari sudah mulai panas sayang, kita pulang yuk." ajaknya. Pamela memperhatikan jam ditangan nya sudah menunjukkan pukul 9.
"Okay mommy tapi om Vino?" tanya Alvin.
"Om Vino juga pulang ke rumah nya." jawab Pamela yang di angguki kepala Vino.
"Okay, Terima kasih om Vino sampai ketemu lagi." pamit Alvin kemudian lari menuju tempat mobil Pamela terparkir.
"Okay sampai jumpa lagi." kata Vino kemudian tangan Vino meraih tangan Pamela saat hendak melangkah.
"Mela aku masih mencintai mu dan berharap Alvin bertemu papah kandungnya." setelah mengatakan itu Vino langsung pergi sementara Pamela masih terdiam kemudian menyusul Alvin ke mobil.
Pamela pun melajukan mobilnya dan saat di perjalanan Pamela masih teringat kata Vino saat di taman. Hingga sampai di rumah pun Pamela masih terlihat murung.
"Sudah pulang ya? Alvin cepat mandi biar nggak bau asem." goda mama Ratih.
"Siap oma...." Alvin pun menurut dan segera mandi.
Mama Ratih yang melihat anaknya turun dari mobil dengan muka murung terus menghampiri nya. Namun belum sempat ingin bertanya tiba-tiba ponsel Pamela berdering. Nampak raut wajah pamela berubah seketika tidak murung lagi namun terlihat panik setelah menerima telepon.
"Kenapa Mela?" tanya mama Ratih.
"Maaf mah, ada pasien darurat Mela harus ke rumah sakit sekarang." jawab nya.
"Oh ya udah kamu langsung bersiap, biar mama yang temani Alvin." kata mama Ratih.
Sudah terbiasa Alvin ditinggal kerja bahkan harus mau tak mau karena profesi mommy nya sebagai dokter apalagi seperti saat ini Pamela mendapat telepon darurat dari rumah sakit mengenai pasien kritis butuh penanganan kebetulan pasien anak yang menderita gagal jantung.
_______________________________________
__ADS_1