Malam Kelam Istimewa

Malam Kelam Istimewa
Bukti Cinta Kita


__ADS_3

Pamela dan Vino terlambat tiba di butik membuat mama Dewi marah.


"Oma, mana mommy sama daddy?" tanya Alvin.


"Bentar lagi sayang, katanya mereka sedang dalam perjalanan." jawab mama Dewi.


Baru di omongin terdengar suara mobil Vino bersama Pamela.


"Nah tuh mereka datang." seru mama Dewi dan Alvin pun langsung menghampiri mereka.


"Mommy......" panggil Alvin.


"Sayang, maaf mommy lama datang nya." jawab Pamela sambil mencium Alvin.


"Vino, Mela, langsung keruang ganti sana! Untuk Alvin sudah mama pilih kan sesuai warna kalian." pinta mama Dewi.


Pamela dan Vino di sambut pemilik butik langganan mama Dewi saat ingin mencoba rancangan nya.


"Vino, kenapa nggak bilang kalau mau ngajak ke sini?" tanya Pamela pelan.


"Mama kasih tahu nya pagi tadi." jawab Vino.


Vino dan Alvin terlihat gagah dan tampan dengan memakai tuxedo hitam sedangkan Pamela terlihat anggun dan cantik saat memakai gaun warna putih.


"Ya ampun kamu cantik banget Mela." puji mama Dewi dan pemilik butik.


Vino yang melihat nya menjadi terpesona saat melihat Pamela memakai gaun pesta dengan berbahan satin premium menampilkan bagian dada yang tertutup broklat sehingga menampilkan model gaun Sabrina dengan panjang menutup mata kaki.


"Jeng memang nggak salah pilih anak kamu, cantik banget meskipun sudah punya anak namun terlihat seperti anak remaja karena badannya masih langsing." puji pemilik butik.


"Sebenarnya kemaren ada calon pengantin yang mau order gaun ini tapi tidak bisa karena postur tubuh nya." bisik pemilik butik, mama Dewi hanya tersenyum.


Meskipun gaun yang dipakai Pamela terlihat pas di tubuh nya karena kehamilan Pamela masih menginjak 4 minggu belum terlihat perutnya.


Mama Dewi terlihat puas dengan rancangan di butik ini.


"Vino, aku pulang sama mama aja deh." pinta Pamela.


"Yakin mau pulang sama mama?" tanya Vino.


"Iya......"


"Oke, tunggu aku di rumah." kata Vino tak lupa mencium kening Pamela dan Alvin.


Dalam mobil mama Dewi sudah menunggu Pamela dan Alvin, ya..Vino kembali ke kantor tanpa Pamela.


Jarang ada waktu bersama Alvin selain weekend, akhirnya Pamela bisa menemani Alvin sore itu. Mama Dewi dan Alvin terlihat bahagia saat pamela menceritakan jika diri nya tengah berbadan dua.


"Ya ampun Mela, mama seneng banget. Rumah ini akan bertambah ramai." seru mama Dewi sambil memeluk pamela.


Kemudian pamela memberikan hasil USG calon bayinya meskipun masih berupa gumpalan kecil mengingat baru menginjak 4 minggu.


"Apa vino sudah mengetahui kabar ini?" tanya mama Dewi.


"Belum mah." jawab Mela.


"Aku yakin suami kamu pasti senang seperti mama."


"Iya ma, terimakasih.''


"Alvin! biar kan mama istirahat kita cari opa yuk." ajak mama Dewi.


"Alvin ikut oma....!" seru Alvin kemudian mengekor oma Dewi menuju teras belakang rumah tuan Antoni sedang duduk santai di sana.


Senyum bahagia terpancar di wajah pamela karena mempunyai mertua yang baik.


Malam hari lagi lagi pamela tertidur di kursi sofa saat menunggu vino pulang. Pamela terusik saat tangan vino menyentuh tangan pamela yang masih memegang buku. Pamela tertidur saat membaca buku.

__ADS_1


"Kamu sudah pulang vino?" tanya pamela karena terkejut melihat vino di dekat nya.


"Dari tadi sejak kamu tertidur di sofa ini." jawab nya.


"Kenapa nggak bangunin aku sih kalau sudah pulang."


Pamela langsung berniat beranjak dari sofa namun tangan vino langsung menariknya hingga Pamela jatuh di pangkuan vino.


"Kamu mau kemana? emang nya nggak kangen sama suamimu ini?" kata vino menggoda memeluk pinggang Pamela.


Pamela yang tidak pernah seperti ini langsung gugup saat Vino menggodanya, apalagi aroma wangi maskulin dari tubuh Vino langsung menyeruak ke indra penciuman Pamela karena sehabis mandi.


"Vino....aku...." ucap pamela gugup.


Vino tersenyum melihat pamela gugup di hadapan nya membuat Vino semakin ingin menggodanya.


"Kenapa sayang? Jangan menggoda ku." kata Vino dengan lembut.


Tangan sebelah Vino bergerak memainkan ujung rambut Pamela hingga terhenti di bagian tengkuk leher Pamela.


"Mela? apa kamu bahagia menikah dengan ku?" tanya Vino tiba-tiba.


Vino kembali teringat dengan kata jatmiko waktu itu kalau bukan karena dirinya yang membuat Pamela menderita mungkin sudah bersama jatmiko.


"Maaf, jika aku menjadi pria posesif dan egois." ucap Vino jujur.


"Vino......."


"Aku takut kamu meninggal kan ku." ucap Vino.


Terkadang Pamela merasa kesal dengan sikap posesif dan pencemburu Vino tapi dirinya bersyukur pria yang menjadi suaminya ini sangat mencintai nya.


"Bodoh......tak ada terlintas dipikiran ku karena anak anak ku butuh kamu, daddy!" ujar Pamela santai.


Senyum merekah dibibir Vino tatkala mendengarnya.


"Tunggu.....anak anak, maksud kamu?" tanya Vino bingung pasalnya saat ini hanya Alvin di antara mereka kemudian Pamela mengelus perutnya yang masih rata.


Vino terdiam dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti.


"Vino, kamu..........." ucap Pamela dengan lembut kedua tangan Pamela menangkup wajah Vino.


Seketika Vino langsung memeluk Pamela, bukan karena sedih tapi rasa bahagia yang tidak bisa diungkap kan.


"Terimakasih, ini adalah hadiah terbesar untuk ku." ucap Vino senang.


Dalam hati nya Vino tidak akan membuat Pamela jauh darinya karena tidak ingin seperti waktu Pamela mengandung Alvin. Dengan kehamilan Pamela, Vino yakin jatmiko tidak akan bisa mengusik pamela karena buah hati di antara mereka bukti cinta Vino dan Pamela.


"Apa daddy boleh menengok calon anak kita hmm?" kata Vino menggoda saat memperhatikan tubuh Pamela saat ini terlihat seksi karena baru tahu jika istri nya tengah hamil apalagi saat ini Pamela memakai daster memperlihatkan bagian dada terlihat padat dan bertambah besar.


"Hmm....sebenarnya nggak boleh sih karena kehamilan trimester pertama sangat rentan jika kita terlalu berlebihan bisa menyebabkan keguguran." jelas Pamela namun raut wajah Vino berubah setelah mendengar penjelasan Pamela.


"Maaf aku nggak tahu jika bisa membahayakan janin." ucap Vino menyesal.


"Pfff.........." Pamela tertawa geli saat melihat ekspresi wajah Vino terlihat murung.


"Janji kamu tidak akan menyakiti nya." bisik Pamela.


"Jadi........" seru Vino saat melihat Pamela menganggukkan kepala langsung membungkam bibir Pamela dengan ciuman.


Vino mencium Pamela dengan lembut bahkan Pamela merasakan bibir Vino yang terasa hangat.


"Hahh.........." terdengar helaan napas panjang saat mereka melepaskan ciuman nya.


"Kamu cantik banget malam ini dan............seksi." bisik Vino membuat telinga Pamela langsung merona.


Pamela terkejut tiba-tiba Vino mengangkat tubuh nya dan membawa nya ketempat tidur karena membuat Pamela tidak nyaman jika harus melakukan nya di sofa.

__ADS_1


"Aku tidak akan menahan nya lagi dan aku akan melakukan nya dengan lembut." ucap Vino karena dari pagi Vino sudah menahannya apalagi melihat Pamela memakai gaun di butik sore tadi semakin membuat nya frustasi.


Pamela hanya mengangguk karena sejujurnya dia juga merindukan sentuhan Vino karena di hati nya hanya ada Vino bukan jatmiko.


Vino kembali mencium Pamela dan mulai menindih nya, tangan Vino mulai menyelinap ke dalam karena Pamela memakai daster membuat Vino lebih mudah dan menyingkap nya keatas terlihat bukit kembar yang begitu menantang.


"Ah....." terdengar lenguhan dari bibir Pamela saat tangan Vino meremas bagian atas dada nya bahkan di bagian bawah Pamela sudah terasa basah.


Dan benar saja, Vino melakukan nya dengan lembut saat melakukan penyatuan nya karena tidak ingin terjadi apa apa dengan janin yang di kandung istrinya. Tak ada yang menolak karena keduanya menginginkan hal yang sama dan malam ini mereka kembali memadu kasih.


Ya, vino bersyukur Pamela juga mencintai nya bahkan diri nya lah yang begitu ragu dan ketakutan akan kehilangan Pamela.


______________


Disebut Club malam ada perayaan penyambutan. Tiga wanita yang sudah lama tidak berkumpul akhirnya mengadakan penyambutan kedatangan sahabat nya siapa lagi kalau bukan penyambutan meiysa dari luar negeri.


"Hai gaes......." sapa meiysa langsung cipika-cipiki saat melihat teman temannya se geng dulu waktu sekolah.


"Hai princess tambah cantik banget." puji jessy.


"Apa kabar meiysa?" tanya wati.


"Baik, loh nia nggak ikut?" tanya meiysa.


"Dia terlambat katanya karena masih ada kerjaan." jawab wati.


"Oh oke..... kita tunggu dia datang." ujar meiysa.


"Hai gaes mending kita turun dulu deh mumpung DJ nya seru nih musik nya." ajak jessy.


Mereka pun turun mendekat ke panggung DJ berjoget mengikuti alunan musik yang dimainkan sang DJ terkenal dikalangan pecinta club malam. Beberapa saat mereka memutuskan berhenti berjoget dan duduk di sofa tak lupa memesan minuman alkohol, mereka bukan anak sekolah lagi melainkan saat ini mereka sudah dewasa dan club malam bukan hal asing lagi bagi mereka.


"Mana cowok elo wat?" tanya meisya.


"Gue baru putus." jawab nya.


"Ah menyebalkan Rudi menyuruh ku pulang, gimana nih?" kata jessy kesal pacar nya menelepon dan menyuruhnya pulang.


"Bilang aja elo bersama gue." kata meisya karena tahu pacar sepupunya sangat posesif.


Akhirnya jessy memilih tempat sunyi jauh dari kebisingan untuk teleponan dengan Rudi.


"Bego! kalau gue dah ku tinggalkan tuh cowok." kata meiysa.


"Hahaha..... gue rasa sepupu elo dah cinta mati sama dia."


"Dasar....


"Ngomong ngomong elo tinggal di sini selama nya kan?"


"Nggak tahu, gara-gara Vino brengsek. Keluarga gue ikut angkat kaki dari negara ini."


"Oh ya elo dah tahu belum? gosipnya Pamela dan Vino sudah menikah"


Meisya menoleh dengan raut wajah kesal mendengar kata wati.


"Pokoknya mereka juga sudah memiliki seorang putra mungkin anak nya waktu hamil saat sekolah dulu." jelas wati lagi.


"Gue benci mereka berdua, sampai kapan pun gue nggak terima mereka hidup bahagia." seru meiysa.


Wati jadi khawatir dengan meisya karena jika berurusan dengan Malvino lagi.


"Udah ah jangan buat mood gue rusak gara-gara ini. Mending kita have fun malam ini." kata meisya.


Meisya dan Wati saling mendekat kan gelas nya sebelum minum.


"Untuk kebersamaan kita." ucap Wati.

__ADS_1


"Yuhuu.......let's party tonight is ours." balas meiysa.


Rasa cinta yang berakhir benci itu lah yang dirasakan seorang meisya.


__ADS_2