
Sayup-sayup terdengar burung berkicau di pagi hari di balik pintu jendela.
Dibalik selimut sepasang suami-istri
masih terlelap setelah melewati malam panjang.
Vino terbangun saat tangan sebelah nya terasa seperti kram karena Pamela tidur dengan ber bantal lengan tangannya. Dengan perlahan Vino menarik tangannya tanpa mengusik tidur Pamela yang masih terlelap. Vino memperhatikan wajah Pamela yang begitu cantik hingga membuat dirinya tidak bisa melepas Pamela begitu saja meskipun dari awal wanita yang menjadi istri nya ini sangat membenci dirinya.
Vino senyum sendiri jika teringat saat membawa nya ke apartemen.
Sebelumnya, sepulang kerja Vino menjemput Pamela yang baru selesai tindakan operasi.
"Vino, kenapa sih dari tadi senyum sendiri terus deh, ada yang lucu ya?"
"Enggak, nggak ada yang lucu. Senang aja berdua sama istri aku."
"Memang nya kita mau kemana?".
"Mau nya kemana? kalau akun mau nya kita ke hotel."
"Masih sore Vino. Kita pulang dulu."
"Kita nikmati berduaan dulu mau kan?"
"Kita pulang Vino."
"Kita ke apartemen saja."
"Enggak.....
"Ya udah kita ke hotel saja....
"Nggak, ke apartemen saja.... huft." Pamela langsung menutup mulut nya karena kelepasan malah memilih ke apartemen dari pada pulang.
Vino tersenyum penuh kemenangan. Sepanjang perjalanan tangan Vino tak melepas genggaman tangan nya dengan tangan Pamela, bahkan Pamela semakin terlihat memerah pipi Pamela.
Sesampai di apartemen Vino menarik Pamela duduk di sofa.
"Aku ingin menghabiskan malam di sini." bisik Vino di telinga Pamela.
"Vin.....aku." ucap Pamela gugup.
"Kenapa?"
"Aku mau mandi dulu deh tadi ada tindakan operasi." Pamela berlari ke kamar mandi.
Vino merebahkan tubuh nya di sofa menunggu Pamela keluar dari kamar mandi.
"Kamu tak mandi dulu?" tanya Pamela sambil memperbaiki kimono nya.
"Nggak usah nanti juga berkeringat kembali." jawab nya santai.
"Tapi....
"Aku nggak bisa menunggu lagi karena itu membuat ku sakit kepala." ucap Vino lirih sambil menarik Pamela hingga duduk di pangkuannya.
Pamela yang mengerti tentang hal itu hanya menurut.
"Vino..... Hmph....." Vino meraup bibir Pamela dengan lembut.
"Ah.........." Teriak Pamela karena terkejut, tiba-tiba tubuh nya terasa melayang saat Vino menggendongnya ke kamar.
Vino kembali mencium bibir Pamela hingga mereka melakukan apa yang semestinya terjadi antara suami-istri dan akhirnya Vino tersalurkan apa yang sudah ditahannya beberapa hari untuk menyentuh istrinya itu. Pergulatan panas mereka membuat keduanya kelelahan dan tertidur lelap hingga pagi hari.
__ADS_1
Pukul 7 pagi Vino yang sudah bersiap mandi melihat istri nya masih tertidur pulas.
"Sayang.....bangun dong!" panggil Vino kemudian mencium kening Pamela.
"Aku masih lelah Vino." rancau nya.
"Aku tahu, bukan nya bu dokter harus kerja sekarang...........atau kita tidur lagi melanjutkan yang semalam." ucap Vino dekat telinga Pamela.
Sepontan Pamela langsung membuka mata nya.
"Jam berapa Vino?" tanya Pamela.
"Hmm baru jam setengah delapan." jawab Vino sambil melihat jam yang terpasang di tangannya.
Pamela langsung beranjak dari tempat tidur hingga tak menyadari jika dirinya masih bugil membuat Vino tersenyum.
"Koq bangunin nya siang sih kan jadi terlambat deh, tak sempat sarapan." cicit Pamela saat sudah di dalam mobil, Vino hanya tersenyum mendengar nya.
"Maaf ya, kita nggak sempat sarapan."
Ternyata kalau istri nya lagi kesal terlihat imut membuat nya senang karena Pamela bukan tipe istri manja lebih ke mandiri. Mereka berangkat kerja pukul 9 pagi membuat Pamela kesal bahkan tanpa sarapan pagi.
Sesampainya di tempat Pamela mencium tangan suami nya sebelum turun dari mobil.
"Aku mau ke perusahaan, nanti siang aku akan menjemput mu jika sudah selesai kerja." Ucap Vino.
"Iya, kamu hati hati."
Vino langsung tancap gas setelah Pamela sudah sampai di pintu masuk rumah sakit.
Farhan yang sudah sampai di kantor menunggu Vino karena ada meeting penting yang sebelumnya tertunda.
"Selamat pagi pak." sapa dea hanya di angguki kepala Vino.
"Untung bos dah sampai, sudah di tunggu ruang rapat!" ucap farhan begitu Vino sudah terlihat batang hidungnya.
"Sudah sesuai jadwal bos, mungkin bos yang datang siang." jelas farhan sambil nyengir.
Vino memastikan nya lagi dengan melihat jam nya yang menunjukkan pukul 10 pagi.
"Ya sudah kita langsung ke ruang meeting."
Dan benar saja ruangan meeting sudah pada menunggu.
"Bos, nona sarah ingin pertemuan siang ini di restoran dekat hotel tempat nya menginap." kata farhan setelah di ruangan Vino.
"Baiklah, atur waktunya pertemuan nya."
"Oke bos."
"Menurut mu kenapa nona sarah sampai ke sini?" tanya Vino penasaran karena sarah yang rela datang ke indonesia.
"Menurut info, nona sarah berminat investasi di Indonesia."
"Ya sudah kita temui dia sekarang." ajak Vino kemudian keluar meninggal kan perusahaan menuju ke restoran nona sarah yang sudah menunggu nya.
Bahkan Vino lupa menjemput Pamela untuk makan siang dengan nya.
"Maaf nona sarah, kami terlambat." kata farhan setelah bertemu dengan sarah.
"Oh tidak, saya senang anda sudah datang." jawab sarah.
"Bagaimana perjalanan anda, apakah menyenangkan?" tanya farhan.
__ADS_1
"Saya sangat menikmati nya, sudah lama tidak ke ke sini. Apakah anda tidak memiliki asisten wanita tuan Vino? seperti nya anda butuh refresment." sarah melihat Vino yang masih dingin.
"Maaf nona, bos saya maksudnya atasan saya masih bisa mengandalkan saya untuk membantu pekerjaan." jawab farhan.
Sarah hanya tersenyum sinis mendengar penjelasan farhan.
"Sebelum nya apa yang membuat anda ke Indonesia? bukan kah kita sudah membuat kesepakatan kerja sama." Vino mulai berbicara.
"Ah itu....." sarah tersenyum. "Tuan Vino lebih suka langsung ke intinya ya? Baiklah, saya sedang berpikir ulang jika akan menarik investasi saya yang di Kanada."
Vino melirik farhan karena info yang diterima, jika sarah berminat berinvestasi juga di Indonesia.
"Apa maksud nona sarah?" tanya farhan.
"Bukan kah itu melanggar kesepakatan yang sudah kita buat." ucap Vino lugas.
"Hahaha.... tuan Vino terlalu detail. Saya akan membatalkan keputusan saya tapi ada syaratnya!" ada senyum licik di bibir sarah.
"Bagaimana anda berpikiran seperti itu karena ada hukum mengenai berinvestasi. Apakah perlu syarat di luar itu?" ujar Vino.
"Anda perlu menyetujui atau tidak tuan Vino karena perusahaan Delta group bukan lagi dibawah pimpinan papa saya."
"Baiklah, apa syarat nya?" tanya Vino dan sarah tersenyum penuh kemenangan.
Sarah memberikan syarat nya. Mereka pun diakhiri makan bersama di restoran itu.
Di restoran itu juga dika dan desi makan siang di sana.
"Mau pesan lagi?" tanya dika.
"Kamu mau aku gendutan ya." jawab desi kesal menghentikan makan nya.
"Kalau kamu gendut pun aku tetap sayang koq." gombal dika.
"Nggak percaya tuh."
"Ya udah belah aja dada ku." canda dika.
"Metong dong, yang." seru desi.
Koq seperti Vino tapi sama siapa?. batin desi.
Desi makan dengan mata terus melihat kearah Vino yang sedang mengobrol dengan seorang wanita.
"Kenapa? kamu lihat apa sih yang?" tanya dika yang posisi duduk membelakangi meja Vino.
"Yang, bukan nya itu Vino ya? siapa wanita itu?" Desi penasaran.
"Mungkin kliennya kali." imbuh dika.
"Ah masa sih, yang." Desi menaruh curiga karena dilihat dari jauh sarah duduk di kursi dekat Vino.
''Kamu terlalu banyak nonton sinetron deh, yang."
"Awas saja kalau teman mu itu bikin sakit hati sahabat ku."
"Positif thinking aja deh, siapa tahu itu klien nya aja."
"Ya udah semoga aja kamu benar."
Kemudian dika dan Desi kembali makan dan setelah itu memutuskan pulang.
Di lain tempat Pamela yang selesai kerjaan nya menunggu telepon dari Vino.
__ADS_1
"Kemana sih Vino?" gumamnya setelah beberapa kali mencoba menghubungi Vino.
Dilihat jam sudah pukul 2 siang dari jam tangan nya Vino masih belum memberi kabar. Pamela memilih telepon Alvin