
Vino ikut mengantar Rey dan Rani ke bandara. Rey mengambil penerbangan minggu pagi.
"Kenapa kamu dari tadi diam saja habis ngantar mereka?" tanya Vino masih fokus dengan kemudi nya. "Apa kamu ingin ikut mereka ke Sydney lagi? jangan harap ya pergi tanpa diriku." ledek Vino.
"Hmm.......oh ya kenapa sih kamu dari tadi senyam senyum aja? om Rey bilang apa sama kamu?" Pamela penasaran karena dari tadi Vino selalu senyum sendiri.
"Hhm mau tahu aja atau mau tahu banget." goda Vino karena sudah tidak canggung lagi.
Vino jadi teringat pesan Rey untuk menjaga Pamela dan Alvin. Rey juga mempercayakan Pamela padanya agar tidak menyakiti hati Pamela.
"Om Rey pesan kita segera menikah keburu kamu diambil orang." lagi lagi vino menggoda Pamela.
"Apaan sih." muka Pamela jadi memerah sementara Alvin bermain game di ponsel Pamela.
Sebenarnya Alvin masih sedikit ada rasa trauma naik mobil.
"Oh ya dokter Mela kita mau kemana?" tanya Vino dengan senyum menggoda.
"Kita pulang aja deh." jawab Pamela.
"Okay kita pulang." Ada rasa kecewa Vino karena maksud hatinya mengajak jalan Pamela dan Alvin mumpung hari libur ternyata hari ini keberangkatan rey dan Rani ke Sydney.
Vino tidak mengantar Pamela ke rumah nya melainkan ke diaman rumah tuan Antoni.
"Kita ke rumah, mama ingin ketemu kamu dan Alvin." ucap Vino setelah sampai di rumah mewah tuan Antoni.
"Om Vino, ini rumah siapa? " tanya Alvin menghentikan permainan game nya.
"Kita mau ketemu Oma dan Opa, Alvin mau kan?" Alvin pun menganggukkan kepala.
"Vin kenapa tidak bilang kalau ke rumah kamu." Pamela tampak gugup karena kejadian kemaren itu.
"Mel, kamu kan calon istri aku nggak akan terjadi apa apa sama kamu karena aku ada di sisimu." kata Vino membuat lega Pamela.
setelah keluar dari mobil Vino menggendong Alvin dan tangan sebelah nya menggandeng tangan Pamela.
Saat melihat Pamela, mama Dewi pun kegirangan.
"Ya ampun calon mantu datang ternyata." seru mama Dewi kegirangan.
"Selamat siang tante, apa kabarnya?"sapa Pamela.
Bukanya menjawab salam Pamela namun mama Dewi terkejut melihat bocah kecil yang di gendong Vino sesaat mama Dewi teringat bocah kecil di mall waktu itu bahkan tangan Alvin yang memakai arm slin.
"Hai sayang, jangan bilang ini cucu oma itu. Ya ampun kamu kan yang di mall kemaren." jelas mama Dewi menatap Alvin berbinar.
"Iya Alvin, apa kemaren ketemu sama oma?" tanya vino dengan anggukan Alvin.
"Vin panggil papa kamu kemari biar mama ngobrol sama Alvin dan Pamela." suruh mama Dewi.
Pamela dan mama Dewi saling mengobrol mengenai Alvin.
Selang beberapa saat Vino datang bersama tuan Antoni dan ikut duduk di ruang tamu. Alvin yang awalnya duduk disebelah Pamela beringsut ke pangkuan Pamela saat melihat tuan Antoni datang.
"Pah, mirip banget kan sama Vino waktu kecil." ujar mama Dewi.
"Apa kabar om?" sapa Pamela.
"Baik, Oh ya ada yang ingin papa sampaikan pada kalian." ucap tuan Antoni serius.
"Alvin ikut oma yuk kita main sama oma." ajak mama Dewi karena tidak ingin mengganggu pembicaraan serius mereka.
__ADS_1
Alvin pun mau diajak mama Dewi bermain di ruang keluarga. Betapa senangnya mama Dewi bertemu Alvin cucu mereka meskipun belum ada pernikahan diantara Vino dan Pamela.
"Vin, kamu tahu perusahaan kita sudah tidak asing lagi di dunia bisnis dan sudah berkembang ke mancanegara jadi papa harap jangan menghancurkan nya dengan gosip yang beredar diantara kalian." jelas tuan Antoni membuat Vino mengerti tapi berbeda dengan Pamela yang merasa jika hubungan vino dengan dirinya akan menghancurkan nama baik perusahaan tuan Antoni dan keluarga karena sudah memiliki anak di luar nikah.
"Papa ingin kamu dan Pamela menikah atau ijab kobul dulu dan untuk pesta pernikahan nya kita tunda dulu beberapa bulan untuk menghilangkan rumor karena papa ingin Alvin menjadi generasi penerus nantinya." kata tuan Antoni.
"Iya pah, Vino setuju aja." ujar Vino.
"Bagaimana Mela?" tanya tuan Antoni.
"Sa saya nurut aja om." jawab Pamela gugup dan vino langsung menggenggam tangan Pamela agar tidak gugup lagi.
"Panggil papa saja Mela bentar lagi kamu menjadi keluarga kami." pinta tuan Antoni. "Papa turut berdukacita atas meninggalnya papa dan mama kamu Mela, karena firman dulu teman kuliah papa." tuan Antoni terlihat serius.
"Iya om eh pah, terimakasih."
"Pah kapan acara nya itu." ternyata dari tadi vino memikirkan hal itu.
"Papa mau nya besok kalian nikah KUA dulu untuk wali Pamela kita akan menghubungi keluarga papa kamu jika mereka berhalangan hadir kita akan mencari wali yang tepat untuk Mela. Papah ingin acara nya disini." ungkap tuan Antoni mengingat Pamela anak yatim-piatu.
Karena tanpa sepengetahuan Vino, tuan Antoni langsung menyelidiki saudara dari papa firman karena tuan Antoni tidak ingin menunda pernikahan mereka.
"Bagaimana pah, besok?" Pamela masih syok dengan keputusan calon mertua nya itu berbeda dengan vino terlihat bahagia.
"Iya Mela, mungkin 2 hari ke depan Mela ambil cuti atau nanti biar Vino bilang ke bagian pelayanan medis untuk menambah dokter spesialis jantung jika kamu cuti ada pengganti"
"Tapi pah, Vino belumm menyiapkan cincin kawinnya." kata Vino.
"Soal itu, nanti tanya mama." kata tuan Antoni karena tahu istrinya punya langganan desainer perhiasan.
Suasana yang tadi sempat tegang sudah menjadi hangat hingga kedatangan mama Dewi.
"Seru banget ngobrol nya, kita makan siang yuk." ajak mama Dewi karena bi asri sudah menyiapkan makan siang.
"Nona biar bibi saja yang mencucinya." kata bi Asri.
"Nggak papa bi, saya sudah terbiasa melakukan ini." balas Pamela lembut.
"Aduh nanti nyonya marah non, biar bibi saja."
"Nanggung bi...." Pamela pun menyelesaikan nyuci piring nya tanpa menghiraukan bujukan bi Asri.
Terdengar suara bi asih memanggil Pamela.
"Non Mela di panggil nyonya besar." kata bi Asih.
"Oh iya bi terima kasih." ucap Mela lembut kemudian pergi meninggalkan dapur.
"Cantik banget ya calon istri den Vino" bisik bi Asih setelah Pamela pergi meninggalkan dapur.
"Iya cantik banget nggak sombong dan seorang dokter lagi." balas bi asri ternyata mereka diam diam mendengar percakapan tuan Antoni dengan Vino dan Pamela di ruang tamu.
"Apa anak kecil tadi anak den Vino ya? ganteng banget." ujar bi Asih.
"Sudahlah kita kembali kerja tidak baik membicarakan majikan." kata bi Asri.
"Hahha iyalah."
Setelah bergosip ria akhirnya mereka kembali melakukan tugas nya masing-masing.
"Eh mel, seperti nya Alvin ngantuk bawa ke kamar Vino." suruh mama Dewi.
__ADS_1
Pamela seketika membeku saat mama Dewi menyuruh nya membawa Alvin ke kamar Vino.
"Baik mah." kata Pamela gugup ditambah besok mereka akan melangsungkan pernikahan tanpa persiapan otomatis akan menginap malam ini.
Jika besok Pamela cuti berarti Alvin juga libur sekolah.
Pamela menggendong Alvin menuju ke kamar Vino. Pamela menidurkan Alvin di ranjang king size Vino.
"Sayang, Alvin bobok dulu disini ya dikamar om Vino." Pamela mengelus rambut Alvin dan menyelimuti nya, sebentar saja Alvin sudah tertidur lelap.
Pamela ingin Alvin tidur siang nya lelap dan memilih untuk keluar tapi saat mau keluar Vino sudah berdiri menyandar di dekat pintu.
"Biasakan Alvin memanggilku daddy kan bentar lagi mommy nya nikah sama daddy." kata Alvin.
"Alvin belum terbiasa." jawab Pamela.
"Huh masa anak aku memanggilku om sih sayang." tangan Vino meraih pinggang Pamela posesif.
"Jangan begini Vino." tolak Pamela namun Vino semakin mempererat tangan nya di pinggang Pamela.
"Kan begini sama calon istri sendiri." tatapan Vino membuat Pamela gugup.
"Nanti ada yang datang vin, nggak enak sama mama dan papa."
"Mereka pada sibuk mempersiapkan pernikahan kita, sayang!" kata Vino mendekat hingga jarak hidung vino dengan Pamela hanya beberapa centi.
Vino sangat kesal jika teringat dokter indra mendekati Pamela. Vino lalu mencium bibir Pamela sekilas membuat Pamela terkejut.
"Itu hukuman mu jika dekat dekat dengan pria lain." bisik Vino di telinga Pamela membuat nya merinding.
"Vin, kita belum sah suami istri."
"Jadi kalau sah aku boleh minta lebih." kata Vino lagi lagi membuat Pamela jadi blushing muka nya.
Vino mencium kening Pamela sebelum melepas tangan nya di pinggang Pamela.
"Mama memanggilmu, mungkin ada yang ingin di bicarakan." kata vino.
"Baiklah aku akan menemui mama sekarang." Pamela pergi menuruni tangga menemui calon mertua nya.
Vino memilih menyusul tidur di sebelah Alvin yang sudah terlelap.
Di ruang keluarga mama Dewi sudah sibuk mempersiapkan pernikahan Pamela.
"Sayang, mama sudah pesan baju kebaya buat kamu." tunjuk mama dia buah baju kebaya cantik buatan desainer terkenal.
"Mah jadi merepotkan."
"No, mama tidak repot sayang karena anak mama mau menikah jadi mama siapkan kebaya cantik buat calon mantu mama yang cantik ini."
"Ini terlalu mewah mah kan kita hanya ijab kobul aja."
"Pilih yang menurut mu bagus sayang karena kita akan mengundang beberapa kerabat mama dan teman dekat Vino."
"Saya milih warna yang putih ini mah." Pamela memilih kebaya warna putih meskipun model nya tidak terlalu modern tapi dihiasi berlian putih sebagai payet nya.
"Wah.....bagus sayang pas dengan ukuran tubuh mu."
Meskipun punya anak satu tapi tubuh Pamela tetap terlihat langsing sehingga tidak menyulitkan mama Dewi memilih kebaya buat Pamela.
Selera mama Dewi memang berkelas memilih kebaya bahkan dalam waktu sehari menjelang nikah semua sudah tersusun dan sudah siap mungkin karena orang kaya.
__ADS_1
Di ruang kerjanya tuan Antoni mencari informasi saudara firman untuk menjadi wali Pamela nanti dan akhirnya bisa terhubung namun beliau tidak bisa datang yaitu paman Pamela yang berada diluar kota.