Malam Kelam Istimewa

Malam Kelam Istimewa
Terbakar Cemburu


__ADS_3

"Apa kabar kalian? lama tidak berjumpa?" ucap seorang laki-laki menghampiri mereka.


Semua terdiam mendengar suara yang tidak asing menurut mereka. Dan betapa terkejut nya setelah tahu siapa yang datang.


"Eh bro apa kabar?" sapa Dika langsung berdiri menyambut Jatmiko dan memeluk nya di ikuti Andreas.


Desi pun mengulurkan tangan untuk memberi salam kepada Jatmiko terlihat Bona masih enggan menyambut nya karena masih ada rasa kecewa di hati, namun di hati paling dalam masih ada rasa suka yang tidak bisa di hapus kan.


Berbeda dengan Vino ada rasa cemas saat melihat Jatmiko kembali alasannya karena Pamela, Vino tahu jika waktu di sekolah dulu Jatmiko menyukai Pamela.


"Apa kabar Mela?" tanya Jatmiko dengan mengulurkan tangan nya.


Pamela masih terkejut melihat kedatangan Jatmiko.


"Apa kabar bro?" tanya Vino membalas uluran tangan Jatmiko yang sebelum nya untuk memberi salam kepada Pamela.


"Kabar ku kurang baik." jawab nya lirih dengan senyum sinis.


Jatmiko langsung mengambil tempat duduk di sebelah Andreas yang berhadapan langsung dengan Pamela dan Vino.


"Selamat buat kalian semoga lancar sampai hari H nanti." ucap Jatmiko untuk Dika dan Desi.


"Terima kasih bro, tapi bagaimana lo tahu hari ini gue tunangan dengan Desi." tanya Dika penasaran.


"Dari tuh...." tunjuk Jatmiko dengan menggerakkan dagunya ke arah Andreas.


"Kapan sampai di Indonesia?" tanya Andreas.


"Siang tadi, sepertinya gue masih kena jet lag nih." ungkap nya.


Mata Jatmiko sesekali melihat ke Pamela dan Vino mengetahui nya.


"Loh koq pada asyik ngobrol sih, ngga mau mencicipi masakan tante?" kata mama nya Desi.


"Iya tante......." jawab mereka.


Jatmiko, Andreas lebih dulu berdiri dan menghampiri ke tempat meja menu makanan. Bona masih terdiam bagai air yang tiba-tiba membeku tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan Jatmiko.


Desi dan Dika menemui keluarga besar nya. Vino, pamela dan bona yang masih enggan beranjak dari tempat duduk.


"Vino... aku ke toilet dulu." pamit nya hanya di jawab anggukan dari vino.


"Bona, aku tinggal dulu ya."


"Oke......" ujar bona.


Melihat punggung pamela yang sudah semakin jauh dan tak terlihat, bona heran melihat vino yang tiba-tiba menjadi pendiam.


"Apa kamu baik baik saja?" tanya bona saat hanya mereka berdua.


"Apa aku terlihat menyedihkan." jawab vino datar.


"Ah tidak........I know if your heart is not okay."


"Bukan urusan mu."


"Dari pupil mata kamu tidak bisa berbohong, Malvino!" seru bona.


Vino kesal seolah-olah bona tahu isi hatinya yang sedang cemas karena kedatangan jatmiko.


"Aku akan mempertahankan apa yang sudah menjadi milik ku." kata Vino kemudian pergi meninggalkan bona.


"Aku yakin kamu bisa, sebenarnya disini aku yang paling menyedihkan." gumam bona hanya dirinya yang mendengar kan karena masih betah duduk di meja itu.


Terlihat Andreas dan jatmiko sedang menikmati makan sambil bercerita. Vino seakan tidak bernafsu makan terlihat berbagai menu makanan di meja, langkah kaki nya memilih ke meja minuman karena tenggorokan nya seakan terasa kering.


"Tuan Vino." panggil seorang pria paruh baya.


Vino langsung menoleh saat diri nya ada yang memanggil.


"Ah kebetulan sekali kita bertemu. Apakah tuan Vino masih kerabat dengan Dika?" tanya nya.


"Dika, sahabat saya." jawab vino.


"Oh saya kira, perkenalkan nama saya Aris. Anda terlihat lebih muda dari perkiraan saya." kata pria paruh baya itu sambil mengulurkan tangan.

__ADS_1


Vino membalas uluran tangan pak aris, akhirnya Vino tahu pak Aris merupakan salah satu keluarga besar Desi.


"Saya sudah mendengar tentang perusaan anda, oleh sebab itu saya berkeinginan bekerjasama dengan anda." jelas pak Aris.


"Terima kasih pak Aris senang mendengar nya." jawab Vino.


"Kalau begitu saya permisi, semoga tuan vino menikmati acara nya.."


Setelah pak Aris pergi, Vino langsung mengambil segelas minuman yang mengandung soda dan langsung meneguk nya hingga tandas.


Sudah 20 menit Pamela belum kembali membuat Vino khawatir untuk menyusul nya.


Saat Pamela keluar dari toilet terlihat jatmiko sudah berdiri di sana. Dengan ragu Pamela mencoba menyakinkan diri nya jika saat ini bukan kembali ke masa lalu tapi yang harus di hadapi nya sekarang.


"Mela apa kabar?" tanya jatmiko.


"Baik, kamu apa kabar?" jawab Pamela dan balik bertanya.


"Ya seperti yang kamu lihat." jawab jatmiko dengan senyum manis tapi boong, sejujurnya hatinya rapuh melihat kenyataan orang yang selama ini di cintai nya milik orang lain bahkan sahabat nya sendiri.


"Senang kita bisa bertemu kembali." ungkap Pamela.


Jatmiko hanya tersenyum mendengar nya tapi di dalam lubuk hati paling dalam jatmiko merasa sedih.


"Vino beruntung memiliki mu, semoga rumah tangga kalian selalu bahagia." ucap jatmiko.


DEG


Hati Pamela seakan tercubit dengan ucapan jatmiko. Pamela teringat jika dirinya menolak jatmiko dan tidak memilih Vino namun kenyataannya berbeda.


"Terima kasih miko."


"Kamu masih sama seperti dulu bahkan lebih cantik sekarang." Jatmiko tidak bisa menahan nya karena melihat Pamela memang benar benar cantik tidak ada yang berubah.


Tak jauh dari mereka, Vino mengepalkan kedua tangan nya melihat jatmiko mengobrol dengan Pamela. Sisi cemburu nya yang sejak tadi ditahan nya seakan ingin membunuh seseorang.


Pamela yang melihat Vino menunggu nya menjadi gugup karena takut terjadi salah paham.


"Maaf aku harus pergi." pamit Pamela meninggalkan jatmiko yang masih terpaku di tempat nya saat ini berdiri.


Pamela menghampiri Vino dan mengajak nya untuk kembali ke tempat dimana mereka duduk tadi. Ternyata bona, Andreas, dika dan desi sudah berkumpul di meja tadi.


"Tunggu......" panggil bona saat jatmiko akan masuk ke mobil nya.


"Eh....ada yang ingin kamu katakan?" jawab jatmiko terlihat angkuh.


"Ya..... apa kamu masih memikirkan Pamela setelah melihat nya sekarang?" tanya bona hati hati.


"Apa aku harus mengatakan nya padamu." jawab nya enteng.


"Ah iya, aku minta maaf sudah membuat mu kecewa waktu itu." imbuhnya.


"Kamu nggak salah apapun memang diriku yang begitu naif." ucap bona menahan air matanya karena tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan Jatmiko.


"Maaf........." kata Jatmiko kemudian masuk kedalam mobilnya dan meninggal kan bona.


Di dalam mobil bona menumpahkan air mata nya yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Setelah puas menangis akhirnya bona memutuskan untuk pulang.


Suasana di dalam masih terlihat ramai, mereka menikmati suasana malam yang sangat romantis sesuai tema dari acara dea dan dika ala pesta kebun untuk merayakan pertunangan nya. Kedua keluarga itu memutuskan pernikahan dika dan desi 3 bulan ke depan.


Vino hanya minum saja tanpa ingin makan bahkan sudah beberapa gelas minuman bersoda tadi memenuhi lambung nya. Andreas dan dika merasa heran dari tadi Vino tak banyak bicara.


"Vino, kita pulang yuk." ajak Pamela.


"Kalau ibu negara pulang, gue ikut pulang juga." ucap Andreas sontak mendapat tatapan tajam dari vino.


"Cuma elo Mel yang bisa jinakkan macan satu ini." ledek Andreas.


Dika tahu jika vino tidak nyaman dengan kedatangan jatmiko.


"Mereka pulang ke rumah yang sama. Nah elo, di rumah mau ngapain ndre." canda dika.


"Mang nggak boleh gue pulang tidur lebih awal?" jawab Andreas tak mau kalah.


"Gaya lo......" ejek dika.

__ADS_1


Pamela memeluk desi dan berpamitan.


"Aku pulang ya De." pamit Pamela.


"Iya deh......terimakasih Mel, sudah datang." ucap desi.


Melihat Vino dan Pamela pamit pulang, Andreas ikut pulang Mereka juga berpamitan dengan kedua orang tua dika dan desi.


Vino menggenggam tangan Pamela dengan erat seakan takut miliknya hilang hingga ke luar menuju tempat mobilnya terparkir.


"Vino, kamu kenapa?" tanya Pamela khawatir dengan sikap Vino saat memegang tangan nya begitu erat.


Vino bahkan mengabaikan Pamela yang terlihat khawatir pada nya.


Vino melaju kan mobil nya bukan kearah rumah tapi berlawanan arah dan beberapa saat kemudian Vino' menghentikan mobilnya di depan hotel milik keluarga Vino.


"Kenapa kesini Vino?" tanya Pamela.


Vino meminta kunci ke bagian resepsionis yang sudah hapal dengan Vino yang tak lain anak dari pemilik hotel ini.


Vino menggandeng Pamela menaiki lift ke lantai 4 dan berhenti di kamar 211.


Deg


Pamela langsung teringat beberapa tahun silam dirinya tiba tiba sudah berada di kamar ini bersama lelaki.


"Kita tidur di sini malam ini." kata Vino karena Pamela terlihat ragu.


Ceklek


Vino menarik tangan Pamela masuk ke dalam setelah pintu kamar terbuka dengan card lock ditangan nya.


Aroma khas wangi tercium dan suasana di dalam terlihat sedikit berbeda karena setelah kejadian waktu itu Vino meminta sedikit direnovasi karena Vino tidak ingin kamar ini di tempati orang lain dan menjadi kamar favorit nya jika ingin tidur di hotel ini.


"Kita pulang saja." ucap Pamela, tangannya sudah memegang handle pintu ingin keluar namun Vino langsung menutup kembali dan menarik tubuh Pamela hingga bersandar di depan pintu dan menghimpit nya dengan kedua tangan Vino menekan pintu dengan kuat.


"Di tempat inilah aku menyentuh mu meskipun kita tidak saling mencinta." kata Vino dengan tatapan mendalam bak singa ingin memangsa.


"Sejak itulah aku selalu terbayang dirimu dan rasa bersalah, semakin memikirkan mu semakin ingin memiliki mu." Tangan Vino kemudian mencengkeram kedua bahu Pamela dengan erat.


Pamela merasakan sakit dan takut saat Vino mencengkeram bahunya.


"Vino........." panggil Pamela lirih dengan mata berkaca kaca.


"Apa kamu akan membenciku setelah ku bawa ke sini hmm?" tanya Vino dengan mata nyalang seperti orang dibawah pengaruh alkohol.


Pamela menunduk semakin takut dengan tingkah Vino karena sebelum nya terlihat baik baik saja.


"Tatap mataku sayang! aku tidak ingin kamu mengingat kejadian itu tapi lihat lah aku yang sekarang. Lelaki brengsek itu sangat mencintai mu."


"Kamu kenapa vin?" tanya Pamela lirih menepis rasa takut nya.


tangan Pamela menyentuh kedua pipi Vino dan memberanikan diri untuk menatapnya.


"Bukan kah kita sudah menjadi suami istri." kata Pamela.


"Yakin kan diriku jika aku yang di hatimu."


Vino langsung mencumbu leher Pamela karena sudah tidak bisa menahan nya.


Sejak dari butik, Vino menahan untuk tidak menyentuh Pamela namun rasa cemburu nya yang besar membuat hatinya serasa terbakar.


Ciuman Vino semakin dalam hingga meninggalkan jejak kemerahan di leher putih mulus itu.


Pamela menggigit bibir nya agar tidak mengeluarkan suara.


Bak kesetanan, Vino meluap kan rasa cemburu nya kepada Pamela. Pamela hanya pasrah apa yang dilakukan Vino karena tenaga Vino seakan mirip singa sedang mencengkeram mangsanya.


"Vino........." kata Pamela tidak bisa menahan suaranya, saat Vino merobek gaun cantik dan mahal itu.


?


"Ya, sebut nama ku sayang." bisik Vino yang sudah diselimuti kabut gairah.


"Aahh......" suara Pamela yang terdengar seksi menurut Vino saat miliknya menghujam ke tubuh Pamela.

__ADS_1


"Aku cinta kamu, Pamela Ridhliani." gumam Vino seakan malam ini ingin menghapus masa kelam waktu itu. Jika mereka melakukan tanpa rasa suka tapi malam ini mereka melakukan dengan saling mencintai di kamar 201.


Rasa cinta dan cemburu tidak akan bisa terpisahkan itulah yang dirasakan Vino malam ini dan berharap dirinya adalah pria satu satunya di hati Pamela.


__ADS_2