Malam Kelam Istimewa

Malam Kelam Istimewa
Vino Di Bully


__ADS_3

Persiapan acara untuk pernikahan besok sudah selesai karena berkat mama Dewi. Untuk acara besok tuan Antoni ingin di kediaman nya meskipun memiliki hotel ternama salah satu di jakarta karena tidak ingin di ketahui media dan hanya mengundang beberapa kerabat dekat dan teman karena akan menyulitkan keberadaan Alvin.


"Syukur lah sudah siap semua tinggal cincin mempelai yang belum, apa aku panggil Jefri kemari untuk membawa desain cincin nya." gumam mama Dewi.


Kemudian mama Dewi menelepon Jefri untuk datang ke kediaman keluarga Antoni.


Satu jam kemudian Jefri datang dengan membawa apa yang di ingin kan mama Dewi.


"Masuk jef...." suruh mama Dewi.


"Selamat sore nyonya." sapa Jefri.


"Bagaimana jef? kamu bawa apa yang saya inginkan?" tanya mama Dewi.


"Jangan khawatir nyonya, saya bawa kan yang terbaik untuk anda." kata Jefri lalu menunjukkan beberapa set perhiasan mewah dan mahal tentunya.


Sebelum nya Pamela yang sudah selesai mencoba kebaya dengan mama Dewi pergi ke kamar Vino untuk membangun kan mereka karena hati sudah sore dan sebelumnya Pamela melihat Vino tidur disebelah Alvin. Saat akan membangun kan mereka namun Pamela tidak menemukan Vino dikamar hanya Alvin dan sudah bangun.


"Sudah selesai sayang, dengan urusan mama tadi." kata Vino keluar dari kamar mandi dengan baju bathrobe nya.


"Alvin sudah bangun dari tadi." kata Vino dengan santai melewatinya lalu mengambil baju ganti di walk in closet.


"Sudah.......Alvin mandi sayang, sudah sore." bujuk Pamela.


"Okay mommy." kata Alvin.


"Baju Alvin dan kamu nanti farhan yang antar kesini." sebelum nya Vino meminta farhan membelikan satu set pakaian anak dan satu set pakaian wanita berserta ukuran nya.


"Nanti malam aku antar kamu pulang untuk berkemas apa yang kamu bawa termasuk baju seragam Alvin karena malam ini kamu akan tinggal disini sampai beberapa hari." ujar Vino selesai memakai baju nya.


"Iya.....Terima kasih" jawab Pamela.


"Aku turun ke bawah pasti mama menunggu ku." pamit Vino karena sebelumnya mama Dewi mengatakan untuk cincin pernikahan nya akan di percayakan pada desainer langganan mama Dewi dan sore akan datang


"Nah itu Vino.....biar dia aja yang memilih perhiasan nya." terlihat Vino menuruni tangga lalu menghampiri mereka.


Saat melihat berbagai perhiasan hasil desain dari Jefri, mata Vino langsung terpesona dengan satu set perhiasan dari batu kristal dan swarovski.


"Mah, Vino ambil yang ini." tunjuk Vino.


"Wah mas Vino tahu aja selera nya." ujar Jefri.


"Terima kasih ya jef, nanti tagihan nya saya transfer." kata mama Dewi setelah Vino memilih satu set perhiasan.


"Haha......iya nyonya, paling senang berbisnis dengan anda, untuk mas Vino semoga langgeng pernikahan nya." ucap Jefri.


"Terima kasih." jawab Vino.


"Kalau begitu saya pamit nyonya semoga lancar acaranya." pamit Jefri.


"Okay sama sama Jef." mama Dewi mengantar Jefri ke depan rumah.


Saat bersamaan datang farhan membawa paper bag pesanan Vino. Saat farhan turun dari mobil bertemu mama Dewi di teras rumah.


"Selamat sore nyonya." sapa Farhan.


"Eh farhan, bawa apa kamu?" tanya mama Dewi penasaran saat melihat paper bag yang ditenteng Farhan.


"Maaf nyonya mau antar pesanan bos vino." jawab farhan.


"Huh Vino tuh ya. Ya udah masuk Farhan! Vino ada di dalam."


"Bawa pesanan ku farhan." tanya Vino melihat farhan datang.


"Ini bos, semoga pas bajunya." farhan menyerah kan paper bag itu.

__ADS_1


"Terima kasih." ucap Vino lalu membawa paper bag ke kamar nya.


Farhan ikut duduk di ruang tamu bersama mama Dewi.


Sampai di kamar, Vino melihat Pamela memakai bathdrobe dan Alvin baru selesai mandi.


"Ganti baju dengan ini. Aku tunggu dibawah." Vino menyerah kan paper bag ke Pamela.


"Terima kasih..."


Pamela segera memakai baju untuk Alvin setelah selesai kemudian Pamela mengganti bathdrobe tadi dengan dress yang ada di dalam paper bag.


"Kenapa harus dress sih...." gerutu Pamela saat memakai salah satu dress nya setinggi selutut karena yang di beli farhan dress semua.


Pamela menuruni tangga dengan menggandeng Alvin. Terdengar percakapan di ruang tamu ternyata mereka berkumpul di ruangan itu. Terlihat tuan Antoni dan farhan terlihat obrolan serius sedangkan Vino memainkan ponsel nya.


"Eh sayang kalian sudah turun?" kata mama Dewi melihat Pamela dan Alvin sudah berada di ruang tamu.


"Iya mah......" jawab Alvin.


Mata Vino langsung terpana melihat Pamela dengan memakai dress selutut biasa nya baju kerja atau formal.


"Sudah! jangan dilihat terus bos besok juga sah." gumam farhan terdengar di telinga Vino.


Seketika Vino gelagapan dengar kata farhan.


"Sialan kau....." maki Vino karena farhan menggoda nya.


"Alvin duduk disini sama oma." panggil mama Dewi dan Alvin pun langsung mendekat dan duduk disebelah oma diikuti Pamela.


"Oh ya Mela, papah sudah mencoba hubungi paman kamu tapi kata nya tidak bisa hadir karena kondisi kesehatan nya." jelas tuan Antoni.


"Iya pah nanti Pamela mau meneleponnya juga." kata Pamela.


Vino sedikit cemberut, lagi lagi kena goda berbeda dengan farhan tersenyum geli mendengar kata mama Dewi.


"Iya vin tunggu sudah sah dulu baru boleh bersama." tuan Antoni ikut menggoda.


"Mel kita pergi sekarang mumpung masih sore." ajak Vino karena malas di bully mereka bertiga.


"Eh..... mau kemana bawa Mela? awas saja ya bikin ulah lagi." seru mama Dewi kesal.


"Ish apa sih mama ini, orang mau antar Mela ke rumah nya ambil beberapa baju Alvin." ucap Vino.


"Oh kirain mau bawa kemana. Ya sudah langsung pulang tidak usah mampir kemana mana, seharusnya kalian itu di pingit. " ujar mama Dewi.


Farhan menahan ketawa nya berbeda dengan Pamela pipinya merah merona sementara tuan Antoni hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang over protective dengan Vino mengenai Pamela.


Vino mengantar Pamela ke rumah nya tanpa Alvin karena mama Dewi mengajaknya bermain. Farhan disuruh menginap karena besok membantu persiapan acara Vino.


______________


Pukul 9 malam Vino dan Pamela sudah sampai di kediaman tuan Antoni. Setelah sampai di rumah nya, Pamela hanya mengambil beberapa baju Alvin dan dirinya. Apa yang dikatakan mama Dewi tidak boleh mampir ke tempat lain jadi mereka langsung pulang.


"Sepi!! seperti nya sudah pada tidur." kata Pamela.


"Bagus dong berarti kita berdua aja." ucap Vino.


"Aku belum menghubungi bagian manajemen jika besok saya cuti." Kata Pamela.


"Jangan khawatir, farhan sudah mengurus nya. Jangan lupa hubungi teman kamu yang ingin kamu undang, termasuk dokter indra itu." ucap Vino rada kesal.


Pamela hanya menggeleng kepala karena Pamela hanya mengundang Bona dan Desi jika mengundang Ranti kemungkinan seluruh rumah sakit langsung mengetahuinya karena Pamela belum siap akan hal itu.


"Ya udah kamu tidur di kamar sana mungkin Alvin sudah tidur, aku akan tidur di kamar tamu seperti kata mama." suruh Vino karena pagi pagi Pamela akan dirias.

__ADS_1


Pamela langsung menaiki tangga ke lantai atas untuk istirahat dikamar dan ternyata Alvin sudah tidur di sana. Sebelum tidur Pamela mengabarkan akan menikah kepada Rani dan Rey begitu juga dengan saudara papa yang lain meskipun mereka tidak bisa datang.


Betapa bahagianya Pamela ternyata keluarga Vino menerima nya dengan tulus penuh kasih sayang tidak seperti yang dipikirkan bahkan Alvin juga langsung akrab dengan mama Dewi dan tuan Antoni atau farhan. Pamela ikut merebahkan dirinya di sebelah Alvin untuk mengarungi mimpi indah karena setelah esok akan terjadi perubahan hidupnya dengan status lain yaitu nyonya Malvino.


____________


Pagi pagi sekali penata rias sudah merias Pamela dan Alvin bersama opa Anton di ruang kelurga. Bahkan persiapan acara sudah selesai karena semua dilakukan profesional.


"Ya ampun Mela sayang, kamu bertambah cantik pantas saja Vino tidak bisa melupakan mu meskipun kamu tolak waktu itu." puji mama Dewi.


"Dasar nya memang cantik nyonya jadi saya tidak terlalu banyak memberi polesan make-up." kata perias dengan perawakan gemulai.


"Iya dong menantu ku memang cantik." Pamela hanya tersenyum mendengarnya.


"Ya sudah mama tinggal dulu." mama Dewi turun ke lantai bawah terlihat Alvin juga sudah rapi bersama opa nya.


Saat menuruni tangga mama Dewi bertemu Vino yang akan menaiki tangga.


"Eh mau kemana kamu?" tanya mama Dewi.


"Mau ke kamar lah mah Vino kan harus bersiap." jawab Vino.


"Alasan! bilang aja mau lihat Pamela. Kamu tunggu dikamar tamu, nanti farhan yang akan membantu menyiapkan untuk mu." suruh mama Dewi.


"Iya deh mah." Vino kembali ke kamar tamu dan benar Farhan sudah menyiapkan nya.


Pukul 9 kerabat dan teman mereka sudah datang hingga begitu juga kerabat dari Pamela yang datang meskipun hanya beberapa orang.


"Ya ampun Mela, kamu cantik banget." ucap Desi menghampiri Pamela yang masih di kamar selesai di make up.


"Terima kasih ya Desi, kamu sudah datang."


"Iya dong disini aku menjadi bagian dari keluarga mu Mela, hahaha....." kata Desi.


"Iya deh terima kasih Desi ku....."


"Sama sama Mela sayang." mereka lalu saling memeluk.


Tiba-tiba Pamela menitikkan air mata.


"Aku jadi ingat mama dan papa, Desi." kata Mela di sela tangisnya kemudian melepas pelukan di antara mereka.


"Sudah dong jangan nangis, aku percaya mereka bahagia juga seperti kamu sekarang." hibur Desi membantu menghapus air mata Pamela dengan tisu karena akan merusak make up nya.


"Alvin dimana Mela?" tanya Desi karena belum melihat anak Mela.


"Dari pagi sama opa dan oma nya." jawab Mela.


"Hah, sudah langsung akrab aja tuh sama orang tua Vino. Memang darah lebih kental dari air." ucap Desi senang.


"Eh ngomong ngomong kamu datang sendirian, mana Bona?" Desi jadi gelagapan saat ditanya Pamela, pasalnya dia berangkat bersama Dika dan Andreas.


"Hmm itu.... datang sendiri." jawab Desi gugup.


Pamela memperhatikan wajah Desi yang terlihat gugup.


"Serius kamu datang ke sini sendirian? bukan nya kamu belum pernah ke sini sebelumnya. Hayo ngaku loh!" ujar Pamela tidak begitu percaya dengan Desi datang sendirian karena belum sekali pun datang ke rumah Vino.


"Ya kan jaman sudah canggih Mela, pakai goggle map dong." elak Desi.


"Okay, yang penting kamu dah datang menemani ku." ucap Pamela percaya.


"Fiuh..... hampir saja ketahuan pasti kena ledek sama Pamela." batin Desi karena Pamela tahu dulu Desi sangat membenci gang nya Vino saat sekolah dulu.


Begitulah cinta dan benci beda tipis ya gaess..... semakin benci semakin dekat๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

__ADS_1


__ADS_2