Malam Kelam Istimewa

Malam Kelam Istimewa
Acara Perpisahan Sekolah


__ADS_3

Diparkiran sekolah mendadak ramai karena hari ini sekolah mengadakan acara perpisahan untuk kelas XII. Banyak dari mereka membawa orang tua untuk menghadiri acara perpisahan mereka. Jesy dan kawan-kawan nya sudah datang lebih dulu disusul meisya. Acara perpisahan diadakan di aula diklat SMA Tunas Sakti.


"Ayo cepat buruan Bona...." ajak Desi setelah sampai di parkiran sekolah.


"Iya bawel ini juga lagi mau jalan." jawab Bona saat turun dari mobil.


"Bunda masuk duluan aja" kata Desi kepada Bunda nya lalu bundanya masuk ke aula diklat karena untuk kursi duduk wali murid terpisah sebelah kanan dan sebelah kiri untuk siswa alumni.


"Papah juga masuk duluan aja" kata Desi kemudian tuan Rudy melangkah masuk ke dalam aula yang sebelumnya mampir untuk mengisi buku tamu dulu karena setiap tamu atau wali murid harus menulis di buku tamu.


"Mana sih Mela?" tanya Desi.


Mereka masih menunggu diluar aula hanya ingin memastikan Pamela datang. Terlihat Andreas dan Dika datang dengan penampilan mereka benar-benar keren dan terlihat ganteng hingga membuat mata Bona melotot tak berkedip.


"Kalau memakai pakaian formal mereka tambah ganteng ya?" ujar Bona.


"Isshh mata lo itu bona! seperti mau jatuh." ucap Desi. Di acara ini untuk Alumni laki-laki di haruskan memakai jas formal dan untuk perempuan memakai dress yang sopan.


"Biarin kapan lagi lihat mereka, setelah ini kita kan nggak tahu." balas Bona.


Dari jauh jatmiko datang bersama laki-laki paruh baya mungkin dia adalah orang tuanya sedang berjalan menuju kedalam aula.


"Ya ampun bambang tampan ku...." kata Bona saat lihat jatmiko melewatinya dengan pakaian formal nya terlihat tambah ganteng.


"Mimpi lo...." ejek Desi.


"Biarin....." sahut Bona.


"Mana sih Pamela belum keliatan juga." tanya Desi


"Mungkin dalam perjalanan, ya udah masuk yuk kita tunggu didalam bentar lagi acara dimulai." ajak Bona karena acara akan dimulai.


Dan benar saja setelah Bona dan Desi masuk kedalam aula, acara dimulai kata sambutan demi sambutan pun terdengar menggema di dalam aula.


"Mah apa kita masih sempat nanti kita bisa ketinggalan pesawat?" tanya Pamela saat sampai di parkiran sekolah.


"Masih sayang, masih ada waktu empat jam lagi. Yuk kita masuk sepertinya acara sudah dimulai." ajak mama ratih. Pamela yang memakai dress bruklat putih terlihat cantik dan elegan tapi setelah selesai acara Pamela ganti baju tentunya karena akan melakukan penerbangan. Dan mereka pun melangkah menuju Aula.


Vino belum terlihat tanda tandanya membuat kedua temannya jadi kebingungan.


"Mana sih Vino lama amat belum sampai?" tanya Dika yang duduk bersebelahan dengan Andreas.


"Mungkin sedang otw....." jawab Andreas.


"Acara dah di mulai belum juga datang tuh bocah." gerutu Dika akhirnya duduk tenang.


Terdengar MC yang menyebutkan untuk siswa berprestasi diharapkan naik ke panggung, nama nama yang dipanggil maju satu persatu ke depan antara lain Jesy sebagai peringkat tiga besar, peringkat kedua Reno dan peringkat pertama Pamela Ridlhliani. Saat MC memanggil Pamela hingga beberapa menit belum juga naik ke panggung sementara jesy dan Reno sudah si sana.


"Selamat ya sayang, sudah cepat ke sana." mama Ratih mencium kening Pamela kemudian menyuruh nya untuk naik ke panggung. Suara tepuk tangan semua yang berada dia dalam aula terdengar riuh begitu pun kedua teman Pamela saat melihat nya berjalan menuju ke panggung karena tempat duduk Pamela paling pojok belakang bersama ibunya.


Dengan langkah hati hati, Pamela berjalan menuju panggung meskipun terlihat beberapa sorot mata yang tidak suka apalagi ada yang tahu kalau dirinya tengah hamil diluar nikah. Pamela tidak begitu menghiraukan dengan langkah percaya diri terus melangkah menuju panggung.

__ADS_1


Kepala sekolah menyerahkan masing masing dari ketiga peringkat tadi sebuah tropi dan Piagam namun saat giliran ke Pamela kepala sekolah kembali menyerahkan amplop putih.


"Selamat Pamela Ridhiliani atas prestasi mu dan kamu berhak mendapat beasiswa." ucap pak kepala sekolah dengan mengalami Pamela. "Selamat untuk kalian bertiga semoga sukses dan meraih cita-cita kalian." kata pak kepala sekolah sebelum turun dari panggung.


Setelah sesi pemberian penghargaan bagi peringkat sekolah kemudian dilanjutkan acara santai. Saat itulah mama Ratih dan Pamela keluar dari aula setelah meminta izin dari salah satu guru juga sebagai panitia penyelenggara acara perpisahan. Bona dan Desi pun turut keluar dari aula saat Pamela meminta nya untuk ikut keluar.


"Pamela kuuh.... selamat ya...." teriak Bona langsung memeluk Pamela.


"Selamat juga untuk kalian berdua." kata mama Ratih.


"Mel selamat ya...." kata Desi gantian memeluk Pamela.


Ada rasa kesedihan menyelimuti mereka bertiga terutama Bona dan Desi karena hari ini mereka akan berpisah dengan Pamela. Saat melihat kebersamaan putrinya bersama teman-teman nya karena mau berpisah tiba-tiba ponsel mama Ratih berdering.


"Sayang, mama terima telepon dulu kalian lanjutkan ngobrol nya." ujar mama Ratih lalu sedikit menjauh dari mereka kemudian mengangkat ponselnya yang berdering lagi.


Setelah saling berpelukkan mereka ngobrol selagi menunggu mama Ratih selesai menerima panggilan dari ponsel nya.


"Mel, elo nggak ada pamitan gitu sama yang lain?" tanya Desi.


"Seperti nya nggak perlu Des, tapi ada seseorang yang sudah gue buat kecewa." kata Pamela dengan ragu. Pamela merasa bingung harus bilang apa dengan jatmiko semenjak kemaren ke rumah nya itu tidak ada komunikasi lagi dengan nya. Bahkan Pamela tidak ingin bertemu dengan Vino yang datang tiba-tiba ingin bertanggung jawab dan menikahinya. Pamela pun tidak bercerita dengan keduanya temannya jika Vino mau bertanggung jawab.


"Siapa Mel?" tanya Bona penasaran tapi Desi sudah bisa menebak siapa cowok itu yang tak lain adalah jatmiko.


"Kalau hati elo tidak mau menemuinya berarti nggak usah kau temui tapi sebaliknya jika kau ingin menemui dia, jangan memberi harapan palsu pastinya akan lebih menyakitkan untuk nya." kata kata bijak Desi.


"Iya des, gue ngerti lebih baik gue tidak menemui nya pastinya akan menambah kecewa dia. "Dan pastinya gue akan merindukan kalian." Pamela kembali memeluk kedua temannya.


"Sedang apa mereka itu? Kenapa juga nih Vino belum datang juga, apa nggak jadi minta restu nyokap nya Pamela." gerutu Dika saat dari toilet dan dari jauh melihat Pamela bersama kedua temannya sedang ngobrol pakai pelukan. Dika pun langsung meraih ponselnya dan menghubungi Vino.


"Kamprett nggak diangkat pula." gerutu Dika kesal panggilan telepon nya tidak di angkat Vino bahkan sudah di coba berulang kali hingga akhir nya panggilan terakhir diangkat Vino.


"Halo Vin, elo dimana? kenapa nggak datang ke acara perpisahan sekolah sih. Katanya elo mau minta restu sama nyokap nya Pamela?" tanya dika panjang lebar saat sudah terhubung dengan Vino.


"Gue lagi di rumah sakit, papah gue tiba-tiba jatuh sakit." suara Vino jauh di seberang sana.


"Jadi elo nggak bisa hadir ke sini, terus gimana bokap elo sekarang?"


"Masih dalam perawatan belum sadar, gue nggak bisa ninggalin mama gue soalnya nangis terus lihat papah belom sadar. Tadi gue dah sampai parkiran terus mama telepon gue papah jatuh sakit, gue putar balik."


"Bagaimana bisa Om antoni jatuh sakit tak sadarkan diri?"


"Ini salah gue juga?" terdengar suara Vino lesu.


"Oke, semoga om Antoni cepat sembuh Vino."


''Thanks Dika."


Setelah Vino mengakhiri telepon panggilan nya, Dika kembali masuk kedalam aula lagi.


FLASHBACK ON

__ADS_1


Pukul 8 pagi Vino sudah bersiap untuk berangkat ke acara perpisahan sekolah.


"Anak mama ganteng banget hari ini" kata mama Dewi saat melihat anak nya menuruni tangga lantai dua.


"Pah, mah, hari ini bisa kan ke sekolah Vino?" tanya Vino karena berharap kedua orang tuanya bisa datang ke acara sekolah dan tentunya Vino ingin meminta restu ibunya Pamela dengan membawa kedua orang tuanya.


"Papah hari ini sibuk, jadi nggak bisa datang. Mama aja yang pergi." jelas tuan Antoni.


"Vino mohon, papah sama mama datang ke sekolah hari ini." kata Vino karena yakin papah nya sibuk.


"Nggak bisa Vino papah sibuk. Kan kalau salah satu hadir itu sudah cukup." ujar tuan Antoni.


"Iya vin, biar mama yang hadir ke sekolah. Papa memang lagi sibuk." kata mama Ratih.


"Pah kali ini Vino mohon." kata Vino


"Memangnya ada apa sampai memaksa papah dan mama harus ke sekolah." kata tuan Antoni.


"Vino ingin mengenalkan seseorang sekalian melamar nya." balas Vino.


"Sekolah aja baru lulus sudah mau nikah." ucap tuan Antoni kesal. "Bantu papah urus perusahaan dan sekolah yang benar, ada ada aja....'' tambah nya lagi.


"Vin, kenapa buru buru kali melamar cewek? mama setuju dengan kata papa tadi." mama dewi pun jadi penasaran dengan keputusan anak nya tiba-tiba.


"Karena.... Vino udah buat dia hamil pah, mah." jelas Vino ragu ragu.


"Apa.....begini ternyata kelakuan mu Vino?" kemarahan tuan Antoni memuncak saat mendengar anaknya sudah menghamili anak orang.


"Maaf pah, mah, Vino berangkat dulu." pamit Vino lalu pergi karena tidak mau berdebat dengan papah nya bahkan Vino sudah yakin kalau papah nya pasti akan marah.


Tuan Antoni terduduk lemas di sofa sambil melonggarkan dasinya, pikiran masih teringat kata Vino tadi.


"Pah, maaf kan Vino pah dan maafkan mama karena mama tidak bisa mendidik Vino dengan benar." kata mama Dewi di sela tangisnya.


"Papah pun juga mah tidak bisa mengawasi Vino bahkan papah menyuruh Vino kembali dari Aussie biar bisa mengawasi Vino." kata tuan Antoni.


Tiba-tiba keringat dingin bercucuran dan pandangan terasa gelap belum dadanya terasa sesak dan sakit lalu tuan Antoni jatuh pingsan tak sadar kan diri. Mama Dewi jadi panik melihat suaminya tak sadarkan diri langsung berteriak minta bantuan. Pak ujang dan bi Asri yang mendengar teriakan majikan nya langsung berlarian ke asal suara.


"Weeladala... kenapa dengan tuan, nyonya." bi Asri datang ikut panik.


"Nggak tahu bi tiba tiba papah nggak sadarkan diri." jawab mama Dewi dengan suara tangis nya.


"Nyonya biar saya bantu angkat tuan." kata mang ujang dan bi Asri juga ikut membantu nya sementara biar Asih sedang belanja ke pasar, untungnya pak ujang tidak ikut mengantar ke pasar karena sudah tahu nyonya majikan akan pergi ke sekolah anaknya, dan tuan majikan nya selalu Farhan yang antar jemput kebetulan farhan belum datang pagi ini.


Pak ujang mengangkat tuan Antoni yang di bantu bi Asri ke dalam mobil kemudian membawanya ke rumah sakit terdekat.


"Bi Asri tolong bilang ke Farhan kalau sudah datang langsung ke rumah sakit aja." pesan mama Dewi sebelum berangkat ke rumah sakit.


Mama Dewi pun langsung menghubungi Vino. Bahkan Vino bari sampai di parkiran


saat mendengar mama nya menelepon langsung putar balik belum sampai turun dari mobilnya.

__ADS_1


FLASHBACK OF


__ADS_2