Malam Kelam Istimewa

Malam Kelam Istimewa
Berperang Dengan Batin


__ADS_3

Beberapa saat kemudian saat Desi ingin masuk kedalam mobilnya, ada sebuah mobil menuju parkiran yang tak asing bagi nya. Desi pun keluar lagi dari mobil saat Dika membuka pintu mobilnya hendak keluar.


"Sorry tadi sempat kena macet." ucap Dika menghampiri Desi yang berdiri menyandar di samping mobil nya.


"Iya deh ku kira kamu nggak akan datang." jawab Desi.


"Ya udah masuk yuk, atau kita cari tempat lain?" tanya Dika.


"Tempat lain kemana?"


"Kemana gitu yang agak sepi kalau perlu ke hotel biar nggak ada yang ganggu." goda Dika.


"Nih....." Desi bernada ancaman dengan menunjukkan kepalan tangan ke udara.


"Hahaha.... bercanda sayang." Dika langsung menciut takut Desi marah.


"Nggak lucu, belum halal kelez...."


Dika berusaha menenangkan Desi agar tidak berlanjut marah nya. Dari dulu Desi memang tidak akur jika ketemu Dika namun saat Dika mulai ada rasa dan berusaha mengejar nya hingga beberapa bulan yang lalu mereka bisa jadian.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Dika.


"Aku minum aja tadi habis makan kalau kamu lapar, kamu aja yang pesan makan nya." jawab Dika membuat Dika mengerutkan alisnya.


"Aku pikir kamu ajak makan disini?" tanya Dika. "Ya udah kalau kamu nggak makan."


Kemudian Dika manggil seorang pelayan restoran. "Mau pesan dong, nasi goreng seafood dan Lemon tea nya 1, Oranye jus nya 1 buat cewek gue" tanpa bertanya Dika sudah hapal minuman kesukaan Desi, kemudian setelah mencatat pesanan Dika lalu waitress tadi meninggal kan tempat itu.


"Oh ya Beb. Menurut kamu, vino itu ada nggak perasaan sama Pamela." ujar Desi.


"Koq jadi ngomongin Vino sih?" tanya Dika nggak suka.


"Ya aku nggak suka sahabat aku sedih, setelah ketemu Vino."


"Maksud kamu, Pamela?" tanya Dika. "Kamu salah beb, sebenarnya Vino itu suka banget sama Pamela setelah kejadian waktu itu. Vino ingin menikahi pamela saat itu juga bukan karena merasa bertanggungjawab aja tapi karena Vino juga suka sama Pamela. Bahkan saat Pamela pergi waktu itu membuat Vino merasa bersalah dan disaat bersamaan papah nya Vino masuk ke rumah sakit. Dan setelah itu Vino mulai berubah meninggal kan kebiasaan buruk nya hingga sekarang tidak pernah ingin mencari pacar atau bermain cewek lagi." jelas Dika membuat Desi terkejut.


"Jadi Vino waktu itu ingin bertanggungjawab dan menikahi Pamela?" tanya Desi masih tak percaya.


Pamela Koq nggak cerita soal vino ingin menikahi nya. batin Desi


"Ya, mungkin sampai sekarang Vino masih menyimpan perasaan itu jika bertemu dengan Pamela."


"Jadi berpikiran jika Vino itu cowok brengsek ternyata ada nyali juga, tapi kenapa tak berusaha mencari Pamela gitu apalagi tahu dia hamil anaknya."


"Pasti ada tapi kenapa Pamela tidak menerima Vino waktu itu?" tanya Dika


"Mungkin Pamela ada alasannya tersendiri."


"Ya udah kita do'akan saja semoga Pamela menerima Vino suatu saat karena kasihan anak nya. Jadi Pamela belum menikah juga?"


"Maksud kamu!" Desi kesal.


"Maksud aku, Vino juga belum menikah sayang."


"Aku tahu apa yang harus kita lakukan." ujar Desi dengan senyum smirk nya membuat Dika mengernyit kan alisnya.


Dika pun paham maksud dari Desi tak mau berpikir panjang lagi dika memilih menikmati nasi goreng nya yang baru datang.


Saat ingin pulang, Dika mengantar Desi meskipun mobil Desi harus di tinggalkan di parkiran cafe itu. "Aku akan antar kamu pulang biar mobil nya di jemput sopir kamu." Desi hanya menurut apa yang dikatakan Dika.

__ADS_1


"Kamu nggak mampir dulu?" tanya Desi setelah sampai didepan rumah nya.


"Sorry beb, lain kali ya." jawab Dika.


"Iya deh, hati hati pulangnya."


Mobil Dika pun pergi meninggalkan rumah Desi dan tujuan nya saat ini adalah ke cafe Andreas.


______


Sepulang dari bertemu Desi, Pamela bingung rumah terlihat sepi bahkan Alvin dan oma tidak ada namun saat masuk ke kamar nya ternyata Alvin sudah tidur pulas kemudian Pamela memilih mandi. Selesai mandi Pamela menghampiri kamar mama Ratih terlihat mamanya sedang duduk di tepi ranjang dengan melihat bingkai foto papa nya.


"Mah..." mama Ratih kaget sama sambil mengusap air matanya saat tiba tiba Pamela memanggilnya.


"Mama nangis?" tanya Pamela lagi ikut duduk di tepi ranjang mamanya.


"Mama kangen sama papa, sayang." jelas mama ratih masih dengan suara khas orang menangis.


"Mah, papa sudah tenang dia alam sana jadi mama jangan bersedih terus." ujar Pamela mencoba menghibur mama nya.


"Iya sayang, mama nggak sedih lagi."


"Mah, mama tuh butuh liburan. Pamela mau jika mama ingin pergi liburan."


"Enggak Mela, mama baik baik saja, ada Alvin sudah buat mama bahagia tapi mama nggak mungkin menahan Alvin dan kamu harus selalu di samping mama."


"Maksud mama apa?"


"Kamu sudah sewajarnya memikirkan berumahtangga dan pendamping mela."


DEG


"Mela, sudah saat nya kamu memikirkan pendamping hidup nak karena mama tidak selamanya awet muda dan sehat karena kita tidak tahu apa yang terjadi pada kita nanti."


"Mah, maafkan Mela yang tidak bisa membuat bahagia mama dan papa."


"Mama bahagia Mela bersama kalian tapi kamu juga harus cari kebahagiaan mu juga." titah mama Ratih sebenarnya ingin sekali hatinya ingin menanyakan pada Pamela tentang pria yang menemui Alvin disekolah nya waktu itu.


Pamela terdiam dan pikiran nya teringat dengan pertemuan nya dengan Vino pagi tadi waktu di taman.


"Mah, Mela sayang sama mama dan Mela janji akan selalu membahagiakan mama. Mela juga akan membuka hati. Do'akan Mela ya mah yang terbaik buat Mela." Mela pun memeluk mama Ratih serta bingkai foto papa firman diantara mereka.


Di lain tempat ternyata usaha tuan antoni dan tuan Rudi yang ingin menjodohkan anak anaknya untuk saling mengenai lebih dekat.


"Vino, kamu antar Bona ya! kami para orang tua mau reuni dulu mengenang masa muda." titah tuan Antoni yang ditanggapi senyuman dari tuan Rudi.


Vino tak banyak bicara sesaat kemudian pergi meninggalkan tempat itu dan diikuti Bona.


"Ayo ku antar kamu pulang." Bona hanya menurut saja kemudian masuk kedalam mobil Vino.


Entah kenapa perasaan Vino tidak bersemangat meskipun disampingnya ada wanita cantik.


"Nggak nyangka ya? ternyata orang tua kita bersahabat." kata Bona lantas memecah kecanggungan.


"Iya..." jawab Vino jelas singkat dan padat.


Issh dingin kali cowok ini, perasaan masih seperti waktu sekolah dulu. batin Bona.


Sementara Vino masih fokus mengemudi tanpa ada percakapan hingga akhirnya menghentikan mobilnya di depan rumah mewah milik tuan Rudi.

__ADS_1


"Kamu sebaiknya cepat masuk sudah malam." kata Vino.


"Iya, Terima kasih sudah mengantarku pulang." Vino pun menganggukkan kepala dan kembali melajukan mobilnya.


Vino tak langsung pulang melainkan ke tempat Andreas dan berpikir pasti kedua temanya itu sudah ngumpul bareng.


"Vin, disini..." panggil Andreas saat melihat sahabat itu masuk kedalam cafe nya.


"Wuih.... ada angin apa tuh?" canda Dika.


"Iya, lama nggak ngumpul bareng." jawab Vino.


"Kayak elo nggak tahu aja pada sibuk sekarang." jelas Andreas dan menurutnya sekarang para sahabat nya pada sibuk bahkan Dika yang tiap minggu ada waktu ngumpul dengan nya sekarang jarang setelah meneruskan bisnis orang tua nya begitu juga dengan Vino.


"Malam ini aku yang traktir biar Andreas nggak bangkrut cafe nya." ujar Vino membuat Andreas kesal.


"Sialan kau....." gumam Andreas.


"Hahaha... calm down ndre, gue mau pesan minum yang paling mahal ditempat elo ini." Dika senang melihat Andreas kesal.


"Okay...." Andreas seraya memanggil karyawan barista nya untuk menyiapkan beberapa minuman terbaik untuk kedua sahabat nya ini.


Malam ini cukup ramai juga cafe milik Andreas sudah 7 tahun berdiri dan selalu ramai pengunjung karena salain cafe tapi juga ada bar nya yang berada di lantai tiga. Sementara barista menyiapkan minuman Dika mencoba berbicara dengan Vino membahas mengenai Pamela.


"Vin, bagaimana setelah ketemu Pamela kembali?" tanya Dika begitu juga Andreas terlihat serius mendengar nya.


"Hahaha...biasa saja." jawab Vino.


"Tapi enggak biasa kan kamu ketemu sama anak kamu?" tanya Dika lagi.


Vino terdiam dan pikiran nya teringat dengan senyum Alvin.


"Menurutku elo harus melakukan satu hal kali ini, elo harus dekati terus Pamela dan ambil hatinya." ujar Andreas.


"Bahkan ku dengar dia belum nikah dan jadi dokter spesialis lagi." jelas Dika.


"Serius kau Dika?" tanya Andreas.


"Yaps...." jawab Dika


"Wanita cantik seperti Pamela masa belum nikah juga. Nah kalau elo nggak bisa meluluhkan hatinya biar gue dekati dia, nggak papa deh gue jadi papa anakmu." canda Andreas yang mendapat tatapan tajam Vino.


Untung nya minuman yang maret pesan sudah siap jadi membuat Andreas lega tidak membuat Vino marah.


"Bahkan papah ingin menjodohkan aku dengan anak temannya dan malam ini kami saling ketemu ternyata temannya Pamela juga." jelas Vino membuat Dika kaget.


"Siapa?" tanya Dika penasaran.


"Namanya Bona." jawab Vino membuat Dika lega sambil mengelus dadanya.


"Santai man.....bukan cewek elo." Andreas menepuk bahu Dika.


"Aku nggak tahu alasan Pamela menolak ku waktu itu dan sekarang belum juga membuka hatinya untukku." kata Vino sambil meminum minuman yang mengandung alkohol itu.


"Terus menurut mu bagaimana dengan perjodohanmu itu? apa elo menyukai cewek itu? dan gue yakin Pamela pasti mau sama elo asalkan elo selalu memberi perhatian kepada nya begitu juga dengan anak nya." kata Dika.


Vino terdiam dengan apa yang dikatakan Dika yang menurut nya benar.


Karena Pamela lah yang membuat diriku merasa bersalah dan berubah. gumam Vino didalam hati.

__ADS_1


__ADS_2