Malam Kelam Istimewa

Malam Kelam Istimewa
Rasa Kesal, Benci Atau Senang


__ADS_3

Vino duduk termenung di kursi tunggu, ada rasa menyesal dan bersalah jika mengingat Pamela ditambah papah nya harus dirawat inap.


"Kenapa mas Vino? hari ini kelihatan kacau sekali." suara Farhan mengagetkan Vino yang sedang duduk seorang diri.


"Farhan, elo tahu gue disini? bagaimana keadaan papah, farhan?" tanya Vino balik.


"Syukur lah tuan tidak apa apa tadi baru dilakukan pemeriksaan darah dan CT scan, masih menunggu hasilnya." jelas Farhan.


"Terima kasih Farhan sudah ikut menemani papah, bahkan gue yang anaknya tidak bisa malah membuat masalah." kata Vino.


"Mungkin mas Vino sudah saatnya menjadi anak baik buat tuan Antoni." Farhan mencoba memancing Vino untuk bercerita mengenai masalah nya.


"Gue memang bukan anak yang baik Farhan bahkan gue sudah menghamili seorang cewek karena itulah papah jatuh sakit saat gue meminta untuk melamar cewek itu." Farhan berhasil membuat Vino mau berbagi masalah nya.


"Lalu.... " kata farhan


"Gue belum mengenal cewek itu kami melakukan nya karena kami di jebak dan sekarang dia sudah pergi meninggalkan jakarta. Bahkan cewek itu menolak saat gue mengatakan ingin bertanggung jawab." jelas Vino, membuat Farhan mengernyit kan alisnya.


"Pasti cewek itu cantik banget ya." Farhan mencoba menggali lebih dalam lagi dari masalah Vino karena merasa heran seorang Vino bisa lemah, berbeda saat di Australia waktu itu.


"Mungkin dia punya alasan kali, kalau memang jodoh pasti bakal ketemu lagi selama dia belum milik orang lain. Apa mas Vino tahu pergi kemana cewek itu?" tanya farhan tapi Vino hanya menggelengkan kepala.


"Jika memang gue bisa bertemu dengan nya tak akan gue lepas kan karena sudah membawa pergi anak aku." farhan yang mendengar nya hanya tersenyum.


"Dan mulai sekarang mas Vino bisa membuktikan nya menjadi pria yang bisa bertanggung jawab bukan sekedar di lisan saja." kata farhan dan Vino mengerti maksud dari Farhan, kemudian melangkah kakinya menuju kamar rawat inap tuan Antoni.


Ada keraguan di hati Vino saat sampai di depan pintu tempat papahnya dirawat.


"Ayo mas Vino, kita masuk." ajak farhan dengan ragu Vino ikut masuk kedalam.


"Bagaimana keadaan tuan sekarang?" tanya Farhan basa basi sambil melirik Vino yang berdiri disampingnya.


"Eh Farhan, alhamdulillah papah sudah membaik. Vino kamu disini?" kata mama Dewi, Vino pun memeluk mamanya dengan rasa menyesal sementara tuan Antoni yang melihat tingkah Vino hanya menaikkan alisnya karena merasa heran demikian juga dengan farhan memilih untuk keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Maaf kan Vino mah." kata Vino melepaskan pelukan nya. "Vino juga minta maaf sama papah." tambah nya.


"Apa yang terjadi dengan mu, Vino? mana gadis itu, kenapa enggak kamu ajak kemari." kata mama Dewi sedangkan tuan Antoni hanya terdiam. Vino terlihat lesu kemudian menyandarkan tubuh nya di sofa.


"Dia sudah pergi mah." jawab Vino pasrah.


"Maksudnya apa? dia pergi kemana?" tanya mama Ratih penasaran.


"Dia sudah pergi meninggalkan jakarta mah." jawab Vino lagi.


"Dan kamu tidak tahu dia pergi kemana?" Vino hanya menggelengkan kepala. "Sudah kamu tanyakan dengan teman dekat nya?" tanya mama Dewi lagi, Vino hanya diam saja.


"Jika berjodoh pasti akan bertemu lagi." jawab mama Dewi santai seperti kata farhan.


"Papah tahu alasan cewek itu pergi." suara tuan Antoni membuat Vino menoleh kearah nya. "Karena kamu masih sekolah, bagaimana bisa menghidupi anak orang." Ujar nya lagi.


Vino pun kaget dan berpikir, mungkin mulai saat ini dia akan merubah sifat egoisnya dan menuruti kemauan orang tuanya.


__________


"Mba Ratih apa kabar." sapa Rani sambil menyalami tangan mama Ratih yang notabene nya kakak kandung nya.


"Baik, Apa kabar rey." sapa mama ratih.


"Kabar nya baik mba." jawab Rey suami Rani warga negara indonesia juga.


"Hai Mela, tante kangen banget sama kamu." sapa Rani saat melihat Mela yang berbeda lebih cantik dan tinggi sebelum nya saat ketemu 3 tahun yang lalu ketika balik ke Indonesia.


"Iya tante, Mela juga kangen sama tante apa lagi lihat keynan yang imut ini." jawab Pamela, tangan nya terlulur mengusap lembut kepala dan pipi keponakan nya itu.


"Udah malam sebaiknya kita langsung pulang." ajak Rey.


Mereka pun membawa barang bawaan Pamela dan mama Ratih kedalam mobil sebelum mereka akhirnya pulang. Dua jam perjalanan menuju rumah tante Rani membuat Pamela tertidur pulas.

__ADS_1


Dan pagi hari Pamela merasakan suasana yang berbeda bahkan perut nya tidak terasa mual mual lagi saat sebelum nya di Indonesia hampir tiap pagi.


"Pagi om, tante, mama dimana?" sapa Pamela saat berada di ruang makan.


"Mama kamu lagi sama keynan tuh di belakang rumah, Mela mau sarapan apa?" kata Rani.


"Mela belum lapar tante paling minum susu dulu, biasa Mela pagi mual." jawab Mela tanpa harus cerita pasti mamanya sudah cerita duluan dengan tante Rani.


"Ya udah kamu istirahat dulu pasti masih capek." kata Rey.


Kebersamaan Pamela, mama Ratih dan keluarga kecil Rani seakan menjadi hal baru oleh Pamela semenjak kepergian papa firman dan masalah yang terjadi. Sudah seminggu mama Ratih menemani Pamela, mama Ratih harus kembali ke Indonesia mengingat cutinya karena beberapa bulan lagi akan kesini untuk menemani kelahiran Pamela.


"Sayang hari ini mama akan pulang ke Indonesia, kamu jangan sedih ingat tujuan kamu disini untuk belajar dan bentar lagi kamu akan melahirkan. Mama akan selalu mendukung mu apapun itu keputusan mu." kata mama Ratih sambil mengelus kepala Pamela yang menyandar di bahu nya. Saat ini mereka berada di satu ayunan yang ada di belakang rumah Rani.


Pamela terisak saat mama nya mengatakan akan kembali ke Indonesia, ia tahu mamanya akan sendirian di rumah.


"Mah, apa sebaiknya mamah ikut tinggal disini, biar Mela lebih tenang." kata Pamela.


..."Untuk saat ini mama belum bisa sayang karena mama belum bisa meninggal kan papah mu meskipun telah tiada karena banyak kenangan di rumah kita." jelas mama Ratih kemudian mencium kening Pamela. Hingga kedatangan adik ipar nya untuk mengingatkan keberangkatan pesawat mama Ratih sudah dekat. ...


"Mama hati-hati ya mah, jaga kesehatan mama." kata Pamela sebelum mama Ratih berangkat ke bandara.


"Iya sayang, jaga cucu mamah ya jangan lupa minum susu dan istirahat." pesan mama Ratih. "Ran, titip Pamela ya tolong awasi jangan sampai terjadi apa apa. Mba berangkat ya." pamit mama Ratih sambil memeluk adiknya.


"Sudah siap mba kita berangkat sekarang." ajak adik iparnya.


"Keynan...mama ratih pasti kangen sama kamu deh." mama Ratih menciumi anak Rani yang baru bangun.


Saat mobil Rey sudah terlihat menjauh hati Pamela seakan sedih harus berpisah dengan mama nya sebagai orang tua tunggal nya. Tapi inilah kenyataan nya yang harus dijalani saat ini, berpisah dengan orang tua, hidup mandiri dan sebentar lagi akan memiliki momongan. Rani sangat menyayangi Pamela bahkan mereka seperti kakak beradik padahal seharusnya seperti anak dan ibu karena usia Rani yang selisih 5 tahun dari Pamela.


Hari hari dilalui Pamela dengan rasa syukur dan bahagia dengan awal baru bahkan perut Pamela sudah terlihat membesar karena usia kandungnya menginjak 8 bulan. Untuk masalah pendidikan nya Pamela harus belajar secara virtual mengingat saat semester pertama di mulai saat Pamela hamil menginjak usia 6 bulan alasan tidak menunda kuliah dan menunggu kelahiran karena Pamela masuk universitas dengan beasiswa dan tidak ingin menunda-nunda mencari ilmu. Pamela tidak merasa repot atau terbebani dengan sekolah online atau virtual justru Pamela senang tidak membuat nya bermalas-malasan saat hamil tua.


Mengejar ilmu tidak memandang usia dan waktu yang penting ada niat tulus dalam hati, kata kata itu yang selalu jadi penyemangat Pamela.

__ADS_1


"Semoga mama kuat ya nak dan bisa meraih cita-cita mama kelak." suara Pamela lirih sambil mengelus perutnya yang tak lama lagi akan melahirkan.


__ADS_2