
Di ruang tamu sudah ramai kerabat dekat dan teman dari kedua keluarga, dan juga pak penghulu. Tuan Antoni tidak mengundang teman koleganya karena tidak mengadakan pesta hanya ijab kobul untuk pesta menunggu waktu yang tepat.
"Santai aja bro, rileks..... jangan tegang." ucap Andreas melihat Vino gugup.
"Iya vin, santai aja men...... ingat nanti malam." bisik Dika.
"Sialan kau...... awas aja nanti juga kamu akan ngalamin sendiri." kata Vino masih dengan gugup.
"Hihihihi ..........." Andreas dan Dika tertawa bersamaan
"Apa sudah bisa dimulai?" tanya pak penghulu datang. " Pengantin pria nya sudah siap?" tanya pak penghulu sekali lagi.
"I....iya Pak, saya sudah siap." kata Vino semakin grogi dihadapan pak penghulu.
Tiba-tiba Tuan Antoni datang mendekat pak penghulu yang sudah duduk di tempat yang sudah di siapkan.
"Maaf Pak untuk wali mempelai wanita tidak bisa hadir karena kondisi kesehatan. " jelas tuan Antoni.
Kemudian tuan Antoni menjelaskan jika orang tua Pamela sudah meninggal dan papa nya adalah anak tunggal dan paman dari keluarga firman tidak bisa datang karena sedang sakit, kebetulan tinggal di luar kota dan yang menghadiri sekarang kerabat dari mama Pamela.
"Oh baiklah saya mengerti, ya sudah kita bisa mulai acaranya." kata pak penghulu.
Farhan, Andreas dan Dika duduk diantara kerabat kedua keluarga pengantin termasuk Bona. Alvin yang sudah mulai akrab dengan orang tua Vino ikut duduk bersama mama Dewi.
Pak penghulu memulai acara ijab kobul nya dan menjadi wakil dari wali perempuan. Dengan lantang Vino mengucap lafaz ijab dengan sekali napas yang sebelumnya grogi dan gugup.
Beberapa saat terdengar kata.
"Sah...... sah......alhamdulillah." semua yang hadir mengucap syukur kemudian di lanjut kan doa dari pak penghulu.
Rasa haru menyelimuti keluarga, terutama mama Dewi karena anak nya sudah resmi menikahi wanita yang sudah lama di nanti kan. Doa selesai, pak penghulu meminta pengantin perempuan nya untuk dihadirkan bersama pengantin laki-laki.
Bona beranjak dari tempat duduk nya pergi ke kamar dimana Pamela berada.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Pamela dan Desi menoleh.
"Mela, selamat ya sudah sah jadi istri Vino. Kamu cantik banget Mel." ucap Bona sambil memeluk Pamela sesaat.
"Bona....." panggil Desi.
"Hai Desi, apa kabar?" sapa Bona lalu kedua nya cipika cipiki.
"Terima kasih ya Bona sudah datang dan kalian semua sudah menemani ku. Kalian memang sahabat ku." ujar Pamela.
"Eh Pamela disuruh turun, sudah ditunggu semua orang." kata Bona.
"Ya sudah kita berdua yang menjadi bridesmaid." seru Desi yang di angguki Bona.
Dengan langkah anggun Pamela menuruni tangga di ikuti kedua sahabat nya menuju tempat Vino berada. Banyak pasang mata yang takjub dengan kecantikan Pamela bahkan banyak yang memuji kecantikan nya begitu juga dengan Vino menatapnya hingga tak berkedip, Andreas dan Dika pun saling menyenggol dengan siku saat melihat Pamela.
"Benar benar cantik Pamela pantas Vino nggak mau melepas Pamela. Tapi memang mereka ditakdirkan berjodoh." ucap Andreas lirih disebelah Dika.
"Iya apalagi yang menemani nya juga cantik." dengan dagunya Dika menunjuk ke arah Desi.
"Huh dasar bucin, cepat nyusul Vino entar keburu di bungkus orang." ledek Andreas.
"Nasi padang kali dibungkus, nah elo masih jomblo aja dari dulu." jawab dika tak kalah meledek Andreas.
"Masih nunggu bidadari turun."
"Halah bilang aja kamu jones hahaha..... jomblo ngenes." Dika senang bisa menggoda Andreas.
__ADS_1
Sementara suasana menjadi haru saat Pamela sudah berada di dekat Vino dan melakukan sungkeman kepada kedua orang tua Vino. Hingga beberapa saat suasana sudah mencair menjadi kebahagiaan dan setelah itu acara makan bersama ada juga yang memberi ucapan selamat untuk kedua mempelai.
"Wah selamat ya bro sudah menjadi pasangan suami istri semoga langgeng." ucap Andreas.
"Thanks bro."
"Iya vin selamat ya semoga jadi keluarga bahagia."
"Mela selamat ya buat kalian berdua semoga segera memberi adik Alvin." ucap Desi.
"Thanks you." balas Pamela.
"Thanks ya semuanya. Oh iya Dik, kapan nyusul seperti nya Desi sudah siap tuh." kata Vino membuat Pamela mengernyit kan alisnya.
"Maksud kamu Dika dengan Desi." tanya Pamela ke Vino.
"Iya sayang mereka pacaran sudah lama. Dan kamu nggak tahu kan bahkan mereka yang membuat kita makin dekat." jelas Vino membuat wajah Desi merah merona.
"Mati gue pasti kena bully sama Pamela dan Bona." batin Desi.
"Kapan sayang kita menuju pelaminan seperti mereka." kata Dika sambil merangkul bahu Desi membuatnya semakin grogi sementara Bona hanya senyum sendiri melihat kedekatan Dika dan Desi.
"Ya ampun ternyata kalian berjodoh ya meskipun dulu bagai kucing dan tikus." goda Pamela.
Vino, Andreas dan Bona tertawa bersamaan.
"Ya sudah kalian makan sana, kasihan Desi muka nya merah merona." akhirnya Vino menyelamatkan Desi dari wajah malu nya.
"Selamat ya buat kalian berdua." ucap Bona.
"Terima kasih ya Bona." ucap Pamela begitu juga Vino.
Mereka pun menikmati makan yang sudah disiapkan tinggal Pamela dan Vino. Tiba-tiba farhan dan Mama Dewi menghampiri mereka dengan alvin yang terlihat cemberut.
"Selamat ya bos atas pernikahan nya." ucap farhan.
Tiba-tiba Alvin menghambur kepelukan Pamela.
"Mommy....." panggil Alvin.
"Mungkin kangen sama kamu Mela." kata mama Dewi.
"Oh anak mommy kangen ya?" ujar Pamela yang di angguki Alvin.
"Alvin sini ikut daddy." suruh Vino.
"Mommy benar om Vino jadi daddy nya Alvin?" ucap Alvin meminta penjelasan.
"Sayang, mulai sekarang Alvin panggil om Vino daddy karena om Vino akan selalu bersama kita." kata Pamela lembut.
"Serius mommy, om Vino eh daddy akan bersama kita berarti bisa menemani bermain Alvin." ucap Alvin kegirangan.
"Yes of course, Alvin." balas Pamela.
"Nanti daddy tidak pergi jauh lagi kan mommy." ucap Alvin polos, Pamela hanya menggeleng kepala.
Mama Dewi yang melihat sampai menitikkan air mata dan terharu, bagaimana Pamela mendidik Alvin menjadi anak yang baik dan penurut meskipun sendirian membesarkan Alvin.
"Sudah sayang, jangan ganggu mommy dan daddy." ajak mama Dewi saat Alvin yang sudah tidak cemberut lagi.
"Saya pamit pulang ya bos, jika ada yang dibutuhkan jangan lupa telepon saya.' bisik farhan mendekat ke Vino dengan senyum smirk nya sebelum pulang.
"Nggak akan karena besok kamu yang gantikan aku pimpin rapat, kemungkinan besok aku masih cuti." balasnya membuat farhan terdiam.
__ADS_1
"Sial." gumam farhan pelan kemudian pergi dan Vino tersenyum kemenangan.
"Terima kasih sayang." kata Vino.
"Untuk apa." jawab Pamela.
"Untuk semuanya." Vino merasa bahagia dan bersyukur memiliki Pamela.
Hari semakin sore satu persatu kerabat dari kedua keluarga pamit pulang begitu juga dengan Andreas, Dika dan Desi sudah pulang terlebih dulu karena mereka datang bersama kecuali Bona yang belum pulang karena datang sendirian.
"Tante dan om saya mau pamit pulang." kata Bona.
"Terima kasih Bona, tante senang kamu datang kemari." ujar mama Dewi.
"Papa dan mama nggak datang Bona?" tanya tuan Antoni karena tidak melihat keberadaan nya padahal juga di undang karena sahabatnya.
"Maaf om, orang tua Bona ada urusan jadi titip salam saja." ucap Bona.
"Oh baiklah, salam balik buat rudi dan Rani." tuan Antoni tahu jika rudi masih ada rasa kecewa terhadap nya.
'Iya Om."
Setelah berpamitan Bona pulang meninggal kan kediaman tuan Antoni.
Vino selesai ganti baju lalu menemani Alvin bermain di teras belakang rumah sementara Pamela masih membersihkan diri di dalam kamar. Setelah selesai ganti baju Pamela turun ke lantai bawah untuk melihat Alvin namun tidak menemukan nya ternyata Alvin tidur di temani Vino di kamar tahu.
"Kecapean main tadi jadi ngantuk Alvin. Makanya aku bawa tidur di sini." kata Vino.
"Ya sudah kamu makan gih, aku ambilkan makannya."
"Iya....." entah kenapa Vino jadi canggung setelah sah menjadi suami nya.
Vino meninggal kan Alvin tidur di kamar sendirian dan menuju ke ruang makan. Di sana Pamela sudah menyiapkan makan untuk nya nasi dan lauk di satu piring.
"Satu piring saja sayang, karena aku ingin makan sepiring berdua denganmu." ujar Vino menghentikan Pamela saat akan mengambil nasi di piring nya.
"Nggak kenyang nanti kamu." alasan Pamela karena malu.
"Justru aku tidak begitu terasa lapar setelah kebahagiaan yang kudapat hari ini dan seterusnya nanti." kata Vino serius.
Pamela heran dengan Vino yang tidak dingin atau cuek seperti waktu sekolah dulu bahkan terkesan hangat dengan keluarga mungkin berbeda jika di kantor atau saat bekerja.
Vino memulai makan nya dengan lahap kemudian Vino mengarahkan sendok yang berisi makan tadi ke mulut Pamela.
'Biar aku yang menyuapi kamu." hingga beberapa kali Vino menyuapi Pamela tanpa sadar mama Dewi memperhatikan dan muncul sifat jail mama Dewi.
"Amboi amboi.....dunia seakan milik mereka berdua mama tuh apalah ya cuma numpang." seru mama Dewi melintasi mereka.
"Uhuk uhuk........." Bersamaan Pamela tersedak makanan mendengar suara mama Dewi dengan cekatan Vino mengambilkan air putih untuk Pamela.
''Ishh.....mama mengagetkan saja." gerutu Vino namun Pamela sudah terlihat merah merona karena mama Dewi. "Kamu tidak papa sayang." kata Vino lirih malah membuat Pamela semakin malu.
"Hahaha.....tau tempat dong kalau mau romantis bikin iri orang saja, ya kan bi?" ujar mama Dewi saat bi asri dan bi Asih sedang bersih bersih di dapur namun mereka hanya tersenyum saja.
Untuk menghilangkan rasa malu nya Pamela hendak membantu bi asih dan bi Asri namun di cegah oleh mama Dewi.
"Mela sayang kamu istirahat saja biar bibi dan mama yang membereskan pekerjaan di dapur, tadi mama lihat Alvin sudah bangun dan sekarang ikut opa di teras belakang.
"Ba baik mah, Mela mau lihat Alvin kalau begitu." dengan gugup Pamela pergi meninggalkan dapur sementara Vino masih duduk di ruang makan.
"Vino juga mau istirahat mah." pamit nya karena Pamela sudah tidak ada di situ.
"Alasan......masih sore Vino." goda mama Dewi, entah kenapa menganggu Vino menjadi kesukaan nya.
__ADS_1
Vino memilih mandi di kamar atas sementara Pamela melihat Alvin yang asyik bermain dengan opa nya.
Betapa bersyukur nya Pamela mendapat keluarga baru dengan mertua yang baik mungkin ini takdir Tuhan setelah kepergian kedua orang tuanya yang sudah berpulang terlebih dahulu. Dan ganti nya diberi keluarga baru yang hangat tidak seperti yang dipikirkan Pamela waktu dulu, jika menerima Vino sejak dulu mungkin hanya dianggap semata-mata ingin di nikahi anak konglomerat.