
Mamah memberikan ku foto terbaru Jojo. Teman masa kecil ku yang selalu aku bantu karena selalu di bully oleh anak-anak SD di sekolahan kami.
Ku lihat foto Jojo baik-baik, senyuman tulusnya ketika sedang menggendong balita, sungguh manis seperti gula tropikanaslim, Manis tanpa diabetes.
"Sudah fotonya jangan di liatin terus, gak bakalan ilang kok, Kalau mau ketemu orang nya langsung gimana? mau kan?" ejek Nissa ke putrinya Alisha.
"Mamah nih, Apa-apaan sih! Ngeledek aku mulu, aku gak mau ketemu dia mah, Entar saja, belum waktunya mikirin nikah mah, Bang Arka sama Rayyan saja belum pada nikah, aku masih muda."
"Ia sayang, Mamah ngerti kamu berhak mendapatkan laki-laki yang kamu cintai, tapi tumben kok Abang kamu gak kesini ya, Biasanya dia pulang seminggu sekali, ini dari Minggu kemaren gak ada keliatan batang hidungnya sedikit pun."
"Ia juga Mah... Tapi Al mau nanya Mah, Itu bapak nya bang Arka masih ngajak ketemu sama bang Arka...?" Tanya Alisha.
"Mamah gak tau sih Nak... Semenjak Arka tau kalau dia bukan anaknya Papah Agam, Arka kecewa banget dulu, Mamah kalo ingat itu, merasa bersalah banget sama Abang kamu itu, untung saja Papah bisa ngejelasin masalah yang lalu kenapa Mamah sama bapaknya Arka cerai."
"Ia aku juga ingat, kasian juga bang Arka dulu, apalagi bang Arka taunya masih SD.. pas kelulusan, mana mau masuk SMP ya Mah, Semenjak itu bang Arka jadi pendiem banget."
"Ia sayang, tapi Papah terus berusaha buat bikin Abang kamu kembali ceria seperti dulu lagi, dan akhirnya keluarga kita balik lagi harmonis seperti nada-nada."
"Ikh Mamah, apaan sih gak jelas banget ucapannya "
"Ye... Biarin aja, ya sudah sini foto nya si Jojo, Kamu kan gak mau sama dia, Mamah mau balikin lagi ke papah."
"Ya sudah nih Mah," lirih Alisha lesu, padahal foto itu mau Alisha pajang di kamarnya menggunakan figura, lumayan buat obat mimpi buruknya Alisha.
"Assalamualaikum Mah.... Mah.... " Ucap dua lelaki yang memiliki ketampanan di atas rata- rata, dengan tubuh tinggi tegap, rambut hitam lembut dan bersinar seperti baru keluar dari salon, outfit yang tidak kaleng-kaleng, memiliki hidung mancung dan kulit putih, benar-benar definisi lelaki dengan ketampanan tanpa cela.
"Tuh mah, Upin-Ipin pada datang, Panjang umur mereka Mah."
"Ekh... Ada Princess, berarti kita pada kumpul nih... Kurang Papah aja," ucap Arka yang langsung memeluk Nissa dan Alisha.
"Siapa yang Princess bang? Ini anak Putri cengeng kali," ucap Rayyan mengejek Alisha, Rayyan dan Alisha jika bertemu memang selalu seperti itu, ribut seperti Tom and Jerry dan selalu rebutan abangnya yaitu Arka. Karena Arka adalah panutan mereka berdua setelah kedua orang tuanya.
"Rayyan jangan gitu akh, Princess kecil kita ini walaupun cengeng tapi jadi kesayangan keluarga kita bener kan.. ?" ujar Arka tersenyum.
"Ikh Abang mah... Aku sudah seneng di puji setinggi langit... Ekh akhirnya Abang sama saja kaya si tiang listrik itu... Ujung-ujungnya ngeledekin aku juga." Rengek Alisha.
__ADS_1
"Hahahaha... Princesses cengeng ... " Ejek Rayyan tambah membuat Alisha menjadi kesal.
"Rayyan sudah, gak usah ledekin Alisha lagi " ucap Nissa menengahi kejahilan Rayyan.
"Sudah sayang ya, Acuhkan Rayyan dan Abang Arka, anggap saja mereka itu radio butut yang gak harus di dengerin," ucap Nissa menenangkan Alisha.
"Kalian berdua radio butut.... Hahahaha..." Ledek Alisha.
"Wah ... Bang si Princess sudah berani ngeledekin kita... " Ucap Rayyan.
"Princess kita sudah gede Yan, jadi sudah gak boleh di ledekin lagi..." ujar Arka bijak.
"Kalian sudah pada makan belum?"
"Sudah Mah," kompak Arka dan Rayyan.
"Rayyan capek Mah, Mau tidur aja, kelas Rayyan lagi libur dua hari."
"Kok libur sih nak..?"
"Rayyyyaannnnnn awas ya kamu...heh!" Ucap Alisha yang lari mengejar kembarannya itu.
"Tuh anak dua... Gak ada aku-akurnya kalau ketemu, Kamu kenapa nak? ada masalah?" ujar Nissa melihat wajah Arka anaknya sedang murung.
"Gak apa apa mah... Arka baik-baik saja kok"
"Jangan bohong kamu sama Mamah nak! Mamah tau kamu... "
"Aku emang gak pernah bisa bohongin Mamah."
"Cerita ke Mamah nak, siapa tau Mamah bisa bantu."
"Bapak Mah... Dia nelponin Arka Mulu... Minta duit... sudah tau Arka belum kerja dan masih kuliah... Bukannya Arka gak mau kasih... Arka juga kan masih jadi beban keluarga..."
"Maksud kamu si codot itu suka minta duit sama kamu... Terus kamu kasih gitu...? Kenapa kamu gak bilang mamah si Nak...? Kamu itu emang anak dia... Tapi kamu gak punya kewajiban buat kasih nafkah bapak mu yang otaknya kurang se ons itu Arka..." Ujar Nissa kesal dengan pengakuan Arka.
__ADS_1
"Ia Mah Arka ngerti, Arka juga belom pernah kasih uang ke bapak kok, Uang Arka kan Mamah tau sendirilah masih dari orang tua, dari Mamah sama Papah, Cukup buat jajan sama kuliah doang, Mana ada Arka buat ngasih bapak... " Jelas Arka yang Memang selama ini Nissa dan Agam selalu membatasi pengeluaran ketiga anaknya, walaupun mereka bertiga terlahir dari keluarga Sultan yang hartanya tidak akan habis tujuh turunan. Tapi selama mereka belum bekerja, uang saku mereka di batasi hanya untuk kepentingan dan kebutuhan mereka saja.
"Ya sudah gak usah kamu tanggepin, Kamu blokir aja tuh Bapak kamu.... Ingat Arka. Bukan tanggung jawab kamu kasih nafkah ke Bapak kamu, karena apa? sedari kamu lahir sampai sekarang Bapak kamu itu gak ada tanggung jawab nya sedikit pun, enak aja dia. Dulu jadi benalu di hidup Mamah, sekarang mau jadi benalu juga di hidup anaknya.." kesal Nissa dengan kelakuan Herman yang tidak pernah kapok.
"Pokoknya walaupun kamu sudah kerja dan mimpin kebun sawitnya Mamah, jangan pernah kasih seper pun uang untuk bapak kamu. Tanpa sepengetahuan Mamah, pokoknya jangan mau di kibulin sama bapak kamu, Ngerti kan kamu Nak....!"
"Ia Mamah ... Arka ngerti ... Arka bakalan nurut semua yang Mamah mau."
"Cakep... nah gitu dong... Kalau ada apa-apa cerita ke Mamah atau ke Papah ya..."
"Ia mah, siap! "
"Ya sudah kamu istirahat gih... "
Arka pun pergi meninggalkan Nissa untuk beristirahat di kamarnya yang empuk dan nyaman, walaupun tempat kosannya juga nyaman, tapi lebih nyaman rumah yang selama ini dia tinggali.
&&&&&
"Mas.... Kamu sudah minta uang sama Arka?" ucap seorang wanita kepada Herman, wanita tersebut adalah istri Herman yang bernama Kokom seorang janda yang mempunya anak perempuan bernama Nita.
"Tapi kan Arka itu masih kuliah ti... Belum kerja... " Ujar Herman mulai kesal karena terus di rongrong uang oleh istri nya itu.
"Mas... Dia akan anak kamu, anak kandung kamu, Lagian dia itu jadi pewaris kebun sawit punya Mamahnya. Dan otomatis kamu juga bisa nikmatin hasil nya. Dari sawit itu uangnya banyak mas, Gimana sih! Masa kamu sebagai ayah nya gak bisa nikmatin uang anak kamu sendiri... Mas... Ingat ya, Nita juga pengen kuliah di tempat nya Arka. Dan kita butuh uang banyak buat masukin Nita ke sana, Kamu tau kan Nita otaknya pas-pasan jadi dia gak dapet beasiswa," ujar Kokom meracuni otak Herman dengan ajaran sesatnya.
"Sudahlah Kom, Kamu gak tau keluarga Arka itu kaya gimana... Aku gak mau ya, dikirim lagi ke Papua karena gangguan keluarga mereka... Lagian kita masih punya sawah, kamu olah sawah saja yang bener, kalau enggak suruh orang untuk mengolah sawah kita, entar hasil nya kita bagi 2. Lagian gaji aku juga cukup buat makan kita sehari-hari. Dan kamu bilangin tuh anak kamu yang manja itu, gak usah mimpi kuliah di tempat nya Arka.. kalau masih punya otak," sarkas Arman kesal... Karena kelakuan putri sambungnya yang menjadi sombong saat Kokom menikah dengannya, Herman sebenarnya juga menyesal memilih Kokom, jika tau sifat sebenarnya, yang baik di awalnya saja, Tetapi semakin hari sifatnya berubah menjadi iblis, selalu menuntut.
"Kok kamu bilang Nita gak punya otak sih mas... Denger ya mas... Bagus dong kalo Nita kuliah di tempatnya Arka yang banyak anak orang kaya nya. Kali aja dia bisa dapetin anak orang kaya juga mas nantinya."
"Ya sudah kalau begitu... Kamu aja yang biayain anak kamu, aku mah ogah."
"Mas.. kamu gimana sih? Itu kan tanggung jawab kamu!"
"Cukup Kokom, sekali lagi kamu bentak dan nuntut aku... Aku bakalan cerein kamu, Denger itu...!" Teriak Herman kesal terhadap Kokom, Herman pun langsung pergi meninggalkan Kokom yang diam di tempat, dan tak percaya Herman bisa membentaknya seperti tadi, padahal selama ini, Herman selalu lembut dan sayang padanya. Dan apapun yang di minta Kokom selalu di turuti oleh Herman.
"Ini gak bisa di biarin, Aku harus ketemu sama Arka di kampus nya, Kalau Nita gak bisa kuliah di sana, maka ku jual saja sawahnya, Warisan dari Bu Endang itu," Kokom mengepalkan tangannya erat, dia menghentakkan kaki nya kesal dan pergi ke belakang untuk mencari udara segar.
__ADS_1
"Sebenarnya gue juga lagi butuh duit... Dari dulu si Arka kalau di mintain duit gak pernah ngasih, ada aja alasannya, masa anak orang kaya gak punya tabungan, atau kalau enggak uang jajan gitu, Apa si Nissa yang nyuruh Arka buat gak ngasih duit ke aku, apa Arka cerita ke Mamah nya ya... Jangan sampai Nissa tau berabe nih kalo Agam tau, Bisa di kirim lagi gue ke Papua... Mana ibu udah gak ada ... Siapa lagi yang mau belain gue," ucap Herman kesal. Dengan dirinya sendiri memikirkan nasibnya, mempunyai istri matre, bahkan harta peninggalan dari sang ibu, Hanya bersisa sepetak sawah saja. Bu Endang memang memiliki tanah yang luas di kampung, tapi itu semua di bagikan ke tiga anaknya... Kaka Herman, Herman sendiri, dan juga si bungsu adik Herman, jatah laki-laki memangnya yang paling luas, bahkan Herman pun mempunyai tanah yang lumayan, tapi semenjak kematian Bu Endang karena sakit, sifat Kokom mulai berubah, Kokom mulai terlihat belangnya, sedikit demi sedikit tanah Herman yang luas itu di jual oleh Kokom dengan harga di bawah pasar, tapi Kokom tidak pernah bercerita dengan suaminya Herman, saat Herman tau tanahnya sudah di jual, Kokom hanya minta maaf dengan air mata buayanya, dan itu membuat Herman luluh kembali.