
POV Herman
Setahun lamanya aku di sangka orang gila, Padahal aku tidak gila, mungkin lebih ke depresi. DI RSJ ini aku belajar untuk mengontrol emosi ku untuk jauh lebih baik, aku sudah mengikhlaskan semuanya. Ada seorang perawat yang selalu membantuku, bahkan selama di RSJ ini, dialah yang merawat ku, karena aku sudah bisa mengontrol emosiku yang tadinya selalu meledak-ledak, kini menjadi lebih baik.
Aku pun membantu Suster cantik yang bernama Marlina untuk merawat pasien lain, awalnya aku hanya mengikuti Marlina mengunjungi pasien-pasiennya, yang harus di minumkan obat dan di beri makan, aku kagum dengan Marlina yang sangat sabar mengurusi orang gila yang ada di RSJ ini, karena dokter melihat perbuatan ku yang positif dan melihat kemajuan ku, akhirnya aku pun di rekrut untuk membantu Marlina dan bekerja di rumah sakit ini.
Hari berganti hari, tahun pun juga ikut berganti. Dua tahun lamanya aku bekerja di rumah sakit dan tinggal di rumah sakit. Setelah 1 tahun aku menjadi pasien di rumah sakit ini, ibu selalu datang kesini dan tanpa menyerah selalu membujukku untuk pulang, karena aku tak tega dengan ibu, apalagi ibu sudah tua, akhirnya aku pun pulang dan meninggalkan Marlina sendirian, aku sangat sedih karena tanpa aku sadari aku sudah terbiasa dengan kehadiran Marlina, tapi aku tak berani mengungkapkan perasaan ku, aku minder dan tidak percaya diri apalagi dengan keadaan ku sekarang, walaupun aku tau aku masih bisa di sembuhkan, aku harus berusaha menyembuhkan penyakit ku ini, siapa tau aja aku masih bisa punya anak, agar aku tak berlama-lama terus bersedih dan segera bisa bertemu dengan anakku Arka.
Enam bulan lamanya aku melakukan pengobatan dan Alhamdulillah aku sekarang dinyatakan sembuh, hanya saja karena penyakit ku ini tidak langsung di tangani saat itu juga, aku susah untuk mempunyai anak, ini adalah Kabar buruk dalam hidupku, aku merenungi nasibku, apakah ini balasan ku karena sudah sangat kejam kepada ketiga istriku, hingga aku tak bisa mempunyai anak.
"Gimana hasilnya man? Gimana? berapa lagi kamu harus melakukan pengobatan? semoga kamu cepet sembuh ya man!" ucap ibuku tersenyum tulus, ku lihat wajah ibu yang masih terlihat cantik walaupun sudah ada guratan halus di wajahnya, wajah ibuku sangat lambat menua, apa ini karena dia sering bertemu Arka, jadi ibu ku selalu bahagia karena cucunya, tapi apakah ibuku akan sedih saat tau aku sudah tidak bisa memberikan dia cucu lagi, batinku.
"Bu.... Aku..aku...." Ucapku tertahan di tenggorokan, aku memeluk ibuku dan menangis, katakanlah aku cengeng, aku yang sudah tua tapi masih seperti anak Mami, aku tak perduli.
"Sudahlah, Jangan menangis, sabarlah ini ujian buat kamu, anggap saja sebagai penggugur dosa kamu man di masa lalu," Ucap ibuku bijak, aku hanya bisa menganggukan kepalaku saja, ini memang karma untuk ku.
"Aku sudah sembuh sebenarnya Bu.... Hiks....hiks.....Tapi kata dokter mungkin aku akan susah untuk mempunyai anak. Zaman sekarang mana ada wanita yang mau sama suami mandul Bu," ujarku lirih, hati ku benar-benar hancur saat mendengar Vonis dokter tentang ku.
"Tenang aja, Kamu pasti menemukan kebahagiaan kamu man... Asalkan kamu taubat nasuha man, jangan taubat sambel dan Jangan buat ulah lagi apalagi ganggu mantan-mantan istri kamu itu."
"Ia bu... Aku akan taubat bu..... Aku akan menjadi manusia yang lebih baik lagi... " Ujarku masih menangis.
"Sudahlah jangan menangisi yang sudah terjadi. Mending sekarang kamu kerja saja yang bener, carilah kerjaan yang deket-deket sini aja jangan di sana, kejauhan dari rumah."
"Ia Bu... Aku sudah dapat kerjaan di rumah sakit Bu.... Deket rumah disini kok Bu... Yah walaupun jadi supir mobil ambulans, yang penting halal."
"Gak apa-apa man... Apapun itu yang penting halal ya man... "
"Ia Bu tenang aja... Tapi Bu sebenarnya ada yang ingin Herman ucapkan,"
"Ya sudah kamu bilang aja, kamu butuh apa?"
"Enggak Bu .... Bukan itu, Herman gak lagi butuh apa-apa, sebenarnya Herman ada suka sama seseorang Bu... Hanya saja Herman malu buat ngungkapinnya."
"Kalau kamu gak bilang sama cewek itu, kamu gak bakalan tau perasaan dia ke kamu bagaimana man... Soal dia terima atau enggaknya itu urusan nanti, yang penting ngomong dulu, biar gak nyesel nantinya!"
"Ia.. ibu bener... Ya sudah Bu besok aku akan menemui dia Bu..." Ucap Herman semangat 45.
Keesokan hari nya, pagi-pagi Herman sudah mandi dan memakai minyak wangi sebotol, memangkas rambutnya di necis barber, setelah itu memakai kemeja kantor dan celana bahan, sepatu mengkilap." Ok .... Ganteng lah sudah, waktunya ketemu gebetan," ucap Herman melihat penampilan nya di kaca besar.
Herman pun turun ke ruang makan untuk sarapan, Herman pun langsung duduk bergabung bersama ibunya di meja makan.
"Astaghfirullah bau apa ini nyengat banget sih," ucap ibu Herman sambil menghalau hidungnya dengan kibasan tangan, muka ibuku begitu tidak enak di pandang bahkan seperti akan muntah.
"Ibu... Ini tuh minyak wangi mahal, wanginya semerbak Bu...." Ucap Herman percaya diri, padahal mah bikin pusing orang sekitar, Herman langsung mengambil nasi goreng dan di taruh ke piring, mengambil suapan pertama.
__ADS_1
"Kamu man...! ngira-ngira apa kalau pake minyak wangi! Jangan sebotol juga kali kamu habisin, cewek yang kamu temui nantinya bukannya seneng sama kamu, yang ada muntah duluan nyium bau minyak wangi nyongnyong kamu man," ejek ibu Endang, sambil memperhatikan penampilan Herman dari atas ke bawah.
"Itu baju rapih bener, wih rambutnya klimis punya, licin banget tuh rambut, kalau ada lalat pasti kepleset man, kamu dandan berapa jam man?" ledek ibu Endang senyum-senyum melihat penampilan anaknya yang sangat rapih dan tampan.
"Ledek aja terus Bu..... Bukannya doain biar lamaran anaknya di terima, ini mah di ledekin Bae, bikin Herman agak down," kesal ku dengan mencebikan mulutku, ibu Endang kalau soal ngeledekin anaknya emang no 1.
"Aku pergi dulu ya Bu... Doain calon mantu ibu jadi mantu beneran dan mau terima Herman apa adanya."
"Ia ibu doain yang terbaik buat anak ibu."
"Oh ia Bu, kapan ibu mau ketemu Arka?" tanyaku kepada ibu, jujur sebenarnya aku ingin sekali bertemu dengan anakku yang sekarang mungkin sudah besar, sudah tiga tahun lamanya, mungkin Arka sekarang lagi lucu-lucunya, seandainya Arka bisa tinggal denganku! tapi biarlah, hidup Arka bisa lebih terjamin jika bersama Nissa dan Agam, batinku.
"Nanti hari minggu, Nissa ngadain syukuran anak kembarnya yang baru lahir kemarin, anaknya lucu-lucu banget man, Kembar perempuan dan lelaki," ucap ibuku menceritakan tentang anaknya Nissa dan Agam begitu gembira, bisa ku lihat rinai kebahagiaan di wajah ibu, keluarga Nissa memang masih memperlakukan ibuku dengan baik, ibu bisa kapan saja bertemu dengan Arka, bahkan bermain dengan Arka, berbeda denganku, hal tersebut tidak bisa di lakukan oleh ku sebagai ayah kandungnya Arka, terkadang aku begitu membenci Nissa, tapi aku sadar ini memang semua salahku, karena obsesi ku ingin kaya secara instan, aku malah kehilangan anakku.
"Kalau aku ikut, boleh gak ya mah... Aku ingin ketemu Arka, aku kangen banget pengen lihat wajahnya dan tumbuh kembangnya, pasti dia lucu dan tampan sekali ya Bu?" lirihku sedih. Aku jadi berhenti duduk di kursi depan, hatiku selalu melow jika menyangkut tentang anakku Arka.
"Ya sudah nanti, ibu minta izin sama Nissa dan Agam, agar kamu bisa ikut, berdo'a saja kamu supaya di izinin sama mereka buat ketemu anak kamu man."
"Amin Bu.... Mukanya kaya gimana ya Bu...? Pasti Arka ganteng banget kaya Herman," ucap Herman menatap ke jendela, membayangkan Arka ada di gendongannya bersama Marlina.
"Waktu lahir sih wajahnya kaya kamu mirip, tapi sekarang sudah tiga tahun, wajahnya itu campuran kalian berdua, bahkan Arka itu lebih tampan di bandingkan kamu man. Arka sangat disayang oleh keluarga besar Agam dan Nissa, bahkan orang tuanya Agam sangat memanjakan Arka," ucap ibuku, tapi kenapa ibu sepertinya sedih mengucapkan itu.
"Kok ibu sedih?" Tanya ku.
"Ibu gak sedih, ibu juga sering banget ajak Arka main sama ibu, hanya saja coba kamu dulu gak selingkuh man, Pasti kalian lagi bahagia sekarang, bisa nambah anak lagi, tapi ya sudahlah melihat kamu bahagia bersama gebetan kamu itu, ibu sudah bahagia. Oh ia, kamu kapan jalannya ini ketemu Marlina keburu siang man."
"Kamu sudah telepon Marlina, kalau kamu mau ajak dia jalan?"
"Belum sih bu."
"Ajak lah lewat telepon dulu, entar dia gak masuk gimana?
"Ya sudah Bu.... Herman telepon dulu ya," ucapku ku yang langsung mengambil HP dan mencari No kontak Marlina, sambungan pertama Alhamdulillah langsung diangkat, aku pun semangat untuk menghubungi pujaan hatiku.
"Ya Allah.... Untung belum jalan Bu...." Galau lagi hatiku, rencana untuk melepas rindu malah gak bisa.
"Lah emangnya kenapa? si Lina nya gak kerja..." tanya ibu Endang penasaran.
"Ia ... Dia cuti seminggu pulang kampung Bu, Ya sudahlah aku ganti baju lagi, males pake baju kaya gini gerah," ujarku lemas, karena persiapan dari habis shubuh sia-sia.
"HAHAHAHHAHA ya Allah Herman kasian banget, minyak wangi abis sebotol sia-sia," ucap ibuku terus tertawa, terbahak-bahak, aku mencebikan mulutku kesal melihat ibuku yang bahagia di atas penderitaan ku ini.
"Terus aja ketawa Bu, Seneng banget lihat anaknya sedih kaya gini!" ujarku kesal langsung saja aku meninggalkan ibu ku yang masih saja tertawa.
Hari Minggu pun tiba...
__ADS_1
Inilah hari yang ku tunggu-tunggu, setelah tiga tahun lamanya aku bisa melihat anakku, Arka hasil buah cintaku bersama Nissa, pasti sekarang Arka sudah bisa berjalan dan bicara, dan makin lucu.
"Bu ayokkk Bu..........! Lama banget dandannya....! entar acaranya keburu abis...!" teriakku kesal, karena ibu pake dandannya lama kaya mau acara kondangan pejabat aja.
"Sebentar, ibu harus tampil Ok dong, karena kan keluarga besar Nissa dan Agam akan kumpul bersama, kapan lagi bisa ngobrol dan tau dengan keluarga terkaya di negeri ini." Ucap ibu, membuatku semakin sebal, karena secara gak langsung ibu membanggakan si Agam itu yang kaya raya dan lebih segala-galanya dari ku.
"Kenapa muka kamu merengut kaya gitu?"
"Aku heran yang jadi anak ibu itu aku apa Nissa sih Bu? kayanya seneng banget sama si Agam-Agam itu, padahal aku sama dia jauh cakepan aku kemana-mana."
"Alah... Agam juga cakep, paket lengkap lagi, dan yang lebih penting dia itu setia, walau ya agak nyeremin juga, tapi sama lah sama Nissa."
"Ya sudah Ayuk jalan bu... Malas aku ngomongin si Agam-Agam itu," ucapku yang langsung masuk ke mobil kepunyaan ibu, ternyata selama aku tinggal di rumah sakit, ibu bisa membeli mobil dari hasil kebunnya di kampung, ibuku memang hebat.
Aku dan ibu ku pun akhirnya sampai di kediaman Nissa, yang masih saja mewah dan elegan, saat aku masuk ke dalam pekarangan rumah Agam, bisa ku lihat banyak sekali barisan mobil-mobil mewah di atas 1 m, membuatku bergidik dan minder, Nissa benar-benar jauh di atas ku sekarang.
Pas masuk ke rumah dan ruang tengah, ku lihat sekeliling furniture masih mewah dan selalu membuat ku takjub akan isi dari rumah ini, di tangga rumah, ku lihat ada mantan ibu dan ayah mertua ku bersama orang tuanya Agam.
"Siang Mah," ucapku lembut ke mantan mertuaku. Tapi ku lihat mukanya langsung masam saat melihatku, ya tuhan tuh muka serem amat, kaya mau gigit aja, ucapku dalam hati.
"Ngapain kamu kesini?" ucap Mamah Arum ketus.
"Aku .... Aku..." Ucapku terbata.
"Assalamualaikum semuanya," ucap Mamahku, yang sedang cipika-cipiki dengan mantan ibu mertuaku dan ibunya Agam.
"Syukurlah aku terselamatkan oleh ibu," Ucapku dalam hati.
"Bu Endang kenapa membawa si Herman kesini, entar dia bikin aneh-aneh lagi," ucap mamah Arum menyentil ku.
"Gak apa-apa Bu Arum, Herman pengen ngelihat doang kok wajahnya Arka, sudah tiga tahun juga dia gak lihat, aku juga sudah izin sama Nissa dan Agam, Boleh kan ya... gam? " Ucap ibuku, keren sekali ibu mencari alasan.
"Ia Mah... Kemarin Bu Endang sudah bicara sama Nissa, dan Nissa juga sudah minta izin ke aku mah, Ya sudah Bu Endang mari saya antar ke Arka, di kamarnya kebetulan Arka nya sedang tidur," ucap Agam, serem kali lihat matanya si Agam ini, tadi melihatku hampir mau keluar tuh mata, giliran ke mertua sama ibuku manis banget.
"Tapi saya minta syarat sama ibu dan juga Herman, agar Herman man tidak bicara dengan Arka kalo Herman adalah ayahnya, karena Arka masih kecil, biarlah ketika dia dewasa nanti akan kami ceritakan." Ucap Agam membuatku kesal, tapi memang itulah yang terbaik buat Arka, dia masih kecil, takutnya kena psikis nya.
"Baik... Saya kesini hanya ingin melihat Arka... Bagaimana rupanya," Agam tidak menjawab perkataan ku, dan kami pun masih berjalan ke ruangannya Arka, saat aku sudah sampai ke kamarnya Arka, aku takjub, melihat dekorasi kamar Arka yang begitu mainly dan mewah, Nissa dan Agam benar-benar memanjakan anakku.
"Bu ini Arka?"
"Ia man, dia Arka, ganteng kan!"
"Ia Bu.... Boleh aku gendong"
"Lebih baik nanti, pas Arka sudah bangun"
__ADS_1
Aku duduk di samping anakku yang sedang tertidur, dia sangat tampan, dan tak terasa air mataku pun jatuh.
"Arka sayang... Ini Ayah Nak...!" Ucapku yang hanya bisa ku katakan dalam hatiku.