MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
BAB 64 LAMARAN DADAKAN


__ADS_3

POV Nissa


Satu bulan telah berlalu, hari ini adalah hari selametnya anakku, atau bisa di bilang cukur rambut untuk pertama kalinya, rumah mamah sangat penuh dengan para undangan dan anak-anak panti, yang sengaja di undang mamah untuk mengikuti acara ini.


" Assalamu'alaikum.... " Ucap ibu mertuaku, aku menoleh melihat ibu sudah datang, aku masih menganggap ibu nya Herman sebagai ibu mertuaku, walaupun aku sudah berpisah dengan Herman, karena ibu sebelumnya sangat baik, dan menyayangi ku seperti anaknya sendiri.


" Waalaikum salam Bu.... Masuk dulu Bu " ujarku mengantarkan ibu untuk masuk dan menemui mamah, dan ternyata ibu menempati janjinya untuk tidak memberitahu Herman, kalo aku sudah melahirkan.


" Bu Endang..... Apa Kabar nih.... Gak nyasar kan, nyariin rumah saya di Lembang," ucap mamahku rame, aku sudah tidak heran dengan sikap mamah.


" Lumayan Bu Arum, aku kan gak pernah kemana-kemana, untungnya supir yang aku sewa pinter hehehehe "


" Ya udah mari Bu Endang, cucu kita ada di kamar Nissa, hayu akh saya anterin ngeliat cucu tampan kita," ucap mamah yang langsung mengantar kan Bu Endang ke kamarku, aku hanya menggeleng kepalaku saja.... Mamah ini kalo udah ketemu BESTie pasti kaya gitu, batinku. Aku pun melanjutkan mempersiapkan acara yang sebentar lagi akan di mulai, dan Agam pun sudah datang bersama Tante Lisa.


" Assalamu'alaikum sayang.... Rame juga ya acaranya..... Cucu Oma mana nih, ikh kangen terus tau Nis... Tiap hari bawaannya pengen ketemu mulu, gemes masalahnya," ujar Tante Lisa, yang sudah menganggap anakku sebagai cucunya saat pertemuan pertama di rumah sakit, waktu aku melahirkan.


" Ada Tante di kamar Nissa, Tante ke kamar aja langsung ya Tan, ada mamah sama ibu di kamar, " ujarku.


" Oh.... Mantan mertua kamu kesini Nis, tapi gak barengan sama anaknya kan "


" Enggak Tan, ibu cuman bareng sama susternya, tuh lagi makan di prasmanan " ujarku sambil menunjuk suster ibu yang sedang makan, dan ngobrol, aku mengernyitkan dahiku, melihat suster ibu, sangat akrab dengan pak Dadang.


" Ya udah Tante masuk dulu ya... Liat si gembul " ujar Tante yang langsung kabur ke kamarku, aku hanya menggeleng kan kepalaku saja, dan berpindah haluan menatap mas Agam, ada apa dengan tampang nya itu, menyebalkan sekali, senyum-senyum sendiri, Batinku.


" Hay kuntet.... Mahmud yang ini makin hari makin cantik aja nih," ucap mas Agam gombal sambil menaik turun kan alisnya, sampai aku geli di buatnya, aku hanya merinding disko, dan langsung kabur dari hadapan mas Agam tanpa menjawab pertanyaannya tadi dan  meninggalkan nya sendirian disitu.


" Yah si kuntet.... Kenapa malah di tinggal pergi sih..." Ucap mas Agam, yang masih bisa ku dengar teriakannya, dan tidak aku pedulikan. Tapi bisa ku lihat  mas Agam mengikuti ku dari belakang.


" Nis.... Nanti aku yang gendong Arka ya.... Pas di puterin mau potong rambut" ucap mas Agam, membuatku bingung kenapa dia mau melakukan itu, mas Agam kan bukan bapaknya Arka.

__ADS_1


" Kenapa mas mau melakukan itu " tanyaku.


" Pengen aja " jawab mas Agam singkat yang membuatku bertambah bingung akan sikapnya padaku, yang terlihat begitu baik dan perhatian, apalagi selama ini, mas Agam ikut membantuku mengurus arka, seperti ayah dan anak, tapi aku sama sekali tidak tau isi hatinya seperti apa.


" Oh yaudah atuh, tar bilang aja sama papah "


" Ya udah aku pergi dulu ke kamar kamu boleh kan, liatin si gembul "


" Ia mas... Masuk aja " ucapku dan mas Agam pun langsung saja pergi meninggalkan ku.


" Ya Allah kenapa mas Agam harus bersikap seperti ini, aku takut terbawa perasaan, sedangkan aku gak tau isi hatinya mas Agam seperti apa, apalagi kalo sampai nanti mas Agam menikah dengan orang lain " monolog ku kepada diri sendiri. Aku hanya bisa menghela nafas sebentar, dan lanjut dengan kegiatan ku. Acara pun di mulai, pak ustad yang memimpin acara nya memulai dengan lantunan doa, setelah semuanya berdoa, para tamu undangan berdiri, dan giliran mas Agam yang menggendong Arka, di ikuti oleh ku di belakang nya, mas Agam mengitari tamu yang ingin memotong rambut Arka sedikit demi sedikit, dan para tamu pun sambil mengucapkan sholawat nabi bersama sama. Setelah selesai dengan pemotongan rambut Arka, acara pun berpindah ke bagian prasmanan untuk makan makan, dan ada pembagian makanan serta amplop untuk anak yatim.


Aku melihat Arka sangat anteng, tidak menangis atau terganggu, Arka masih saja anteng tidur di gendongan mas Agam, seolah sangat nyaman di pelukan ayahnya, hatiku terenyuh melihatnya, karena anak sekecil itu pun pasti membutuhkan sosok seorang ayah, aku pasti kuat menghadapi semua ini, aku pasti bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuk anakku Arka. Pikirku.


Aku masih melihat Arka, yang masih nyaman di dekapan mas Agam, tapi tiba-tiba saja Arka menangis.


" Nis Arka nangis.... Sepertinya si ganteng lapar ... " Ucap mas Agam, menyerahkan Arka kepadaku, aku pun langsung menggendong Arka, dan membawanya ke kamar untuk di berikan asi. Saat sudah kenyang Arka pun tertidur, dan aku meminta mbok Jum untuk menjaga nya sebentar, aku sengaja tidak memakai jasa baby sitter, karena ingin mengurus Arka benar-benar, dan mamah ku pun bisa membantu kapan saja.


" Assalamu'alaikum.... Selamat siang semuanya.... Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan dan kerabat yang sudah bersedia hadir di acara selametan dan cukur rambut pertama cucu saya, tapi.... Selain acara cucu saya ini, hari ini saya juga ingin mengumumkan acara yang tak kalah pentingnya, dan pas sekali momennya, karena banyak saudara juga yang hadir, nah acara itu adalah acara lamaran untuk anak saya Nissa," ucap papah yang langsung membuat ku kaget.


" Kemari nak " ucap papah melihatku, aku yang masih ngeleg dan masih tak mengerti dengan keadaan hanya bisa menunjukan diriku dengan telunjukku sendiri .


" Ia kamu... Nis... Siapa lagi " ucap papah lagi memanggil ku. Aku pun menghampiri papah dan berdiri di samping papah, dengan pikiran masih bingung, siapa yang akan melamar ku, mukaku pasti merah seperti kepiting rebus sekarang, aku jadi gugup karena jadi pusat perhatian banyak para tamu dan saudara ku.


Mataku semakin bingung saat tiba-tiba mas Agam berdiri di samping ayah juga , tapi malahan ayah yang berpindah tempat di sebelah Agam, jadinya mas Agam berdiri di depanku. Aku malah semakin kaget ketika mas Agam tiba-tiba membuka kotak yang berisikan cincin berlian putih di tengahnya.


" Bismillahirrahmanirrahim...... Nis... Mungkin ini terkesan tiba-tiba... Dan juga dadakan, tapi sebenarnya aku udah ngerencanain ini dari lama, aku juga udah bicara dengan kedua orang tuaku, dan orang tuamu.... Mungkin kamu juga kaget atas tindakan yang kulakukan ini, dan tidak memberitahu kamu sebelum nya.... Tapi aku benar-benar tulus dan cinta sama kamu Nis, bahkan kalo kamu bukan si rusuh teman masa kecil ku pun aku gak peduli, kamu tetap Nissa yang aku cintai saat aku pertama kali melihatmu di kantor pak Boy dulu......... jadi Nis di hadapan semua orang disini aku ingin melamar mu menjadi istriku, pendamping hidup hingga tua nanti, aku tidak bisa berjanji sama kamu, tapi aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan kamu dan calon anak ku Arka. " Ujar mas Agam panjang lebar, benar-benar ini membuatku syok ..... Aku tidak tahu harus mengatakan apa, atau menjawab apa, aku melihat kedua orang tuaku hanya tersenyum dan kembali melihat kedua orang tua mas Agam, yang juga tersenyum.


" Aku.... Aku ... " Ucapku gugup.

__ADS_1


" TERIMA AJJAAAA NISSS ..... AKHHHH SO SWEET BANGET SIH " teriak Anisa.


" IA TERIMA AJA NISS MAS GANTENG NYA.... " teriak Sera.


" Aku..... Aku..... Tapi mas... Sebelumnya apa kamu akan menerima aku apa adanya, seperti yang kamu lihat sendiri aku hanya seorang Janda dan mempunyai satu anak.... " Ucapku dengan gugup.


" Tidak masalah.... Selama itu kamu, dan untuk Arka, kamu tak usah khawatir, bahkan aku sudah sangat menyayangi nya di pertemuan pertama kami, kamu tidak ingat aku yang mengadzani Arka, " ucap mas Agam dengan senyuman yang masih menghiasi wajah tampan nya.


Aku tersenyum mengingat momen itu....


" Bismillahirrahmanirrahim.... Ia mas aku menerima lamaran kamu mas.... " Ucapku .


" Alhamdulillah.... Aku pasangkan cincinnya ya " ucap mas Agam, dan aku menganggukan kepalaku.


" ALHAMDULILLAH " serempak semua sodara dan teman temanku . Mereka semua pun tertawa, aku melihat wajah mereka satu persatu penuh dengan kebahagiaan, aku juga melihat wajah kedua orang tuaku dan wajah mas Agam yang juga melihatku, aku tersenyum.


Alhamdulillah ya Allah, dari begitu banyak kepedihan yang dulu ku lalui, sekarang Allah memberikan ku kebahagiaan yang tiada terkira, dan aku bersyukur akan hal itu, batinku berbicara dalam hati.


Acara selametan dan lamaran dadakan pun selesai, dan sudah di putuskan acara pernikahan akan di laksanakan 3 bulan dari sekarang. Semua persiapan pernikahan di lakukan oleh mamahku, dan Tante Lisa, aku dan mas Agam tidak melakukan apapun, kecuali pemilihan tema resepsi dan pada saat fitting baju akad, dan gaun resepsi saja. Pernikahan aku dan mas Agam akan di lakukan di Bandung.


Tak terasa waktu 3 bulan pun cepat berlalu.


Dan besok adalah hari pernikahan ku dengan mas Agam, jujur aku sangat gugup, bahkan lebih gugup di bandingkan pernikahan ku dengan mas Herman dulu, seminggu ini aku tidak bertemu dengan mas Agam, bahkan Video call pun tidak kami lakukan. Hanya saling membalas chat yang berisikan kerinduan satu sama lain, Arka juga semakin lincah dan gembul, wajahnya semakin mirip dengan ayahnya... Kadang aku merasa sebal, kenapa Arka tidak mirip denganku, semoga saja saat Arka besar nanti tidak mirip ayahnya, apalagi kelakuannya, jauh-jauh dah sifat minus itu dari dalam diri Arka.


" Yank kamu kangen aku tidak " ucap mas Agam, yang seperti anak SMP, aku hanya tertawa membaca chat dari nya, ini adalah chat yang kesekian kalinya, sehari bisa berpuluh-puluh chat yang masuk ke HP ku, apa dia tidak bekerja, pikirku, ku abaikan saja chat nya, karena Arka menangis mencari asinya.


Setelah selesai memberikan asi ke Arka, Arka pun langsung tertidur dengan sangat pulas. Aku kembali mengambil HP yang ku tinggalkan tadi.... Benar saja puluhan chat dari mas Agam masuk ke HP ku, aku hanya tersenyum melihatnya, tapi dahiku berkerut melihat pesan dari Nomer baru, ku buka saja pesan tersebut.


( Nis..... Kabar kamu gimana..... Apakah anak kita udah lahir ?..... Bisakah kita bertemu ?.... Aku juga berhak bertemu dengan anakku Nis )

__ADS_1


Herman..... Mau apa lagi sih dia....? Pikirku kesal.


__ADS_2