
Empat hari sudah Mario menunggu Kabar dari saudaranya itu, tapi belum ada satupun berita baik yang dia dapatkan, harap-harap cemas, Mario menunggu dengan sabar, bahkan pekerjaan kampus pus seperti terbengkalai begitu saja. Mario benar-benar lelah dengan semuanya, lelah fisik dan lelah batinnya, Mario sangat menyesali tindakannya dulu, kenapa dia diam, tanpa berjuang sedikit lagi saja, dan kenapa juga dia harus menjadi laki-laki brengsek yang tidak pernah memikirkan mental Alisha, harusnya Mario tetap bertanggung jawab meski Alisha tidak hamil sekalipun, bukankah itu keinginan Mario dan kini Mario hanya bisa meratapi nasibnya saja.
Pagi ini Mario memutuskan untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya ke pihak kampus. Mario akan membantu ayahnya di perusahaan, agar bisa memantaskan dirinya sebagai calon menantu dari seorang Agam, pengusaha yang sukses orang terkaya no 1 di negara ini.
'Ini adalah keputusan sulit untukku, menjadi Dosen adalah impianku, tapi jika untuk mendapatkan mu, aku harus mengorbankan mimpiku, aku ikhlas Al" ucap Mario dalam hatinya.
Seperti menemukan jalan buntu, Mario memutuskan untuk ke Bandung, ke tempat tinggal Arka abangnya Alisha. Setelah dia menyelesaikan urusannya dengan pihak kampus. Mario yang saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya di ruang dosen menatap nanar surat yang dia buat semalam dengan segala pertimbangan dan pemikiran yang berulang kali Mario coba. Mario menghembuskan nafasnya kasar, di lihat berkali-kali surat itu.
"Baiklah, aku akan ke ruang rektor sekarang" ujar Mario setelah yakin dengan keputusannya dan memasukan surat tersebut ke dalam amplop. Dengan langkah yang pasti Mario membawa surat tersebut dan tas kerja nya ke ruangan rektor, Mario harus mengambil sikap, harus memilih antara pekerjaan yang saat di cintainya, atau wanita yang sangat Mario cintai beserta anak dalam kandungannya itu.
Mario terus melangkah, melewati beberapa Mahasiswa dan Mahasiswi yang menyapanya dengan tersenyum, yang di balas senyuman oleh Mario dengan sopan. Bahkan banyak Mahasiswa yang memandang Mario aneh, karena Mario membalas mereka dengan senyuman.
"Weuy... Guys.. itu crush gue, senyum ke gue anjir, harusnya tadi gue foto" Ujar salah satu Mahasiswi yang di berikan senyuman Mario, Mahasiswi tersebut seperti cacing kepanasan dan teriak-teriak saking senangnya di berikan senyuman oleh mario.
"Halu lu kumat lagi? Noh liat tuh Bapak Dosen kece, emang senyum ke semua orang, tapi tumbenan amat, kepentok kali tuh kepalanya." ujar teman yang di sebelahnya, Mahasiswi yang kegirangan tadi langsung menunduk sedih, karena khayalannya.
Masih banyak lagi kasak-kusuk dari para penghuni kampus yang melihat perubahan Dosen killer yang sayangnya sangat tampan itu, Mario termasuk ke dalam dosen most wanted nya kampus.
Mario sampai di depan ruangan rektor, Dengan menarik nafasnya dalam, Mario mengetuk pintu ruangan rektor dan menguatkan hatinya.
"Bismillahirrahmanirrahim" gumam Mario.
"Masuk!" terdengar suara dari dalam ruangan, Mario tanpa menunggu lama, langsung masuk ke ruangan rektor yang cukup besar.
"Selamat siang Pak Firman" Ucap Mario di sambut dengan senyuman oleh Firman.
"Pak Mario... Silahkan duduk Pak" Ujar Pak firman.. Mario pun langsung duduk di kursi depan meja pak Firman.
"Kenapa ya Pak? ada yang bisa saya bantu?" ujar Pak firman menatap Mario. Mario pun menyerahkan surat kepada Pak firman, tapi belum mengatakan apapun.
"Surat apa ini pak Mario?" tanya firman
"Saya ingin mengundurkan diri sebagai Dosen di kampus ini Pak" lirih Mario yang masih terdengar nada kesedihan di sana.
"Pak Mario mau mengundurkan diri jadi Dosen, kenapa tiba tiba Pak? apa ada masalah?" Tanya Firman
__ADS_1
"Tidak ada Pak, Hanya saja Papah saya, meminta saya membantunya di kantor Pak, Papah saya juga sudah tua dan kini hanya tinggal sendirian di rumah."
"Hmmm... Sebenarnya saya begitu berat jika harus melepas anda pak Mario, anda Dosen yang berdedikasi tinggi dan sangat bis di andalkan, tapi saya juga tidak bisa menahan keinginan anda untuk mengembangkan usaha dan membantu perusahaan ayah Mario. Baiklah saya terima surat pengunduran ini, semoga saja, perusahaan Pak Mario semakin maju" ucap Pak firman yang sebenarnya sudah tau siapa Pak Mario sebenarnya, di kampus ini, tidak ada yang mengetahui jati diri Mario, hanya Firman sebagai rektor kampus ini yang mengetahuinya, karena ayah nya Mario dengan Pak firman bersahabat.
"Terima kasih atas pengertiannya Pak. Saya juga mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang sudah bapak berikan, karena telah mengizinkan saya untuk menjadi Dosen di kampus ini" ujar Mario tulus, rasanya seperti beban berat di pundaknya hilang seketika.
"Ia sama-sama Pak Mario. Selamat dan terima kasih sudah melakukan yang terbaik untuk kampus kita ini" ujar Pak Firman, Mario dan Firman pun berjabatan tangan dan saling tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya Pak" Ujar Mario.
"Ia silahkan!" ujar firman. Mario pun bangun dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Pak rektor.
Setelah di luar ruangan, Mario meremas dadanya yang terasa sesak.
"Ternyata melepaskan apa yang kita impikan dari dulu itu, bisa sesulit ini, tapi semua ini sepadan, untuk menggapai kebahagiaan ku bersama orang yang aku cintai dan anakku" ujar Mario, kembali menguatkan hatinya dan melangkahkan kaki dengan mantap menuju ruangannya, Mario berencana untuk keluar dari pekerjaannya hari ini dan untung saja tanpa banyak drama dengan rektor nya, Pak firman langsung meng ACC pengunduran dirinya itu.
Mario kembali ke ruangannya, membereskan semua barang pribadinya hingga tidak tersisa, kini di meja kebesarannya sudah rapih dan tidak ada barang-barang yang biasa berserakan oleh kertas-kertas ujian dan materi untuk anak-anak mahasiswa.
Setelah selesai Mario menuliskan surat pamit untuk seluruh Dosen, mereka pasti akan membacanya di meja ini, karena untuk pamit, Mario tidak sanggup, lagi pula tidak ada Dosen di ruangan ini sekarang.
Setelah semua nya selesai Mario mengangkat barang pribadinya itu, dengan kedua tangannya, barang bawaannya tidak lah banyak, hanya tas kerja dan sebuah dus, jadi gampang di bawa. Kampus dalam keadaan sepi, karena jadwal terisi Full oleh belajar mengajar, Mario pun sudah tiba di parkiran dan memasukan semua barang- barangnya ke mobil.
"Semoga aku segera menemukan mu Alisha" ucap Mario dalam hati, sambil melihat foto Alisha di dalam HP nya.
Mario benar-benar tidak tau harus berbuat apa, dan Mario yakin, Alisha sedang mengandung anaknya, karena setiap hari, rasa mual itu menyiksa Mario, dan berat badan Mario pun turun drastis, karena tidak bisa masuk nasi sedikitpun.
Bahkan saat dia sedang diam sendirian seperti ini pun rasa mual itu selalu datang. Mario menghembuskan nafas nya kasar, dia pun langsung ke mobilnya dan ingin menyalakan mobil, tapi suara dari HP nya menghentikan semua kegiatannya.
Drt...drt...drt...
Suara HP Mario berbunyi nyaring, dia pun langsung melihat siapa yang mengirim chat ke HP nya, di lihat HP nya tersebut ternyata Bobi saudaranya telah mengirimkan pesan yang membuatnya tersenyum. Karena bobi baru saja mengirimkan alamat rumah Alisha yang berada di Amerika sana.
Mario pun langsung tancap gas dan tujuannya kali ini adalah rumah Papahnya. Mario tidak kembali ke Apartemennya , Mario akan mempersiapkan diri untuk bertemu sang pujaan hati, calon istri dan calon anaknya.
"Tunggu aku Alisha, aku pasti akan menjemputmu dan menjadikan mu istriku satu-satunya" gumam Mario dengan raut wajah yang senang.
__ADS_1
_____&&&&&&&_____
Sudah beberapa hari ini Kokom dan Nita tinggal di rumah Saiful, mantan suaminya itu, Saiful yang sangat sederhana dan kecil. Yang membuat mereka berdua sangat tidak betah, tapi apa mau di kata, mau kemana lagi mereka akan tinggal, walaupun hubungan Kokom dan Rukman, hanya sebatas mantan, tapi Rukman, mengijinkan mantan istri dan anaknya itu untuk tinggal di rumahnya, dan menjadikan Kokom dan Nita pembantu gratisan di rumahnya Rukman.
Karena membutuhkan uang, Nita pun bekerja sebagai Waitress di restoran makanan Korea, walaupun dengan gaji yang kecil, tapi cukuplah untuk membiayai kehidupan ibunya dan dirinya, serta Ayah kandungnya, karena Rukman hanya mengijinkan mereka tinggal di rumah itu, tanpa memberikan Mereka berdua makanan sedikit pun, bahkan kebanyakan Rukman lah, yang meminta makanan ke kokom.
Padahal selama dua hari, Nita selalu saja berusaha untuk mendatangi setiap perusahaan tapi tak ada satupun yang dapat menerima Nita.
Seperti pagi ini, Nita yang sudah berangkat bekerja, Kokom hanya di tinggal berdua dengan Saiful di rumahnya , Rukman selalu memperlakukan Kokom dengan kejam, bahkan kadang KokomĀ dan Saiful, sering melakukan hubungan suami istri saat Nita tidak ada di rumah, padahal mereka belum terikat dengan pernikahan kembali.
"Kom laper, ada makanan gak?" tanya Saiful, ketika melihat Kokom sedang mencuci piringnya di kamar mandi, rumah Saiful sangat sederhana bahkan wastafel pun tidak ada.
"Ada di meja, buka aja aku habis buat nasi goreng buat sarapan" ujar Kokom sedikit teriak, karena Saiful yang berada di depan sedang Kokom sedang di belakang.
"Tiap hari kamu masak itu-itu aja, gak ada yang lain apa?" ujar Saiful kesal.
"Duitnya wis entek, sini bagi duit aku masakin kamu masakan yang enak-enak" ujar Kokom yang telah selesai mencuci piring dan gelas, Kokom pun langsung menghampiri mantan suami nya itu.
"Emang kamu udah gak punya duit lagi. Kok minta sama aku sih, minta lah sama Nita... dia kan kerja, sudah jadi kewajiban dia untuk menafkahi kita berdua"
"Nita kan belum gajian, baru aja kerja beberapa hari ini, gimana sih kamu mas"
"Terus selama jadi istrinya Herman, emangnya kamu gak punya tabungan uang atau apa gitu"
"Gak ada,, tabungan perhiasan ku ke tinggalan di rumahnya mas Herman. kamu kapan mau nikahin aku mas? aku takut aku hamil mas"
"Kamu kan udah tua, gimana bisa hamil lagi!"
"Ya bisa aja, orang belum mem pause, masih subur"
"Tar lah, Belum ada niatan aku buat nikahin kamu"
"Dari pada kita di grebek mas"
"Gak akan ada yang tau, tetangga disini gak pada julid, mereka gak kaya mulut kamu ya Kom!"
__ADS_1
"Selalu aja kaya gitu, sini mana uangnya biar aku belanja besok"
"Gak ada. Mending kamu balik ke rumah Herman, nih aku kasih ongkos.. ambil perhiasan kamu dan juga sertifikat rumah itu, masa kawin bertahun-tahun gak ada status...Jijay banget" ucap Saiful membuat Kokom meradang.