
"Yank.... Masya Allah.... Ini sakit banget perut aku yank," Ringis Nissa yang terus memegangi perutnya.
"Ia sabar ya Neng.... Pak Dadang lagi ngebut juga ini yank,"
"Hu........hu...........hu........ Sabar ya dua kesayangan mamah, Bentar lagi kamu lahir ke dunia ini," racau Nissa mengelus terus perutnya yang besar. Mobil pun melesat sampai terseok-seok, untung saja pak Dadang sudah berpengalaman dalam mengebut, kalau tidak hal yang tidak di inginkan bisa terjadi, saat sampai di rumah sakit, Nissa langsung di bopong oleh Agam, dan ada Suster yang langsung membawa brangkar, di tidurkannya Nissa dan langsung di bawa ke ruang bersalin. Dalam perjalanan ke ruang bersalin Nissa terus saja meringis memegangi perutnya yang kesakitan.
"Saya mau dokter wanita, Cepat cari dokter wanita," teriak Agam menggema di ruang bersalin, para Suster pun kelimpungan mencari dokter wanita, dan akhirnya dua dokter wanita datang ke ruang bersalin dengan pakaian khusus persalinan.
"Saya liat dulu ya Bu, Sudah pembukaan berapa..?" ucap salah satu dokter SPOG tersebut. Nissa hanya mengangguk lemah, karena sudah tak kuat menahan rasa sakit di perut nya.
"Masih kuat, ngeden Bu, Sebentar lagi mau melahirkan" tanya dokter lagi.
"Saya mau melahirkan normal Dok? Suami saya mana Dok?" ucap Nissa lirih sambil menahan rasa sakit.
"Baik saya akan panggilkan suami ibu?"
"Tolong panggil kan pak Agam untuk masuk," ucap dokter kandungan tersebut kepada nurse nya, sang perawat pun keluar memanggil pak Agam, tak berapa lama Agam pun datang mendampingi Nissa dan berdiri di sebelah Nissa.
"Sayang kamu melahirkan normal apa sesar? sesar aja ya sayang biar kamu ga sakit kaya gini, aku gak kuat lihatnya " ucap Agam khawatir.
"Aku kuat mas.... Pegang aja tanganku" ucap Nissa lirih.
"Sudah terlihat kepala bayinya bu... Ngeden yang kuat ya bu....!" seru dokter kandungan, yang satu mendorong bayi lewat perut dengan perlahan, dan yang satu lagi melihat jalannya bayi keluar.
"Heemmmmmmm, AKHHHHHHH " ngeden Nissa teriak..... Sambil menjambak rambut Agam kuat.... "
"Aduh sakit yank.... Ini tangan kamu... Semangat yank tapi..." Ujar Agam memegang terus tangan Nissa erat dan memberikan semangat walaupun serasa sakit dia rasakan di kepalanya.
"AAAAKKKKKKHHHHHHH," teriak Nissa kencang.
"Oakkk.... oakkkk..... Oakkk Alhamdulillah anak pertama laki-laki Bu," lahirlah bayi pertama Nissa.
"Ini bayinya Sus... Bu.... Ngeden lagi ya Bu... 1 lagi Bu...." Ujar Bu Dokter,
"AKKKKHHHH... Hmmmmmmm..." teriak Nissa semakin memperkuat jambakannya di rambut Agam.
"Akhhhh sakit sayang..." teriak Agam, rame sekali ruang bersalin karena teriakan Agam dan Nissa......
"Oakkkk.... oakkkk... oakkkk.... Alhamdulillah anak ke dua Perempuan bu," ujar Dokter menarik napas lega.... Semua yang ada di ruangan bersalin tersenyum bahagia, karena sebelumnya ikut merasakan kecemasan seperti sedang lahiran.
"Sayang kamu hebat sekali..... Selamat sayang anak kita sudah lahir hiks... Hiks... " Ucap Agam bahagia, sambil menangis haru dan Agam pun mencium kening Nissa.
"Ia mas, anak-anak kita sudah lahir," ucap Nissa lirih, dan masih terlihat wajah pucat nya.
"Maaf Pak Agam, kami akan membersihkan Bu Nissa terlebih dahulu, Dan Bapak sudah bisa melihat bayi-bayi bapak di ruangan bayi..." Ujar suster.
"Sayang aku mau adzanin anak-anak kita dulu ya? Sekalian mau hubungi keluarga besar kita, Kamu aku tinggal dulu ya"
__ADS_1
"Ia mas...," Ucap Nissa lemas, Agam pun langsung keluar ruangan bersalin, dan berjalan cepat menuju ruangan bayi, saat sampai ruangan bayi, Agam melihat putra dan putri nya sedang tertidur pulas, muka bayi-bayi Agam sangat lucu dan imut, Agam mengangkat bayi nya satu persatu dan mengadzani mereka berdua, sambil menangis terharu, Agam sangat bahagia, hari ini dia telah menjadi ayah dari anak kandungnya, bahkan Agam menemani istrinya melahirkan, dan seperti merasakan sakitnya melahirkan.
Setelah Nissa di bersihkan, Nissa langsung di pindahkan ke ruang perawatan yang berada di ruangan VVIP, ruangan yang paling bagus dan besar di rumah sakit ini, Agam ingin Nissa merasakan kenyamanan ketika dalam proses pemulihan pasca melahirkan.
Agam pun datang menghampiri Nissa dengan menggendong bayi perempuan nya di ikuti oleh mbok Jum yang menggendong bayi laki-lakinya, Nissa yang mulai kuat sehabis melahirkan, antusias menyambut anak-anak nya.
"Sini sayang nya mamah...! Anak-anak kita namanya siapa mas? Kamu sudah persiapkan nama belum?" tanya Nissa yang saat ini sedang menyusui bayi laki- laki nya.
"Arrayan Wijaya adalah Nama untuk anak lelaki kita, dan Alisha Wijaya adalah untuk nama anak perempuan kita sayang, Apa kamu suka?" ucap Agam.
"Aku sangat suka sekali dengan nama nama mereka mas, Nama yang indah" ucap Nissa tulus.
"Arrayan atau Rayan nama yang bagus untuk anak ganteng Papah, Arka pasti senang mempunyai adik-adik tampan dan cantik seperti kalian," ucap Agam. "
"Ia mas, Arka pasti bahagia, Makasih ya mas sudah jadi membuat hidup ku menjadi bahagia, dan sudah menerima diriku apa adanya."
"Ia sayang, Aku mencintaimu karena Allah, dan aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan dan menjaga kamu, Arka, Rayan dan Alisha anak kita, keluarga kecilku." Ucap Agam tersenyum sambil menggendong Alisha yang seperti terlihat ingin menangis karena lapar.
"Abang sudah nenennya yak, sekarang giliran adek mu yang *****, mbok Jum tolong pegangin Rayan ya mbok!" ucap Nissa yang memberikan Rayan ke tangan mbok Jum, Sedangkan Agam menyerahkan Alisha ke tangan Nissa untuk di susui. Rayan pun tertidur dan di ditidurkan di dalam box bayi yang Agam sediakan di rumah sakit ini, karena ia sudah tertidur. Begitu pun dengan Alisha karena sudah kekenyangan, Alisha pun di tidurkan di box yang satunya.
"Kamu istirahat lah dulu yank! Aku mau beli makanan dulu, kamu mau apa yank?" tanya Agam.
"Apa ya, Aku pengen sate Padang yank"
"Tapi belinya di Jakarta kan, bukan ke Padang, karena aku gak bisa ninggalin kamu lama-lama."
"Ia beliin yang disini aja, aku kan udah gak ngidam."
"Mas sudah kasih tau keluarga kita?"
"Sudah sayang, Karena itu berita gembira. Jadi mereka wajib tau."
"Ya sudah kalau begitu, Mas jangan lama ya, Nanti mbok Jum suruh pulang dulu ya, Tolong bawain baju ganti buat mas agam sama perlengkapan anak-anakku dan ajak mbak Sus juga.
"Gak apa-apa sayang, biar mas aja yang bawa baju ganti sama perlengkapan bayinya, mbok Jum jagain kamu disini dulu, kamu gak boleh di tinggal, Mbok tolong jagain Nissa ya, terus bantuin kalau istri saya butuh apa-apa."
"Siap Tuan," ucap mbok Jum semangat .
"Ya sudah sayang, Mas pulang dulu sebentar ya," ucap Agam yang mencium dahi Nissa dan langsung keluar kamar perawatan.
_______
Tok.... Tok..... Tok...
"Masuk" ucap Arsen tegas tanpa melihat siapa orang yang masuk ke dalam.
"Selamat siang pak, Saya Surdi pak. Manager Pelaksana grup 3 pak, saya diminta keruangan pak oleh ibu Tania pak," Ujar pak Surdi gemetaran karena melihat tatapan tajam Arsen.
__ADS_1
"Duduk!" ucap Arsen tegas.
"Bbb..baik Pak," Pak Surdi ketakutan.
"Kamu tau, Kesalahan kamu apa?"
"Kesalahan saya Pak... Maaf pak saya tidak tahu pak?" ucap Surdi dengan muka wartadosnya, wajah tanpa dosa.
"Jangan buat saya emosi Pak Surdi, apa anda tidak mendengar kelakuan saudara anda tadi....?"
"Maaf Pak saudara saya siapa ya pak?"
Brughhh.... Arsen menggebrak meja nya sendiri.
"Sekali lagi anda main-main dengan saya, Saya pecat kamu sekarang juga," teriak Arsen.
"Maaf Pak, Tapi saya betul-betul tidak tahu pak... !" Kekeh pak Surdi karena dia sama sekali tidak tau apa yang terjadi.
"Ok. Saya akan jabarkan satu persatu," ucap Arsen sangar.
"Kamu dengan seenaknya memasukan saudara kamu yang tidak sesuai dengan ketentuan perusahaan, setelah saya selidiki, IPK ponakan kamu sangat jeblok, dan lihat kelakuannya dengan pegawai lain yang semena-mena, hanya karena kamu Manager nya disini, jadi dia bisa berkuasa, dan kamu juga sudah menyalahi kekuasaan kamu dengan memotong bonus para staf kamu sendiri, dan uangnya kamu makan, benar-benar tikus kecil yang menggerogoti perusahaan ini." Jelas Arsen langsung membuat Surdi melongo dan pucat pasi.
"Sial! Siapa yang bocorin semuanya? Kurang ajar dia.." batin Sardi.
"Kenapa diam, Kamu di pecat Surdi dan Tania akan memecat kamu, sedangkan uang pesangon kamu akan di gunakan untuk mengganti uang Bonus yang kamu makan."
"Pak Arsen tolong Pak, Jangan pecat saya Pak! tolong kasih kesempatan kedua untuk saya Pak, biar saya ganti semua bonus yang pernah saya ambil Pak, dan saya akan langsung memecat Sintia Pak,Tolong Pak," ucap Surdi mengiba, Arsen merasa jengah melihat Surdi, apalagi drama yang dia mainkan sampai menangis segala, tapi Arsen sama sekali tidak merasa kasihan dengan pak tua buncit yang ada di depannya itu, karena Arsen paling benci dengan para Koruptor kecil seperti manusia di depannya ini.
"Tak ada kesempatan kedua untuk Koruptor, dan kamu tau hal apa yang ponakan tercinta kamu lakukan hari ini, dia sudah menghina dan hampir saja menampar istri pak Agam, Bos perusahaan ini, bilang hati-hati sama ponakan kamu itu, jaga salah satu tangannya, kalau tidak, itu tangannya bakal hilang sebelah," ucap Arsen yang mampu membuat mata Surdi melotot.
Surdi pun kesal bercampur marah, karena perbuatannya di ketahui akibat ulah Sintia, kalau saja Sintia tidak banyak membuat masalah, kesalahan Surdi tidak akan bisa tercium sama sekali.
"Kurang ajar Sintia, dia harus menanggung akibatnya karena membuatku di pecat," gumam Surdi dalam hati.
"Silahkan pintu sudah terbuka lebar. Keluar dari ruangan saya! sebelum kamu saya lempar keluar dari gedung ini!" ancam Arsen.
"Jadi bapak tetap akan memecat saya, tidak bisakah saya di beri kesempatan dulu Pak.
"Silahkan keluar!" ucap Arsen kesal.
"Bbbaaik Pak...." Ucap Surdi yang langsung berdiri dan kabur dari ruangan Arsen. Karena merasa ketakutan dengan ancaman Arsen dan tatapan dingin Arsen.
Surdi marah tingkat tinggi, dia melangkah lebar dan menuju ruangan staf tempat Sintia berada, Sintia terlihat sedang menangis, dan tak ada satu pun orang di ruangan ini, berusaha untuk mendekati Sintia.
"SINTIA...." teriak Surdi menggema di ruangan kantor, dan menjadi perhatian seluruh karyawan di ruangan ini.
"Paman hiks... Hiks... Tolongin Sintia paman, Sintia gak mau di pecat paman, TOLONG bilangin HRD nya paman!" ucap Sintia menangis kencang, bahkan dia tak perduli jika tangisannya ini menganggu kerja pegawai lain, sementara dia dari tadi hanya menangis dan tidak mengerjakan pekerjaannya dengan baik.
__ADS_1
PLAKKKKKK.....
Surdi menampar Sintia dengan keras, hingga Sintia terjatuh dan kaget atas perlakuan paman yang selama ini selalu membelanya itu.