
Amarah Kokom kian memuncak melihat wanita yang kemarin dia labrak ada di hadapannya, apalagi mas Herman memegang tangan wanita itu dengan begitu mesra. Seketika saja Kokom berusaha melepas genggaman tangan Herman dan Kokom dengan sekuat tenaga.
"Apa-apaan kamu Kokom, Main narik tangan orang aja" Ujar Herman marah dan menjauhkan tangannya dari Kokom. Putri yang melihat mata Kokom pun melotot karena amarah yang sudah menguasai Kokom menjadi sedikit takut, Putri pun berlindung di belakang punggungnya Herman sambil mengeratkan pegangannya.
"Mas, aku takut kalau dia kasar sama aku gimana" bisik Putri.
"Tenang aja! ada aku, si Kokom gak bakalan berani lagi sama kamu" ujar Herman tapi masih bisa terdengar oleh Kokom.
"Perempuan seperti ini mas yang kamu mau nikahi. Perempuan penakut cengeng. Sangat jauh dari tipe kamu mas. Sudahlah mas Herman, sudahilah saja akting kamu itu. Aku tau kamu itu gak pernah serius, aku tau mas bertahun-tahun kita bersama, gak mungkin secepat itu kamu gantiin aku di dalam hati kamu!" ujar Kokom menyeringai, sambil melipatkan kedua tangan di dadanya.
"Aku kesini gak mau ngajak ribut sama kamu, ngabisin waktu aku aja. Aku cuma mau bilang Putri ini calon istri aku, dan sebulan lagi kita bakalan nikah. Dan kamu jangan pernah mengganggu Putri, apalagi ngaku-ngaku mau rujuk sama aku. Kalau kamu mengusik, sampai nyamperin Putri di rumahnya lagi! Aku gak bakalan segan segan buat laporin kamu ke Polisi." Ucap Herman sambil menunjuk muka Kokom.
Kokom kembali tersenyum sinis, sama sekali tidak takut akan ancaman Herman sehingga membuat Herman dan Putri bingung.
"Ngapain kamu senyum-senyum, udah gila kamu," tanya Herman.
"Jadi, cewek ini ngadu sama kamu! Cewek manja kaya gini mana bisa layani mas Herman. Aku tau mas Herman yang kamu mau itu bukan cewek manja, dan hanya bisa sembunyi di ketek kamu doang. Cewek tipe kamu itu kaya aku, strong, Kuat, gak bakalan kena mental kaya cewek di belakang kamu itu. Aku juga gak yakin cewek klemer-klemer kaya gitu mampu nandingin kamu di ranjang. Palingan baru setengah jam udah K.O Aku tau mas, nafsu kamu itu gede, cuma aku yang bisa ngimbangin kamu mas." Ucap Kokom yang masih tersenyum sinis, membuat Putri merasa terhina. Putri ingin sekali maju menjambak Kokom karena mulut sampahnya.
"Sabar sayang, Jangan kemakan sama omongan dia. Kita ini beda level, satu yang pasti sayang. Kamu mau mengandung anakku. Dan itu adalah hal yang paling aku butuhkan selain semua itu. Gak seperti Kokom yang malah tidak mau mengandung anakku, agar aku selalu mendahulukan anaknya, bahkan dia menghasut aku untuk menjauhi anak kandung ku sendiri Arka" ucap Herman yang membuat Kokom diam seketika. Kokom tersentil dengan omongan Herman, selalu saja tentang anak yang di bicarakan oleh Herman..
"Anak... anak... anak terus! yang kamu bilang mas. Apa Nita gak cukup buat kamu, dulu kamu begitu menyanyangi Nita, bahkan menganggap Nita pengganti Arka, karena Arka gak pernah bisa kamu temui. Sekarang saat kamu tau Arka sudah besar dan sukses, bahkan Arka kaya karena mewarisi harta nenek dari pihak Nissa, kamu malah berpindah haluan, bahkan kamu membuang aku dan Nita. Kamu membuang aku yang selama ini sudah melayani kamu dan mendampingi kamu saat senang dan sedih, Kamu lupa mas?!" Teriak Kokom... Nafas Kokom terlihat memburu karena menahan kekesalan yang teramat sangat.
"Udah mas lebih baik kita pulang, malu kita di liatin banyak orang, berdiri di depan rumah orang, di suruh masuk aja kagak" ucap Putri yang risih karena banyak orang yang melihat mereka karena teriakan Kokom tadi.
"Kenapa...? Kamu berharap aku ajak masuk ke dalam rumah, mimpi, lihat saja Put! Kalau kamu menikah dengan mas Herman, dan kamu ga bisa ngasih dia keturunan kamu pasti langsung di hempaskan oleh mas Herman, ingat kata- kataku ini. Dan kalian berdua pergi dari rumahku sekarang, aku gak akan ganggu kamu lagi mas Herman, tapi harus kamu ingat, semua rasa sakit yang udah kamu lakukan ke aku. Akan aku balas semuanya dengan cara yang paling pedih, yang tidak akan kamu bayangkan." ucap Kokom di hadapan Herman. Kokom langsung saja menutup pintunya dengan keras, hingga membuat suara yang menggangu telinga.
"Astaghfirullah mas, Peringai mantan istri kamu menyeramkan" ucap Putri.
"Memang seperti itu, ya udah Ayuk kita pulang, dan mas bisa pastikan dia gak bakalan ganggu kamu lagi" ucap Herman. Herman pun menggenggam tangan Putri. dan Mereka berdua pun pulang.
Kokom yang sekarang sedang berada di rumahnya, benar-benar marah ingin terima malu dengan tetangga, ingin melempar benda, gak tau benda apa yang mau di lempar, karena gak ada barang di kontrakan ini.
"Sial! masa gue harus ngelempar TV sih Herman, tunggu pembalasan ku, Akan ku buat kamu menyesal, tunggu aja tanggal mainnya" ucap Kokom yang langsung mendudukkan tubuhnya di kursi dengan kasar, untung saja tuh kursi tidak patah.
Kokom pun mengambil HP dan menelpon Nita. Pada dering pertama langsung di angkat oleh Nita.
[ Halo.. Nit, Besok kita harus beraksi, kita survey dulu rumah mantan Bapak kamu ] ucap Kokom saat Nita sudah mengangkat sambungan teleponnya. Kokom sudah tidak memanggil Herman dengan sebutan Bapak.
[ Jadi Mah, mau ngerampok di rumah bapak? Emang Mamah yakin Sertifikat rumah Bapak ada di rumah itu? Gak di taro di bank, seperti apa yang Bapak bilang ]
__ADS_1
[ Mamah yakin, kemaren mas Herman bilang kaya gitu. Supaya kita gak curiga aja, mana mau mas Herman ngeluarin duit buat sewa tempat di bank cuma ngumpetin sertifikat doang, pasti ada di kamarnya, dan besok sebelum dia berangkat kita harus udah sampe, sambil pantau itu rumah. Mamah udah gak sabar pengen liat mas Herman hancur ]
[ Ya udah Nita besok bantuin. ]
[ Kamu di mana? main kok lama banget, udah mau malam ini ]
[ Ia bentar lagi Nita pulang, lagi di cafe sma anak anak sekolah SMA dulu ]
[ Jangan boros, tahan dulu, kalo kita udah berhasil menjual rumah itu, baru kita bisa senang-senang dan foya-foya]
[ Beneran ya Mah, aku pengen jalan-jalan ke Bali pokoknya ]
[ Ia sayang kamu mau kemana aja, kita jalan-jalan bareng ]
[ Udah dulu ya Mah, aku bentar lagi pulang dah ] Ucap Nita yang langsung mematikan teleponnya.
Herman pun sudah sampai di depan rumahnya Putri. Lalu Putri pun turun dari motornya Herman dengan wajah yang murung. Dan Herman pun melihat wajah itu.
"Sayang kenapa? kamu masih mikirin ucapan kokom ya?" Ujar Herman dengan suara yang sangat lembut, khas suara kadal buntung sedang merayu mangsa, Herman menggenggam tangan Putri dengan erat.
"Ia aku masih aja kepikiran aja yang di omongin wanita itu. Kalau misalnya nanti ada masalah dengan rahim ku gimana, apa kamu juga mau ninggalin aku?" ucap Putri yang masih dalam mode cemberut.
"Kapan... ?"
"Gimana kalau besok habis kita kerja langsung ke rumah sakit,"
"Ya udah, tapi mahal gak mas? kita kan belum gajian" ucap Putri yang masih merajuk.
"Aku ada uang mah, Kamu gak usah pusing, mending kamu masuk istirahat ya, nanti besok kita bahas lagi" ucap Herman. Putri pun menganggukan kepalanya, lalu masuk ke dalam rumah. Gerbang pintunya pun di tutup dan di gembok oleh Putri, karena Putri takut kejadian saat Kokom datang terulang lagi. Herman pun pergi dengan mengendarai sepeda motornya.
_____&______
Mario dan keluarga sudah kembali ke Indonesia dengan selamat. Saat sampai rumah Mario dan Papahnya Azzam kembali tengah malam, dan semua lampu sudah padam untung saja mereka mewabah kunci cadangan, jadinya bisa masuk ke dalam rumah. Walaupun di depan gerbang ada security dan di dalam rumah ada asisten rumah tangga, tapi Mario dan azzam tidak mau membangun orang yang berada di rumah, karena sudah terlalu malam.
"Aku langsung ke kamar ya Pah, capek banget ini." Ujar Mario
"Ia Nak, Papah juga mau langsung ke kamar" ucap Azzam, mereka berdua pun berpisah dan langsung menuju kamar masing-masing.
Keesokan harinya...
__ADS_1
Azzam yang setelah sholat shubuh, Karena tubuhnya masih lelah langsung melanjutkan tidurnya kembali, sedangkan Mario dia sudah siap-siap dengan setelan Kerjanya. Dan turun ke bawah untuk sarapan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Mario pun langsung duduk di ruang makan dan memakan sarapannya nasi goreng spesial pakai telor dadar.
"Papah belum bangun bi?" Tanya Mario kepada asisten rumah tangganya.
"Belum tuan muda, Bapak sepertinya belum keluar dari kamarnya" Ucap bi Nur.
"Mungkin Bapak kelelahan, ya sudah biarin aja bi. Kalau pas Bapak nanti bangun di siapin aja sarapan buat bapak ya bi." Ucap Mario sambil menghabiskan nasi goreng dan air putihnya.
Mario pun merapihkan piring dan mempersiapkan dirinya serta membawa tas kerjanya, setelah itu dia pun pergi dari ruangan makan dan keluar rumah tanpa melihat Papahnya yang sedang tertidur nyenyak.
Mario melajukan mobilnya dengan santai, karena jalanan pun masih pagi, dan tidak terlalu macet. Setengah jam pun berlalu Mario pun memarkirkan mobilnya di basemant bawah tempat parkir khusus dirinya dan asistennya Mario. Mario langsung saja menuju ke dalam lift yang memang di khususkan untuknya yang menuju langsung ke ruangannya, lift ini hanya bisa di akses oleh Mario dan Papahnya Mario. Tapi sebulan sekali selalu di periksa, itupun atas pengawasan Mario ataupun Papahnya Mario.
Saat sampai atas Mario langsung meletakan tas kerjanya di laci dan membuka laptopnya, ruangan Mario sudah di bersihkan oleh OB yang memang di tugaskan untuk membersihkan ruangan Mario jam 6 pagi, tentu saja OB tersebut sudah bisa di percaya dan mampu mengerjakan pekerjaannya.
Setelah membuka laptop. Mario langsung saja mengerjakan pekerjaannya yang telah tertunda selama 4 hari lamanya. Dan akan Mario kebut selama sebulan ini, karena kandungan Alisha kini sudah memasuki usia 8 bulan jadi Mario akan menikahi Alisha saat usia kandungan Alisha 9 bulan atau 34 minggu, agar Mario bisa di Amerika menemani Alisha untuk melahirkan dan statusnya telah berubah menjadi suami. Mario ingin menjadi suami yang siaga untuk kelahiran anak-anaknya kelak.
Satu jam pun berlalu. Tak terasa sudah jam 8 dan para pegawai Mario pun sudah masuk bekerja begitu pun dengan Romi asisten nya Mario.
Tok tok..tok...
"Masuk!" ucap Mario, Romi asisten nya Mario pun masuk ke dalam ruangan Mario.
"Selamat datang Pak, Gimana urusannya di Amerika? apa saya dapat oleh-oleh?" Tanya Romi yang memang sudah akrab dengan Mario, tapi Romi bisa menempatkan situasi saat bekerja ataupun saat bercanda.
"Ada... Tar gue kasih, lu bagiin ya." ucap Mario.
" Ok bos...! Dan saya akan bacakan jadwal bos hari ini. Tidak ada meeting dengan client hari ini Pak, Hanya pemeriksaan berkas yang sudah menunggu Bapak untuk di tanda tangani, serta meeting dengan bagian keuangan nanti setelah istirahat, setelah itu jadwal Bapak kosong. Tapi ada satu yang sudah membuat janji kemarin Pak" Ucap Romi membaca jadwal kerja Mario.
"Siapa? apa saya kenal?" tanya Mario penasaran.
"Namanya ibu Marlina, beliau meminta bertemu di cafe metropolitan siang nanti jam 12 saat makan siang. Apakah Bapak bersedia?" ucap Romi yang membuat Mario menghentikan fokusnya ke dalam berkas yang sedang dia periksa.
'Marlina... Untuk apa wanita itu datang dan menganggu, Bikin riweuh aja' ucap Mario dalam hati.
"Tolak saja, gue ga kenal sama yang namanya Marlina. Bilang aja gue ada janji gak bisa ketemu." Ucap Mario yang langsung melanjutkan pekerjaannya.
"Beres Pak... kalau begitu saya undur diri ya Pak" ucap Romi. Mario hanya memberikan jempol tanda setuju. Romi pun keluar dari ruangan Mario.
__ADS_1