MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
DUO MALING BERHASIL


__ADS_3

Kokom melihat sekeliling rumah. Begitupun dengan Nita yang sangat merindukan rumah masa kecil hingga dia menjadi dewasa.


Kokom duduk di kursi tempat Keluarga bersama dengan Nita, sambil mengingat kembali kenangan saat mereka bahagia bertiga tanpa adanya orang ketiga.


Mereka berdua masih termenung dengan pikiran masing-masing, sampai beberapa saat Kokom menghembuskan nafasnya kasar. Rumah Herman memang terbilang cukup besar. Rumah Herman memiliki 3 kamar bahkan Ada kamar mandi di setiap kamar. Dapur yang di lengkapi kitchen set yang lumayan walaupun tidak terlalu besar. Perabotan terkini, Meja makan yang nyaman dan lumayan luas. Bahkan ruangan menonton TV atau ruangan keluarga pun luas, serta ruangan tamu yang di bentuk indah sedemikian rupa. Semua yang ada di rumah Herman di dekor oleh Kokom, bahkan perabotannya pun di beli oleh Kokom. Meskipun semua itu menggunakan uangnya Herman.


"Kenapa Mah? Nyesel keluar dari sini" ujar Nita melihat ibunya masih terdiam dan seakan ingin menangis.


"Mamah gak rela aja Nit. Rumah yang Mamah bagus-bagusin, bahkan perabotannya pun Mamah pilih harus di rebut oleh janda gatel itu Nit. Dari pada dia yang nikmatin hasil kerja keras Mamah, mending Mamah jual aja ke orang lain kan" ujar Kokom sambil masih melihat sekeliling rumah nya.


"Ya udah ayok! Jangan di ratapi terus, kapan kita nyarinya? lebih cepat lebih baik kan!?" ujar Nita.


"Ia kamu benar, ayok kita ke kamar Bapak!" ujar Kokom yang bangun dari duduknya, lalu menuju ke kamar Herman. Dan untung saja kamar Herman tidak di kunci. Kokom dan Nita pun langsung masuk ke kamarnya Herman lalu membuka lemari pakaian, dan itu tujuan utama mereka.


"Mah ini pakaiannya mau di keluarin semua atau gimana?" tanya Nita.


"Keluarin aja semuanya, biar nanti di kira kerampokan" ucap Kokom yang memulai mengeluarkan dan membuang pakaian Herman ke lantai.


"Ketahuan dong Mah, kalau pakaiannya berantakan kaya gini."


"Justru bagus! Jadi dia gak akan mikir ini adalah perbuatan kita Nit. Cepetan jangan diem Mulu! Bongkar aja, biarin kamar ini berantakan, pokoknya kita harus bikin kaya di serang angin ****** beliung" ucap Kokom.


"Lah si Mamah, ada-ada aja. Emang di negara kita ada angin ****** beliung?"


"Adalah! kamunya aja yang gak tau, Ngobrol sambil tangannya kerja dong!" ucap Kokom yang kesal melihat Nita hanya berdiri, seperti mandor memperhatikan pekerjaan ibunya.


"Ia ini juga bantuin buat bongkar!" Kesal Nita, mereka berdua pun terdiam dan fokus untuk mencari sertifikat di lemari Herman yang tinggi itu. Pakaian Herman pun semakin banyak yang di buang ke lantai, bahkan oleh Kokom pakaian Herman di berantakin dan di lempar kemana-mana.


"AKKKKHHHH kurang ajar! Gak ada sertifikat nya Nita! di mana ya? Bapak kamu simpan tuh sertifikat rumah."


"Ia Mah, pinter banget ngumpetinnya. Padahal kan gak usah lah di umpetin, kita kan udah gak tinggal disini" ucap Nita yang duduk di ranjang Herman


"Buka semua laci di kamar ini Nit, Keluarin aja isinya," ujar Kokom yang memulai. menghampiri laci yang berada di kamar Herman bersama Nita, namun tetap saja hasilnya nihil. Sertifikat itu tidak ada! Kokom memegang dadanya yang sesak, karena amarah yang dia tahan. Kokom tidak mau teriak dan menyebabkan orang orang mendengar suaranya, lalu dirinya di sangka maling di rumah mantan suaminya itu.

__ADS_1


"Gak ada juga nih mah, Nita haus mau ke dapur dulu" ucap Nita.


"Sekalian Mamah bawain minum ya," ucap Kokom. Nita pun keluar dari kamarnya Herman dan tak berapa lama Nita kembali dengan membawakan segelas air minum.


Kokom pun meminum air tersebut hingga tandas.


"Mah Nita lapar lagi, nyari makanan yuk! disini kan nyari juga butuh tenaga Mah, Bapak juga pulangnya masih lama ini kan" ujar Nita yang mengelus-elus perutnya.


"Ya udah kita ke dapur. Mamah mau lihat ada makanan gak yang bisa di makan atau di olah." ucap Kokom yang melangkahkan kakinya ke luar kamar.


"Terus ini kamarnya kaya kapal pecah gimana?"


"Udahlah biarin aja. Ayok kita cari makanan dulu!" ujar Kokom yang keluar dari kamar Herman di ikuti dengan Nita.


Kokom pun ke dapur dan membuka kulkas mencari bahan makanan atau makanan jadi yang dia bisa olah atau makan, dan ternyata ada. Kokom melihat ada telur dan ayam yang sudah di bumbui kuning, sepertinya tinggal di goreng saja. Kokom pun melihat tahu Kuningan. Jadilah Kokom mengeluarkan dua potong paha ayam serta 4 buah tahu kuning, serta cabe dan bawang putih.


Nita yang melihat ibunya masak hanya diam saja tidak membantu sedikitpun, karena Nita memang tidak pernah di ajak untuk memasak oleh Kokom.


"Kosong Mah, gak ada nasinya," ucap Nita.


"Kamu bisa kan bikin nas? kan udah pernah Mamah ajari"


"Bisa mah kalau nasi mah gampang" ujar Nita yang mengambil panci magic com, lalu mengambil beras dua gelas dari tempat beras, serta mencucinya di wastafel. Nita pun mencuci beras sebanyak 3 kali dan memberikan air sesuai takaran yang dia ketahui di dalam panci yang berisi beras tersebut. Lalu memasukan lagi ke magic com. Nita pun memasang kabel sambungan magic com dan menekan tombol berwarna merah. Nasi pun Siap di masak.


"Semoga gak kelembekan ya Nit" ujar kokom yang baru memasukan dua potongan paha ayam besar ke dalam wajan yang sudah berisi minyak panas. Kokom pun duduk kembali dan hanya memberikan senyuman tipis karena ucapan ibunya. Sungguh Nita sedang malas bertengkar dengan Mamahnya yang super cerewet itu. Karena tidak mau di salahkan lagi.


Setelah selesai memasak, makanan pun jadi dan di siapkan oleh Kokom. Untungnya nasi nya pun cepat matang karena hanya buat sedikit. Kokom pun menyajikan masakannya dan Nita menyajikan nasi, setelah semua makanan ada di meja makan, mereka berdua pun makan dengan lahap, di rumah Herman, Bahkan sampai habis tak bersisa.


"Enak banget, emang masakan Mamah Ter the best lah" ucap Nita Sambil meminum air putih.


"Kamu beresin dan cuci semuanya, biar Bapak kamu gak curiga, kalau kita kesini," Ujar Kokom yang berdiri dan cuci tangan di wastafel.


"Lah kok aku yang nyuci? aku pikir biarin aja"

__ADS_1


"Gimana sih kamu Nit, Mana ada maling di rumah korbannya, masak dan numpang makan segala, udah bersihin terus susul Mamah ke kamar nya Bapak"


"Nyari di kamar Bapak lagi, kan gak ada mah! udah kita ubrak Abrik tadi."


"Kan kasur bapak belum, kali aja di simpan di bawah kasur" ucap Kokom yang langsung meninggalkan Nita dengan kekesalan di wajahnya.


Nita pun dengan terpaksa membersihkan piring kotor bekas makan dan panci magic com yang habis nasinya hingga tandas tak bersisa, dan membersihkan meja makan dari kotoran makanan yang jatuh tadi.


Setelah beberapa saat kemudian Nita pun selesai membersihkan piring dan memasukan piring kembali ke rak tempat piring, agar Herman tidak curiga ada piring bekas pakai dan cuci yang di taro di wastafel. Begitupun dengan panci magic com yang di lap dan di taro lagi di tempat sebelum nya.


Nita pun menyusul Mamahnya di kamar Herman, dan saat membuka pintu. Nita terperangah dengan keadaan kamar yang semakin berantakan saja, seprei yang tadinya di pasang udah tak karuan, bahkan sudah turun ke lantai beserta bantal dan gulingnya. Nita hanya menggelengkan kepalanya saat ibunya sedang menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Nita pun mengambil bantal dan menepuk-nepuk bantal yang tergeletak di bawah. Tapi Nita sadar saat tangannya menyentuh bantal, kok permukaannya aneh.


Nita pun mengeluarkan bantal dari sarungnya, dan mencoba untuk membuka bantal tersebut tapi tidak bisa. Kokom yang melihat apa yang di lakukan Nita hanya terdiam, karena belum mengerti Nita pun ke dapur dengan sedikit berlari dan mencari gunting. Alhamdulillah ada, ternyata perkakas Herman lengkap juga.


"Kamu ngapain sih Nit. Kok ambil gunting" tanya Kokom saat melihat Nita kembali membawa gunting.


"Ada sesuatu di bantalnya Bapak" ucap Nita yang langsung merobek bantal di bagian pinggir nya biar isinya tidak berantakan. Kokom pun menghampiri Nita. Dan Nita pun mengeluarkan sesuatu dari dalam banyak tersebut. Terbitlah senyum di wajah mereka berdua, saat menemukan sebuah amplop coklat. seperti amplop yang ingin melamar pekerjaan, segera saja Nita mengeluarkan isi amplop tersebut dan di baca kertas yang bertuliskan sertifikat rumah.


"Mah... Nita nemuin sertifikat rumah bapak Mah, Ini lihat!" ujar Nita senang.


"Mana lihat...!" Ucap Kokom yang mengambil kertas tersebut dari anaknya. dibaca nya baik-baik setiap tulisan yang ada di kertas tersebut.


"Kamu bener Nit, ini sertifikat asli rumah mas Herman, akhirnya ketemu juga. Setelah sekian lama kita mencari Nit." Ucap Kokom yang langsung memeluk kertas tersebut.


"Terus mau Mamah apain tuh sertifikat."


"Kita jual rumah ini dengan harga pasaran, kalau enggak harganya tinggian dikit lah. Nit kamu masukin lagi amplop nya ke dalam bantal biar mas Herman gak curiga. Terus kita berantakin dua kamar lain, supaya Bapak kamu gak curiga." ucap Kokom yang langsung memasukan sertifikat itu ke dalam tas yang dia bawa tadi. Nita pun memasukan kembali. amplop tersebut ke dalam bantal. Dan memberi bantal sarung bantal yang di pasangkan sebelumnya.


"Ayok nit! Sebentar lagi siang nit!" Ucap Kokom yang akan keluar kamar. Di ikuti dengan Nita dan membiarkan kamar Herman sangat berantakan.


Nita dan Kokom pun memulai dengan ruangan depan. Semua banyak sofa di jatuhkan dari tempatnya ke lantai, tata letak sofa yang di rubah-rubah. Setelah itu ruang keluarga hingga dapur. Semua ruangan di buat Kokom dan Nita menjadi sangat berantakan. Tak terkecuali kamar bekas kamar Nisa dan kamar tamu. Semua di buat berantakan tidak terkira.


"Susah selesai semuanya Nit, ayok kita pulang, sebelum ada yang curiga" ujar kokom. Nita pun menganggukan kepalanya saja, mereka berdua pun keluar dari rumah anda dengan wajah berseri-seri lalu naik ke jendela yang tidak di kunci itu.

__ADS_1


__ADS_2