MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
BAB 73 HERMAN MENGAMUK


__ADS_3

POV Nissa


" Yank, Apa gak masalah ya dengan ibu nya Herman? kalo dia tau kamu masukin anaknya ke RSJ, gimana yank?" Tanya mas Agam, suamiku yang membuatku berpikir sejenak.


" Biarkanlah yank, dulu aku ada perjanjian sama ibunya waktu Herman di penjara, aku cabut laporan ku, kalau si Herman berjanji dia tidak akan menggangu ku lagi, tapi ia sudah berulangkali bertingkah, dan aku lelah, jadi kalo ibunya nanti tidak terima aku akan jelaskan alasannya kenapa!" ucapku.


" Ya sudah, pokoknya aku akan selalu mendukung apa pun keputusan kamu," ujar mas Agam yang langsung memelukku.


Kurasakan kehangatan dan ketulusan saat memeluk mas Agam, saat dengan mas Agam, aku benar-benar merasa di cintai dan di lindungi, aku merasa di dengar dan dihargai. Semoga pernikahan ku dengan mas Agam selalu langgeng, hingga kakek dan nenek dan tak ada lagi pelakor di antara kita lagi. Doaku dalam hati.


" Terus apakah kamu ada rencana buat lihat Herman di RSJ? " tanya mas Agam yang masih memelukku erat.


" Ia, besok aku akan menjenguk mas Herman, dan kamu yank sebagai suami ku yang siaga pokoknya harus nemenin aku ya, gak ada alasan!"


" Ok. My Queen.... Pokoknya nya mah " saut mas Agam.


Hehehehe..... aku pun tersenyum melihat wajah suamiku yang tampan ini, tapi ku ucapkan hanya dalam hati, karena kalo ku ucapkan langsung bisa minta jantung dia.


" Hmmm Arka kayanya tidur yank, kita lihat sebentar yukk," ucapku sambil menggandeng tangan mas Agam.


" Mau magrib, Kalo bisa Arka jangan tidur dulu tar aja habis magrib," ucap mas Agam.


Kami berdua pun menghampiri kamar nya Arka, tetapi saat kami berdua membuka pintu kamar Arka, dia tidak ada, aku pun mencari Arka di ruang tengah, sampai ruang tengah aku menghela nafasku, ternyata Arka sedang di gendong oleh mba Sus sedang menonton TV.


" Uyuh.... Uyuhh.... Cayangnya mamah sedang apa?" ucapku saat ku lihat Arka tertawa melihatku, ku gendong Arka setelah ku ambilnya dari mba Sus.


" Mba Sus kebelakang aja, makan dulu, biar Arka aku yang pegang, Mau aku kasih asi juga mba," ujarku.


" Ia Non, saya izin kebelakang," saut mba Sus.


" Ia mba, silahkan " Ujarku.


Ku gendong Arka dan bayi lucu ini sangat anteng, pas datang mas Agam, seketika saja Arka menjulurkan tangannya minta di gendong mas Agam, gemas sekali aku melihat kelakuan Arka. Dan sangat bahagia melihat kedekatan keduanya yang seperti ayah dan anak.


" Anak papah udah mandi ya? Udah ganteng, Udah bau bedak bayi, Harummm banget bau minyak telon, Udah makan juga ya?" Tanya mas Agam kepada Arka, dan yang di tanya hanya tersenyum saja.


" Ayuk yank, Kita sholat dulu, kayanya mba Sus juga udah selesai deh," ucapku.

__ADS_1


" Ya udah, Arka sama mamah ya, Papah mau ke mesjid dulu mau sholat magrib, atau Arka mau ikut?" tanya mas Agam yang lagi-lagi hanya di berikan jawaban senyuman yang menggemaskan.


" Sini sayang," ucapku sambil mengambil Arka dari gendongan mas Agam.


" Aku ke mesjid dulu ya, kamu tungguin aku habis isya baru kita Makan," ucap mas Agam, dan aku hanya menganggukkan kepalaku saja, mas Agam mencium keningku dan pipi gembul Arka dengan lembut, mas Agam pun keluar untuk sholat berjamaah di luar cluster ini menggunakan mobilnya.


Setelah selesai melaksanakan sholat magrib dan isya, tak lama kemudian mas Agam pun pulang, aku pun mulai menyiapkan makan malam untuk mas Agam, sedangkan Arka seperti biasa di gendong oleh mba Sus nya, aku berdua dengan mas Agam, makan dengan khidmat.


_____


Keesokan harinya aku dan mas Agam serta Arga mampir ke rumah mamah ku untuk menitipkan Arka, di rumah mamah aku menceritakan semua apa yang Herman lakukan, tapi respon mamah malah ketawa sampai-sampai keluar air matanya.


" Mah...Udah ketawa Mulu, sakit perut tar," ujarku melihat mamah yang masih saja tertawa.


" Maaf Nis, Habisnya mamah gak bisa tahan. Ya Allah ada manusia macam kaya gitu ya, minta buat tinggal di rumah mantan istri yang udah nikah, apa dia gak mikir dan malu, kan ada suami kamu ya! Untung aja si Herman cuman di masukin ke RSJ, kalo papah kamu pasti udah di buang ke Kalimantan buat makanan ular phiton, hahhahaha...." Ujar mama yang melanjutkan tertawanya.


" Ia mah, Agam juga bingung, ada ya orang kaya gitu! Untung Agam gak ikutan gila," ucap mas Agam.


" Ia gam, Mamah juga bingung, padahal dia itu dulunya kerja di BUMN loh gam, berarti kan otaknya pinter tuh, kenapa sekarang jadi gesrek kaya gitu ya!" Ucap mamah.


" Beli kali mah ijazah nya, bukan hasil sendiri, apa mungkin keinginan nya buat kaya secara instan udah jadi obsesi dia! jadi segala cara dia lakuin." Ucapku.


" Aku hanya ingin liat kehancuran dia aja mah, supaya dia tau, kalau aku bukan Nissa yang dulu, jadi dia gak bisa macam-macam lagi sama aku, ya sudah mah aku jalan dulu ya mah sama mas Agam," ucapku sambil mencium tangan mamah dan mencium Arka yang sedang tertidur.


Pules sekali jagoan mamah ini, walaupun tadi nenek berisik gak ke ganggu ya sayang, ucapku.


" Ya udah kalian jalan sekarang, mumpung Arka lagi tidur, jadi Arka gak nurut buat ikut."


" Ia mah, assalamu'alaikum," ucap mas Agam.


Kami berdua pun keluar dari rumah mamah, menuju ke Grogol. Jarak yang lumayan jauh dari tempat mamah, semoga saja tidak macet. Kami pun sampai di rumah sakit, dan melihat keadaan, ya yang namanya rumah sakit jiwa pasti banyak pasien yang mengalami gangguan jiwa, semoga saja saat Arka dewasa, Arka tidak membenciku karena telah memasukkan ayah kandungnya ke RSJ ini. Batinku.


" Sayang.... Ayok ruangan dokternya sebelah sana," ucap mas Agam, aku hanya menuruti mas Agam sambil memegang tangannya erat. Karena jujur aku agak ketakutan dengan para pasien disini.


" Selamat siang dokter Leo, saya Agam dan ini istri saya Nissa " ucap mas Agam memperkenalkan kami berdua kepada dokter Leo. Saat kami memasuki ruangan dokter, karena sudah membuat janji temu.


" Selamat siang pak Agam, kalo boleh saya tahu apa ibu Nissa sendiri yang memasukan bapak Herman ke rumah sakit ini?" tanya dokter Leo.

__ADS_1


" Ia pak, saya sengaja mengirim mas Herman kesini, karena saya pikir mas Herman itu memiliki gangguan jiwa, karena obsesi nya yang tidak bisa dia dapatkan Dok," dan jujur saya merasa terganggu dengan kelakuannya yang bagi saya tidak masuk akal, terang ku.


" Saya paham bu Nissa, tapi saya sudah mendiagnosa bahwa kesehatan pak Herman baik-baik saja, hanya saja memang agak sedikit mengalami tekanan, dan emosi yang tidak terkontrol, tapi itu masih dalam batas wajar menurut saya bu," ujar dokter Leo yang membuat saya bingung.


" Jadi bagaimana pak baiknya? jadinya Herman harus di keluarkan dari rumah sakit ini pak?" tanyaku.


" Kalo memang pak Herman mengganggu ketentraman ibu, kenapa tidak di laporkan ke Polisi aja Bu? kenapa malah di masukan ke rumah sakit jiwa." Tanya dokter Leo.


" Saya sudah pernah menjebloskan Herman ke penjara pak, tapi karena ibunya menjamin Herman tidak akan menggangu saya lagi, jadi saya putuskan untuk mencabut laporan saya, tapi setelah keluar dari penjara, bukannya tobat malah tambah parah kelakuannya pak, jadinya saya pikir mungkin otaknya konslet, apa dia udah stres? pikir saya, karena kemaren dia ngerusuh di rumah saya seperti orang gila, dan saya putuskan saja untuk membawa dia kesini." Jelasku.


" Hmmmm... begitu ya Bu Nissa, baiklah karena ini kan rumah sakit jiwa ya Bu, palingan saya akan observasi lebih lanjut, jadi paling tidak pak Herman bisa di rawat disini dulu selama satu Minggu sampai satu bulan, jadi kita bisa lihat perkembangan emosi pak Herman, kalo memang lebih baik, dengan terpaksa saya akan mengizinkan pak Herman untuk pulang, karena kalo lama-lama disini, tapi kondisi pasien baik-baik saja, pihak rumah sakit tidak ingin menanggung akibatnya bu, jadi nanti saya yang akan kena hukumannya," jelas Dokter Leo.


" Lakukan yang terbaik saja pak, kalo memang perlu sampai satu bulan malah lebih bagus, bahkan rencananya saya ingin agar Herman tinggal disini selama 1 tahun, jika pihak rumah sakit mengizinkan pak," ucapku.


" Itu semua tergantung keadaan pasien ya Bu, kalo pasien baik-baik saja, pasti akan segera di pulangkan," terang dokter Leo.


" Tapi untuk sekarang Herman masih tinggal disini ya Dok berarti?" tanya mas Agam.


" Ia benar pak Agam, karena saya ingin melihat bagaimana pengendalian emosi dari pak Herman itu sendiri," Jawab Dokter Leo.


" Tapi apa boleh saya bicara dengan Herman sebentar dok?" tanya mas Agam.


" Silahkan pak Agam, tentu saja bisa, nanti pak Agam dan Bu Nisa bisa bertemu di kamar pasien sendiri, saya panggilkan Suster dulu untuk mengantarkan bapak dan ibu untuk keruangan pak Herman."


" Ia pak terima kasih " ucapku.


Dan tak menunggu lama, datanglah Suster untuk mengantarkan kami ke ruangan Herman.


Aku dan mas Agam akhirnya sampai di ruangan Herman, dan kami berdua pun masuk. Saat kami berdua masuk dan bertatap muka dengan Herman, seketika saja Herman datang dan ingin menyerang ku, tapi tidak bisa karena keburu di tahan oleh para petugas lelaki disini.


" Dasar wanita BRENGSEK kamu Nissa! Wanita sengke, NISSA.... KELUARKAN AKU DARI SINI BRENGSEK, teriak Herman yang terus saja memberontak seperti ingin membunuhku.


Mas Agam maju dan menghampiri Herman lalu rahang Herman di pegang sangat erat hingga membuat Herman sulit bergerak.


" Kamu mulai main-main sama saya Herman, kamu tidak takut sama saya, apa saya terlalu lembek sama kamu, kemaren kamu ingin memukul istriku, ku masukan kamu ke rumah sakit jiwa, dan kamu masih ingin menyentuh Nissa dengan tangan kotor mu itu, akan ku pastikan kamu akan tinggal disini selamanya, sampai kamu memohon untuk lebih baik mati di tinggalkan oleh orang yang kamu cinta, dan tak ada yang peduli padamu lagi, menyenangkan bukan! jadi nikmatin kamar dan rumah baru kamu ini Herman! setimpal dengan apa yang kamu lakukan ke Nissa di masa lalu." Ancam mas Agam.


" Herman... Herman ... sangat menyedihkan sekali..! aku dan Fina sudah punya tambatan hati, sedangkan kamu? malah di RSJ sendiri! " ucapku mengejek mas Herman.

__ADS_1


" Ayok kita pulang sayang," ucap mas Agam, yang menggemgam tanganku erat.


Kami berdua pun meninggalkan mas Herman sendiri disana, bisa ku dengar teriakan-teriakan meronta-ronta, tanda mas Herman yang ingin segera di lepaskan.


__ADS_2