
Arka sudah pergi meninggalkan Supermarket yang dia bangun dengan uangnya dan di bantu oleh Papahnya, Agam. Arka menggunakan kaca mata di dalam mobilnya yang semakin menambah ketampanan seorang Arka. walaupun Arka hanya memakai kaos putih biasa dan celana jeans saja.
Arka membelokan mobilnya ke arah kontrakan nya Kokom dan Nita, Arka membawa mobilnya dengan kecepatan yang rendah. Karena sudah memasuki perkampungan dan banyak sekali anak- anak yang lewat. Mobil yang Arka bawa menjadi tontonan para warga, karena Arka membawa mobil kesayangannya yaitu mobil lambo. Setelah sampai di tujuan Arka pun memarkirkan mobilnya di depan kontrakan Kokom, dan warga yang melihat itu pun menghampiri Arka untuk melihat mobil tersebut dari dekat.
Arka pun keluar dari mobil dan para warga wanita yang melihat Arka langsung terpesona sampai ada yang membuka mulutnya lebar.
"Masya Allah ada artis masuk kampung kita" ucap salah seorang warga. Arka yang mendengar nya pun hanya terdiam mengabaikan mereka, dan langsung masuk ke area halaman kontrakan Kokom.
Sedangkan Kokom yang mendengar keributan di luar langsung segera berjalan ke arah pintu depan dan saat Kokom membuka pintu. Kokom melihat Arka sedang berjalan ke arah rumahnya.
"Assalamualaikum" ucap Arka saat tiba di depan Kokom. Arka membuka kacamatanya dan menatap tajam Kokom dengan tatapan dinginnya.
"Arka... ka-kamu ngapain disini?" ucap Kokom sedikit terintimidasi.
"Saya datang kesini! gak mau banyak ber basa-basi ya. Sekarang ini kamu bukan lagi istri dari Bapak Herman, jadi jika sekali lagi kamu dan anak kamu itu ngerusuh di Supermarket saya! Saya tidak akan segan-segan untuk menjarain kamu. Dan kamu tau kan siapa saya? orang yang nekat dan gak kenal ampun sama orang benalu serta pengusik kaya kalian berdua." Ucap Arka dingin membuat Kokom tambah gemetaran dan ketakutan.
"Lebih baik masuk dulu ka! kita bicara di dalam saja"
"Gak usah! saya gak mau lama-lama di tempat penuh kemunafikan seperti ini! Dan satu hal lagi asal kamu tau Pak Herman menghubungi Polisi atas tindakan pengrusakan rumahnya dan kabar yang saya dengar mereka mendapatkan bukti sidik jari. Sangat banyak dan kamu bisa tau kan apa yang akan terjadi, kalau pengrusakan rumah Bapak sudah di ketahui, kalian berdua akan masuk penjara!" Ucap Arka..yang membuat wajah Kokom semakin pucat.
"Ingat...! Ini peringatan terakhir dari saya, kalau kalian menjadi perusuh di bisnis saya lagi. Bukan hanya penjara yang akan menjadi rumah kalian? tapi saya pastikan kalian semua akan di deportasi dari negara ini!" Ancam Arka membuat Kokom semakin pucat dan ketakutan.
Arka pergi meninggalkan Kokom dan menuju mobilnya sedangkan ibu-ibu dan gadis muda yang sudah berkumpul di halaman Kokom dan mendengarkan semua pembicaraan Kokom dan Arka mulai berbisik-bisik.
Arka pun masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan pelan. Kokom yang melihat tatapan para tetangga nya pun langsung menutup pintu dengan keras, sehingga menimbulkan bunyi yang sangat nyaring.
"Wah si Kokom liat tuh, rusak pintu kontrakan nya bi Imah" ujar salah satu ibu-ibu warga.
"Ia... kita laporin aja, lagian kalian denger kan tadi dia bakalan di laporkan ke Polisi" ucap ibu yang lainnya.
"Mending jangan di laporin, biarin aja di jemput Polisi dulu, tar juga keluar dari kontrakannya bi Imah, mending sekarang kita bubar aja" ucap ibu yang lainnya. Mereka semua pun mengangguk dan berjalan bersamaan untuk membubarkan diri.
"Nitaaa... Nitaaa... Kemana sih nih anak di panggil ga nyaut-nyaut" Kokom mencari Nita ke seluruh penjuru rumah. Tapi Nita ternyata tidak ada. Kokom lupa Nita tadi meminta izin padanya untuk keluar dari rumah membeli salep karena cakaran dari tikus di kakinya.
"Astaga gimana ini aku gak mau di penjara. Tapi aku pasti bisa berkelit ia. Aku harus berkelit, bukti sidik jari aja gak kuat, aku dan Nita kan sudah lama ada di rumah itu, jadi pasti banyak bukti sidik jariku, lagi pula sertifikat itu tidak ada, aku harus tenang pokoknya. Arka dan Herman tidak akan bisa mengancam ku" Ujar Kokom.
"Aku harus tenang." Kokom pun kembali duduk di kursinya, tetapi tangannya masih gemetar, ketakutan itu masih melanda hati Kokom, dia pun masih gelisah.
__ADS_1
Brak...
"Astajim... Astaghfirullah Nita... Kamu apa-apaan datang-datang bukannya salam malah buka pintu seenak jidat, kalau rusak mampus kamu kita harus ganti." Teriak Kokom kepada Nita yang baru datang dan langsung duduk di samping ibunya.
"Udah Mah, Gak usah banyak omong dulu, aku mau tanya tadi ada cowok cakep pake mobil keren datang kesini, siapa mah? bukan selingkuhan Mamah kan?"
"Sembarangan kamu Nit? mana ada brondong ganteng dan kaya mau sama Mamah, tadi yang datang itu si arka, dia kesini ngancem mamah Nit"
"Kok gitu... berani-beraninya dia ngancem Mamah. Gak punya adat, kamu sopan santun sama yang lebih tua. Mentang- mentang dia kaya, jadi bisa seenaknya saja" geram Nita.
"Udahlah Nit, mending kita gak usah ganggu dia lagi Mamah capek! Mamah juga gak mau masuk penjara. Si Arka kayanya tau kita yang ngerusak rumah mas Herman, Mamah gak mau berurusan sama dia lagi Nit"
"Loh ini kan gak ada hubungannya sama Arka mah, lagian dari mana dia tau sih ngeselin banget, kita ke Supermarket nya sekarang, kita bikin perhitungan di sana, ayukk mah!" ujar Nita sambil bangun dan menarik tangan Kokom.
"Jangan Nit, tadi Arka bilang jangan ngerusuh lagi di bisnis dia, Kalau enggak kita bakalan di laporkan ke Polisi, mamah gak mau di penjara atau lebih parahnya, Mamah gak mau di deportasi Nit, kamu tau kan dulu cerita Bapak kamu yang di kirim ke rumah sakit jiwa dan ke Papua sama keluarganya Arka. Pasti Arka sanggup melakukan itu semua dan Mamah gak mau mengalami apa yang bapak kamu alami" ucap Kokom
"Akh... ribet banget sih hidup mereka" ujar Nita yang melepaskan tangan Kokom dan mendudukkan badannya di kursi dengan kasar.
"Udahlah Nit, kita gak usah cari masalah lagi, hidup kita udah susah, jangan berurusan sama orang kaya." Lirih kokom
"Ia Mah, besok aku udah kerja, Mamah gak usah pusing lagi masalah ini." Ujar Nita yang memegang tangan ibunya menguatkan.
"Mamah juga bingung, tapi kita lihat nanti aja Nit, semoga aja istrinya tidak akan pernah tau sampai Mamah dan Papah kamu menikah"
"Memangnya kapan Mamah dan Papah menikah?"
"Minggu depan Mamah sama Bapak kamu akan menikah siri di tempat saudara Papah kamu."
"Jadi Mamah udah nyerah sama Bapak Herman?"
"Ia buat apalah, ngeharepin Herman lagi. Dia aja udah mau nikah, lagian sekarang Herman udah berubah udah gak bisa di kendalikan kaya dulu, jadi buat apa?"
"Ia Mamah bener juga?" ujar Nita.
\_\_\_\_\_&&&\_\_\_\_
Herman pun bersiap-siap untuk pergi ke Mall Earth. Mall milik Arka anaknya. Dia ke sana ingin membeli perlengkapan rumah yang rusak, Herman berencana untuk membeli satu sofa yang baru. Dan juga membeli satu lemari plastik karena hancur, Herman juga berencana membeli membeli TV baru, karena rusak, kalau urusan dapur, Herman hanya akan membeli magic com karena, penanak nasinya pun tidak bisa di gunakan.
__ADS_1
Herman menggunakan sepeda motornya, dia membeli hari ini karena di hari Jumat besok Herman akan pergi ke kampungnya Putri di solo, jadi dia hanya punya waktu besok, Kamis, biar di hari jumatnya semua persiapan untuk di perjalanan lancar.
Herman menggunakan sepeda motornya. Untung saja jalanan tidak macet, jadi Herman hanya membutuhkan waktu setengah jam saja untuk sampe ke toko milik Arka.
Saat sampai di parkiran, Herman lekas pergi ke kantornya Arka untuk bertemu anaknya itu, dia yakin bahwa Arka sudah ada di Indonesia. Herman kemudian masuk ke ruangan resepsionis dan langsung menghampiri resepsionis yang sedang berdiri.
"Selamat siang mba, saya mau bertemu dengan pak Arka nya ada" tanya Herman.
"Maaf Pak Herman, Pak Arka nya mulai hari ini sudah tidak bertugas, atau bekerja disini" Ucap resepsionis tersebut.
"Maksudnya gimana? bukannya Mall ini milik Arka saudara saya" ucap Herman sedikit meninggikan suaranya.
"Mall ini memang milik Pak Arka, tapi kepimpinan Mall ini telah di serahkan tanggung jawabnya kepada Pak Budi oleh Pak Arka sendiri."
"Maksudnya gimana mba saya kurang ngerti?"
"Maksud saya, sekarang yang mimpin dan pengambil keputusan mengenai Mall ini adalah Pak Budi, tetapi Pak Arka masih menjadi pemilik hanya saja sudah tidak mengurusi tentang internal perusahaan" ucap resepsionis tersebut berusaha sabar.
"Gak bisa kaya gini, emang si Budi itu siapa? hanya orang luar, enak aja di jadiin Bos di perusahaan ponakan saya." Ujar Herman marah, resepsionis tersebut yang melihat Herman marah, terheran dan mengernyitkan dahinya bingung.
'Nih orang datang-datang udah gila aja. Abis obatnya kali ya? kok bisa sih orang sebaik Pak Arka, punya saudara modelan begini' ucap resepsionis itu dalam hatinya.
"Saya bisa ketemu sama si Budi-Budi itu " ujar Herman kesal.
"Mau ada perlu apa ya Pak? kalau tidak ada urusan mendesak Pak Budi tidak bisa menemui Bapak, karena Pak Budi sekarang sedang sibuk, pekerjaannya bertambah karena Pak Arka pergi ke luar negri."
"Maksudnya."
"Maksudnya saya, Pak Arka pindah kuliahnya ke luar negri makanya Pak Arka mempercayakan Mall ini ke pak Budi" ujar resepsionis tersebut akhirnya kesal juga.
"Cepat kamu panggil itu si Budi, saya mau ngomong baik-baik. Saya tunggu di bawah. Kalian harus hormat sama saya. Karena saya saudaranya pemilik Mall gede ini, kalian disini cuman pekerja dan pegawai, jadi gak usah songong, cepat panggil!" Ucap Herman Ketus dia pun berjalan ke arah sofa yang memang di peruntukan untuk tamu yang datang.
Resepsionis tersebut melotot mendengar ucapan dari Herman, dia pun langsung menghubungi Pak Budi bahwa ada pak Herman di bawah dan ingin bertemu dengan Pak Budi. Dan untungnya pak Budi pun bersedia untuk bertemu dengan Herman di bawah.
Beberapa menit kemudian, Pak Budi sampai di lantai bawah dan menghampiri resepsionis.
"Kamu tolong minta OB, bikinin kopi ya, buat tamu Nak Arka" ucap Budi. resepsionis itu pun langsung menganggukkan kepalanya, sedangkan Budi menghampiri Herman yang sedang duduk sambil mengangkat kaki satunya ke atas pahanya. Dengan menampilkan wajah sombong Herman melihat Budi datang menghampiri.
__ADS_1
"Dimana Arka...? Dia memblokir saya, itu pasti permintaan kamu ya, kamu udah cuci otaknya Arka ponakan saya. Supaya bisa menjadi Bos di sini!" ucap Herman to the point saat Budi baru saja mendudukkan dirinya di kursi di depan Herman.