
Pak Budi menggelengkan kepalanya karena ucapan Herman.
"Maaf Pak Herman. Jangan bicara sembarangan! Saya diangkat menjadi Bos di sini atas permintaan Pak Arka sendiri, kalau anda tidak percaya tanyakan saja kepada keponakan anda sendiri!"
"Kan saya udah bilang no saya di blokir. Coba anda telepon Arka siapa tau Arka angkat"
Budi menarik nafasnya panjang, lalu mengambil HP nya, menghadapi orang seperti Herman memang menguras emosi, tapi Budi harus sabar, tidak mau terjadi keributan.
Budi pun menghubungi Arka dan langsung diangkat oleh Arka.
[ Assalamualaikum Pak Arka, ada pak Herman ingin berbicara dengan anda, pak Herman menuduh saya mencuci otak Pak Arka untuk mendapatkan jabatan yang saya pegang sekarang ] ucap Budi.
[ Hmmm... Saya males sebenarnya ngomong sama dia, tapi Pak Herman udah keterlaluan..m Ya sudah saya loud speaker saja Pak ]
[ Baik Pak...] Ucap Budi. Lalu dia pun menekan tombol loud speaker.
[ Mau apa lagi Pak Herman. Apa yang saya ucapkan di telepon belum anda mengerti ] Tanya Arka.
[ Ka ini paman Herman. Saya cuma kaget aja, kamu udah gak menjabat disini kemana kamu pergi ka?]
[ Saya akan kuliah dan menetap dengan waktu yang cukup lama di Amerika ]
[ Ya tapi kan seharusnya kamu gak menyerahkan kepemimpinan kepada orang asing ]
[ Siapa yang orang asing disini Pak Herman ]
[ Pak Budi lah siapa lagi. Ada saya disini sebagai paman kamu, kenapa kamu tidak memilih saya untuk menjadi pemimpin di Mall ini ]
[ Bukankah Pak Herman pun orang asing ya, ingat Pak Herman itu bukan siapa- siapa saya. Lagi pula apa Bapak mampu memimpin sebuah perusahaan? Memimpin rumah tangga sendiri aja Bapak tidak mampu!? mana mungkin saya menyerahkan perusahaan saya yang udah kawin cerai sebanyak beberapa kali, mau jadi apa perusahaan saya nanti?! yang ada malah nanti bangkrut ] ucap Arka menohok yang membuat Herman diam telak dan pak Budi pun mencoba menahan tawanya.
[ Ka, itu kan masa lalu, walau bagaimanapun saya ini tetap ayah kamu, jangan kurang ajar sama ayah kamu sendiri ka ] ucap Herman membuat Budi dan resepsionis yang mendengarkan pembicaraan mereka mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
[ Bagi saya, Ayah saya adalah Agam, yang selalu bersama saya sejak saya Bayi, yang menemani saya dan mengadzani saya saat saya dilahirkan dan menggendong saya, saat saya pertama kali melihat dunia, serta selalu menenangkan saya ketika saya menangis bahkan saat saat tengah malam, Ayah saya itu Agam bukan anda! ] Ujar Arka dingin.
[ Tapi tetap saja darahku yang mengalir di dalam tubuh kamu ] teriak Herman.
[ Saya tidak perduli akan hal itu! Yang saya tau Ayah saya adalah Agam yang selalu ada buat saya dari sejak saya lahir, sampai sekarang, ketika saya sakit, sedih maupun terluka, hanya ada Papah agam, dan satu yang pasti Ayah saya tidak pernah memanfaatkan saya, jadi jangan menyebutkan anda sebagai seorang Ayah kalau anda sendiri bahkan tidak pernah berperan sedikitpun menjadi Ayah saya. anda harusnya paham kan?!] ujar Arka semakin dingin. Herman hanya terdiam.
[ Pak Budi... Jika Pak Herman melakukan tindakan yang merugikan Perusahaan yang saya serahkan kepada Pak Budi saja, bahkan jika ingin melibatkan hukum, saya serahkan semua kepada Pak Budi Assalamualaikum ] ujar Arka menutup sambungan teleponnya.
Herman hanya bisa menahan nafasnya, hatinya sungguh sakit hingga ke ulu hati dan juga Mata Hati mendengar penjelasan dari anaknya tadi. Semua yang di ucapkan Arka memang benar, dia sama sekali tidak punya peran penting dalam hidupnya Arka.
__ADS_1
"Jadi sekarang Bapak sudah paham kan! dan saya tekankan sekali lagi, jaga ucapan Bapak, jika Bapak menuduh ataupun memfitnah saya, saya dengan sangat terpaksa akan menempuh jalur hukum, dan saya peringatkan kepada Bapak untuk tidak membuat kekacauan di Mall Earth ini" ancam Budi tegas. Herman mendengar ucapan Budi sedikit merasa takut, karena Budi yang pertama kali terlihat gampang di tindas bisa berubah menjadi menyeramkan.
"Baiklah saya permisi!" ucap Herman yang langsung pergi meninggalkan kantor Supermarket Earth. Herman pun menuju gedung Mall dan menghampiri boot TV. Herman hanya akan membeli TV dan magic com untuk keperluan nya saja.
Air mata Arka perlahan jatuh. Tapi dengan segera Arka menghapus air mata itu, sungguh Mata hati Arka juga sebenarnya sangat sakit, harus mengatakan itu kepada ayah kandungnya, tapi itu harus Arka lakukan, untuk membuat ayahnya sadar, tapi Arka pesimis kalau ayahnya akan sadar, karena yang Arka rasakan selama ini, bahkan hingga saat ini, Herman mengingat Arka hanya karena ada maunya saja.
Arka pun melanjutkan kembali perjalanan ke Bandung untuk menyelesaikan surat kepindahannya ke MIT di Amerika.
\_\_\_\_&\_\_\_\_
Seminggu pun telah berlalu. Hari ini adalah pernikahan Kokom dengan mantan suaminya Saiful Mereka menikah secara siri, dan pernikahan mereka di gelar di rumah pamannya Saiful. Pernikahan mereka hanya di gelar dengan cara yang sederhana dan yang datang pun hanya keluarga dari pihak Saiful, yang setuju saat Saiful menjelaskan ingin kembali rujuk dengan Kokom, sedangkan keluarga dari pihak Kokom hanya ada Nita seorang, tidak ada satupun sanak saudara Kokom yang mengetahui pernikahan Kokom yang kedua ini, karena yang mereka tau Kokom masih sah menjadi istri dari Herman dan belum bercerai.
Saat kata sah di kumandangkan, tiba-tiba pintu rumah pamannya Saiful terbuka dengan kencang.
BRAKKKK...
Semua orang yang ada di dalam kaget karena suara keras tersebut, tapi yang lebih kaget itu adalah Saiful dan keluarga dari Saiful yang ternyata melihat kedatangan dari istri sah nya Saiful.
"Ruk....Rukmini!?" Ucap Saiful gugup ternganga melihat kedatangan istrinya dengan muka merah menahan kesal. Rukmini datang bersama kakaknya, tak berbeda jauh dengan Rukmini, kakak Rukmini pun melihat Saiful yang sedang melakukan pernikahan di buat geram, bahkan abangnya Rukmini mengepalkan tangannya kuat.
"DASAR BEDEBAH KAU IFUL!" ucap Abang Rukmini menghampiri Saiful yang masih diam terpaku duduk di samping Kokom di depan penghulu.
Bugh... Bugh...
Saiful terhuyung ke bawah saat tiba-tiba Abang Rukmini datang menghampiri mereka lalu dengan dua kali tonjokan di mukanya Saiful, menyebabkan Saiful bersimbah darah, hingga giginya ada yang copot.
"Kurang ajar kamu Saiful!" Ucap Abang Rukmini ingin menghajar Saiful lagi, tapi segera di tahan oleh pamannya Saiful.
"Lepas ...kurang ajar! kalian semua ini sama saja, sama sama bedebah" ucap abangnya Rukmini. Sedangkan Saiful hanya bisa diam, karena masih terasa sakit. Kokom memegang tangan Saiful dan mencoba membersihkan luka yang ada di bibir saiful. Istri Saiful melihat kemesraan suaminya dan istri barunya itu hanya berdecih.
"Mas... Talak aku sekarang juga Mas" Ujar Rukmini menatap Saiful dengan kebencian yang teramat sangat.
"Baiklah kalau itu mau kamu, aku akan menalak kamu sekarang juga." Ujar Saiful di hadapan semua orang, Rukmini yang mendengarnya sedikit kaget, tapi kembali dia mengatur raut wajahnya menjadi tenang.
"Mas jangan! ingat anak kamu? Mereka masih kecil, jangan ulangin kesalahan yang pernah kamu lakukan terhadap Nita anak kita mas" ujar Kokom.
Rukmini mendengar ucapan kokom hanya tersenyum sinis.
"Lihatlah pelakor kita yang bermulut manis tapi berhati busuk. Muak aku mendengar ucapan kalian berdua, cepat Saiful talak aku sekarang juga" teriak Rukmini.
"Lihatlah Kom, dia sama sekali tidak menghargai ku, untuk apa aku masih mempertahankan istri seperti dia, yang kerjaannya cuma teriak-teriak gak jelas." ujar Saiful melihat Rukmini dengan bengis.
__ADS_1
"Rukmini bin Badrun, ku talak kamu hari ini dengan talak 1 maka gugurlah kewajiban ku sebagai suami kamu" ucap Saiful lantang membuat Rukmini tersenyum sinis.
"Kamu tenang saja. Aku masih akan bertanggung jawab terhadapĀ anak-anak "
"Aku tunggu surat cerai dariku, dan harus kamu tau! Anak-anak ada di bawah hak asuh ku, karena mereka masih kecil dan untuk kamu pelakor! selamat sudah menghancurkan rumah tangga saya, semoga kamu di berikan balasan sebesar-besarnya, ayok bang kita pulang saja!" ujar Rukmini yang keluar dari rumah pamannya Saiful. Abangnya Rukmini pun melepas tangan pamannya Saiful dengan sangat kuat, dan mereka berdua pun pergi tanpa pamit.
"Sudahlah Kom, jangan kamu pikirkan, aku harus pulang menyiapkan segalanya."
"Ia mas" sahut Kokom menghembuskan nafas kasar, Kokom begitu lega mantan istri suaminya telah pergi, dia pikir akan terjadi Jambak-jambakan tadi.
"Mah... Aku kaget loh..." Ujar Nita.
"Ia Mamah juga"
"Maafkan kami Pak penghulu" ujar pamannya Saiful, sedangkan Pak penghulu hanya tersenyum tipis.
"Saya harus pergi ada urusan lagi setelah ini Pak" ujar penghulu tersebut.
"Ia Pak, sebelumnya terima kasih ya Pak " ucap Udin. Penghulu tersebut pun pergi meninggalkan rumah Pamannya Saiful.
"Loh... Pak penghulu ke mana paman, udah pulang?" Tanya Saiful.
"Ia dia udah pulang barusan"
"Ya udah kita juga mau pulang, saya ucapkan makasih banyak ya paman nanti uangnya Saiful transfer ya"
"Ok beres!"
"Ayo kita pergi," ujar Saiful kepada Kokom dan Nita. Mereka pun pergi bersama menggunakan mobil yang Saiful sewa.
"Mas bagaimana dengan istri mas?" tanya Kokom saat mereka sedang ada dalam perjalanan.
"Kamu sekarang istri aku Kom, biarlah nanti masalah Rukmini biar aku yang urus, walau bagaimanapun Doni dan Dani itu anakku dan masih tanggung jawabku, jadi aku harap kamu mengerti, kalau aku nanti ngasih uang untuk kedua anakku itu"
"Aku mengerti mas, maaf ya mas sudah buat kamu bercerai dengan istrimu"
"Biarlah, sebenarnya aku juga udah capek sama kelakuan dia, mungkin ini memang jalannya kamu jangan pikir yang aneh- aneh Kom" ujar Saiful.
"Tapi tetap saja, ku merasa ga enak sama dia, padahal kan aku rela jadi istri siri kamu, dan yang aku mau istri kamu gak usah tau, biar keluarga kalian utuh, kasian anak-anak kalian masih pada kecil" ujar Kokom. Saiful yang mendengarkan hanya bisa tersenyum. Sedangkan Nita hanya diam saja di belakang.
Kokom hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, semoga saja pernikahan nya kali ini tidak ada masalah dan langgeng, walaupun harus ada Mata Hati seseorang yang terluka dan tersakiti serta harus ada keluarga yang terpisah karena keegoisan mereka. Padahal yang tidak mereka ketahui, sesungguhnya di dunia ini selalu ada sistem tabur tuai. Tapi Kokom dan Saiful tidak perduli akan hal itu. mereka berdua bahagia di atas penderitaan Rukmini dan kedua anaknya.
__ADS_1