
Arka dan Rayyan pun sudah di pesawat jet milik perusahaan Papahnya, Agam dan mereka kini telah terbang di langit dengan ketinggian entahlah, karena author tidak tau dan tidak pernah naik pesawat.
Arka pun mengambil HP dari saku bajunya, lalu mengambil gambar langit di malam hari dari ketinggian. Tampaklah terang lampu yang berada di bawah begitu indah.
Lalu Arka menguploadnya di status aplikasi chatnya, dengan caption 'Langit yang indah" tulis Arka baru saja di upload, yang lihat lumayan banyak dan bahkan banyak yang mengirim chat kepada Arka. Lalu Arka melihat satu persatu chat yang masuk, tapi ada satu chat yang membuat Arka mengernyitkan dahinya, yaitu chat dari bapak kandungnya Herman.
( Seandainya kamu ajak Bapak ka, pasti asik sekali. Bapak sangat ingin jalan-jalan ke luar negri, seharusnya Mamah kamu mengizinkan kamu uy ajak Bapak. Kamu ga ajak bapak karena di larang sama Mamah kamu. Nissa memang selalu egois ) Tulis Herman di chat dan itu semaki membuat Arka pusing dan memijit kepalanya yang tiba-tiba pening.
\_\_\_\_\_\_&&&\_\_\_\_\_
Sedangkan Mario pun telah naik pesawat jet pribadi milik perusahaan Papahnya. Mario hanya berdua dengan Papahnya, karena Bobi sudah duluan berangkat dengan kedua orang tuanya dan menempati rumah yang sebelumnya di sewa oleh Mario dan Bobi. Dari pihak Mario hanya ada Papah Azzam dan orang tua Bobi, karena acara lamaran ini sangat privasi dan hanya di hadiri oleh keluarga saja. Dari pihak Alisha pun hanya ada kedua orang tua Nissa dan kedua orang tua Agam, tanpa mengundang sanak saudara.
Di kediaman Nissa. Masing-masing Oma dan Opa Alisha yang sudah datang sedang membantu Nissa membuat aneka berbagai makanan khas Indonesia di bantu oleh asisten mereka masing- masing.
Ada yang sedang membuat kue, ada yang sedang membuat aneka cookies. Ada juga yang sedang membuat berbagai aneka makanan, seperti rendang, nasi kebuli, Sate dan berbagai gorengan bahkan karedok serta rujak pun ada. Acara lamaran kali seperti acara 7 bulanan yang sederhana yang sudah di selenggarakan kemarin.
Kandungan Alisha sekarang ini sudah memasuki usia 8 bulan. Sebulan lagi Alisha sudah akan melahirkan, dan rencananya Alisha akan melahirkan di Amerika.
Semua Persiapan pun telah selesai, tinggal menunggu keluarga dari pihak Mario bertamu ke rumah Nissa, dekorasi rumah pun sudah di ganti menjadi lebih rapi dan lebih banyak sedikit sofa untuk tempat duduk untuk para tamu.
Keesokan harinya...
Mamahnya Agam, Mamahnya Nissa berkumpul di dapur bersama Nissa dan para asisten untuk mengatur letak makanan di luar rumah seperti prasmanan dan karena kegiatan itulah sempat menjadi perhatian para tetangga sekitar yang mendengar sedikit bisik-bisik, Apalagi sangat terlihat berkali-kali mobil masuk ke dalam rumah Nissa.
Bu Arum Mamahnya Nissa. Meletakan berbagai macam makanan. Di meja yang telah di siapkan untuk acara lamaran ini. Pihak keluarga Alisha sama sekali tidak menggunakan jasa dari luar, mereka semuanya mengerjakan sendiri dari mulai dekorasi, makanan, serta tata letak duduk untuk para tamu, walaupun mereka yakin tamu yang datang hanya sedikit, tetapi mereka tetap antusias untuk melakukan semuanya.
" Arum... Gak kerasa ya, kita bakalan punya cicit, cucu kesayangan kita, udah mau nikah aja." Ucap Lisa Mamihnya Agam yang tiba-tiba ada di belakang Arum, Mamahnya Nissa. Mereka berdua sedang ada di pekarangan rumah Nissa yang luas yang sekarang ini sedang di sulap. Menjadi dekoran untuk makan makan para tamu nanti. Makanan pun sudah di tata di tempat prasmanan yang sudah di sediakan.
"Lisa...Lisa... kamu ini bikin aku kaget aja" ucap Arum sambil mengelus dadanya pelan. Tapi Lisa sama sekali tidak mendengarkan ucapan Arum. Lisa malah menunduk dan menutup wajahnya.
"Kamu kenapa kok nangis Lis Harusnya kamu bahagia" ucap Arum memegang pundak Lisa sahabatnya dari kecil itu.
"Aku hanya terharu karena merasa senang dan juga sedih." Ucap Lisa yang akhirnya membuka wajahnya dan matanya terlihat di sana Lisa menangis hingga matanya basah karena air mata.
"Sudahlah... Yang terjadi biarlah berlalu, kita tidak perlu menyesalinya, semuanya akan kembali baik, yang terpenting sekarang Alisha akan mulai hidup bahagia bersama cicit-cicit kita yang kembar itu. Masalah hal yang menimpa Alisha tidak perlu kita ingat dan ungkit kembali, semuanya hanya mimpi buruk yang harus kita ikhlaskan dan kita pendam." Ucap Arum. Lisa pun menganggukan kepalanya tanda mengerti ucapan sahabat kecilnya itu yang sekarang menjadi besannya.
"Lihatlah Alisha... Dia tersenyum sambil memegang perutnya... Bahkan tidak terlihat wajah capek ataupun marah... Dan kesal... Cucu kita yang paling cantik itu sedang bahagia sekarang" ucap Arum sambil matanya melihat alisha yang sedang berdiri di pintu... Lisa pun melihat alisha... Seketika bibirnya tersenyum hangat....
__ADS_1
"Kamu benar rum, gak ada yang perlu kita khawatirkan. Cucu kita sedang bahagia sekarang.. Tapi apakah dia terpaksa menikahi lelaki itu" tanya Lisa.langsung menoleh ke arah Arum.
"Entahlah, Kita lihat saja nanti siang saat keluarga Mario datang dan kita harus berikan wejangan kepada Mario. Sebelum Mario melamar Alisha, kita harus bicara 4 mata dengan dia" Ucap Arum.
"Bukan 4 mata rum, tapi 6 mata kan aku juga ikut" ucap Lisa.
Mereka berdua pun kembali melihat dan mengawasi para pekerja yang sedang menata dekoran dan sofa-sofa yang di sediakan.
Jam pun bergerak terasa cepat. Rombongan keluarga Mario pun datang, walau yang datang hanya beberapa orang saja. Saat sampai di depan rumah. Pak satpam yang melihat Mario pun langsung membukakan pintunya dan tidak menampakkan wajah judes seperti pertama kali Mario datang. Bahkan satpam tersebut sangat ramah sekarang, karena dia sudah mengetahui kalau Mario adalah calon suami majikannya.
Pintu gerbang pun terbuka. Mario menurunkan kaca mobilnya.
"Terima kasih ya Pak" ucap Mario. ( Anggap dalam bahasa Inggris ya, karena author ga bisa bahasa Inggris terima kasih )
Pak security pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Mario kembali menjalankan mobilnya dan Pak Security pun menutup kembali gerbang.
Dua mobil pun terparkir di tempat yang sudah di sediakan, turun lah Mario bersama Papahnya dan Bobi serta kedua orang tuanya.
"Mas Azzam, Ini rumahnya Agam," ucap Raka adik dari Azzam.
"Ia ini rumahnya kenapa?" tanya Azzam.
Tania Istri dari Raka pun melirik sekeliling rumah yang tampak asri. Tania sangat menyukai sesuatu yang asri dan enak di lihat mata.
Mario dan Papahnya pun melangkah ke arah pintu di ikuti oleh Bobi dan kedua orang tuanya. Mario mengetuk pintu dan tak lama Agam juga Nissa yang membukakan pintu.
"Loh.... Pak Azzam Jadi....!" Ucap Agam yang kaget. Ternyata Mario bersama dengan Azzam seorang pembisnis yang sudah terkenal memiliki kekayaan yang hampir sama dengan Agam. Perusahaan mereka berdua adalah dua perusahaan yang sama besarnya tetapi bukan sebagai saingan, Perusahaan mereka berdua bergerak di bidang yang berbeda.
"Ia Pak...Agam Apa Kabar?" Tanya Azzam yang menjabat tangan Agam"
"Mari silahkan masuk pak Azzam, Pak Raka, Mario dan ibu Tania" ucap Agam yang memang telah mengenal orang orang penting dalam bisnis yang ada di depannya ini.
Mario dan keluarga nya pun masuk mengikuti Nissa dan Agam ke dalam rumah. Di dalam rumah keluarga inti Nissa dan Agam sudah berkumpul di sofa yang sudah di sediakan.
Mario merasa seperti sedang di sidang, bahkan ini lebih dari sidang saat ujian kuliah, Mario merasa gugup luar biasa.
Mario dan keluarganya pun duduk di kursi yang telah di sediakan.
__ADS_1
"Bagaimana kabarnya Pak Agam dan keluarga? Wah...saya juga sangat merasa terhormat bisa bertemu dengan pak Bram dan Pak Dito, pebisnis Veteran yang sukses di negara kita ini" Tanya Azzam yang langsung melihat langsung ke arah Agam, Ditto dan Bram selaku ayah dari Nissa dan agam dengan tersenyum ramah dan tulus.
"Alhamdulillah kami sekeluarga dalam keadaan sehat Pak Azzam, saya juga mohon maaf tidak bisa hadir saat pemakaman almarhumah istri Pak Azzam" ucap Agam dengan raut yang berubah menjadi sedih.
"Kami juga turut berbelasungkawa atas berpulangnya ibu Raina, Pak Azzam dan maaf bila kami tidak bisa hadir di rumah duka" ucap Bram.
"Begitupun dengan saya dan istri saya, Pak Azzam, kami berdua pun mohon maaf tidak bisa hadir di rumah duka saat itu, karena ada suatu hal yang tidak bisa kami tinggalkan" ucap Ditto. Azzam yang melihat para calon besannya ini sangat ramah dan welcome menyambut dirinya dengan tersenyum bahagia.
"Tidak apa-apa pak Agam, Pak Bram dan Pak ditto, Setidaknya saya telah membuat istri saya bahagia di saat saat terakhirnya dan itu semua berkat putri bapak Alisha" ucap Azzam yang membuat Agam bingung, Agam memang tidak mengetahui pertemuan ibu Mario dengan Alisha yang menjadi awal kehancuran Alisha.
"Nampaknya Pak Agam belom tau, tapi nantilah kita ngobrol-ngobrol di waktu yang lain. Karena hari ini saya mewakili anak saya, mempunyai maksud dan tujuan untuk melamar putri bapak Alisha sebagai istri dari anak saya Mario" Ucap Azzam, semua orang pun memandang langsung ke arah Mario, seketika Mario pun menjadi gugup. Mario pun langsung melihat ke arah wajah wajah keluarga Alisha yang melihat ke arahnya.
"Benar Pak Agam. Saya dengan segala keberanian yang ada dalam diri saya, ingin meminang Alisha sebagai istri saya pak Agam, saya memang manusia yang tidak sempurna Pak Agam. Dengan segala kekurangan saya, bahkan dulu saya begitu pengecut. Tapi sekarang saya dengan sungguh-sungguh dan sadar. tanpa paksaan dari siapapun ingin meminang putri anda Alisha, untuk menjadi istri saya dan membuat keluarga kecil kami yang sakinah mawadah dan warahmah serta selalu di berkahi dan di Ridhai oleh Allah hingga Jannah, Pak Agam." ucap Mario yang sudah mulai lancar dan tanpa rasa gugup lagi yang mendera.
"Sebelumnya saya hanya ingin mengatakan. Ini di luar konteks persahabatan saya dengan Pak Azzam. Saya sangat kaget, jika Mario adalah pak Azzam, sahabat sekaligus mitra bisnis saya. Dulu saya memang sempat kecewa dengan perilaku Mario, Pak azzam dan hari ini pun saya masih ragu, untuk menerima pinangan Mario. Bukan karena saya tidak memandang anda pak Azzam. Bukan saya hanya sebagai seorang ayah yang hati saya hancur melihat anak perempuan saya satu satunya hancur. Bahkan harus melakukan pengobatan mental hingga jauh dari rumah. Saya hanya ingin menegaskan kepada Mario, Apa Mario bisa menjaga putri kami satu- satunya, Karena jika Mario menyakiti Alisha. Saya yang akan bertindak tegas, bahkan mungkin saya tidak perduli jika Mario adalah putra Pak Azzam." Ucap Agam jelas dan tegas. Itu membuat mario sedikit terintimidasi, tapi masih tetap tenang.
"Pak Agam. Saya memang sudah melakukan kesalahan di masa lalu dan itu sangatlah fatal akibatnya. Dan saya juga tidak berjanji, Jika dalam pernikahan kami mungkin akan baik-baik saja, karena hakikatnya sebuah pernikahan selalu terdapat berbagai cobaan dan rintangan. Tapi satu yang saya ingin lakukan, saya hanya akan berusaha untuk membuat Alisha bahagia Pak Agam. Sesederhana itu, Hanya ingin Alisha dan anak-anak saya bahagia. Bagaimanapun caranya." Ucap Mario dengan Tegas pula.
"Pak Agam.. Saya juga seorang lelaki dan seorang ayah. Tapi anda bisa percaya dengan saya, saya yang akan menjamin jika suatu hari nanti Mario menyakiti Alisha bahkan membuat Alisha menangis dan menderita, saya sendiri yang akan menghukum nya dengan cara saya sendiri" ucap Azzam mantap.
"Mario... tolong jaga kepercayaan yang saya berikan kepadamu. Karena saya hanyalah seorang ayah yang menginginkan putrinya bahagia, dengan orang yang dia cintai dan mencintainya, Jangan sakiti putri saya lagi. Sungguh tidak ada hal yang paling menyakitkan ketika kita melihat anak yang kita rawat dengan baik dan kita cintai sepenuh hati, hancur di depan mata kita sendiri, itu sangat menyakitkan. Alisha di dalam kamarnya, katanya dia tidak ingin bertemu dengan mu hinga akad tiba. Alisha hanya menitipkan jawaban jika dia bersedia menikah dengan mu Mario, saya dan istri juga hanya bisa memberikan restu, karena hanya ingin melihat Alisha bahagia." Ucap Agam membuat Azzam dan Mario tersenyum lega. Begitupun Tania dan Raka serta Bobi.
Keluarga Mario kompak mengucapkan Alhamdulillah pada akhirnya.
"Ya sudah, karena acara lamaran ini sudah terlaksana dengan kedua belah pihak sudah setuju, dan maaf sekali ya bukannya, Alisha tidak ingin menemui calon suami dan keluarganya hanya saja, keadaannya yang tidak memungkinkan." Ucap Nissa menjelaskan.
"Tidak apa-apa Bu, saya bisa mengerti karena keadaan Alisha" Ucap Mario di ikuti dengan senyuman Manisnya.
"Ya sudah, supaya tidak tegang lagi, silahkan di nikmati hidangannya, semoga sesuai dan cocok ya." Ucap Arum ibu Nissa, mencairkan suasana mereka semua pun memakan-makanan yang sudah dia sediakan dan mengobrol santai. Arka dan Rayyan yang dari tadi berdiri di pojokan ruangan dan hanya mendengarkan tentang pembicaraan orang dewasa, Hanya menghembuskan nafas kasar dengan kompak.
"Bang, gue gak pernah mimpi dan ngebayangin bang, Kita punya adek ipar yang umurnya jauh dari umur kita Bang" ucap Rayyan yang sedang memperhatikan dua keluarga yang sedang bersenda gurau dan mengobrol itu.
"Ya dek, Abang juga bingung harus manggil dia apa?" Ujar Arka yang memakan cookies yang diam-diam dia ambil sebelum acara di mulai dan setoples cooking itu, dia taruh di meja di sebelah badannya.
"Kaka Dosen, atau hanya nama aja tapi lebih mending manggil dia nama sih, kayaknya seru juga. Sekalian kita kerjain dia bang dan kita gembleng!" ucap Rayyan yang melipat tangan di dadanya.
"Kaka dosen...? dengernya aneh, tapi kalau nama doang, kita kira sopan gak ya? Abang juga bingung dek, biarin lah tar aja" ucap Arka yang memulai memakan cookies nya.
__ADS_1
"Bang itu cookies dari mana bagi dong" ujar Rayyan yang langsung merebut toples dari tangan Arka. Dan Arka hanya melongo melihat kecepatan adiknya saat merebut toples tersebut.