
Ibu...! mata Herman membola, melihat ibunya datang mengunjungi di rumah sakit, seketika saja Herman menyambut dan memeluk ibunya, Yang selama ini tak pernah ia temui, bukan Herman tidak ingin mengunjungi ibunya, Herman hanya merasa malu kepada ibunya atas video Viral yang beberapa waktu lalu terjadi. Sejak Video itu Viral, Herman benar-benar terpuruk, apalagi saat Popi memutuskan untuk meninggalkannya juga, untung saja dia tidak gila, pikirnya saat itu.
"Ibu kesini jengukin Herman bu? makasih banyak Bu, ibu udah maafin Herman bu?" ucap Herman sedih dan terharu karena mengira ibunya sudah memaafkan nya.
"Bu.... Tolong Herman bu, keluarin Herman dari sini bu! Herman gak kuat bu disini, Herman gak gila bu! hiks...hiks .. Yang gila itu Nissa sama suaminya bu, mereka berdua tega masukin Herman ke sini," ujar Herman menangis di pelukan ibunya, tapi tetap saja dia menyalahkan Nissa dan Agam atas apa yang terjadi kepadanya.
"Cukup man... Cukup!!! kamu jangan salahin Nissa atas perbuatan kamu sendiri, apa selama ini hal yang terjadi padamu itu, tidak pernah kamu renungkan dan tidak membuat kamu sadar man, kamu sudah begitu zholim sama Nissa nak, lepasin saja Nissa, biarkan dia bahagia bersama suaminya." Tegas Bu Endang yang kesal dengan sikap Herman.
"Maksud ibu apa? Enggak Bu, aku gak Sudi biarkan Nissa bahagia, dia sudah masukin aku ke RSJ ini bu, aku hanya ingin dekat dengan anakku darah daging ku sendiri, Aku ke siksa bu karena ulah mereka berdua, mereka berdua melarang ku melihat dan tinggal bersama Arka anakku sendiri," terang Herman masih mencoba untuk mengeluarkan air matanya seperti buaya.
"Ia ibu ngerti, tapi apa pantas? dengan kamu tinggal bersama mereka, Nissa itu sudah punya suami Herman, sudah akhiri kegilaan mu man, jangan suka ngeganggu ketentraman rumah tangga mereka, apa kamu tidak berpikir, mereka sudah menikah, gak sepantasnya kamu tinggal dengan mereka walaupun urusannya dengan Arka man...!" Tegas Bu Endang yang sudah capek sekali menasehati Herman yang tidak mau mengerti.
"Ya sudah kalau begitu, Nissa harus biarkan Arka tinggal bersama aku, biar aku yang ngurusin Arka Bu," ucap Herman yang masih bersikeras dengan pemikirannya yang terkadang di luar nalar sekali.
"Bagaimana bisa? Nissa menyerahkan Arka tinggal bersama kamu, Arka itu masih bayi, masih perlu asi man, kamu juga gak akan bisa mengurus Arka, jangan belajar jadi orang gila man! Sebenarnya tujuan kamu itu apa sih Herman? ibu yakin semua ini bukan karena Arka," tanya bu Endang dengan tegas, yang merasakan ada kejanggalan dalam setiap ucapan Herman yang tidak jelas .
"Tidak ada tujuan apa pun bu, Herman hanya ingin dekat dengan Arka saja bu, salah sendiri kenapa Nissa gak mau rujuk sama Herman, malah memilih menikah dengan orang lain, harusnya Nissa tuh sadar kalo Arka itu butuh orang tua kandungnya, bukan ayah sambung seperti suaminya yang sekarang, ini malah nikah dengan orang yang lebih kaya dari dia, Nissa itu sama aja bu dengan wanita yang lain, sama-sama matre! mentang-mentang aku sudah tidak menghasilkan banyak uang, dia seenaknya saja menolak ku," tegas Herman.
Plakkkkkk....
Mata Herman terbelalak melihat Bu Arum tiba-tiba datang menamparnya.
"Mamah! apa gak bosen tampar muka saya terus mah!"
"Heh Herman, jaga ucapan mu! sudah saya bilang jangan panggil saya mamah! saya bukan mamah kamu, otak kamu udah pikun ya Herman.
"Bu Endang, mau berapa kali pun bu Endang bicara sampai berbusa dengan Herman, dia itu gak akan pernah sadar, si Herman ini memang sudah gila pikirannya, saya sudah apal otak busuknya yang hanya memikirkan tentang harta dan kesenangannya, bukan tentang Arka, jadi saya minta sama bu Endang untuk menempati janji!"
Bu Arum pun duduk dan mengatur nafasnya yang seperti habis berlari ratusan kilo karena amarah yang dia gunakan langsung ke Herman.
"Maksud ibu apa... ?Janji apa Bu..?" tanya Herman.
"Ibu udah gak tau harus lakuin apa lagi sama kamu man, dengan sifat kamu yang gak tau diri, dan gak masuk di akal. Benar apa kata Nissa dan Bu Arum, kamu itu hanya manfaatin Arka, buat kesenangan kamu bukan karena menyayangi Arka, jadi ibu sudah putusin akan menandatangani surat jaminan ke pihak rumah sakit, supaya kamu bisa tinggal di sini selamanya sampai kamu sadar," ucap Bu Endang, yang sebenarnya hati nya hancur harus melihat Herman tinggal di rumah sakit ini. Tapi apa boleh buat ini semua demi kebaikan kamu man.
__ADS_1
"Enggak bu jangan bu.... Jangan tinggalin Herman bu, Herman mohon dengan sangat bu, harusnya ibu bantuin Herman buat ambil Arka dari Nissa atau bikin supaya Nissa balik lagi ke Herman bu," Herman masih kekeh dengan keyakinannya itu.
Plakkkkkk.....
"Cukup Herman.... Kamu memang sudah gila.. ingat Herman, Nissa sudah menikah dan kamu tidak bisa seenaknya saja ingin mengambil Arka dari ibunya, otak kamu memang sudah gak bisa jalan, gak bisa bedain mana yang benar dan salah, obsesi kamu udah keterlaluan, mari bu Arum, kita pergi dari sini," tegas Bu Endang yang langsung meninggalkan Herman di kamarnya bersama Suster, dan langsung mengunci kamar Herman.
Herman hanya terdiam sambil memegangi pipi nya yang sakit dan panas setelah di tampar dua kali oleh ibu dan mantan mertuanya itu, tapi tamparan dari ibu nya sendiri sungguh sangat menyakitkan, selama ini ibunya tidak pernah sekalipun menampar atau bahkan memukul nya, sekali pun Herman salah. Tak terasa air mata pun jatuh di pipi Herman.
" Arka.... Papah tulus mencintai kamu nak... Hiks.... Hiks.." Ucap Herman pilu di iringi dengan Isak tangisnya. Sedangkan ibu Endang pun sudah menandatangani surat jaminan agar Herman tetap tinggal disini sampai dia benar-benar sembuh karena sifat impulsif nya.
Di lain tempat... Hari ini Agam sudah masuk ke kantor karena hanya beberapa hari dia mengambil cuti perkawinan nya.
"Gimana kelanjutan si Herman.... Apa dia tetap di rumah sakit jiwa itu?" tanya Agam di telepon kepada anak buahnya, yang di jadikannya Mata-mata di rumah sakit jiwa.
"Ia pak .... Herman masih tetap tinggal di rumah sakit jiwa ini, karena ibunya sudah menandatangani persetujuan untuk Herman, tinggal disini pak, hanya saja saya agar khawatir dengan Herman pak," ucap sang bawahan.
"Kenapa memangnya? apa dia buat masalah lagi?" tanya Agam.
"Ya sudah eksekusi saja di ruang bawah tanah, di rumah lama, nanti kamu keluarkan dia, Saya tak mau dia mengganggu istri dan anakku," ucap Agam dingin, di iringi sorot matanya yang bengis, tak ada yang tau.
Agam memang mempunya kebaikan hati dan rasa sayang yang teramat dalam kepada orang-orang yang dia cintai, tapi Agam juga memiliki sisi gelap hampir menyerupai psikopat jika ada yang berani mengganggu dia atau pun keluarga kecilnya itu.
_______
Nissa memutuskan untuk menyusul Agam di kantor nya bersama Arka, karena dia sangat bosan berada di rumah, Nissa pun menggunakan mobil yang di berikan Agam saat menikah kemarin, padahal Nissa sendiri sudah memiliki mobil waktu itu. Dengan di antarkan supir, Nissa dan Arka pergi meninggalkan rumah dan menuju ke kantor nya mas Agam. Saat di kantor nya mas Agam, Nissa langsung menuju ke lift khusus karyawan, Nissa pun naik ke lantai paling atas dimana Agam berada. saat sudah sampai di lantai atas, Nissa melihat sekertaris mas Agam yang sedang duduk di bangkunya.
"Mba, mas agam nya ada kan?" tanyaku ke sekertaris.
"Ada bu, silahkan masuk saja," ucap sang sekertaris.
"Mba mulai besok, kalau kamu bekerja, bisa kan enggak pake rok mini kaya gitu lagi?" Ucap Nissa yang langsung menegur.
Setelah itu Nissa dan Arka pun masuk ke ruangan Agam.
__ADS_1
"Papah...Hayukkk kerjanya, aku sudah lapar. Papah kerjanya lama banget," ucap Nissa menirukan suara anak kecil.
"Ya sudah hayu! mau kemana pangeran papah ini teh? Tanya Agam.
"Kita ke Mall aja yukk,... Aku pengen banget ramen." saut Nissa.
"Ya sudah hayuuu!" Seru Agam.
Agam menggendong Arka dan keluar menuju parkiran mobilnya yang ada di dalam gedung ini, sekertaris Agam saat melihat Agam dan Nissa keluar, saat itu ia iri luar biasa, Bu Nissa bisa mendapatkan Agam yang tampan dan mapan yang di inginkan oleh wanita mana pun.
"Kenapa sih pak Agam harus nikah sama tuh janda, padahal Bu Nissa dan saya tuh lebih cantik saya, tapi kenapa selama ini, dia gak pernah ngelirik saya sama sekali, padahal saya sudah on point kaya gini, gak pernah sedikit pun di lihat sama pak Agam," gerutu sekertaris Agam dalam hati.
____
"Yank... Sekertaris kamu emang sehari harinya pakaian dia kaya gitu ya?" tanya Nissa karena penampilan sekertaris itu sangat menggangu pikirannya.
"Siapa yank....? Si Viona ya....?"
"Aku gak tau namanya siapa, itu loh yang duduk di pintu masuk kantor kamu!"
"Oh sih Viona, kenapa memangnya dengan pakaiannya, aku gak pernah merhatiin soalnya, kalo kamu gak suka, nanti ku suruh dia pake gamis ya...!" Ucap mas Agam.
"Boleh tuh sayang, suruh dia pake gamis mulai besok pokoknya ya! jangan pake rok mini kaya tadi, jujur jijik aku lihatnya.
"Ia apapun buat nyonya Agam pasti aku turut in." Ucap Agam gombal.
Mereka bertiga pun sampai di parkiran Mall, dan Agam memberikan kunci mobilnya untuk di serahkan ke vallet service.
Setelah selesai Agam dan Nissa pun masuk ke dalam Mall untuk berjalan-jalan serta mencari makanan untuk makan siang.
Saat sedang mencari pakaian di sebuah toko pakaian, Nissa dan Agam pun terpisah, sedangkan Arka di bawa oleh Agam, dan Nissa menuju stand baju kemeja untuk suaminya, saat sedang Melihat tiba-tiba ada yang menyapanya.
"Ehhh... ada ibu janda kembang disini! Kasian ya! Belanja cuma sendirian doang, gak ada suami, gak ada teman, sewa brondong aja buat ngelepasin kesepian." Ucap wanita tersebut pongah dan membuat Nissa merasa sangat marah hanya karena melihat wajahnya yang mencemooh dia............
__ADS_1