MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
BAB 38 CURHATAN ANAK DAN IBU


__ADS_3

POV Herman


" Sial banget tuh pelayan si Nissa pake ngusir aku segala, duit di dompet pada menjerit semua, dan ini apa coba duit aku tinggal selembar doang warna biru, nyesel banget pake mesen makanan yang mahal kemarin, kirain mau di bayarin si Nissa " umpat ku sesak setelah ku keluarkan isi dompetku yang ternyata hanya tersisa yang selembar 50 ribu, aku pun segera menaiki ojek karena motorku yang dulu hilang di curi preman, benar-benar apes sekali hidupku setelah di tinggalkan Nissa, aku bangkrut sebangkrut-bangkrutnya, di perjalanan menuju kantor aku memikirkan semua yang telah ku lakukan, padahal kesalahan ku hanya selingkuh tapi kesialan terus saja menghampiri ku, mana Nissa susah banget di ajak rujuk, masa harus ku culik dan ku sekap agar dia menandatangani surat pengalihan asset atas nama ku semua, pikirku.


" Hmmmmm, sebenarnya boleh juga ide itu, bahaya gak ya " ucapku bermonolog sendiri di atas motor ojek ini. Tak terasa motor pun sampai di tempat kantor ku, gedung pencakar langit yang sangat tinggi dan banyak karyawan ini, sebenarnya aku merasa bangga juga bisa bekerja di perusahaan sebesar ini, tapi karena aku masih staff biasa gajiku sangat kecil hanya UMR saja, kalo lembur lumayan lah dapat lebih walaupun sedikit. Sebelum masuk aku ingin mampir dulu ke gerai ATM untuk mengambil uang cash, saat aku membuka dompet aku baru ingat kemaren malam aku mengambil ATM nya Fina, segera saja aku membuka ATM nya karena aku hapal PINnya, di ATM nya ada sisa uang 5 juta, dari mana fina mendapatkan uang itu, apa dia udah jalan sama bandot tua itu, ah bodo lah yang penting uang ini aku ambil dulu untuk kepentingan ku. Langsung saja aku mengirimkan chat bahwa uangnya sudah aku ambil, setelah semua urusan ku selesai segera saja aku langsung masuk karena waktu istirahat hampir saja habis, tapi untungnya aku tidak telat, bisa gawat kalo telat hilang harapanku untuk bisa jadi karyawan tetap di kantor ini. Saat aku duduk di meja, aku sudah di suguhkan dengan pekerjaan yang banyak dan sangat menguras tenaga, tapi tetap harus ku kerjakan karena sekarang tidak ada Nissa, yang mau memberikan aku uang dan menutupi semua kemauan ku. Tak terasa waktu pulang pun tiba, pekerjaan ku pun sudah selesai walaupun masih ada beberapa, tapi ku kerjakan besok saja karena tidak begitu Urgent, aku pun langsung pulang dan memesan ojek online, karena jam pulang seperti ini ojek online suka susah di dapatkan. Dan akhirnya ada ojek online juga yang free segera saja aku pulang karena pasti jalanan macet dan ini sudah sore.


Saat sudah sampai ke rumah, ku lihat ibu dengan wajah masamnya sambil menonton TV, ku hampiri ibu dengan Suster barunya, yah Suster ini sudah tua tidak secantik Susi, ga seger banget liatnya.


" Kenapa Bu.... Kok muka di tekuk gitu "


" Eh Herman udah pulang, coba kalau masuk ke rumah tuh salam dulu kenapa man, ini suami istri kelakuan udah kaya setan, pantesan aja ni rumah hawa nya panas, kamu kapan terakhir sholat " tanya ibu dengan wajah mengintimidasi "


" Hehehe ia Bu, aku terlalu sibuk Bu "


" Alasan kamu aja, terus bilangin tuh sama istri kamu kalo dia udah sembuh bantu- bantu di rumah ini jangan malah main terus, dia itu cuman numpang, jangan kelayapan mulu kerjanya, enak aja ga bantuin urusan rumah ".


" Ia Bu nanti aku bakalan kasih tau Bu, ya udah aku masuk ya Bu mau bebersih dulu "


" Ya udah sana nanti kita makan." Akupun segera berdiri dan menuju ke kamarku, aku tau Fina pasti sudah pulang tapi nanti saja aku ke kamarnya untuk menanyakan uang itu.

__ADS_1


Setelah di kamar aku pun langsung membersihkan diri dan memakai pakaian santai lalu segera aku turun ke bawah karena sudah sangat lapar, tapi sebelum makan aku mampir dulu ke kamar Fina, untuk menanyakan perihal dia dan si bandot tua itu.


" Fin besok kamu bakalan lagi ketemu sama bandot tua itu gak hebat kamu sekali ketemu langsung dapat lima juta, sering- sering aja kamu ketemu sama dia biar uang kita nambah banyak dan aku bisa membangun cafe impian kita  " ucapku saat aku langsung membuka pintu kamar Fina dengan cukup kasar,


" Mas apa di pikiranmu cuman uang aja sekarang, kamu sama sekali ga nanyain keadaan aku mas, badan aku kaya gimana mas, aku ini habis operasi mas, dan kamu menjadikan aku seperti pelacur mas, tega kamu mas, seharusnya kamu itu tanggung jawab padaku bukan malah menjadikan aku sapi perah mu mas " ucap Nissa dengan air mata palsunya, aku tau dia hanya bersandiwara, bahkan aku juga sangsi kalo dia dulu itu mencintaiku, mungkin dia hanya ingin uangku saja.


" Ya elah lebay kamu, kalo kamu masih sakit ngapain kamu keluar Fin dan ketemuan sama tuh bandot tua, berarti kamu itu udah sehat kan, hebat ya kamu sekali kencan 5 juta.... Kalo bisa Om-Om nya jangan dia aja, nambah ke satu lagi biar cepat dapat uangnya. Kamu juga jangan belaga menderita, aku tau kamu tuh menikmatinya ia kan, jangan munafik kamu Fina, aku tau orang seperti apa kamu itu, Dan kamu jangan coba main- main sama aku Fin, aku bisa aja melakukan hal yang lebih mengerikan dari pada kemaren ingat itu, nih uang 500 kamu buat pegangan kamu " ku lemparkan ke lantai, tadinya ingin ku lemparkan ke mukanya , tapi menurut ku itu terlalu berlebihan, akupun segera keluar dari kamar Fina untuk makan, tanpa mengajak dia makan, jujur aku sudah malas meladeni dia dan melihat wajahnya seketika membuatku mual.


Aku pun segera menuju ke dapur untuk makan malam bersama ibu, yang sudah menunggu ku.


" Man Fina nya mana, kok ga diajak makan ".


" Jangan gitu man, dia itu istri kamu sekarang pilihan kamu, jadi kamu harus terima baik buruk nya dia ". Ucap ibu yang sedang menaruh makanan ke piring ku dan piring ibu, dan seharusnya yang melayani ku itu Fina sebagai istriku.


" Herman capek Bu, punya istri pembangkang kaya gitu, liat Bu seharusnya Fina tuh melayani aku, ngurusin aku ini ibu yang lakuin ngapain coba aku punya istri kalo Fina nya aja gak ngelakuin kewajibannya sebagai istri dia berbeda jauh dengan Nissa Bu ". Ucapku sambil menyuapkan makanan ke mulutku.


" Janganlah kamu bandingkan sama Nissa, pilihan ibu kan memang ga pernah salah, kamu aja yang bodoh man, ngelepasin berlian buat batu kali kaya gitu, kamu harus didik dia supaya jadi istri yang baik ".


" Ia Bu, nanti aja kapan-kapan, makan dulu lah laper ini Bu, minta nambah Bu, makanan siapa yang masak enak banget,

__ADS_1


" Ucapku sambil menyerahkan piringku untuk di kasih lauk dan nasi lagi. Ibu ku pun mengambilkan lagi nasi beserta lauk nya sambil berdecak.


" Bu bantuin Herman Bu.... Buat deketin lagi Nissa, Bu Herman janji bakalan jadi suami yang baik buat Nissa Bu, apalagi Nissa bentar lagi lahiran pasti dia butuh Herman untuk jadi ayah Bu ".


" Kamu aja sih yang usaha man, ibu ga mau bikin Nissa jadi benci sama ibu ".


" Yah ibu, apa gak kasian Bu nanti anak Herman tidak mendapatkan kasih sayang dari Herman Bu ".


" Kamu ini udah tua man, gak usah ngomong kaya bocah gitu, geli ibu liatnya, udah makan aja habisin makanan kamu " ucap ibu yang langsung meninggalkan ku dan kembali ke ruang TV. Aku pun hanya bisa menghembuskan nafasku dengan kasar, kulanjutkan saja memakan makanan enak ini, aku pun teringat dulu dengan Nissa, dia sangat telaten mengurusku dari mulai pakaian kerjaku, makanan ku, dan segala hal lainnya, bahkan dia tak pernah komplen saat aku hanya memberi uang nafkah 1 juta, dia hanya terima dengan senyuman manisnya dan masih tetap mengurus ku dengan baik, kenapa baru sekarang aku melihat ketulusan hati Nissa, yang tak bisa aku lihat sebelumnya dan sekarang dia sudah sangat membenci ku. Aku pun mulai memakan makanan ku lagi hingga habis.


Setelah makan, aku mengikuti ibu ke untuk duduk ke ruang Televisi, masih ingin berusaha membujuk ibu agar membantuku mendapatkan Nissa kembali.


" Bu.... Tolonglah Bu, cuman ibu yang bisa bujuk Nissa dan orang tuanya, ibu kan berhubungan baik dengan mereka, pasti ibu akan diterima baik Bu ". Ucapku saat duduk di bangku sebelah ibuku yang sedang memakan cemilan kesukaannya, ibuku ini kalo soal makan jagonya, habis makan berat sekarang malah nyemil.


" Susah man, ibu juga pengen banget kamu balikan dan rujuk dengan Nissa man, cuman dia menantu ibu yang paling baik, sopan sama ibu, penyayang, bahkan ibu gak pernah sekalipun di bentak sama dia, Nissa bahkan lebih baik dari kamu man anak kandung ibu, Nissa gak pernah lupain ibu sama sekali, suka telepon ibu, bawain makanan nemenin ibu kalo kamu katanya lagi keluar kota kerja, atau lagi seminar, ibu kasian sama Nissa selalu kamu tinggal dan dia kesepian, tapi ibu juga sadar, dengan menahan dia terus menjadi menantu ibu ga bakalan buat dia bahagia man, sekarang bahagia dia bukan sama kamu man, jadi ikhlasin aja Nissa, biar dia bahagia sama yang lain yang bisa menerima dia dan cucu ibu kelak, maaf ibu ga bisa bantu kamu yang ada ibu malah di musuhi mereka juga, dan ibu gak bisa lihat cucu ibu nantinya pas lahiran, udahlah man, terima aja sih nasib kamu kaya gini, kan kamu yang buat semuanya berantakan man, gak usah urusin hidup Nissa lagi, gak usah ganggu, mau kamu di masukin penjara lagi man, udah akh man jangan buat masalah ". Ucap ibuku yang selalu bisa menyentil hatiku, ternyata Nissa selalu menemani ibuku saat aku malah senang senang, dan jalan jalan dengan Fina, ibu ku benar hanya Nissa mantu terbaik di rumah ini, mantu terbaik dan istri terbaik buat ku, dan itu semakin menambah keinginan ku untuk membuat Nissa kembali kepadaku lagi.


" Ibu ayolah " ucapku sambil memegang tangan ibuku dan menggoyang goyangkan.


" Udahlah man, kamu ini bener-bener kaya bocah ya, masuk kamar sana ganggu ibu aja ". Ucap ibu mengusir ku bahkan mendorong ku hingga aku jatuh dari bangku.

__ADS_1


" Hadehhhh Bu..... Ga kira kira emangnya ya Bu.... Sakit Bu " ucapku dan langsung bangun sambil memegangi bokong ya jatuh tadi, daripada mendengar ocehan ibu terus akhirnya aku memutuskan untuk ke atas dan langsung tidur saja.


__ADS_2