
Astaghfirullah anak perawan gue. Gimana mau dapat kerjaan? jam 10 siang kaya gini masih molor." Umpat Kokom melihat anaknya Nita yang masih bergelung dengan selimutnya. Kokom menggelengkan kepalanya. Melihat kelakuan anaknya, bahkan saat tertidur pun tak ada manis-manisnya. Tidur terlentang kaki kemana-kemana. Mulut mangap sedangkan bantal sudah jatuh ke lantai. Kokom memijit kepalanya yang tiba- tiba terasa pening. Di hampirinya anak semata wayangnya itu, Kokom menggoyang- goyangkan tangan Nita. Tapi tak sedikitpun Nita bergerak, bahkan bahkan untuk bangun.
"Ya Allah nih anak. Kebluk amat sih tidurnya" Ujar Kokom menghembuskan nafasnya kasar, Karena kesal anaknya tidak bangun-bangun. Kokom keluar kamar Nita, dan menuju kamar mandi untuk mengambil air memakai gayung. Setelah sampai di kamar Nita Kokom duduk di sebelah Nita. Dia mengambil air sedikit oleh tangannya dan di cipratkan secara langsung hingga berapa kali. Dan benar saja cara ini berhasil. Membuat sang anak bangun.
"Banjr... Banjir... Tolong" teriak Nita bangun dengan menggoyangkan tangannya. Kokom melihat kelakuan anaknya yang kurang se ons ini hanya berusaha untuk terus sabar. Semenjak tinggal bersama Saiful, Ayah kandung Nita. Kelakuan oon Nita semakin menjadi, karena Saiful tidak pernah perduli, hanya tau memberikan uang dan kebutuhan Nita.
"Banjir.. tuh iler kamu! Punya anak perawan kok jorok sama males nya ngalahin ODGJ" ujar Kokom kesal melihat penampilan anaknya yang acak-acakan tidak karuan.
"Mamah tuh kebiasaan banget, udah berapa kali aku di siram kaya gini" ujar Nita marah dan menatap ibunya tajam.
"Apa, mau Mamah colok itu mata? Gak sopan kamu sama ibu sendiri melotot kaya gitu. Mau mamah kutuk jadi batu kamu!" ujar Kokom, membalas anaknya, Nita yang di lihat seram oleh ibunya pun sedikit takut, karena tau Mamahnya kalau marah, akan menjadi seorang wanita yang menakutkan seperti gumiho.
"Enggak Mah. Emangnya kenapa sih! ini tuh masih pagi. Ngapain bangunin Nita, akupun pengen bangun kalo udah tengah hari, minimal dhuhur."
"Pala kamu pitak! Gimana mau dapet kerja? kalau bangun kamu aja siang, keburu di patok ayam rezeki kamu nantinya"
"Kata siapa sih itu, palingan mamah cuma nakutin aku doang kan! Ya udah aku bangun, orang masih pagi udah di bangunin"
"Ekh putri males. Beresin rumah sana, cuci piring, ini udah siang. Udah jam setengah sebelas" ujar Kokom tambah gedeg melihat anaknya malas-malasan.
"Ikh Mamah. Kejam sama anak kandung sendiri, udah kaya ibu tiri" ucap Nita merengut karena ucapan Kokom.
"Bangun gak?! mandi sana, beresin rumah! tar sore kita ke rumah Bapak kamu, anterin Mamah. Buat ngelabrak dia" ucap Kokom ngebentak anaknya, hingga Nita terjerembat kaget.
"Mau ngapain Mah, ngelabrak Bapak, mau ngajak balikan, emang Bapak mau?" ujar Nita meledek membuat Kokom tambah kesal.
"Gak usah banyak tanya, mandi sono! Bersihin mulut kamu bau naga" Ujar Kokom yang meninggalkan kamar Nita. Dengan malas Nita ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Sore harinya. Kokom dan Nita berniat ke rumah Herman. Untuk menanyakan perihal gugatan cerai dari Herman.
Saat sampai di depan rumah Herman, Kokom dan Nita belum melihat adanya motor Herman. Berarti Herman belum pulang dari pekerjaan.
__ADS_1
"Tunggu disini aja Nit, Kayanya Bapak kamu belum pulang?!" Ucap Kokom.
"Ia Mah, Kita duduk dulu aja disini" ujar Nita yang langsung duduk di teras rumah Herman di ikuti oleh Kokom.
"Nita kangen Mah. Sama kehangatan keluarga kita dulu, bapak yang begitu baik, dan keluarga kita juga berkecukupan, Kapan semuanya kembali ya Mah" ujar Nita melihat sekeliling rumah.
"Tenang aja sayang, Mamah bakalan berusaha buat keluarga kita utuh lagi. Mamah juga gak bisa ngelepasin Bapak kamu begitu aja, kalau kita terus terusan sama Saiful, ayah kandung mu itu, hidup kita gak bakalan bahagia, gak ada kejelasan."
"Ia Mah, walaupun bapak Saiful, sering kasih uang buat Nita, tapi dia itu gak perduli sama keadaan kita Mah"
"Ia sayang, makanya kamu bantuin Mamah, buat bikin Bapak kamu balik lagi Nerima kita tinggal disini!"
Mereka berdua pun terdiam dengan memikirkan pikiran masing-masing. Tak berapa lama suara motor Herman pun terdengar masuk pekarangan.
Herman mengernyitkan dahinya melihat Kokom dan Nita duduk di terasnya. Kokom melihat Herman dengan senyuman di wajahnya, tapi Herman hanya menatap datar dua wanita di depannya ini.
"Pak..." Ujar Kokom ingin menyalami tangan Herman tapi tak berbalas, Karena Herman tidak menjulurkan tangannya.
"Pak bisa kita bicara sebentar?" ujar Kokom dengan wajah memelasnya.
"Ya udah silahkan duduk! kita duduk di luar aja, saya gak mau terjadi fitnah" Ujar Herman yang langsung duduk di teras depan rumah Herman memang tidak mempunyai kursi, jadi ketika itu Herman, Kokom dan Nita duduk di depan, mereka duduk di lantai yang dingin.
"Gak bisa kita bicara di dalam saja Pak?" Ujar Kokom.
"Ku harap kamu ingat dengan status kita Kom! Kita sudah bercerai secara agama, aku sudah menjatuhkan talak 3 padamu, jadi haram patuhi hukumannya, mengajak mu ke rumahku, takut terjadi fitnah!" Ujar Herman tambah dingin. Nita dan Kokom mendengar ucapan Herman di depannya jadi merinding dan takut, sampai-sampai mereka kesusahan menelan salivannya sendiri.
"Bapak... Apakah tak ada lagi kesempatan buat Mamah, untuk bisa bersatu lagi? Bukankah Tuhan membenci perceraian Pak, Mamah memang salah, Mamah minta maaf, tapi aku janji Pah, aku akan berubah, aku akan menuruti semua mau kamu Pah, aku mohon aku gak bisa jauh dari kamu" ujar Kokom yang tiba-tiba menangis.
"Kalau kalian berputar putar terus dan menghabiskan waktu saya, Lebih baik kalian pulang, karena keputusan saya sudah bulat" Ujar Herman menatap mereka berdua dengan tatapan tajam.
"Terima kita berdua kembali Pak, apa Bapak bisa melupakan kebahagiaan kita bertahun- tahun lamanya Pak, aku juga selalu menemani kamu dalam suka dan duka, kita berdua sudah lewati semua itu bersama. Salahku memang yang tidak ingin punya anak lagi, aku hanya berpikir kita sudah mempunyai nota, dan untuk apa menyembuhkan mu, aku bisa menerima kamu apa adanya, lagi pula biaya nya pasti mahal, jadi menurut ku tidak terlalu penting." ujar Kokom memelas, sungguh Herman yang melihat kokom, bukannya kasian malah jijik.
__ADS_1
"Tidak bisa...! Aku sudah tak ada niat untuk menjalin rumah tangga bersama kamu lagi! lagi pula talak ku itu talak tiga, kita sudah tidak bisa bersama, silahkan kalian pulang! karena saya ada janji temu dengan Dokter kesuburan yang kamu bilang tidak penting itu, kamu membuatku menerima anak orang lain, ngasih makan orang lain, sedangkan anaknya sendiri, tidak ada tanggung jawabnya, kamu membuatku seperti ayahnya Nita yang tidak bertanggung jawab terhadap anaknya, Kokom! kamu perempuan paling culas dan brengsek yang pernah aku temui, kamu bahkan tidak mau punya anak, anak kita berdua. Lalu sekarang kamu masih berharap aku menerima kamu lagi, setelah apa yang kamu lakukan, kamu pikir aku bodoh! yang bisa terus kamu manfaatkan. Pulanglah sebelum aku berbuat kasar sama kamu!" ujar Herman mengusir Kokom dan Nita dengan halus.
"Maksudnya mas...? Sekarang sudah mulai terapi kesuburan?" Tanya Kokom kaget.
"Ia kenapa? kamu kaget ya? gak usah kaget gitu lah, kan gak seru!" Ucap Herman sarkas.
"Lebih baik kalian pulang, karena aku sedang sibuk, kalau tidak ada yang di bicarakan lagi saya akan masuk ke rumah saya." ujar Herman yang langsung masuk ke rumahnya dan mengunci pintu masuk. Herman sungguh sangat muak dengan calon mantan istrinya itu.
Tok....tok...tok...
"Mas Herman tunggu, buka dulu pintunya ada yang ingin ku katakan mas Herman." Ucap Kokom yang terus menerus mengetuk pintu dengan kasar. Sedangkan Nita hanya diam, menyelami ucapan ayahnya.
"Mah udahlah ayok kita pulang! Bapak udah benar-benar berubah, dia udah gak mau lagi kembali sama kita." Ujar Nita.
"Enggak Nit! Mamah gak mau. Kamu kan tau kita udah hidup bersama dari kamu kecil. Gak mungkin kita bisa pisah gitu aja, Bapaknya hanya sedang marah dan merajuk, dan Mamah yakin, Bapakmu pasti akan kembali." Ucap Kokom meyakinkan hatinya kalau semuanya akan baik-baik saja.
Tak berapa lama pintu Pun terbuka, menampilkan Herman, yang sudah berganti pakaiannya, Kokom dan Nita tersenyum sumringah karena mereka pikir, Herman telah luluh. Padahal Herman keluar hanya ingin pergi ke Dokter yang menangani kesuburannya.
"Pak .... Bapak... Tunggu... Kamu mau kemana" ujar Kokom yang melihat Herman mengunci pintunya dan pergi dengan dengan wajah datarnya. Herman menaiki motornya dan tidak perduli dengan teriakan Kokom yang terdengar sangat pilu.
"Udah Mah, Bapak udah gak mau sama Mamah lagi, mending kita pulang Mah!" ujar Nita yang sedih melihat Mamahnya menangis tersedu-sedu seperti itu.
"Gak bisa Nita. Mamah gak bisa jauh dari Bapak kamu. Mamah cinta sama-sama dia Nit. cuma Herman yang menurut sama Mamah.dan mencintai Mamah hiks...hiks" Kokom masih saja dengan tangisannya, banyak orang yang menatapnya aneh karena berteriak dan menangis di luar rumah.
"Mah udah ayok kita pulang malu, dilihat orang. Nanti kita kesini lagi, bujuk bapak Mah. Ayok sekarang kita pulang ini udah sore." ujar Nita sambil menarik tubuh Kokom yang sedang duduk di tanah. Sangat memalukan sekali!.
"Baju Mamah kotor Nit. Gimana ini? hiks...hiks" ujar Kokom memelas melihat celananya yang kotor karena tanah.
"Salah sendiri, nangis kaya anak kecil. memalukan Mamah ikh....! Seharusnya aku tinggalin aja Mamah tadi, untung gak ada teman aku yang lewat di sekitaran sini" ujar Kokom yang kesal melihat keadaan ibunya yang sangat berantakan. Kokom dan Nita pun pulang dalam keadaan hampa tanpa membawa hasil apa-apa, karena tetap Herman akan menceraikan Kokom, sungguh ini adalah perpisahan yang membuatnya sakit hati, hingga sampai ke dalam tulang.
"Aku gak bisa kaya gini Nit. Aku gak boleh cerai dari ayah kamu" ucap Kokom dengan mata menyalang.
__ADS_1
\_\_\_\_\_&\_\_\_\_\_