
Ke empat orang tua yang menjadi pemeran dalam suara rekaman yang saat ini langsung mendelik tajam ke arah Arsen, karena telah menghina mereka dengan sangat kasar.
"Biasa aja tuh mata, mau mata kalian melotot sampai keluar tuh biji mata, saya gak akan takut sama para penghianat seperti kalian," ucap Arsen sarkas.
"Kami bukan penghianat pak Arsen, kami hanya....." Ucap brama menggantung.
"Hanya apa... ? Sudahlah bapak-bapak sekalian yang terhormat, rekaman suara ini sudah menjadi bukti bahwa kalian ini memang penghianat, saya heran sama kalian, padahal selama ini kurang apa pak Agam sama kalian berempat, kami selalu jujur dan adil, dan selalu membantu kalian semua, tapi ini balasan kalian, jadi jika kalian tau diri dan masih punya muka, jangan menuntut lebih apalagi sampai menyalahkan Park Agam, padahal kalian yang salah, tua-tua bukannya sadar malah Playing Victim biasanya" ejek Arsen pedas.
"Jadi sudah jelas ya bapak-bapak semuanya, dalam hidup saya tidak ada yang namanya memberikan kesempatan kedua kepada penghianat, saya pikir tidak ada lagi yang mesti kita bahas, dan saya juga tidak ingin bekerjasama dengan bapak-bapak lagi," ucap Agam dingin.
Ke empat bapak-bapak tersebut mendengar perkataan Pak Agam seperti terkena bom nuklir, mereka bingung dan sangat gelisah. Mereka berkomunikasi dalam diam, hanya ada lirikan mata yang saling memberikan kode, mereka berempat benar-benar bingung harus bagaimana, dan harus melakukan apa, sedangkan si Moderator yang menjadi objek pembicaraan malah santai dengan seringai kejam di bibirnya, sambil mendengarkan lanjutan rekaman.
"Pak Agam... Kami mengaku salah, kami semua khilaf pak karena iming-iming saham gratis, apalagi saham yang di berikan itu saham Suryadiningrat, siapapun yang di tawarkan saham itu secara gratis pasti akan langsung menerima tawaran tersebut," ucap Yosep yang masih kekeh dengan pendiriannya kalau dia tidak salah.
"Saya tidak perduli apa pun alasannya, sekali berkhianat tetap penghianat, maaf bapak-bapak sekalian, saya sibuk sekali hari ini karena pemindahan Head Office kantor Papah saya ke gedung ini... Permisi," ucap Agam yang langsung pergi meninggalkan ruangan meeting.
"Baik bapak-bapak sekalian karena big Bos sudah keluar, maka kita juga harus keluar dari ruangan ini, kan gak enak sama yang punya gedung saja udah cabut," ucap Arsen sombong.
"Heh Arsen.... kamu anak kemaren sore berani kamu sama saya.... Pake ngehina segala, baru jadi babu aja udah sombong," ucap Frans kesal.
"Lah mending saya jadi babu, tapi bermartabat, Lah kalian semua tua-tua tapi pada gak punya otak, gak tau diri. Silahkan keluar dari sini! Dan kalian semua tidak di ijinkan untuk masuk lagi ke gedung ini, dan menemui pak Agam," ucap Arsen kesal, tapi diantara ke empat bapak tua itu tidak ada satu pun yang berniat ingin berdiri, malah mereka asik mengobrol satu sama lain tentang kegagalannya membujuk Agam.
[ Halo... Rin.... Hubungi resepsionis suruh bawa 4 orang Security ke ruangan meeting sekarang ] ucap Arsen kepada sekretaris Agam.
[ Ok Pak! ] ucap resepsionis dan Arsen langsung menutup teleponnya. Arsen hanya menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan bapak-bapak di depannya ini, yang masih ribut satu sama lain dan tidak mendengarkan apa yang dia katakan tadi. Tak berapa lama 4 security muncul di ruangan meeting di lantai atas.
"Silahkan pak seret mereka keluar dari sini, dan ingat-ingat wajah mereka ya Pak, karena mereka semua di larang masuk ke gedung ini lagi," ucap Arsen tajam dan langsung meninggalkan ruangan meeting. Keempat bapak-bapak tadi yang mendengar Arsen mengusir mereka hanya bisa terkejut dan selanjutnya tangan mereka di tarik oleh masing masing security.
"Hey.... Apa-apaan ini, Arsen tunggu...! Kurang ajar kamu, lepasin saya dari tangan kotor mu itu, Kurang ajar kalian semua," Teriak Brama berusaha untuk melepaskan tangannya.
"Lepaskan kita bangsat," teriak mereka bertiga kompak...., mereka berempat pun di tarik dan di bawa langsung turun ke basemant parkiran agar tidak terjadi kebisingan di Lobby gedung, saat sudah tiba di luar gedung ke empat bapak-bapak tersebut langsung di dorong begitu saja dan di tinggalkan oleh Security.
"Sial, Kurang ajar emang tuh si Arsen. Tunggu aja, kita balas dia" ucap Deni. Mereka berempat pun berjalan cukup ke parkiran mobil mereka.
______&&
"Johan saya tau anak saya ada di rumah kamu," ucap Pak Surya saat Johan di panggil ke ruangannya.
"Ia pak... Tolong jangan pecat saya Pak."
"Saya gak akan mecat kamu, Tenang saja. Saya cuma minta bantuan kamu untuk menemani anak saya tinggal dan bekerja di Inggris." Ucap Pak Surya membuat Johan seketika terkejut.
"Maksud bapak kita berdua, aku dan Pak Riki Pak akan bekerja di Inggris, di mana Pak?"
"Semua sudah saya atur, Pekerjaan kalian dan tempat tinggal kalian, kamu akan mendapatkan dua gaji dari saya karena telah menjaga Riki, dan dari pekerjaan mu."
"Tapi pak...!"
"Kenapa Jo... ? Apa kamu gak mau?"
"Bukan ga mau pak, Saya cuma, Hmmmm gimana ya pak.... "
__ADS_1
"Kenapa Jo ngomong aja, kamu mau request apa? Atau ada masalah apa?"
"Gini pak... Bahasa Inggris saya gak lancar hehehe......,"
"Gampang itu mah, Besok kalian harus sudah pergi, satu pesan saya jaga Riki terus di sana, anggaplah Riki itu adikmu sendiri."
"Siap pak...!"
"Berikan minuman ini ke Riki. Biar dia pingsan, dan kamu juga harus pura-pura pingsan, nanti akan ada anak buah saya yang nganterin kalian ke tempat tinggal kalian di Inggris dan memberi tahukan di mana kalian akan bekerja."
"Baik pak...!"
"Saya titip Riki sama kamu ya"
"Baik pak... Kalo begitu saya izin undur diri pak," ucap Johan. Pak Surya pun hanya menganggukkan kepalanya saja. Surya telah memikirkan semua ini, dia berdiskusi dengan Izam dan istrinya kemarin, karena pikirannya benar-benar buntu tidak tau harus melakukan apa.
Flashback On.....
"PAPAH... PAPAH ....... Kenapa kamu tega mengusir Riki Pah...." Teriak Bu Rania istri Pak Surya yang baru pulang dari acara keluarga nya di Jogja. Bu Rania masuk ke dalam rumah sambil berlari kesana kemari mencari keberadaan suaminya.
"Kenapa sih Bu....? Gak usah teriak-teriak bisa kan?"
"Assalamualaikum Papah...." Ucap Izam anak sulung pak Surya yang baru datang ke rumah besar keluarga mereka.
"Waalaikum salam, baguslah jika kalian berdua sudah pulang... Ayok kita ke ruang depan, ada yang ingin papah katakan" ucap Surya to the point yang langsung pergi ke ruang tamu untuk berdiskusi .
"Pah.... Jelaskan kenapa Papah bisa usir Riki dari rumah Pah? Kasian dia Pah, Riki itu badannya lemah, walaupun sudah sembuh, tapi Mamah tetap khawatir." Ucap Bu Rania.
"Tenang aja mah, tenang...Gak usah panik gitu.... Mamah gak mau makan dulu atau minum gitu? Datang-datang sudah ngomel saja kaya kereta api, gih sana mandi dulu," ledek Pak Surya melihat istrinya yang nampak kusut dan berantakan.
"Papah juga serius mah, Liat penampilan Mamah, kaya habis kena badai gitu."
"Sudahlah, Papah gak usah lebay, mau Mamah berantakan kaya gimana pun, Mamah tetap cantik, sekarang jelasin kenapa Papah sampai usir Riki dari rumah ini?"
"Mamah sama Papah.... Lagi genting kaya gini masih aja pada becanda," ucap Izam kesal.
"Tau nih Papah kamu, mana kita gak tau Riki sekarang ada dimana?" ucap Bu Rania.
"Riki sekarang ada di rumah Johan Mah, Papah punya rencana buat kirim Riki sama Johan ke Inggris mah."
"Loh.... Kenapa Pah Riki? jauh banget di kirim ke Inggris, lagian nih ya Pah, kenapa kita harus takut sih Pah, siapa sih istri orang yang di cintai Riki? Dan kenapa kita harus takut?" Tanya rania yang belum tau masalah sebenarnya.
"Mah Riki itu ganggu istri si Agam Mah, pemilik PT LALISA GROUP, Mamah tau kan siapa mereka! dan gawatnya lagi Agam itu ketua Mafia yang Papah sering minta bantuan mah."
"Riki.... Riki, sekalinya jatuh cinta sama bini orang, laki nya Mafia lagi," ucap Izam
"Makanya dari pada Riki kehilangan sebelah kaki atau tangannya mendingan Papah kirim dia jauh-jauh saja, siapa tau bisa lupain cewek itu disana.
"Ia semoga saja Pah, Kapan Riki akan berangkat Pah?" tanya Izam.
"Dua hari lagi."
__ADS_1
"Lalu apa yang akan Riki dan Johan kerjakan di sana Pah?"
"Papah sudah minta tolong sama teman Papah yang ada di sana untuk membantu Riki, mencari pekerjaan dan menemukan tempat tinggal yang cocok untuk Riki dan Johan mah, jadi Mamah gak usah khawatir."
"Tetep saja Pah, mamah khawatir. Gimana kalo nanti penyakit Riki kambuh, kalau makanannya gak teratur, kalau dia kedinginan," ucap Bu Rania terlalu berlebihan di mata Pak Surya...." Cih dasar wanita," ucap Pak Surya dalam hatinya.
"Gak usah khawatir Mah, Riki sudah besar, biarkan dia mandiri, jangan terlalu memanjakannya dia Mah, lihat karena kalian berdua terlalu manjain dia, jadi gila kaya gini kan dia, perusahaan papah hampir bangkrut."
" Ya sudah, kita berdua hanya khawatir Pah, Mamah tenang aja, nanti Izam akan sering nengokin tuh anak kampret," ucap Izam.
"Ya sudah, mamah mandi sana. Pusing Papah liat Mamah kaya gini, penampilan aut-autan kaya gak mandi sebulan," ejek Surya.
"Emang Mamah sejelek itu ya pah "
"Ia ,Sana mandi trus Makan. Biar seger."
"Ya sudah Mamah mandi dulu, zam kamu nginep sini kan? Sudah lama kamu ga nginep."
"Gak mah, Izam banyak pasien mau tidur di rumah sakit aja... "
"Kamu ini kaya gak punya rumah, makanya nikah sana! Biar ada yang urusin."
"Tar mah belum nemu jodohnya," ucap Izam yang langsung pergi dari rumah papahnya.
"Itu anak bener-bener dah, Kenapa sih Pah, kita punya anak dua-duanya gak ada yang beres."
"Entahlah Mah, Papah mau ke kantor dulu."
"Ia Pah hati hati.... !"
_______________
[ Haloooo assalamu'alaikum yank... Kamu kapan pulang? ] Ucap Nissa.
[ Ia sayang... Kenapa emangnya kamu sudah kangen ya sama aku? ]
[ Enggak, aku pengen ke Padang yank ]
[ Ngapain ke Padang yank? ]
[ Makan nasi Padang. ]
[ Lah, Kan disini juga banyak nasi Padang, Ngapain harus ke kota Padang nya langsung ]
[ Tapi aku pengen makan di Padang yank, Pokoknya kamu sekarang pulang, aku mau ke sana sekarang ] ucap Nissa mutlak.
[ Ya sudah, mas pulang sekarang jemput kamu dan kita langsung ke bandara, kamu siap siap dulu aja ya ]
[ Ia sayang jangan lama-lama, Assalamualaikum ]
[ Waalaikum salam] ucap Agam mematikan teleponnya dan langsung menghubungi Arsen.
__ADS_1
[ Halo sen.... Siapin pesawat sekarang, aku dan Nissa istriku mau ke Padang. Gak pake lama ] Agam pun langsung mematikan teleponnya dan pergi ke luar kantor.
"Dih si Bos! Ya tuhan, kalau dia ngasih kerjaan tuh gak ada obat hadeuh...." Keluh Arsen.