MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
BAB 78 BAR-BAR


__ADS_3

"Nissa... Nissa... Semakin sulit di kejar semakin menantang untuk di dapatkan," ujar Riki tersenyum mengingat pembicaraannya tadi bersama Nissa di pesta pernikahan Sera. Riki di tinggalkan sendirian di sana, dan di abaikan, karena sikap tidak sopannya terhadap Nissa tadi.


"Wanita seperti Nissa harusnya bersanding dengan orang seperti ku bukan dengan Agam, aku benar-benar tidak bisa menghilangkan wajah cantik Nissa dalam otakku, ya tuhan kenapa ini bisa terjadi padaku...?" ujar Riki berkeluh kesah.


"Kenapa sayang? kok datang dari pesta marah-marah sih." Ujar mamah Riki yang tiba-tiba menghampiri Riki yang sedang duduk di ruangan depan.


"Gak apa-apa mah, cuma capek aja!"


"Udah sih Riki, kamu jangan kerja di perusahaan lain, bantu Papah mu di perusahaannya aja, masa punya otak pinter tapi gak di gunakan buat orang tuamu sendiri, kasian Papah kamu, ia sudah tua."


"Mah... Aku mau tanya mah? Jikalau aku jatuh cinta sama istri orang boleh gak mah?


"Kamu ada-ada saja sih Rik! Masa selera nya sama istri orang, kaya gak ada cewek lain yang single aja. Kamu itu kaya, ganteng, pinter, most wanted, kamu mau cewek yang kaya gimana aja, kamu tinggal pilih! masa ia sih sama istri orang? Jangan aneh-aneh ya, jangan bikin malu keluarga," terang mamah Riki.


"Tapi kalo cintanya cuma sama istri orang gimana mah?"


"Ya sudah terserah kamu aja lah, kalau ceweknya mau, ya bisa aja, tapi kalau ceweknya gak mau, ya janganlah nak, kamu gak boleh memaksakan kehendak kamu kalau bikin cewek yang kamu cinta menderita, cinta itu boleh, tapi gak harus dipaksakan, karena cinta juga gak selamanya harus memiliki," ucap mamah Riki bijak.


"Nanti aku pikirin lagi mah!"


"Gak ada yang mesti kamu pikirin berlebihan, itu sudah mutlak sayang, gak bisa di ganggu gugat! jadi dari pada kamu mikirin hal yang gak penting mending kamu urusin perusahaan papah kamu, titik!"


"Ia mah, nanti aku pikirin lagi ya mah, untuk masalah perusahaan."


"Ia sayang, istirahat sana gih, tapi makan dulu ya!"


"Gak mah, aku mau tidur aja, Riki lelah." Ucap Riki dan meninggalkan mamahnya sendirian di ruang tengah.


Riki langsung menuju ke kamarnya dan membersihkan badannya serta pikiran nya, semoga saja besok pikirannya bisa normal kembali, dan tak memikirkan istri orang lagi. Batin Riki.


Keesokan harinya, Riki sudah siap dengan pakaian kerja nya yang rapih dan menambah ketampanan Riki berkali-kali lipat. Setelah memikirkan semalaman akhirnya Riki memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaannya pak Boy.


"Mah aku berangkat dulu ya, sudah telat," ucap Riki yang hanya memakan roti tawar.


"Rik Tunggu... sarapan dulu! Aduh itu anak main nyelonong aja sudah di bikinin sarapan juga," ujar mamah Riki kesal.


"Si Riki, sampai kapan dia mau main-main sih mah, punya perusahaan sendiri yang besar malah kerja di tempat orang," ucap Papahnya Riki.


"Gak tau lah Pah, mamah juga, Papah tau sendiri kan anakmu keras kepala kaya batu, mana semalem ngomongin istri orang, masa si Riki cinta sama istri orang Pah, kan udah gila tuh anak.


"Anakmu mah, kepintaran malah jadi keblinger begitu."


"Ia Pah, Mamah juga bingung." Ucap mamah Riki menghela napas kasar.


______


Saat sampai di kantor, Riki tetap saja mengundang para mata wanita menatapnya lama, bahkan hingga 2 kali karena saking terpesona memandang ketampanan dari seorang Riki. Tapi Riki sama sekali tidak menatap mereka. Saat sampai ruangannya, Riki memikirkan semuanya.


"Apa meja ini dulu juga di pake sama Nissa ya? Kenapa harus Nissa lagi yang aku pikirkan? Riki melamun saat melihat ke meja.


Tapi kenapa Nissa harus jadi istri orang ya? Wah gak bisa ini... Gak bisa! Sepintas bayangan Nissa lewat lagi dipikiran Riki.

__ADS_1


"Sudahlah cukup! aku memikirkannya, mending gue keruangan pak Boy aja buat nyerahin surat pengunduran diri dari pada gue tambah ngaco," ucap Riki yang langsung pergi ke ruangan pak Boy.


"Bu Marta ...., Apa pak Boy nya udah datang?" ucap Riki bertanya kepada sekertaris pak Boy.


"Maaf pak Riki, pak Boy nya hari ini tidak masuk, sedang ada proyek di luar kota. Jadi selama seminggu ini beliau tidak masuk kantor." Ucap Bu Marta.


"Oh... Kalo gitu saya ingin memberikan surat pengunduran diri saya bu, ke pak Boy." Ucap Riki.


"Oh begitu pak Riki, kalo boleh tau kenapa ya pak alasannya bapak mau mengundurkan diri?" Tanya Bu Marta.


"Gak apa-apa Bu Marta hanya permasalahan pribadi "


"Baiklah kalo begitu, nanti saya sampaikan ke pak Boy nya ya," saut Bu Martha.


"Ia Bu terima kasih," ucap Riki, yang kemudian pergi meninggalkan Bu Marta menuju ke ruangannya.


Saat istirahat tiba, Riki yang tidak terlalu dekat dengan siapa pun Di kantor ini, walaupun sudah bekerja 3 tahun, memutuskan untuk makan siang di restoran yang terkenal dengan masakan baratnya. Riki pun keluar sendiri mengendarai mobilnya, menembus jalanan yang lancar jaya, tanpa macet sedikit pun, saat sampai Riki langsung masuk dan mengambil tempat duduk dekat kasir. Restoran ini sangat ramai di jam makan, restoran ini adalah Aniwest, restoran Nissa yang dekat dengan perusahaan pak Boy, tapi sampai saat ini Riki belum mengetahui kalau restoran ini milik Nissa.


Riki pun memesan Spaghetti Carbonara, dengan lemon tea, saat makanannya sudah di sediakan, dan baru saja ingin memakan makannya, Riki melihat wanita yang akhir-akhir ini selalu mengganggu pikirannya, sedang berbicara dengan pelayan wanita disini, dan tanpa berkedip, Riki terus saja memperhatikan wanita tersebut yang tak lain adalah Nissa, Riki sampai di buat terpesona dan bengong sesaat melihat Nissa hari ini yang sialnya begitu cantik, dengan dress marun dan pashmina yang senada, sangat cocok dengan tubuhnya yang tinggi dan langsing, dan kulit putihnya. Dengan gerak cepat Riki langsung menghampiri Nissa, dan lupa akan makanannya.


"Siang Bu Nissa, Apa Kabar?" ucap Riki yang langsung menyapa Bu Nissa tepat di hadapannya. Nissa yang di buat bingung hanya melihat Riki.


"Maaf siapa ya?" Tanya Nissa bingung dan masih tidak mengingat laki-laki di depannya ini.


"Wah Bu Nissa tega sudah ngelupain saya, padahal baru semalam kita bertemu, saya Riki Bu! Direktur keuangan di perusahaannya pak Boy." Jelas Riki.


"Oh... Ada perlu apa pak Riki?" ucap Nissa agak jutek.


"Kebetulan banget kita ketemu disini Bu, jangan-jangan kita jodoh lagi," canda Riki. Yang sebenarnya tidak lucu sama sekali.


"Bisa aja, Kalo Bu Nissa bercerai dengan suami Bu Nissa, dan menikah dengan saya Bu," ucap Riki ngaco dan cengengesan.


"Gila..." Ucap Nissa yang langsung meninggalkan Riki sendiri, tapi tangan Nissa di pegang oleh Riki.


"Tunggu bu!"


"Jaga tangan anda pak Riki, jangan melewati batas anda, saya wanita bersuami, saya tidak mau terjadi fitnah, jadi jangan ganggu saya lagi!" Tegas Nissa yang langsung menghentakkan tangan Riki dan terlepas, dan pergi meninggalkan Riki sendirian.


"Bu tunggu...! Bu Nissa...!" Teriak Riki Karena Nissa pergi meninggalkan nya,


"Maaf pak, jangan teriak disini! mengganggu kenyamanan pengunjung lain" ucap pelayan resto tersebut. Riki pun akhirnya kembali ke mejanya untuk memakan-makannya yang dia tinggalkan tadi.


Saat tiba di kantor, Riki marah besar, kenapa sikapnya harus seperti itu, menjadikan Nissa Sepertinya membencinya.


"Akh sial.... Sial...sial... Pokoknya gue harus bisa dapetin Nissa... Bagaimana pun caranya" ucap Riki ambisius.


_______


Nissa sangat marah sekali, dan mengapa harus bertemu dengan lelaki gila seperti si Riki itu sih, niat hati ingin healing di temani anak tercinta di restoran karena sudah lama tidak ke restoran, malah ketemu si Riki.


"Astaghfirullah gak boleh julid Nissa... Inget kamu tuh lagi hamil, Tapi tuh orang emang bener-bener bikin emosi, mending ke kantor nya mas Agam aja dah dari pada disini, bete." Ucap Nissa .

__ADS_1


Nissa dan Arka serta mba Sus pun keluar dari ruangannya, dan berencana untuk mengunjungi kantornya mas Agam, dia segera keluar restoran dan menuju mobil yang di kendarai oleh pak Dadang supir sekaligus Bodyguard nya dulu.


Saat sampai di lobby semua orang memberikan senyuman paling manis nya ke arah Nissa, dan Nissa hanya membalas senyum sambil menundukkan sedikit kepalanya.


"Hay sayang.... Lama banget sih nyampenya" ucap Agam yang memang sebelumnya telah di beritahu istrinya kalau dia dan Arka akan ke kantor Agam. Nissa hanya menyentuh bibirnya, tanda jangan berisik, Nissa langsungĀ  menaruh arka di box bayi yang sudah tertidur lelap. Box bayi tersebut memang tersedia di ruangan Agam. Yang di sediakan sendiri oleh Agam untuk tempat tidur dan main anaknya, Arka.


"Mba Sus kalau mau makan di luar atau pulang duluan aja ya, Saya kayanya lama di kantor sama bapak."


"Ia Non, Saya pulang aja sama pak Dadang ya Bu."


"Ia mba Sus, makasih ya..."


"Sama sama Non," ucap mba Sus yang langsung meninggalkan ruangan pak Agam.


"Ngerjain apa yank, sibuk bener kayanya nih," tanya Nissa kepada suaminya.


"Biasa yank laporan keuangan akhir bulan."


"Coba sini aku periksa," ujar Nissa yang akhirnya melihat berkas keuangan secara seksama, tapi tiba-tiba...


Brakkkkkkkk....


"Agammm kenapa Nomer aku kamu blokir gam...." Teriak Tina, mata Tina langsung terbelalak melihat pemandangan di depannya yang menyesakan dada, karena sekarang Nissa sedang berada di pangkuan Agam.


"Maaf pak, saya sudah melarang nya tadi, dan sudah memberitahukan kalau bapak sedang ada keluarga nya di dalam, tapi ibu ini maksa pak" ujar sekertaris nya Agam.


"Ya sudah, kamu kembali saja ke tempat mu" ujar Agam.


"Gam aku mau ngomong, jadi bisakan kita ngobrol berdua gam" ucap Tina tak tau malu.


"Maaf Tin... Bukannya sudah jelas yang aku bicarakan ke kamu kemarin malam di pesta!"


"Tapi gam....!"


"Sststststs....., aku sudah gak mau berurusan dengan kamu lagi Tina, lagi pula kamu tuh ganggu aku yang lagi enak-enaknya sama istriku, kamu ganggu Tin, mau jadi penonton?" sarkas Agam.


"Tapi gam ini penting!"


"Biar aku aja yank" ucap Nissa sambil mencium pipi Agam lembut, dan itu semakin membuat Tina cemburu.


Dan Nissa pun turun dari pangkuan Agam dan melangkahkan kakinya dengan anggun menghampiri Tina, dan Tina yang diperhatikannya merasa cuek masa bodoh. Saat di depan Tina, Nissa langsung saja menarik tangannya sekuat tenaga dan menyeretnya keluar dari ruangan Agam, dan setelah di luar ruangan Agam dia mendorong tangan Tina dengan keras hingga Tina terseok jatuh.


"Woy..... Apa-apaan kamu Nissa! beraninya kamu seret aku dari ruangan Agam HAH!"


"Mba panggil security suruh naik," ucap Nissa, dan langsung menatap tajam Tina dan menghampirinya, langsung saja Nissa menjambak rambutnya Tina dengan sekuat tenaga.


"Lu ternyata bebal ya, jangan jadi cewek sampah lu, berani-beraninya deketin suami orang, kalo masih ingin hidup jauhin kami, jangan coba-coba ganggu kami, kalau gak, hidupmu bakalan hancur di tangan gue paham...!" Ucap Nissa bengis, Tina pun hanya menatap tajam Nissa, dan keluar lah air mata Tina.


"Kamu awas Nissa! akan aku adukan kamu ke Agam dan mamahnya karena perilaku ini.


"Oh silahkan, Pak security usir wanita ini, dan jangan sampai dia menginjakan kakinya lagi di sini, paham!

__ADS_1


"Lepasin gue, gue bisa jalan sendiri, dan kamu Nissa, awas lu! tunggu pembalasan dari gue, dan Agam pasti akan ninggalin lu karena telah menyesal sudah nikah sama cewek janda Bar-Bar seperti lu" kesal Tina penuh dengan dendam.


"Hushhh..... kuman bakteri, sana jauh-jauh!" ucap Nissa.


__ADS_2